Tampilkan postingan dengan label Mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mimpi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Juni 2016

3 Benda yang Kita Butuhkan untuk Jadi Pebisnis Online Ideal

Tak pernah sekalipun terbayang sebelumnya dalam benak saya bahwa saya akan punya bisnis online menjual baju koko anak.

Semua berawal pada bulan Februari lalu, saat mama dan adik saya membelikan sebuah smartphone dimana saya bisa meng-install beberapa aplikasi untuk jualan online (baca: Instagram, Whatsapp, BBM). Saya mulai jadi dropshipper sebuah brand hijab.


Sebulan kemudian, adik saya mengajak saya kulakan di Jakarta untuk jualan baju anak. Saat itu kebetulan saya juga sedang menimbang-nimbang untuk jualan baju anak dimana Kakang bisa jadi model fotonya. Abinya Kakang lagi hobi motret anaknya sih. Kan lumayan ya kalau hasil fotonya bisa dipake promosi barang jualan. Heuheu..



Kakang jadi model baju koko

Berhubung stok yang dibeli tidak terlalu banyak, saya pun mencari supplier baju koko anak yang menerima dropshipper. Dari sanalah bisnis kecil-kecilan saya ini berjalan.


Bulan April penjualan begitu sepi. Hanya ada 3 konsumen yang membeli, dengan total omzet tak sampai 1 juta rupiah *sabar.


Bulan Mei penjualan meningkat. Mungkin karena menjelang Ramadhan. Saya meraup omzet 2,5 juta rupiah. Lumayaaan.


Bulan Juni saya pasang target omzet 5 juta rupiah, meskipun gak tahu bagaimana caranya. Hahaha..


Ternyata Allah memberi saya kejutan. Bulan Juni ini tak kurang ada 70 konsumen yang saya layani dengan omzet menembus 
15 juta rupiah. WAAAAOOOOW!

Hal ini membuat saya berpikir, ternyata bisnis ini potensial juga. Saya pun mulai membayangkan kira-kira bisnis ini akan berkembang seperti apa.


Kalau saran guru saya Pak Jaya Setiabudi, untuk pemula hindari produksi karena ribet. Lebih baik fokus ke pemasaran dan distribusi. 


Saya juga terinspirasi dari video dari Fahmi Hakim, dimana dia bercerita tentang pengalamannya sebagai reseller kacamata selama 4 tahun sebelum akhirnya produksi sendiri dan menjadi brand owner.


Brand Owner!


Mungkin itu yang ingin saya capai 2-3 mendatang: punya merek sendiri. Kalau bisa produksi sendiri bagus. Kalaupun tidak, bisa dilimpahkan pada pihak ketiga yang bisa memproduksi baju dengan kualitas terbaik. Yang terpenting, desain dan kualitas.


Untuk saat ini saya ingin menekuni dulu bisnis online sebagai reseller. Belajar promosi, customer service, membangun database pelanggan, belajar riset produk yang laris, hingga mengumpulkan modal untuk membangun brand sendiri. Banyak deh PRnya. Semoga saya terus semangat dan fokus. Aamiiin..


Saya pikir untuk ibu rumah tangga yang ingin berpenghasilan dari rumah, jadi reseller dan jualan online ini relatif mudah. Saya sendiri tidak pakai modal uang sepeser pun. 


Kalau kamu punya 3 benda ini berarti kamu punya modal lebih dari cukup untuk memulai bisnis online.


1. Smartphone + koneksi internet

Fungsi utama smartphone adalah untuk memajang produk di media sosial seperti Facebook dan Instagram (atau mungkin marketplace), juga untuk berkomunikasi mudah dengan supplier dan konsumen dengan aplikasi chatting seperti BBM, Whatsapp dan Line.

2. Personal Computer (PC)


Smartphone jaman sekarang memang sudah canggih. Sebagian besar pekerjaan bisa dilakukan dengan smartphone. Namun ada beberapa tugas yang membutuhkan PC. Misalnya mengerjakan desain visual.

Soal desain, saya banyak mengerjakannya secara online dengan aplikasi desain berbasis web: Canva. Bukan hanya untuk memberi nama dan logo di foto produk, tapi juga untuk membuat quotes atau aneka konten lain untuk dipublikasikan di media sosial.



3. Kartu ATM

Jujur saja, di awal memulai usaha, modal kartu ATM saja cukup. Pesanan belum begitu banyak. Ke ATM paling 1x sehari buat cek transferan konsumen dan transfer ke supplier. Tapi begitu pesanan banyak, saya pernah ke ATM 3x sehari. Hahaha.. capek ah. Akhirnya memutuskan mengurus internet banking biar bisa cek saldo dan transfer dari rumah.

Saya pakai token karena smartphone saya providernya belum support m-banking. Kalau providermu sudah support, ga pakai token juga bisa. Cukup download aplikasi m-banking dan voila! Cek saldo dan transfer lebih gampang lagi.



