Selasa, 03 Desember 2019
Enaknya Kerja Jarak Jauh (Remote)
Semakin kesini, semakin maju teknologi dan semakin bertambah pengetahuan, saya jadi tahu ada beberapa bidang pekerjaan lain yang bisa dilakukan jarak jauh (remote).
Rabu, 24 Februari 2016
Mendapatkan Pembeli Pertama dari Instagram
Per Pebruari ini saya mau coba juga #RabuBaru. Ngebahas tentang everything new, berita terbaru yang jadi trending topics, juga first experience alias pengalaman apapun yang baru pertama kali saya alami. Rabu lalu saya posting tentang Gajah Depa Waterplay, dimana itu pertama kalinya saya berenang lagi sejak... entahlah. Mungkin terakhir kali saya berenang tuh waktu SMP.
Kali ini saya mau cerita tentang pengalaman pertama saya mendapatkan pembeli dari OLShop saya. Isinya bukan tips. Tapi semoga ada ilmu yang bisa diambil yah. Hehehe..
Jumat, 05 Februari 2016
Persyaratan Membuat SKCK dan Kartu Kuning untuk Melamar Kerja
Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) lebih dikenal dengan nama surat kelakuan baik. Hmm.. kalau soal kelakuan baik, kenapa ya ga bisa dikeluarkan sama suami aja? Kan suami tahu kita baik. Kalau ga baik ya ga akan dinikahi kan?
Ok skip.
Sabtu, 12 Desember 2015
Membuka Jalan Rezeki dari Ngeblog
Bagaimana tidak, kebanyakan para ahli nyaranin untuk fokus pada satu topik. Mereka menyebutnya niche. Saya sudah mencoba bertapa, berpikir panjang sampai berhari-hari, tentang satu topik yang paling saya kuasai dan saya mampu menuliskannya secara konsisten. Hasilnya adalah...
Minggu, 29 Maret 2015
Sinta Si Kutu Loncat
![]() |
| Sewaktu membuat video SOP Customer Service |
![]() |
| Jogjaaaaa..! |
Meskipun kutu loncat, bukan berarti saya tidak menganggap penting setiap pekerjaan.
Justru dalam bekerja, saya memegang beberapa prinsip, misalnya:
- Hanya melamar atau menerima kerja yang saya minati. Dengan demikian, saya jarang mengeluh saat bekerja karena saya selalu bersyukur dan menikmatinya.
- Menjaga integritas. Ini berarti saya bersungguh-sungguh dalam bekerja, dan memberikan soptimal mungkin kemampuan saya.
- Semangat belajar. Semua perusahaan tempat saya bekerja memberi saya kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri, dan hal ini yang sering membuat saya betah. Dengan belajar hal-hal baru, saya tidak pernah bosan dan tidak merasa pekerjaan saya monoton.
Kamis, 25 September 2014
Tes STIFIN
- Lebih menggunakan pikiran
- Memecahkan masalah secara logis
- ‘Though minded’
- Menggunakan hubungan sebab akibat
- Melakukan analisa tanpa mempertimbangkan pribadi
- Menghargai sesuatu yang masuk akal
- Adil, keputusannya didasarkan pada kriteria yang obyektif
- Dingin, menjaga jarak dengan orang lain
- Tampak seperti tidak peka
- Berargumen dan berdebat sebagai panggilan kritis
- Jarang bertanya bila waktu tidak memungkinkan
- Menunjukkan data
- Memberikan pujian yang formal
- Memiliki ketegasan menuntut hak
- Menggunakan bahasa yang tidak pribadi
- Percaya diri mengatasnamakan diri sendiri
- Lebih kritis membenahi pekerjaan
- Lebih seperti sikap pria (peluangnya 65%)
Selasa, 05 Agustus 2014
Kamis, 03 Juli 2014
Ketika Cewek-Cewek Jualan Obat Kuat
"Korban" pertama adalah teman saya, sebut saja Mawar (hahahaha). Dia ditugaskan sebagai admin web yang melayani konsumen melalui fitur live chat. Itu loh.. dimana calon konsumen bisa chatting sama doi buat nanya-nanya. Nah, sang konsumen ini curhat, "Madunya bisa untuk mengatasi ejakulasi dini gak? Soalnya saya suka ejakulasi dini kalau berhubungan sama istri." Eeeww..
dan dengan polosnya si mawar yang masih single ini pun bertanya pada saya, "Ejakulasi dini itu apa, Mbak?" Eerrrr....
