Tampilkan postingan dengan label Keluarga Gokil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga Gokil. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Maret 2026

Maret 2026 : Dari Perang sampai Gigi Patah

Perang US - Israel VS Iran 

Tanggal 28 Februari, US & Israel menyerang Iran. Supreme leader mereka tewas. Begitu pula 180 anak perempuan yang sedang di sekolah. Iran membalas dengan menyerang US bases di Kuwait, Bahrain, UAE, dan Arab Saudi. 

Sampai saat ini, perang masih berlangsung. Selat Hormuz ditutup oleh Iran, dan harga minyak naik.

Seandainya aku punya harta sebanyak Elon Musk, rasanya ingin sekali aku order rudal ke Iran sambil bilang, "Kirimin ke rumah Setanyahu, Ben Gvir, dan semua anggota parlemen. Tiap hari selama selama setahun ya. Sampai Israel hancur semua seperti di Gaza!"


Sky bagi-bagi takjil

Ini agenda sekolah Sky untuk bulan puasa. Sky dapat 2 bungkus buah-buahan dan 2 bubur candil untuk dibagikan. 

Selasa, 10 Mei 2022

Tentang Kakang: Puasa Pertama, Lebaran & Khitanan

Tahun lalu saya mulai mengenalkan Kakang tentang puasa. Pada pelaksanaannya sih, bisa dibilang gak bener lah. Heuheu. Misalnya nih:

- Gak pake niat

- Tidur larut malam, ga sahur.

- Bangun siang jam 10

- Pas azan dhuhur jam 12, berbuka puasa. Wkwkwkwk

Puasa apaan tuh cuma 2 jam ye kan.

Jumat, 22 Mei 2020

ANJING!



Kakang sedang main game di laptop ketika kami mendengar dia berseru, "ANJIIIIIING!"

Semua orang kaget.

"Kok Kakang ngomong gitu?" tegur saya dengan nada dibuat se-selow mungkin.

Sementara itu Abinya langsung menghampiri Kakang. Dia tidak ngomong apa-apa. Tapi sepertinya melakukan sesuatu pada Kakang yang membuat Kakang membela diri, "Ini ada anjing beneran!" dan 10 detik kemudian Kakang menangis.

"Hei, kenapa Kang? Kok malah nangis?" tanya saya.

"Aku tuh bukannya ngomong bahasa (kasar).." jawabnya sambil berderai air mata.

"Oh gitu. Heuheu.. Yah, begitulah Kang kalau di tanah Sunda. Kalau kita di Medan mah engga apa-apa."

Om nya Kakang juga tertawa dan menimpali, "Kalau di Batam, ga ada yang peduli."

"Lain kali kalau ngeliat anjing, bilang aja 'It's a dog!' gitu ya Kang.." tutupku.

---

Kata "Anjing" di tanah sunda itu unik pemaknaannya.

Kalau dikatakan oleh anak kecil, maka anak itu akan dicap tidak sopan, kurang ajar, bahkan bagi yang didikannya ekstrim, mulut si anak bisa dijejali cabe. 

Tapi kalau anak tsb laki-laki, berusia di atas 15 tahun, mengucapkan kata anjing (pada temannya, bukan pada hewan), maka itu adalah tanda keakraban. Contohnya, "Si anjing!" atau agak diperhalus jadi, "Si anying, dasar!"


Menjadi dilema bagi saya yang sehari-hari berbahasa Indonesia dan menganggap bahwa sah-sah saja kalau Kakang menyebut binatang berkaki 4 pemakan tulang ini sebagai anjing. Silakan cek di KBBI, Kakang menggunakan bahasa yang benar.

Saya memang tak pernah mempermasalahkan Kakang saat dia menyebut kata anjing, selama yang ia maksud memang hewan anjing. Toh Kakang tidak pernah mengumpat.

Yang gak boleh itu kan mengumpatnya toh?

Tapi ya sudahlah..