See, ga perlu terlalu banyak syarat sebenarnya untuk memulai bisnis online. Dengan menjadi reseller atau dropshipper suatu produk, tanpa modal uang pun kita bisa tetap berpenghasilan dari rumah. Maksimalkan saja 3 benda di atas. Yakin deh pasti bisa ;)

Selamat berbisnis ^^








Selasa, 07 April 2015

#BeraniLebih Bermimpi Besar

Apakah Anda punya mimpi? 
Jika sudah, apakah mimpi Anda sudah cukup besar? 
Mimpi dimana kita tidak hanya sukses bagi diri sendiri, namun juga bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Mimpi untuk tidak hanya mencukupi kebutuhan pribadi, namun bisa untuk menghidupi ribuan orang.

Banyak orang yang tidak berani bermimpi besar karena berbagai alasan. Ada yang merasa takut kecewa jika nanti impiannya tidak tercapai, ada yang merasa hambatan menggapai mimpi sulit diatasi, ada yang merasa sudah cukup dengan hidupnya saat ini, bahkan ada pula yang menganggap impian itu tidak penting jadi jalani saja hidup ini bagai air mengalir. Apakah Anda termasuk salah satunya? Semoga tidak, ya?

Saya pernah baca (lupa dimana) bahwa ada satu pertanyaan yang bisa coba Anda jawab untuk menggali impian terbesar Anda, yaitu: 
“Jika finansial tidak lagi menjadi masalah, jika tanpa bekerja Anda sudah memiliki penghasilan cukup untuk membeli apapun yang Anda inginkan, apa kegiatan yang akan Anda lakukan?”
Bertahun-tahun lalu saat saya pertama kali menerima pertanyaan ini, jawaban saya adalah: bikin film Islami, travelling ke beberapa tempat wisata terindah di seluruh pelosok Indonesia, dan jalan-jalan ke luar angkasa! Hahaha..

Apakah impian saya itu bisa  tercapai? Bisa sekali! Bahkan yang terakhir itu, beneran sudah ada loh perusahaan yang bisa memberi kesempatan bagi siapa aja yang mau naik pesawat luar angkasa dan mengelilingi bumi dari atas sana (bukan perjalanan antar planet memang. Tapi lumayan kan? Hehe..) Tinggal kumpulin dananya, lalu laksanakan. Memang mahal, tapi bukankah uang bisa dicari? Dan lagi, tak ada yang tidak mungkin. *tsaah

Itu impian saya jaman abege. Kalau sekarang, ya lebih family-oriented. Salah satu impian saya adalah memiliki rumah besar, kira-kira berisi 5 kamar + kamar pembantu, supaya bisa menampung keluarga besar saat lebaran. Eeeaaa.. Aamiin..

Saat ini saya belum punya rumah. Kami menyewa sebuah rumah sederhana, yang dapurnya hanya ada tempat untuk menaruh kompor dan kami sering bingung menaruh peralatan makan dimana, yang kalau lagi masak terus ada yang mau lewat menuju toilet, maka yang lagi masak itu harus merapat ke pinggir. Iya sesempit itu dapurnya :))

Lalu apakah kondisi saat ini mencegah saya bermimpi besar? 
Tidak!


Saya #beranilebih bermimpi besar. 
Bagaimana dengan Anda? ;)



Fb : Sintamilia Rachmawati
Twitter : @sintamilia




Jumat, 23 Januari 2015

Tahun Baru, Resolusi Baru

Selamat Tahun Baru 2015! *telat. Hehe..

Postingan terakhir saya di tahun 2014 adalah tentang kelahiran Kakang Awan. Dan sekarang si Kakang udah lewat 3 bulan saja. Time flies, huh?

Saat ini saya tinggal di rumah mertua di Sumedang, dalam rangka mengabulkan permintaan mertua karena ingin berpartisipasi mengurus cucunya. Itu bahasa halusnya. Tapi kayaknya sih karena mereka gak yakin saya bisa ngurus bayi sendirian :3 *suudzon

Awalnya sih sedih banget sampai nangis-nangis karena gak mau pisah sama suami yang kerja di Bandung. Tapi setelah dijalani, ambil saja deh positifnya. Alhamdulillah ada yang bantu ngasuh Kakang, terutama kalau dia lagi rewel karena masuk angin atau habis imunisasi. Alhamdulillah juga masih bisa ketemu suami seminggu sekali. Orang lain mah ada yang “gara-gara” bayi-bersama-kakek-nenek ini, musti Long Distance Marriage (LDM) dan ketemuan ma suaminya sebulan sekali. Ya, syukuri saja..

Niat untuk kerja lagi pun bubar jalan. Ada tawaran kerja freelance di Bandung yang mengharuskan saya ke kantor  dulu 1-2 minggu di awal, terpaksa saya tolak karena tidak ada yang bisa saya titipin Kakang. Sementara untuk kontribusi di tempat yang lama secara remote juga harus tertunda karena koneksi internet di sini agak parah, jadi takut malah mengecewakan nantinya.

Untuk saat ini sih lagi fokus dulu aja ngurus Kakang. Sehari-hari kerjaan saya motret dan ngerekam videonya untuk di-share ke Papi Mami di Batam, juga belajar soal internet marketing biar bisa menghasilkan uang dari rumah.

Jurus pamungkasnya adalah.. langsung tidur sendiri.