Lain lagi yang dialami teman saya yang satunya lagi, sebut saja Melati (hihihi) yang ditugaskan melayani konsumen via telepon. Ada seorang peminat produk tersebut yang menelepon no HP kami, dan Melati pun keluar ruangan untuk mencari sinyal (yeah, ceritanya di sini susah sinyal cyin). Beberapa menit kemudian, pembicaraan via telepon berakhir dan Melati masuk ruangan dengan muka ditekuk.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Konsumennya nyebelin!" katanya. "Pertanyaannya gak penting!"
"Emang dia nanya apa?
"Dia nanya, 'Apakah sudah menikah'?"
Gubraaaaak..
Deuh yang belum nikah, sensi amat ditanyain gitu. Heuheu. Menurut saya sih pertanyaan itu masih wajar ya. Saya mengerti calon konsumen ini bukan bermaksud kepo dengan hal-hal pribadi seperti status pernikahan teman saya. Dan pertanyaan selanjutnya dari konsumen pun sudah bisa saya tebak, "Udah coba belum, Mbak? Gimana rasanya?"
Tuh kaaan.. Xixixi..
Kalau pengalaman saya lain lagi. Saya ditugaskan melayani konsumen via sms. Dan suatu malam, saya mendapat sms berikut, "Memperbesar, tambah panjang, dan tahan lama gimana cara ordernya?"
Zzzzzzz...
Saya tidak mau langsung berasumsi bahwa yang ia maksud adalah madu yang kami jual. Karena nomor kontak yang saya pegang ini kadang suka menerima sms salah sasaran, dari para peminat produk di marketplace (bukan online store) kami.
Saya pun balas, "Mohon maaf ini dengan Bapak/Ibu siapa? Apakah yang Bapak/Ibu maksud adalah Madu TE?"
Dia balas, "Saya.. *nama disensor*. Iya mungkin.. saya tidak tahu nama produknya. Kalau untuk memperbesar dan tambah panjang nama produknya apa?'
Yak, saya tidak berhasil closing. Bukan kenapa-napa, madu tersebut khasiatnya adalah untuk menambah stamina. Bisa kalau buat yang ingin tahan lama. Tapi memperbesar dan memperpanjang? Kata teman saya ke Mak Erot aja ceunah :))
Penasaran apa sih produk madu tersebut?
Please welcome..
![]() |
| Pemesanan : http://yuk.bi/t13f5d 081214904992 |
Sumber gambar : Nyolong dari timeline FB Pak Jaya Setiabudi :D
Minggu, 25 September 2011
Katakan Sesuatu!
Bos : "Coba jawab pertanyaan saya, Dewi. Katakan sesuatu."Dewi : "...." *ngeblankBos : "JAWAB, DEWI. APAPUN! KATAKAN SESUATU!"Dewi : "...." *bingung & speechlessBos : "Katakan sesuatu Dewi. Apa saja. Katakan!"Dewi : "Hmm..."Sinta : (bantuin jawab) "SESUATU!"
Selasa, 20 September 2011
My Another Dream Job
Saya (ternyata) adalah orang yang sangat selektif dalam mencari pekerjaan. Sudah lama orangtua saya ingin saya melamar ke salah satu BUMN terbesar di Indonesia, tapi saya tidak tertarik. Ratusan lowongan berserakan, kebanyakan saya pandang sebelah mata.
Kriteria yang saya tentukan saat memilih tempat kerja bukanlah gaji, jenjang karir, ataupun fasilitas. Nomor satu yang paling penting adalah: Saya MENYUKAI pekerjaan tersebut. Selain dari itu, urusan belakangan.
Pekerjaan pertama saya adalah freelance writer. Saya menyukainya karena saya memang hobi menulis dan profesi ini bisa dikerjakan di rumah. Honor yang saya terima pun sesuai dengan yang saya minta.
Pekerjaan kedua saya adalah videographer. Ini lebih menyenangkan lagi karena saya suka kegiatan syuting. Gajinya pun cukup bagi saya.