Pepatah bilang, dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Jadi Kang, next time kamu melihat anjing, bilang aja dalam bahasa sunda "Gog-gog!" atau english sekalian ya. Heuheu


Pict by Canva



Senin, 24 Juni 2019

Road Trip Garut - Tasikmalaya - Sumedang

Alhamdulillah bulan Juni ini keluarga lagi banyak dapat rezeki. Saya dan adik-adik patungan dan membawa orangtua berkunjung ke Garut (kakak dari Mama), Tasikmalaya (banyak saudara Mama di sana), serta Sumedang (mertua saya).

Rabu, 16 Januari 2019

Depok, We Are Coming!


“Kakang kapan ke Depok lagi? Nenek dan kakek kangen nih..”
“Nanti hari kamis,” jawab Kakang (4 th) asal.
“Betul yaaa? Jam berapa?”
“Jam seratus,” jawab Kakang serius.
Nenek terbahak-bahak di seberang telepon.

Minggu, 19 Februari 2017

Kakang di Usia 2 Tahun 4 Bulan

Kenapa ya susah sekali konsisten menulis tentang perkembangan Kakang di blog? Kirain kalau pindah ke Instagram bakalan bisa lebih konsisten karena ga usah nulis sepanjang blog. Nyatanya sama gak konsistennya. Huuaaaahh

Kali ini nulis di blog lagi lah biar blog ini gak kosong-kosong amat. *jiaaah

Sooo..
Tanggal 15 lalu Kakang tepat menginjak usia 2 tahun 4 bulan.

Bagaimana kabarnya Kakang di usia ini?

- Tinggi badan sekitar 83 cm. Berat badan.. hm.. batas minimal BB ideal lah T_T

- Sehat, aktif, dan semakin bawel. Alhamdulillah..
Bisa nyerocos mulu bahkan sampai tengah malam di saat semua orang udah tidur dan saya pun udah ngantuk.

- Kalimat terpanjangnya saat ini adalah, "Mi, (mo)bil (k)akang (m)ana? Kok ilang? (dikem)anain?"

- Pengaruh TV mulai terlihat. Akhir-akhir ini dia suka ngomong, "Aku (n)amanya (Shi)va!". Kayaknya kalau dia lebih gede lagi bakal niru omongan Shiva yang ini, "Jangan panggil aku anak kecil!"

- Sedang toilet training. Sudah jarang BAK di celana. Selalu lapor kalau dia ingin pipis jadi bisa dibawa ke toilet dan pipis di sana. Kalau BAB? Nah ini, dia belum bisa lapor sebelum BAB. Jadi yaaa begitulah..

- Sering memeluk, menciumi, dan minta dicium oleh saya. He is really the sweetest baby in the world :')*dilarang protes*

- Lagi seneng belajar ngomong, suka mengulang-ngulang kalimat, mulai bisa bercerita meskipun ngarang. Hahahaha..
Contoh: "Mi, tuh hape Umi, di atas pohon.." What is the maksud? T___T

- Sambil meluk kadang bilang, "Mi, aku (d)atang!" sambil mengangkat tangan kanannya. Entah kenapa dia bilang gitu. Menurut saya sih, cocoknya kalimat itu diucapkan mungkin 20 tahun lagi, saat Kakang sedang kuliah di luar kota, terus pas libur pulang ke rumah. Naaah.. pastilah kusambut dengan ucapan Alhamdulillah dan pelukan :')

- Mulai suka tantrum
Dulu Kakang mudah diatur. Sekarang dia sudah mulai bisa mengungkapkan keinginannya. Bisa marah kalau ga diturutin. Bisa nangis untuk hal-hal yang menurut saya sepele dan biasanya ga perlu ditangisin. 

- Kalau ngambek dia tunjukkan dengan kedua tangan bersidekap dan mendengus. Kalau udah gini dia malah keliatan lucu dan akhirnya diketawain deh :))




- Tontonan favoritnya saat ini: kartun bis dan dinosaurus. 
Kadang-kadang dia bersenandung menirukan lagu-lagu Wheels on The Bus terutama bagian "Swish, swish, swish.. beep, beep, beep.. up and down, up and down.."