Ngomong-ngomong soal cari rezeki dari rumah, sepertinya saya ingin mulai lebih serius jadi blogger, karena melihat peluang yang lumayan dari sana. Sejauh ini sih, secara materi dari ngeblog saya baru dapat:
  • Voucher belanja 170rb dari sebuah toko online besar , cukup dengan memasang 1 link yang mengarah ke web mereka. Vouchernya saya pakai buat beli kemeja untuk suami tercinta.
  • Voucher belanja di minimarket 200rb dari sebuah platform blog yang sedang mengadakan event. Vouchernya sebagian besar buat beli kebutuhan Kakang seperti pampers dll J


Saya yakin blogger bisa menjadi sebuah profesi yang bisa menghasilkan. Apalagi memang ada beberapa model bisnis untuk blogger, dimana sebuah blog bisa di-monetize dengan mengikuti program Google Adsense, affiliate marketing, product review, jual space iklan, dan lain sebagainya. Saya juga lagi berminat ikut berbagai lomba blog atau kompetisi menulis. Iseng-iseng berhadiah. Hehe..

Untuk tahun 2015 ini, saya sudah menuliskan hal-hal yang semoga bisa terlaksana:
  • Tahajud min 3x/week
  • Hafal juz 30
  • Chat with old friends min 3 person/week
  • Move to a new house
  • Start to be a profesional blogger
  • Be an adsense publisher
  • Be a Yubi Affiliate, Clickbank, and product reviewer
  • Join Blogger Community
  • Trip to Jogja
  • Get min 10$/day at the end of 2015
  • Join min 12 blog competition/contest a year (1/month)


Demikianlah. Mohon doanya semoga tercapai semuanya. Semoga yang baca postingan ini juga tercapai apa-apa yang diinginkan tahun ini. Aamiiin ya Rabb..



Sabtu, 20 Agustus 2011

Mimpi Absurd

Tadi pagi saya bermimpi.
Mimpi yang, seperti wajarnya mimpi, terasa absurd sekaligus begitu nyata.

Alkisah,
saya berada pada sebuah antrian audisi (Audisi apa? Lanjutkan membaca! :D)
Banyak yang ngantri. Kayak di acara Indonesian Idol.

Tapi sempat-sempatnya, saya dan kawan-kawan (entah siapa kawan-kawan saya ini) melakukan tindak kriminal dengan melakukan... apa ya..? kalau tidak salah, mencuri beberapa bagian mobil milik Bara putranya Juan Felix Tampubolon (Entah kenapa ada dia di mimpi saya! Kenal aja enggak. Hwkwkwkwkwkwkw. Padahal ga ada Nikita Willy. Ckckckc)

Saya berjalan ke sebuah saung yang ada tempat duduknya.
Saung itu terletak di atas, di bagian tanah yang tinggi.
Agak berat menanjaknya. Tapi seseorang membantu saya dengan mendorong punggung saya.
Hingga sampai di saung, saya duduk.
Ketika saya melihat siapa yang mendorong saya..
ternyata dia.
Si tampan. Mari kita inisialkan menjadi ST (hihihi..)

Kalimat saya hanya satu, yang intinya saya tidak menyangka dia akan berada di situ.
Ternyata itu satu-satunya kalimat yang ada di antara kami.
Dia tak menjawab, dan saya tidak berbicara apapun lagi padanya setelah itu.
Tapi kami -atau minimal, saya- tetap merasa nyaman.
Setidaknya tidak ada pertengkaran seperti biasanya.

Kemudian kami pindah lokasi (biasa, di mimpi pindah-pindah lokasi entah dimana).
Mengantri lesehan dengan ratusan pengantri lain, yang sebagian besar perempuan seumuran saya.
Dia, ST, satu dari segelintir cowok, duduk persis di sebelah kanan saya.
Menemani saya.

Kemudian Bara lewat.
Berlutut di samping kiri saya, dan mengeluarkan sesuatu yang saya yakin dia ambil (entah bagaimana) dari saku saya.
"O ow. Aku ketahuan! Mengaku saja apa ya?" pikirku mengingat tindak kriminalku tadi.
Dia menunjukkan benda yang dia ambil dari saku saya,
ternyata... stiker logo mobilnya (Gubraaaaaakkkkss!).
Dia meringis menertawakan.
Mungkin dia pikir, cemen banget saya cuma nyolong stiker mobilnya.
Lalu ia pun pergi meninggalkan saya.

Si Bara nampaknya masih mencari-cari pelaku pencurian isi mobilnya.
Beberapa orang dipanggil dari antrian.
Ada seorang gadis yang ketika digelandang, dia berat hati dan memelas,
"Tapi saya lagi 'dapeeet'..."
Saya ngakak guling-guling mendengarnya.
Geer banget tuh cewek, kayak mau diapain aja sama si Bara.

Lalu ST menunjukkan pada saya bahwa saya lagi 'dapet' dan 'tembus'.
Whaaaaattt?
Dengan wajah merah padam, saya tampar pelan pipinya supaya berpaling dari saya.
Sialan!