Sekarang saya ganti profesi. Bekerja sebagai customer service di sebuah lembaga bimbingan belajar. Dibanding dengan pekerjaan yang sebelumnya, jam kerja saya lebih banyak dengan gaji yang jauh lebih sedikit. Tapi memang jobdesc nya lebih mudah. Lulusan SMA/SMK pun bisa.
Saya memilih bekerja di sini karena saya bisa internetan dan mengakses media sosial dalam waktu yang lama (saya kecanduan internet, btw) tapi alasan yang lebih penting adalah karena pekerjaan ini bisa disambi dengan "kuliah" menulis online saya yang memang sedang saya tekuni.
Apapun jenis pekerjaannya, saya selalu meniatkannya untuk belajar dan mencuri ilmu. Begitu juga di sini. Saya belajar administrasi, pencatatan keuangan, marketing, handling complain, komunikasi interpersonal, manajemen, tips & trik matematika (hoho), hingga belajar naik motor! Hahahaha...
Sekali lagi, saya sangat bersyukur mendapatkan pekerjaan yang saya sukai. Alhamdulillah yah... :)
"Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life" - Confusius
Senin, 12 September 2011
Pengangguran Tobat
Sejak lama saya meyakini bahwa mencari kerja di Batam relatif lebih mudah daripada di Bandung apalagi Jakarta. Buktinya, dulu pas saya kuliah tingkat satu di Jatinangor, teman-teman SMA saya di Batam semuanya sudah bekerja. Perlu di-bold: SEMUANYA! Yang kuliah, ngambil kelas malam.
Ga heran setelah saya lulus dan mencari-cari pekerjaan dengan pengalaman sangat minim, teman-teman saya di Batam (yang baru lulus ataupun malah belum lulus kuliah) justru sudah mulai mapan dengan karirnya. Keren ya?
Kalau setelah berminggu-minggu di Batam ini saya belum bekerja, itu lebih karena keinginan saya pribadi. Tiap ke mall, dimana-mana ada lowongan jadi penjaga toko. Saya tidak pernah tertarik duduk di toko sepanjang waktu. Sepertinya membosankan.
Sempat juga beberapa kali melingkari iklan lowongan kerja di koran, lalu terlupakan. Hahahaha. Kayaknya emang permasalahannya di niat kali ya. Hehehe.
Saya merasa hidup saya sudah cukup. Tinggal bersama keluarga, rumah nyaman, makan enak & kenyang, tanpa capek-capek bekerja. Mau beli ini itu tinggal minta duit. Apalagi yang kurang? My life’s perfect!
Suatu hari, saya ke toko buku dengan maksud membeli novel untuk menemani hari-hari pengangguran saya. Saya pulang dengan tangan kosong dan perasaan galau. Terpaksa saya baca buku yang ada, yaitu dua buku tentang persiapan pensiun yang ayah saya beli.
Di tengah-tengah bacaan, saya sempat merasa bahwa saya masih jauh di bawah umur untuk membaca buku-buku ini. Tapi karena kedua buku itu memang menarik, saya tetap baca sampai selesai. Hasilnya? Saya galau segalau-galaunya! Ckckckckckc.
Membaca buku-buku itu telah menampar, menyadarkan, dan kembali mengingatkan saya betapa pentingnya bekerja, berpenghasilan, menabung, berinvestasi, bersedekah, dan hidup mandiri. Hal-hal yang selama ini tanpa sadar saya abaikan karena terlalu nyaman tinggal dengan ortu.
Selama ini saya menganggap keberadaan saya di rumah sudah cukup. Bantuin nyuci piring, masak, bersih-bersih, cuci baju, nyetrika, dsb adalah bentuk bakti saya pada orangtua *tsah! Tapi kemudian saya sadar, peran saya di dunia ini bukan hanya sebagai anggota keluarga saja, tapi juga anggota masyarakat. Bukan hanya membantu orangtua saja, tapi juga menjadi manfaat bagi orang lain. Kalau saya belum butuh uang untuk makan, bukankah masih banyak orang di luar sana yang menunggu uluran tangan saya agar bisa makan? *jleb!
Akhirnya saya memutuskan,
Selamat tinggal dunia pengangguran.
Semangat kembali bekerjaaaaaaaaa...!!!
Sabtu, 02 Juli 2011
Ke Jakarta!