- Sudah bisa menyebutkan angka 1-10 dalam bahasa Inggris

 

Sekian duluuuu

See you next time ;)




Minggu, 13 November 2016

Mereka Menggembirakan Anak-Anak Kurang Beruntung

 
Anak-anak panti Asuhan Al-Yassin, Bandung


Bandung, Ramadhan 1437 H



Awan tebal tampak menggelayut di langit sore itu.
Saya melihat sekeliling. Di Taman Vanda ini, saya tidak menemukan satu pun tempat berteduh kalau-kalau hujan mendadak turun. Saya mulai cemas.


Rabu, 01 Juni 2016

When Beautiful Breastfeeding Moment Soon Will Come To An End

Saya harus banyak bersyukur dengan pengalaman menjadi ibu yang luar biasa; bisa saya katakan nyaris sempurna. Melahirkan normal. ASI lancar. Bisa bersama anak 24 jam sehari 7 hari seminggu. Anak sakit, rewel, ibunya kelelahan? Tenang, ada ibu mertua yang sigap membantu. Ada sepupu-sepupu kecil yang bisa jadi babysitter gratisan, ngajak keponakannya main sementara saya leyeh-leyeh atau perlu ke kamar mandi sebentar.

Semua serba menyenangkan. Kalau anak sesekali demam-batuk-pilek atau susah makan, saya yakin hampir semua ibu mengalaminya. Jadi itu tidak akan membuat saya terlalu galau, cuma stres dikit. Hahaha..

Alhamdulillah Kakang jarang sakit. Ga pernah juga mogok makan lebih dari 24 jam. Bisa dibilang saya jarang stres. Sampai baru-baru ini, terjadi sesuatu yang membuat saya galau berat:

KAKANG MENOLAK MENYUSU.

Usianya sekarang 19 bulan.
Saya gak tahu kenapa Kakang mendadak tidak minta menyusu.
Saya tawari, dia tolak.
Saya buka baju bagian dada, dia minta saya untuk menutupnya.
Saya paksa, dia nangis.

Ya Allah, Kakang kenapaaaa? :(

Yang paling berat bagi saya adalah karena ini sangat mendadak. Tahu kan apa yang terjadi saat anak yang tadinya sering menyusu kemudian berhenti MENDADAK?

PD sang ibu akan membengkak.

Itulah yang saya alami. Dada terasa semakin penuh, sementara Kakang pun mati-matian gak mau menyusu. Saya gak tahu harus bagaimana.

Stres!

---

Kira-kira kenapa ya? Saya punya beberapa asumsi.

1. Kakang Menyapih Dirinya Sendiri

Memang beberapa minggu terakhir saya suka sounding ke Kakang saat dia menyusu, "Kakang udah besar. Gak boleh nenen lagi. Nenen mah untuk anak bayi.."

Biasanya dia hanya nyengir, geleng-geleng kepala, sesekali mengeluarkan nada protes. Saya tahu pasti dia mengerti apa yang saya katakan.

Apakah frekuensi menyusunya berkurang? Tidak. Malah justru bertambah! Saya sempat berpikir apakah dia merasa terancam gak bisa menyusu, makanya mumpung masih bisa menyusu, dia menyusu banyak-banyak. Mungkin gak siy anak balita mikirnya seperti itu? Heuheu

Tapi kalau menyapih diri sendiri, harusnya kan berkurang secara bertahap. Ya gak sih?


2. ASI Saya Habis

Akhir-akhir ini sering saat Kakang menyusu, ia melepaskan dan 'melapor' pada saya, "Abis! Abis!"

Saya yakin dia mengerti makna habis. Tapi saya gak yakin ASI saya habis. Mungkinkah ASI saya sungguhan habis? Bukankah produksi ASI akan tetap normal selama frekuensi bayi menyusu normal? Bagaimana bisa ASI saya habis tanpa alasan?

Sejak suka bilang "Abis", Kakang yang biasanya selalu menyusu pada 1 PD, kini minta 2 PD, gantian kanan-kiri. Sejujurnya saya pun merasakan bahwa PD saya tak sepenuh dulu. Tapi sedikitpun terbersit dalam benak saya kalau Kakang akan berhenti menyusu. Karena tak banyak ASI lagi kah?