Menunggu.. dan menunggu..
Saya dan ST sama sekali tidak berbicara.
Hanya mengamati orang-orang yang berseliweran di depan kami.
Persis seperti orang lagi gelar lapak di Gasibu.

Tapi entah kenapa..
Kalau ada cowok yang lewat, sepertinya senang sekali mereka mengganggu ST.
Kebanyakan membuat dia jatuh terjengkang.
Saya kasihan tapi tidak bisa berbuat apa-apa,
saya pun tidak tahu apa salahnya sehingga ia dizolimi seperti itu.
Dan saya tidak bertanya.
(Ckckck. Bahkan dalam mimpi pun saya masih (pura-pura?) bersikap tidak peduli).

Sampai akhirnya...
Audisi dinyatakan selesai padahal saya belum sempat di tes.
Ternyata itu adalah audisi..
untuk mencari..

pemain tenis (Super absurd sekali sejak kapan saya tertarik main tenis? -__-").


Kami pun pulang.
Nebeng sebuah mobil carry berwarna putih,
dengan teman-teman kuliah saya yang tidak begitu akrab (ga tau kenapa mereka juga ada di mimpi ini -___-")


Saya terbangun.



Sejujurnya saya memang sedang kangen sama ST ini.
Tapi saya belum mau menghubunginya.
Jadi yaaah.. cukup senang ketemu dalam mimpi.
Lebih senang lagi karena tidak perlu ada percakapan yang biasanya berujung tidak enak.

Anyway,
Semoga dia baik-baik saja.

















Senin, 07 Maret 2011

PREMIERE

Sebelum cerita tentang acara premierenya, izinkan aku curcol dulu *boleh, boleh. Di film Flickering Light, aku menjabat sebagai sutradara Behind The Scene. Alias seksi dokumentasi. Sayangnya, BTS yang rencananya akan diputar saat premiere, tidak bisa dilaksanakan.
Kenapa?
Karena belum jadi!
*yaaaaaaahhhhh
**penonton kecewa.

Satu pelajaran yang aku dapat adalah, bahwa aku miss dengan ‘pasca produksi’. Selama ini aku menganggap pekerjaan BTS hanya merekam, memotret, dan menulis. Tapi bagaimana hasil perekaman, pemotretan, dan penulisan itu direkap, diolah, dan dipublikasikan, aku tidak memikirkannya dengan matang.

Aku menemui kendala teknis. Ga punya alat penyimpanan data yang aman dan ga punya komputer yang memadai untuk mengedit video. Aku sama sekali ga terpikir bahwa semuanya itu bisa menggagalkan produksi BTS. Well, my bad. Lain kali sebelum aku mengajukan diri jadi kru BTS, aku akan beli hardisk eksternal minimal 500 GB dan komputer yang layak untuk ngedit. Oh, dan tak kalah penting: waktu yang cukup untuk mengerjakan semuanya (sekarang aku nyaris tidak punya waktu untuk bikin film di luar pekerjaan).

Meskipun hasil karyaku berupa video BTS belum bisa diputar, aku tetap mengundang teman-temanku untuk datang dan menyaksikan FILMKU: Flickering Light (FL). Bagaimanapun, FL itu kan filmku juga dan di luar jobdesk BTS, ada, lah, keterlibatanku di dalamnya meskipun dikit: nyari pemain anak kecil dan minjemin clapperboard meski dipakainya sebentar. Heuheu..

Premiere Flickering Light diadakan hari Sabtu, 5 Maret 2011, di ruang 9009 bioskop kampus ITB. Kesanku tentang acara itu: “Oooo.. jadi gini toh yang namanya premiere..”

Aku sangat amat terharu dengan kehadiran sobat-sobatku. Yang paling berkesan adalah kehadiran Ijal dan Linto. Ijal tinggal di luar kota, dan kadang bolak balik ke Bandung. Sebenarnya minggu ini bukan jadwalnya ke Bandung. Tapi dia ingin memberikan dukungan padaku yang telah menghasilkan karya.

Sementara Linto, kami sangat jarang ketemu. Dan kalaupun ketemu, biasanya cuma pas acara reuni SMA. Tapi dia hadir untuk menjadi saksi kesuksesan aku (itu kata-kataku, bukan kata-katanya. Lebay ya? :p)

Selain mereka, ada Indri yang datang dari Lampung, ada juga sahabat lamaku, Tessa *bakal kujitak kalau dia sampai ga dateng*. Anak-anak kosan yang datang: Nurul, Ami, dan Ata, plus Zen.
Aku baru menyadari bahwa kehadiran mereka sungguh berarti. Aku merasa didukung. Dan dukungan itu rasanya menyenangkan! *terharu lagi*.

Aku teringat, seorang juniorku (sebut saja Gifar) pernah jadi penulis skenario di sebuah film, dimana film itu diputar di Blitz Megaplex. Aku dan teman-teman hadir menontonnya. Meskipun mesti bayar Rp. 25.000,-, tapi senang rasanya bisa menunjukkan dukungan padanya.
Nah, sekarang aku merasakan berada di pihak ‘yang didukung’.
Ternyata rasa senangnya 2x lipat!:D

I have a dream..