Jumat, 25 Maret 2011
Belajar GIMP (1)
Lumayan susah awalnya.
Tapi kalau udah tau caranya, jadi gampang *semua juga gitu, kali Sin*
Aku banyak main layer di sini.
Balon kata pertama, 1 layer.
Kalimat di dalamnya, pake layer lain.
Balon kata kedua, bikin layer baru lagi.
Begitu juga dengan kalimat di dalamnya.
Entah efektif atau tidak, yang penting jadi.
Heuheu
Judulnya : Perdagangan Senjata di Pasar Gelap :p
Belajar GIMP (2)
Ini bukan belajar GIMP deng. Postingan ini tentang belajar Ink Scape. Kalo GIMP adalah Photoshopnya-Linux, maka Ink Scape adalah Corel-nya.
Ceritanya, aku mau bikin poster gitu. Terus aku cari, lah, background posternya di google. Dapet yang lucu. Ini dia:
Sayangnya, ukuran gambarnya kecil. Padahal aku pengen poster itu dicetak ukuran A3.
Supervisorku bilang, berarti aku mesti bikin ulang di Ink Scape.
APPPAAA...????
*jreng jreng..
*zoom in zoom out ala sinetron.
Aku ga tau caranya.
Tapi kemudian beliau mengajariku.
Ternyata lumayan mudah.
Seneng deh jadinya ^_^

Supervisorku membuat background dan bidang berwarna kuning.
Aku tinggal membuat bagian lain dengan teknik yang sama.
Pas udah selesai, Asisten Manajer melihat, dan komennya adalah....
"Kayak martabak..."
Whaaattt..??
Martabak dari mana?
Karyawan lain pada penasaran dan ikut-ikutan melihat gambarku juga.
*jadi malu*
"Tuh, kan. Kayak pinggiran martabak manis itu loooh..." beliau melanjutkan.
Yang lain pada ketawa.
Hadeeuuh.. kayaknya si Bapak lagi lapar.
Orang lapar kan, lihat apapun juga dipersepsikan jadi makanan, kan?
Ya sudahlah ya..
Yang penting..
Aku berhasil! ^_^
Belajar GIMP (3)
Topik “Belajar GIMP” ini akan dibuat dalam 3 postingan, sesuai urutan hari. Tapi hari ke-3 ini cukup berkesan jadi aku pengen publish duluan. Boleh kan? Boleh dong.
Jadi sodara-sodara, akhir-akhir ini aku di kantor ga ada kerjaan. Paling cuma nge-burn, mindahin ratusan GB data ke DVD. Nah, sambil nungguin burn itu, ga ada lagi yang bisa aku kerjakan. Ya suw, aku gunakan waktu untuk belajar GIMP. Aku cari tutorial di internet, dan aku praktekkan.
Aku nemu tutorial mengganti warna bola mata. Kayaknya gampang. Akhirnya aku coba, lah.
Singkat cerita, setelah dua kali mencoba, aku ga berhasil. Kayaknya tuh tutorial ‘sesat’ juga. Aku lalu mencari tutorial lain. Dapat tuh yang lebih mudah.
Dapet tutorial yang mudah belum cukup. Gambar yang mau diedit juga harus memenuhi syarat. Gambar mata yang pertama kali aku ambil itu iris-nya terlalu gelap, jadi susah ditimpa warna lain. Aku pun hunting lagi. Cari-cari bola mata yang cerah dan bening. Akhirnya aku pakai yang ini:

Beberapa jam kemudian, aku berhasil.
Lalu terjadilah ‘insiden’ itu.
Pak Manajer lewat di dekatku. Melihat gambar mata itu, beliau komen:
“Kayaknya dari pagi ngerjain itu ga selesai-selesai..?”
Deegg..!
“Kenapa, Pak?” Supervisorku bertanya dari belakang komputer.
“Ini, Sinta. Dari pagi ngerjain mataaaa.. mulu,” ucapnya sambil berlalu.
“Kamu ngapain, Sin?” tanya Supervisor.
“.. eeuuh.. ini Pak.. nge-ganti warna bola mata,”
“Ngapain kamu ngerjain itu?”
Ah siaul. Aku harus jujur.
“.. iseng..”