Saya pun googling penyebab ASI menurun. Ada banyak kemungkinan, ada banyak faktor. Tanya ke teman juga katanya bisa karena stress, kurang sayuran, kurang minum, meninggalkan anak dalam waktu lama, dll. Kalaupun benar ASI saya kering, saya gak tahu apa alasannya.


Pada akhirnya, saya (dan suami juga mertua) mengikhlaskan jika memang Kakang tidak menyusu sampai 2 tahun. Toh dia sudah 1,5 tahun. Sudah bisa mendapatkan gizi dari makanan dan susu formula. Syukuri saja karena kami tidak mengalami hal-hal yang lebih drama dari ini. Bukankah banyak ibu yang mengalami proses menyapih yang tidak mudah?

Ah, Kakang.
Kamu beneran sudah besar ya, Sayang? :')

Sabtu, 03 Oktober 2015

Surprise Birthday Gift This Year: Piknik!

“Yang, aku bosan. Kapan coba kita terakhir kali jalan-jalan?” tanya saya pada suami.
“Waktu itu kan udah..” jawabnya.
“Kapan?”
“Waktu kamu ulang tahun..”

Ingatan saya kembali ke beberapa bulan yang lalu, saat ulang tahun yang jatuh di hari Sabtu, 23 Mei 2015.

Tidak ada yang istimewa pagi itu. Di rumah hanya ada suami, Kakang berusia 7 bulan dan Abang –adik laki-laki saya yang baru mau masuk kuliah. Meski jarak usia kami nyaris 10 tahun, saya memanggilnya Abang karena dia anak laki-laki pertama di keluarga kami.

Abang sempat bilang bahwa hari Minggu ia berencana menyewa mobil dan jalan-jalan dengan temannya.
“Ikut ya, Bang?” tanya saya penuh harap. Saya memang ingin sekali jalan-jalan. Saya pikir, bukankah masih ada kursi kosong dalam mobil?
Abang tidak menjawab. Tapi raut mukanya tampak keberatan seolah bilang, ‘Ih apa deh ni kakak ikut-ikutan aja!’

Saya dongkol dong.

Ternyata..
“Teman” yang Abang maksud adalah Nurul, adik saya, kakak Abang yang sudah bekerja. Nurul datang dari Jakarta ke Bandung bersama temannya, Mas Thoriq, membawa sebuah kue ultah beserta lilin yang siap saya tiup. What a surprise!

Nurul dan kue yang ia bawa

Surprise birthday cake itu baru awal. Ia juga memberi saya kado mukena cantik. Kemudian, ia mengajak kami makan malam di sebuah cafe di kawasan Cihampelas Walk. Senangnya!



Itu belum semua. Hadiah spesial diberikan keesokan harinya, Minggu 24 Mei 2015:
PIKNIK!

Dengan mobil sewaan yang diceritakan Abang sebelumnya, kami berenam (saya, suami, Kakang, Nurul, Abang dan Mas Thoriq) jalan-jalan ke Taman Bunga Nusantara, Cianjur.

Merak raksasa

Memandang danau dengan angsa-angsa putihnya


Tawa ceria Kakang. Masih ompong. Xixixi

Three of us

Happy family ^^

Taman Bunga Nusantara ini luas sekali. Banyak bunga aneka warna dan jenis, tumbuhan yang dibentuk seperti binatang, danau dengan angsa putih, labirin, air mancur, menara untuk melihat taman dari ketinggian, dan lain sebagainya. So refreshing!

Dari Taman Bunga Nusantara, perjalanan berlanjut ke Puncak, mampir ke Masjid At-Ta’awun, lalu ke Bogor. 

Abang berencana ketemuan dengan seseorang di Bogor. Sayangnya, orang yang dimaksud tidak bisa hadir. Ya sudah,  kami pun menuju salah satu mall dan makan di foodcourt-nya hingga maghrib tiba.

Sayang sekali di Bogor hanya numpang lewat dan makan. Lain waktu kalau ada kesempatan liburan di Bogor, inginnya sih mampir ke Kebun Raya Bogor. Dulu waktu SMP saya pernah ke sana dengan teman-teman sekolah. Melihat tanaman rimbun dan menghirup oksigen yang bersih memang nikmat sekali.