Setelah ini.. aku ingin bisa berkarya lagi, bikin cerita yang bagus dan menginspirasi, bikin film yang berkualitas.
Lalu..
Orangtuaku hadir di Premiere, dan seperti di film Sang Pemimpi yang di akhir film menuliskan “Dipersembahkan untuk ayah-ayah kami (Ayah Mira Lesmana, Ayah Riri Riza, dan Ayah Andrea Hirata): Ayah juara satu sedunia”, aku ingin sekali bisa menampilkan di filmku itu:
“Dipersembahkan untuk kedua orangtua saya, Papa dan Mama juara satu sedunia.”
-Sintamilia-


(Berarti pilihannya aku harus jadi: produser/sutradara/penulis cerita yang bukunya bestseller)
*Amiiin*
:D

Kamis, 19 Agustus 2010

10 Ramadhan: Ingin Jadi Ibu Rumah Tangga

Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke-10: Allah memberikan anugerah kepadanya,berupa kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.

Sumber dari sini

-----

Aku membaca sebuah postingan si blog teman, di mana dia bercerita tentang impiannya untuk menjadi wanita karier. Hmm.. menarik. Meskipun impiannya sangat berbeda dengan impianku (emang siapa yang bilang harus sama? :p)

Kalau dia ingin jadi wanita kantoran yang mapan,
aku ingin jadi ibu rumah tangga :)

Pernah ada yang komentar
"ya elah.. itu sih PASTI lah, kita jadi ibu rumah tangga!"
hehe.. ketahuan deh males kerja kantoran. Hihihi..

Tapi bukan berarti aku ga mau kerja sama sekali.
Mau kok.. Mau banget.
Tapi yang kerjanya bisa di rumah.
Jadi pengusaha, misalnya :D

Tapi tetap, kalau ada hal yang paling ingin aku lakukan di masa depan adalah mengurus keluarga. Seperti Mama.

Aku ingin menjadi ibu dari (perhatikan!) 3 orang anak, yang sulung laki-laki, dengan selisih umur 3 tahun dengan 2 adik di bawahnya. Anak tengah laki-laki, anak bungsu perempuan. Keduanya kembar. (Hohohoho.. detailnya berlebihan yee? hehe)

Aku ingin menjadi ibu yang setiap pagi memasak dan memastikan semua anggota keluarga berkumpul dan makan bersama. Seperti Mama, mengajarkan bahwa "sarapan adalah WAJIB", kecuali kalau lagi puasa :D

Aku ingin menjadi ibu yang mempelajari ilmu parenting dengan serius dan mendidik anak-anakku dengan cara terbaik yang bisa aku lakukan.

Aku ingin menjadi ibu yang mengenal dan mengarahkan bakat anak-anaknya dengan menyediakan pendidikan formal dan non-formal yang mendukung minat mereka.

Aku ingin menjadi ibu yang bisa hadir pada kegiatan-kegiatan di sekolah mereka, acara perpisahan, acara pertunjukkan, atau pertandingan olahraga dimana mereka bisa menunjukkan padaku, "Lihat! Aku bisa!"

Aku ingin menjadi ibu yang bisa mengajarkan agama dengan baik, dan menjadikan salat berjamaah sebagai tradisi keluarga.

Aku ingin menjadi ibu yang mendongeng setiap malam sebagai pengantar tidur. Seperti yang dulu sering Papa lakukan untukku dan adik-adik.

Aku ingin menjadi ibu yang menjadi tempat curhat anak-anakku, bahkan hingga mereka remaja dan mendewasa.

Aku ingin menjadi ibu yang mencetak generasi sholeh dan sholehah, cerdas, sukses, dan bahagia.


Ah..
Impianku sederhana ya?
Hanya ingin menjadi ibu yang berdedikasi pada keluarga.
hmm..
tentunya diawali dengan menjadi istri yang baik, dong :D



Bagaimana denganmu? =)

Minggu, 15 Agustus 2010

6 Ramadhan: "Act of Dishonour"

Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke-6: Allah akan memberi pahala seperti pahala orang yang tawaf di-baitul makmur, dan batu-batu serta tanah liat memohonkan ampun untuknya.

-----

Hari ini aku menghadiri pemutaran film "Act of Dishonour" di ITB, dimana sang sutradaranya
Nelofer Pazira juga ikut hadir.

Film ini berkisah tentang.. (ehm, biar cepat aku copas aja lah dari Kabarindo :p)
Act of Dishonour (2010) adalah film terbaru karya sutradara Nelofer Pazira. Film ini berkisah
tentang Mena, seorang gadis cantik yang hidup di sebuah desa terpencil Afghanistan Utara. Di desa itu hidup pula tunangannya Rahmat. Penduduk desa mereka yang memegang teguh adat istiadat setempat didatangi serombongan kru film dari Kanada.

Momen ini mengawali persinggungan Mena dan penduduk desanya dengan dunia luar. Perjumpaan ini membawa pula ketegangan dan sekaligus pembelajaran bagi kedua belah pihak, dan dalam arti luas bagi dua budaya: Timur dan Barat.