“Yeeeee…”
Ketahuan deh kalo aku ga ada kerjaan *minta dipecat*.
Sang Supervisor lalu berdiri dari kursinya dan menghampiri komputerku.
Ia melihat hasil karyaku yang terpampang di layar:

“Kamu bikin itu?”
“Iya Pak..”
“Dari pagi?”
“Iya..”
“Jiaaaahh.. saya bisa ngerjain itu 5 menit!”
Aku pun ngeles.
“Ya beginilah Pak, kalau saya belajar sendiri. Makanya, saya perlu orang buat ngajarin saya..” (ngerayu dikit).
Untungnya aku ga ditegur. Supervisorku justru membelaku dan bilang ke Manajer,
“Saya memang nyuruh Sinta belajar GIMP, Pak..”
Memang benar supervisorku memintaku belajar GIMP. Tapi aku tahu ia ingin aku belajar di luar jam kerja. Tapi gimana dong, aku kan ga da kerjaan. Akhirnya supervisorku pun memberiku kerjaan. Heuheu.
Pukul 4 sore, Manajer dan Supervisorku meninggalkan kantor mengurus pekerjaan di luar. Aku kembali membuka GIMP dan mengedit lagi. Kalau tadi bola matanya terdiri dari 1 warna, sekarang aku buat lebih dari 1 warna, bergradasi.
And you know what? I did it under 5 minutes! ;)

Pesan Moral:
JANGAN MENGEDIT WARNA BOLA MATA DI KANTOR! Hehe. Lain kali kalau mau belajar ngedit, harus yang berhubungan dengan kerjaan. Atau minimal, dengan foto-foto punya kantor. Jadi kan kesannya “untuk kepentingan perusahaan”*sigh*.
Saat jam kerja, waktu harus digunakan hanya untuk hal-hal yang terkait dengan pekerjaan. Mengerti, Sinta?
Baiklah…
Kamis, 17 Maret 2011
Paint Ball
Selasa, 15 Maret 2011
Sunday Fun Day
Berangkat dari S28 (Jalan Sulanjana 28) jam 8 pagi. Sampai di CSR, kita langsung main paintball. Serem deh main tembak-tembakan. Tapi aku dipaksa ikut. Ya suw, berhubung aku cinta damai (baca: ga berani peperangan), aku sembunyi selama perang senjata berlangsung. hiihihi..
Konyolnya, aku salah kostum! Perang di 'hutan', udah pakai baju loreng-loreng nan gagah, tapi kerudungnya pink! Kontras banget kan? Teh Puput yang jadi 'musuh'ku juga bilang, aku keliatan banget meski udah sembunyi juga. Tapi tak apa.. yang penting kan ga ketembak. Tempat sembunyiku kejauhan soalnya. Hahaha.. *evillaugh*
Tim ku menang loh! Yah..meskipun peluruku ga pernah mengenai musuh (karena kejauhan, peluruku selalu jatuh ke tanah sebelum kena musuh. ckckck...:p), tapi aku bantuin menyuplai 'nyawa' dan peluru buat pasukanku. Sekalian jaga basecamp. heuheu. Seneng lah!
Setelah main paintball, dilanjutkan dengan main arung jeram. Nah, yang ini lebih seru! Aku satu perahu dengan Teh Puput ditemani pemandu. Ternyata pemandu ini adalah faktor penting dalam perjalanan kami yang sangat mulus. Kami berangkat paling akhir, tapi sampai di finish paling duluan. Peserta yang lain? Di tengah perjalanan ada yang kecebur lah, perahu terbalik, 'terdampar', perahu jalan mundur (hwkwkwkw), dan lain sebagainya. Kocak!
Aku saltum lagi. Bajuku tipis, jadi kalau kena air 'nyeplak'. Lain kali kalau ke CSR mesti pakai KAOS HITAM (dan kerudung hitam buat main paintball :D)
Puas basah-basahan, tanpa ganti baju kami langsung makan siang. Menunya enak: nasi, soto ayam, tumis kacangpanjang-wortel-udang, semur daging, bala-bala dan kerupuk udang. Sebagai pencuci mulut, ada potongan buah semangka, melon, pepaya, dan nanas. Hmm.. sedaaaap..