Malamnya, kami menuju Jakarta, mengantarkan Nurul dan Mas Thoriq pulang. Kemudian, kembali ke Bandung lewat tol. Rasanya capek tapi super senaang ^^

Baru kali ini saya dapat hadiah ultah berupa jalan-jalan dan makan-makan. Nurul seolah tahu saya butuh piknik (atau Abang? Saya tidak tahu ini ide siapa).
Piknik itu memang penting, bukan?
Piknik bisa melepas stres, membuat rileks, yang pada akhirnya membuat kita tetap sehat jiwa raga.

Saya sangat bersyukur sekali punya adik seperti Nurul dan Abang yang begitu care. Si bungsu Adek juga perhatian sih, sayang dia jauh di Batam.
Saya tidak dapat membalas kebaikan mereka.
Hanya Allah yang bisa.

Saya hanya bisa berdo’a,
semoga Nurul selalu diberi rezeki yang berkah dan berlimpah oleh Allah,
selalu dilindungi di mana saja ia berada,
dan segera dipertemukan dengan jodohnya. Aamiin..
Btw dia ini high qulity jomblo loh! 
Kenali lebih dekat dari blognya.



Buat Abang juga, yang waktu itu udah nyetir seharian, terus keesokan harinya tepar sampai bolos magang, terus dimarahin si bos karena gak ngasih kabar. Hihihi..
Moga lancar kuliahnya ya, Bang..

Abang dan Kakang. Mirip, cuma beda warna kulit :p


Buat suami, tetep..
Kapan kita piknik lagi, Yang?
Ke luar kota ya. Jogja misalnya.
Masa piknik di kamar terus. Eh



Postingan ini diikutsertakan pada Lomba Blog Piknik Itu Penting


Senin, 29 Juni 2015

Kisah Tiket Gratis yang Berakhir Dramatis

Rabu, 10 Juni 2015.

Hari itu adalah jadwal pengumuman pemenang lomba blog #TiketGratisTraveloka. Jujur saja, saya sangaaaaat berharap jadi salah satu pemenang. Bukan karena saya pengen terbang gratis. Tapi lebih karena saya belum pernah menang lomba blog. Hahahaha..

Jadi sebenarnya motivasi saya lebih karena ingin pembuktian kemampuan diri *tsah. Apalagi saya menulis dengan hati, super maksimal, dengan dosis kesabaran yang tinggi karena laptop lemot parah. Kebetulan temanya juga agak ‘galau’ dan saya rasa pengalaman hidup saya juga lumayan drama.


Mantengin twitternya Traveloka, akhirnya setelah solat maghrib saya dapat kabar gembira itu: I’m the 7th winner!

Alhamdulillah ^^
Sumber: Facebook Traveloka

Namun hal pertama yang saya pikirkan bukanlah bayangan saya dan suami dan anak terbang ke Batam seperti yang saya tulis. Enggak. Yang saya pikirkan adalah..

Bisa diuangkan gak ya?

Iya emang saya (kami) butuh duit. Siapa juga yang gak butuh? Tahu sendiri kan, sekarang dolar naik (gak ada hubungannya sih, tapi dihubungin aja biar keren). Kami sedang mengalami apa yang Vicky sebut kelabilan ekonomi.

Saya bilang ke suami kalau saya berharap hadiah itu bisa diuangkan. Saya tahu sebenarnya dia ingin sekali terbang, Tapi dia juga setuju kami butuh uang. Akhirnya saya pun mengirim email ke Traveloka untuk menanyakan apakah tiket tsb bisa diuangkan atau dipindahtangankan.

Kamis, 11 Juni 2015

Saya membaca balasan email Traveloka. Katanya hadiah tsb tidak bisa diuangkan tapi bisa digunakan oleh orang lain, yang penting pemesan tiket atas nama saya.  
Hmm.. baiklah. Bisa dijual kalau begitu. 
Saya pun lalu memutar otak, mengingat teman-teman yang kira-kira mau beli tiket Citilink gratis Pergi-Pulang semua rute untuk 2 orang ini.

Orang pertama yang berminat adalah adik laki-laki pertama saya, si Abang.  Dia mau ke Batam tanggal 22 Juni dari Jakarta bersama adik kelasnya. Haha..