Hmm.. masih kurang ah penjelasannya. Aku tambahin ni:

Mena adalah gadis 15 tahun yang akan menikah. Dia udah punya baju pengantin, tapi belum punya burqa untuk malam pertama (kalau orang Barat malam pertama pakai lingerie, kalau orang Afghanistan malah pake burqa, yang menutup SELURUH TUBUH termasuk wajah). Dia lalu bertemu kru film, yang mengiming-imingi burqa asalkan dia mau main film.

Mena yang polos pun bersedia main, padahal menurut adat, seorang perempuan, apalagi yang belum menikah, tidak boleh keluar rumah. Kelakuannya itu diketahui oleh keluarganya dan orang-orang.

Sang ayah mendapat tekanan sosial untuk membunuh anaknya karena telah mempermalukan dan menjatuhkan harga diri keluarga. Pembunuhan itu hampir ia lakukan saat Mena tidur, namun (mungkin) karena sayang, tidak jadi ia lakukan. TAPI, diam-diam ia membelikan peluru untuk Rahmat, tunangan Mena, agar nanti membunuh Mena dengan cepat dan tanpa rasa sakit.

Hingga akhirnya, di Hari-H, Rahmat menjemput Mena (yang cantik dengan gaun pengantinnya), melakukan perjalanan jauh berjalan kaki, dan di tengah gurun mereka berhenti. Rahmat mengarahkan senapannya ke arah Mena.

Mena pasrah.
Ia menangis.
Siap menjemput ajal.
(PERINGATAN: SPOILER!)

Rahmat (sambil mata berkaca-kaca karena sedih, berat hati, dan patah hati) menembak.
Membuang pelurunya, dan
meninggalkan Mena dalam keadaan hidup.
Terdampar in the middle of nowhere..
THE END

Konon, fim ini terinspirasi dari kisah nyata loh. Jadi, pernah ada seorang istri yang diajak main film. Saat itu suaminya di Pakistan. Begitu suaminya pulang ke Afghanistan, ia mendengar orang-orang membicarakannya istrinya yang keluar rumah tanpa sepengetahuannya. Dan istrinya itu lalu dibunuh!

Hmm..
Banyak yang ingin aku tulis sebagai tanggapan dalam film yang mengangkat nilai-nilai perdamaian, hak asasi, dan toleransi ini. Tapi yang mau aku highlight simpel aja..

Sang sutradara, Nelofer Pazira, membuat film ini tidak untuk menghasilkan uang dan tidak mencari popularitas.
Ia ingin duduk, berkumpul, berdialog, dan berdiskusi dengan penonton.

Ia ingin memotret fenomena, menunjukkan realitas pada orang-orang, dan membantu mencari solusi serta jalan keluar untuk kehidupan yang lebih baik.
Kasarnya, mencari cara agar budaya seperti itu bisa diubah.
Kalaupun tidak bisa diubah, setidaknya orang-orang (termasuk sang penganut budaya) aware akan plus minus budaya seperti itu (IMHO).

Hmm.. jadi inget produser 89 Project.
Mungkin visi dia juga mirip-mirip seperti itu kali ya.. (memotret fenomena dan membangun awareness)

Kalau aku sih,
pengen seperti Nelofer karena..

jalan-jalan ke luar negeri untuk memutarkan filmnya!

Aku juga ingin seperti itu, ya Allah..
Amiiiiiiinnn...!!

Minggu, 30 Mei 2010

Damien Dematra

Damien Dematra adalah seorang novelis, penulis skenario, sutradara, produser, fotografer internasional, dan pelukis.

Ia telah menulis 45 buah novel dalam bahasa Inggris dan Indonesia,
53 skenario film dan TV series,
dan memproduksi 26 film dari berbagai genre.


Sebagai fotografer, ia meraih puluhan penghargaan internasional, diantaranya International Master Photographer of The Year.


Damien Dematra juga telah menghasilkan 365 karya lukis dalam waktu 1 tahun.


...

Sebagian karya-karyanya dapat dilihat di www.damiendematra.com



I LIKE THIS! *ngacungin jempol*

Selasa, 17 November 2009

Emak Ingin Naik Haji



Satu lagi film berkualitas karya anak bangsa: Emak Ingin Naik Haji.
Melihat trailernya saja, nuansa sedihnya udah terasa.
Mungkin karena faktor lagunya kali ya. Hadad Alwi sih..
Maka hari ini juga aku dan teman-teman kosan menonton di Empire, BIP.



Ini adalah film pertama dimana sepanjang film aku bawaannya pengen nangiiiiis mulu.
Mataku berkaca-kaca.
Tapi aku tahan supaya enggak nangis.
Gengsi, ah. Hehe..



Bercerita tentang seorang ibu dari kalangan bawah yang ingiiiiiin sekali naik haji. Begini kira-kira salah satu dialognya,
“Emak nabung, lima tahunan baru dapet lima juta. Ongkos haji 30 juta. Berarti harus nabung 25 tahun lagi. Sekarang umur Emak 61 tahun. 25 tahun lagi umur Emak… (berpikir) 86 tahun. Masih ada umur gak ya?” (dengan nada nelangsa, dan anak laki-lakinya, Zein, hanya mendengarkan dengan prihatin). Hiks.