Abis makan, basah-basahan lagi di kolam air panas. Sementara yang lain merendam badan, aku dan Teh Puput merendam kaki sajah. Hehe.. Suhu airnya pas, seperti kalau aku mandi air panas di rumah.
Jam satu siang, semua berganti baju & berkemas-kemas. Setelah solat Dhuhur, kami pun pulang. Ah.. What a fun day! ^_^
NB
Biaya per paket : Rp. 195.000/orang (paintball, arung jeram, makan siang, kolam air panas)
Kalau reguler,
Paintball : Rp. 120.000/orang (40 peluru/2 season)
Arung Jeram : Rp. 60.000/orang
Kolam air panas : Rp. 25.000/orang
Oya, untuk Arung Jeram, mereka punya fotografer sendiri. Kalau mau cetak, biayanya Rp. 20.000/foto. Kalau kami siy, minta softcopy aja, 39 foto Rp.100.000,-
Senin, 14 Maret 2011
Senin, 07 Maret 2011
PREMIERE
Kenapa?
Karena belum jadi!
*yaaaaaaahhhhh
**penonton kecewa.
Satu pelajaran yang aku dapat adalah, bahwa aku miss dengan ‘pasca produksi’. Selama ini aku menganggap pekerjaan BTS hanya merekam, memotret, dan menulis. Tapi bagaimana hasil perekaman, pemotretan, dan penulisan itu direkap, diolah, dan dipublikasikan, aku tidak memikirkannya dengan matang.
Aku menemui kendala teknis. Ga punya alat penyimpanan data yang aman dan ga punya komputer yang memadai untuk mengedit video. Aku sama sekali ga terpikir bahwa semuanya itu bisa menggagalkan produksi BTS. Well, my bad. Lain kali sebelum aku mengajukan diri jadi kru BTS, aku akan beli hardisk eksternal minimal 500 GB dan komputer yang layak untuk ngedit. Oh, dan tak kalah penting: waktu yang cukup untuk mengerjakan semuanya (sekarang aku nyaris tidak punya waktu untuk bikin film di luar pekerjaan).
Meskipun hasil karyaku berupa video BTS belum bisa diputar, aku tetap mengundang teman-temanku untuk datang dan menyaksikan FILMKU: Flickering Light (FL). Bagaimanapun, FL itu kan filmku juga dan di luar jobdesk BTS, ada, lah, keterlibatanku di dalamnya meskipun dikit: nyari pemain anak kecil dan minjemin clapperboard meski dipakainya sebentar. Heuheu..
Premiere Flickering Light diadakan hari Sabtu, 5 Maret 2011, di ruang 9009 bioskop kampus ITB. Kesanku tentang acara itu: “Oooo.. jadi gini toh yang namanya premiere..”
Aku sangat amat terharu dengan kehadiran sobat-sobatku. Yang paling berkesan adalah kehadiran Ijal dan Linto. Ijal tinggal di luar kota, dan kadang bolak balik ke Bandung. Sebenarnya minggu ini bukan jadwalnya ke Bandung. Tapi dia ingin memberikan dukungan padaku yang telah menghasilkan karya.
Sementara Linto, kami sangat jarang ketemu. Dan kalaupun ketemu, biasanya cuma pas acara reuni SMA. Tapi dia hadir untuk menjadi saksi kesuksesan aku (itu kata-kataku, bukan kata-katanya. Lebay ya? :p)
Selain mereka, ada Indri yang datang dari Lampung, ada juga sahabat lamaku, Tessa *bakal kujitak kalau dia sampai ga dateng*. Anak-anak kosan yang datang: Nurul, Ami, dan Ata, plus Zen.
Aku baru menyadari bahwa kehadiran mereka sungguh berarti. Aku merasa didukung. Dan dukungan itu rasanya menyenangkan! *terharu lagi*.
Aku teringat, seorang juniorku (sebut saja Gifar) pernah jadi penulis skenario di sebuah film, dimana film itu diputar di Blitz Megaplex. Aku dan teman-teman hadir menontonnya. Meskipun mesti bayar Rp. 25.000,-, tapi senang rasanya bisa menunjukkan dukungan padanya.
Nah, sekarang aku merasakan berada di pihak ‘yang didukung’.
Ternyata rasa senangnya 2x lipat!:D
I have a dream..