Saya tidak terlalu menghiraukan tawarannya karena saya ragu dia punya uang. Wakakakak. Ya gimana, dia baru lulus SMA, magang di bisnis travel sepupu baru beberapa minggu. Plus saya dapat bocoran dari adik perempuan saya (yang juga kakaknya si Abang), Nurul, bahwa sebenarnya Nurul dan si Abang sudah booking tiket ke Batam menjelang lebaran bulan Juli mendatang. Jadi mana boleh si Abang ke Batam bulan Juni. Baiklah.

Jum’at, 12 Juni 2015

Penawaran tiket ke teman-teman belum ada yang closing. Saya juga gak tahu gimana ngejualnya dan ke siapa lagi. Saya mulai berpikir bahwa mungkin kami akan terbang. Saya ceritakan pada Bapak-Ibu mertua (saat ini saya tinggal di rumah mereka) bahwa kami insya Allah akan ke Batam. Orangtua saya di Batam pun tampak senang membayangkan cucu mereka akan datang ke sana T_T

Ah, orangtua saya tidak tahu, bahwa hadiah tersebut belum termasuk pajak bandara dan IWJR (entah apa ini), belum termasuk tiket untuk cucu mereka (2 tiket hanya untuk saya dan suami), belum termasuk transport dari Bandung ke Jakarta (Citilink belum ada rute Bandung-Batam). Begitu banyak yang perlu dibayar, dan kami tidak memiliki biaya untuk semua itu.

Ternyata mendapatkan hadiah tiket pesawat gratis tidak otomatis membuat kami langsung bisa terbang..


Sabtu, 13 Juni 2015

Nurul nge-Line. Katanya dia tiba-tiba berminat. Huahahahaha..

Dia memang hobi travelling. Dan meskipun saya tahu dia lagi bokek, saya sulit menolaknya. Dia adik yang amat sangat teramat baik pada saya. Seandainya saya bisa ngasih tuh tiket secara cuma-cuma, saya akan berikan padanya tanpa syarat apapun. Sayangnya saya sedang butuh duit.

Jalan tengahnya, saya jual di harga yang dia minta. Dicicil berapa kali terserah dia (saya sih pengennya tiap saya butuh duit dia bisa transfer :p).

Kami sempat galau karena khawatir orangtua saya kecewa karena cucunya gak jadi ke Batam. Untunglah Nurul bisa bernegosiasi sekalian minta izin orangtua untuk travelling.
Tapi sebenarnya si Nurul juga masih bingung mau kemana. Pilihannya antara Medan atau Makassar. Ia berencana pergi dengan seseorang.

Minggu, 14 Juni 2015

Nurul mengabarkan kalau dia ada konflik dengan travelmate-nya. Duh! 
Kemungkinan ia akan travelling sendirian. Tiiidaaaaaks!. 
Tapi ia bilang akan mencoba mengajak teman yang lain.

Saya deg-degan. Saya harap dia jadi beli 2 tiket PP itu. Saya katakan padanya bahwa ia harus memutuskan dengan cepat, karena klaim tiket gratis itu paling lambat Senin, 15 Juni 2015 pukul 08.00-10.00 WIB. Dhuaaarrr!

Saya juga bersiap-siap jika besok pagi rencana travelling Nurul masih ngegantung, saya akan booking tiket ke Batam dengan suami. 
Jangan sampai tiketnya hangus!

Senin, 15 Juni 2015

Jam 9 pagi, saya booking tiket di Traveloka untuk penumpang atas nama Nurul dan Febri, Jakarta-Medan-Jakarta, tanggal 27-29 Juni 2015.

Jam 5 sore, setelah pembayaran pajak bandara dan IWJR selesai diproses, e-ticket kami terima.

Tak lama, Nurul mentransfer sejumlah uang ke rekening saya sebagai cicilan pertama tiketnya.


___



Minggu, 28 Juni 2015

Suami mempublish foto ini di Facebooknya.

 Jualan es buah dan pisang ijo, dengan modal dari penjualan tiket.
Alhamdulillah menghasilkan...