Konflik terjadi ketika uang tabungan Emak yang lima juta itu dipinjam tetangga untuk operasi anaknya yang terkena hernia. Zein tidak setuju sebenarnya. Tapi Emak mengambil keputusan yang benar: memberikan uang itu untuk pengobatan anak tetangganya.

Dan Emak pernah berkata,
“Raga Emak mungkin gak mampu, untuk menyeberangi lautan yang begitu luas.
Tapi Emak yakin, Allah pasti tahu.
Hati Emak udah lama ada disitu...
...
Udah lama ada disitu.."
(sambil menahan tangis karena kerinduannya yang amat sangat)

Hua.. beneran kamu harus nonton!
Minimal, trailernya, lah.
Lihat aja di youtube.

Endingnya sih memang kurang seru dan ketebak.
Tapi bener deh, dengan akting pemain yang oke, ilustrasi musik dan soundtrack yang keren, serta adegan-adegan menyentuh tanpa banyak kata-kata, film ini sangat layak untuk ditonton.

Ada beberapa adegan yang menurut aku menarik karena ironis.

1. Seorang Ibu Kaya dapat 34 kupon berhadiah naik haji, hasil dari belanja yang totalnya jutaan. Dengan santai si Ibu Kaya membuang kupon itu di depan Zein. Bayangkan perasaan Zein!

2. Burung peliharaan Zein mati. Tetangga Zein, seorang gadis remaja, menawarkan untuk menguburnya. Ternyata malah dia masak!
Sang gadis beralasan, dia sekeluarga udah ga pernah lagi makan daging.
Sementara itu, di rumah Ibu Kaya, sang anak perempuan menyuruh ayam goreng tepung yang dihidangkan dikasih ke kucing aja! Gokil!

3. Disaat Emak kesulitan dana untuk naik haji, anaknya Ibu Kaya (masih SMP, sih) dengan mudahnya membatalkan umroh sekeluarga karena Dude Harlino batal ikut! (Keluarga Kaya itu ikut program umroh bareng artis, ceritanya..)

Menonton film ini, aku jadi ingat Papa. Ia ingin sekali menaik-hajikan ibunya. Yang sampai sekarang belum terwujud. Kira-kira apa ya, yang Papa pikirkan kalau menonton film ini?

Btw, aku menemukan target baru untuk bekerja di perfilman. Kalau selama ini aku pengen bergabung di Demi Gisela Citra Sinema, sekarang aku punya pilihan kedua: Mizan Productions!

Oh.. aku sungguh-sungguh ingin terlibat dalam sebuah produksi film yang berkualitas..

Amin, Ya Allah, Amiiiin….

Kamis, 12 November 2009

Memberanikan Diri Bermimpi


Kemarin, sahabatku, sebut saja Mela, mengajakku chat melalui facebook.
Ia mempunyai ide brilian: Backpacking ke Inggris dan Prancis, bertiga bersama sahabat kami yang lain, Delvi.
Kami punya waktu dua tahun untuk menabung dan mengumpulkan uang 20 juta rupiah untuk biaya perjalanan.

Komentar pertamaku saat mendengarnya adalah:
Aje gile.. hehehe..

Sebelumnya, Mela memang pernah menulis status di facebook bahwa dia sangat iri dengan si Naked Traveler, dan bertanya-tanya kapan dia bisa keliling dunia.
Aku memberi komentar bahwa aku juga merasakan hal yang sama.
Delvi juga menulis komentar, kalau kami mau keliling dunia, jangan lupa mengajak dia.
Hahaha.. Saat itu kami hanya mengaminkan.

Aku tidak menyangka Mela serius dengan mimpinya itu, dan membuat rencana seperti yang telah aku sebutkan di atas. Dia bahkan punya rencana cadangan, kalau uangnya tidak mencukupi untuk ke Eropa, kami bakal ke Aussie atau New Zealand, ke lokasi syuting The Lord of The Rings.

Gokil!

Aku bilang padanya aku sebenarnya tidak berani pergi ke luar negeri sendirian tanpa didampingi orang yang bisa melindungi kami seperti, ehm, suami.. atau Papa.. atau tour guide terpercaya. Tapi kalau Mela berani, aku akan memberanikan diri lah. Hehe.. Sebenarnya belum tentu diizinin ortu juga sih.

Aku juga sempat bilang kalau sebelum ke luar negeri aku pengen ke Bali dulu..
Terus kalau memang belum bisa ke Eropa.. ya ke Asia aja.. Jepang, Korea, China, India.. (tapi rencana yang terakhir ini sepertinya akan terkendala bahasa. Hihi…)

Chatting kemarin adalah obrolan yang singkat, tapi menyenangkan. Mengajarkan aku untuk berani bermimpi besar. Meskipun yah.. mengingat bahwa aku dan Mela sekarang belum lulus kuliah, dan Delvi bekerja sebagai guru SD, maka pertanyaan besarnya adalah,
bagaimana kami akan mengumpulkan uang?