Setelah ini.. aku ingin bisa berkarya lagi, bikin cerita yang bagus dan menginspirasi, bikin film yang berkualitas.
Lalu..
Orangtuaku hadir di Premiere, dan seperti di film Sang Pemimpi yang di akhir film menuliskan “Dipersembahkan untuk ayah-ayah kami (Ayah Mira Lesmana, Ayah Riri Riza, dan Ayah Andrea Hirata): Ayah juara satu sedunia”, aku ingin sekali bisa menampilkan di filmku itu:
“Dipersembahkan untuk kedua orangtua saya, Papa dan Mama juara satu sedunia.”
-Sintamilia-
(Berarti pilihannya aku harus jadi: produser/sutradara/penulis cerita yang bukunya bestseller)
*Amiiin*
:D
Minggu, 27 Februari 2011
February Happy
Aku peringatkan, mungkin bagi kalian postingan ini akan tidak menarik. Masih tentang aku. Tapi aku hanya ingin bercerita. Hanya ingin berbagi kebahagiaan di bulan ini :)
Di awal Februari, ada kesedihan yang aku rasakan, karena berpisah dengan seorang teman. Aku sempat menganggap bahwa kehilangan teman adalah kegagalan yang besar. Tapi sekarang aku merasa kehilangan dia adalah sebuah “prestasi”. Banyak orang yang terjebak dalam hubungan yang tidak membahagiakan, namun tetap bertahan dengan banyak alasan. Good bye is always hurt whether it is the right thing or not. Jadi kalau aku bisa memutuskan, berani mengambil resiko “hurt” itu, berarti aku hebat dong? *muji diri sendiri*.
Sekarang aku malah takjub, karena “hurt” dan kesedihan itu kini hilang tak berbekas. Cepat sekali! Mungkin karena faktor dari dia juga sih. Kalau dia bersikap baik & manis, pasti aku akan semakin menyesal dan berat hati. Tapi karena dia tetap menyebalkan, aku justru merasa beruntung dan bersyukur telah jauh darinya. Hehe. Sungguh, hidupku sekarang jauh lebih tenang tanpanya :)
Next.
Tanggal 9 Feb, aku menjalani operasi kecil di jari kaki karena adanya penyakit yang sungguh tidak elit: mata ikan. Menurut aku itu penyakit sepele *meremehkan, jangan ditiru*. Karena keterlambatan & kesalahan penanganan penuh kesotoyan (ternyata ga boleh pake Cal**sol), mata ikannya jadi parah. Pas aku ke dokter, vonisnya langsung: harus diangkat alias dioperasi. Krik. Krik. Krik. Okay.
Aku sempat pasrah akan menghadapi operasi itu sendirian. Tapi surprisingly, Nurul datang menyusul ke rumah sakit bersama tiga ‘adikku’ yang lain: Ami, Ata, dan Ayu (3A!). Gile, bawa pasukan gitu dia. Aku seneng dong. Pas keluar ruangan operasi, di ruang tunggu yang berkapasitas puluhan orang itu cuma tinggal mereka berempat, melihatku dengan antusias. Jadi pengen ketawa haru. Apalagi kemudian merekalah yang ke apotek membelikan obat dan Ayu yang mengganti perban pertamaku (sekalian mengajariku bagaimana mengganti perban yang baik & benar). So sweet lah mereka. They are really my second family. Thanks yaaah ^_^
Selain dari dua hal di atas, masih ada foto bareng Siti Nurhaliza, ada premiere internal Flickering Light, ada perpanjangan kontrak, ada pengeditan gambar trial & error yang akhirnya berhasil, ada cerita-cerita pas buka lapak di Jobfair (bisa jadi postingan tersendiri ni), ada keberhasilanku shooting jadi kru sendirian (I’ve told you I can do it!), hingga lolosnya aku dari kebangkrutan di akhir bulan (yeah!)
Tentu saja ada peristiwa-peristiwa tak menyenangkan yang terjadi. Tapi bukankah itulah yang namanya hidup? Yang penting adalah, dalam setiap peristiwa yang kurang menyenangkan, kita mengambil hikmah. Dalam peristiwa yang menyenangkan, kita bersyukur. Alhamdulillah…
Bagaimana Februari-mu, teman? :)