Teorinya, itu tidak boleh jadi hambatan. Memangnya seberapa banyak uang Ikal ketika ia ke Eropa? ;p

Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu (Andrea Hirata)

Senin, 09 November 2009

Stop Dreaming, Start Action

Perjalanan hidupku sebagai mahasiswa tak lama lagi berakhir.
Yang paling berat bagiku adalah bahwa aku tidak akan lagi bebas bermimpi seperti dulu, bebas berganti cita-cita kapanpun aku mau.
Aku akan dihadapkan pada realita, yang mungkin tak semanis mimpi.
Aku tak kan lagi bisa bersenang-senang dan bertingkah kekanakan, karena semua orang akan menganggapku dewasa. Mau tidak mau, aku dituntut untuk mandiri. Dituntut untuk ‘mempresentasikan’ apa saja tujuan hidupku, dan langkah apa yang akan aku ambil.

Aku punya banyak cita-cita, sehingga aku bingung sendiri bagaimana mencapainya.
Aku pernah mendiskusikan keinginanku untuk bekerja disini dan disana kepada Mama. Aku katakan pada Mama, kalau aku takut ditolak dan takut gagal.
Mama berkata bahwa aku sebaiknya menerima pekerjaan apapun yang pertama kali kudapatkan. Meskipun mungkin tidak sesuai dengan yang aku inginkan, meskipun tidak sesuai dengan yang aku cita-citakan.

Aku tidak setuju. Tapi Mama memiliki pengalaman hidup lebih banyak. Dan itu menjadi alasan yang cukup bagiku untuk mempertimbangkan apa kata Mama.
Mungkin Mama berpikir, realistis sajalah. Masih untung bisa dapat pekerjaan.
Dan sejak saat itu, aku merasa mimpi-mimpiku terancam.

Aku tidak ingin mengubur impianku, tentu saja. Tapi aku harus bersiap-siap jika kenyataan berkata lain.

Waktuku untuk bermimpi tinggal sebentar lagi.
Paling lama, sampai aku diwisuda. Setelah itu,
Welcome to the jungle.. You have to do something, You have to earn money.
Good bye, idealism. Welcome to the capitalism industry..

Selamat datang di dunia orang dewasa…

Karena itu, disini aku ingin menulis mimpi-mimpiku. Semoga bisa menjadi prasasti, yang akan mengingatkan aku pada tujuan hidupku. Paling tidak, tujuan hidupku ketika mahasiswa. Karena mungkin, setelah bekerja, tujuan hidupku akan berubah. Berubah setelah berhadapan dengan realita.

Hidup yang aku impikan adalah seperti ini..

1. Bekerja di rumah. Entah itu dengan bisnis online, menjadi blogger profesional, freelance writer, membangun bisnis rumahan, dan/atau MLM. Semata-mata karena aku ingin menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya dengan keluargaku. Menemani Mama yang sering sendirian di rumah karena suami dan anak-anaknya pergi beraktivitas.

2. Menjadi asisten sutradara, asisten produser, atau kru lain di Demi Gisela Citra Sinema. Aku ingin sekali menjadi bagian dari sebuah tim yang menghasilkan karya film/sinetron berkualitas dan bernafaskan Islam.

3. Menjadi bagian di film Edensor, atau bahkan Maryamah Karpov (jika memungkinkan untuk difilmkan).

4. Ingin banyak berjalan, ke seluruh Indonesia dan seluruh dunia. Untuk yang satu ini, aku tidak ingin banyak menuntut dari segi bidang pekerjaannya. Apakah jadi kontributor, wartawan, pegawai Deplu, Depparbud, Staf PBB, karyawan perusahaan multinasional, MLM, fotografer, kurir, supir, sampai tukang bawa lampu syuting juga oke >.<. Yang pasti, ga mungkin jadi pramugari :p

5. Menikah di usia 24 tahun, dan kalau punya bayi, akan berhenti bekerja sampai dia (dan adik-adiknya, kalau ada) masuk SMA.
\
6. Kuliah S2, dan menjadi dosen, atau konsultan.
7. Kalau sudah pensiun, akan menikmati hidup dengan banyak beribadah dan berkebun :-)

Hey, ternyata poin 1-4 agak ga nyambung ya? Hihi.. Pantas saja aku bingung. Tapi tak apa. Biarlah begitu. Aku hanya bisa merencanakan. Tuhan yang menentukan.

Ya Allah, lihatlah hamba-Mu ini. Bahkan merencanakan hidupnya pun ia tidak pintar. Tapi hamba yakin, Ya Rabb. Engkau selalu, selalu memberi yang terbaik bagi hamba. Hamba serahkan hidup dan mati hamba pada-Mu ya Allah
..

Aku telah ‘memesan’ masa depan. Biarkan Allah mengurus segalanya. Tugasku kini satu. Berhenti bermimpi dan mulai bertindak.

Menyelesaikan skripsi

Belajar untuk sidang komprehensif

Bersiap-siap sidang skripsi

Mengakhiri status mahasiswa

Ya Allah, mudahkan segalanya.
Amin.

Bagaimana dengan kamu? Apa mimpimu? Apakah kamu sedang mengejarnya?