Senin, 29 Juni 2015
Nurul mempublish foto ini di Facebooknya.

Di depan masjid Baiturrahman, Nanggroe Aceh Darussalam

 Tiketnya ke Medan kenapa mereka nyampenya ke Banda Aceh? *garuk-garuk pala
Ah, dasar traveller!


___


Teruntuk papa dan mama, 
Sinta mohon maaf sebesar-besarnya karena Ramadhan dan Lebaran tahun ini Sinta belum bisa berkumpul dengan keluarga di Batam.
Sinta mohon maaf karena sudah memupuskan harapan papa dan mama untuk bertemu dengan Kakang saat ini..

Teruntuk Traveloka dan Citilink, terimakasih banyak untuk hadiahnya. 
Saya senaaaang sekali.
Tanpa mengurangi rasa hormat, saya mohon maaf karena saya belum dapat terbang. Namun insya Allah tiketnya bermanfaat untuk adik saya..

Teruntuk adikku Nurul,
I hope you had some fun there. Sempat terpikir, sebenarnya kamu beli tiket itu karena emang beneran pengen travelling atau pengen bantu aku? Apapun itu aku sangat berterimakasih. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan kebaikan yang lebih banyak, mempertemukanmu dengan jodohmu segera. Aamiiin ya Rabb Aamiiin..

Teruntuk kekasihku,
Aku mohon maaf belum bisa mengajakmu ke rumah orangtuaku. Semoga suatu hari nanti Allah mengizinkan.
Tak apa belum berkesempatan terbang, bukankah yang terpenting cintaku padamu tidak berkurang?
*eeaaaa

Apa kita terbang pakai balon gas aja, Yang?
 Sumber : wallpapersdb.org




  






Jumat, 26 Juni 2015

Rumah Kecil untuk Hati yang Lapang



Saat saya dan suami menikah pada Oktober 2013, kami tinggal di sepetak kamar kosan. Tiga bulan kemudian saya hamil. Ibu saya menyarankan untuk segera menyewa rumah, karena tidak mungkin nanti mengasuh anak di kosan. Apalagi kosan yang kami tinggali kebanyakan diisi oleh mahasiswa. Bagaimana mereka akan belajar kalau bayi saya nangis meraung-raung tengah malam? Heuheu.

Mencari rumah kontrakan murah ditengah Kota Bandung bukan perkara mudah. Jalan-jalan berburu sendiri, sudah. Browsing di internet, sudah. Beberapa kali saya menemukan rumah yang menarik seperti di Rumah.com, namun saat saya hubungi ternyata sudah ada yang menyewa. Wah, enak juga ya pasang iklan di Rumah.com. Mendapatkan penyewa atau pembeli rumah jadi mudah.

Untunglah ada teman yang memberi info bahwa ada rumah mungil yang harga sewanya relatif murah. Pada pertengahan Ramadhan 2014, saat kandungan saya 5 bulan, kami pun pindah dari kamar kosan ke rumah kontrakan.

Sehari setelah kami pindah, keluarga saya (papa, mama, dan adik-adik) dari Batam datang ke Bandung. Agar mereka tidak kaget melihat rumah kami, saya kasih ‘bocoran’ terlebih dahulu. Saat itu dalam perjalanan dari Stasiun Bandung menuju rumah.

“Rumahnya kecil, terutama dapur dan kamar mandinya. Dapurnya cuma bisa untuk menaruh kompor. Gak ada tempat untuk motong sayur atau bawang..” ucap saya hati-hati.

Respon ibu saya di luar dugaan.
Gapapa rumah kecil, yang penting hati lapang..”

Subhanallah Mama :’)

“Dinding dan pintu kamar mandinya kira-kira setinggi dada Abang. Satu setengah meter lah.” lanjut saya.

“HAAAAAA?!” seru semua orang.

Sesampai di rumah, semuanya menjelajah rumah kontrakan. Rumah kami terdiri dari 2 lantai. Lantai 1 ada ruang tamu, satu kamar, dapur dan kamar mandi. Di lantai 2 ada dua ruangan besar. Satu untuk kamar, satu lagi kami jadikan gudang. Di lantai atas ini juga ada tempat untuk menjemur pakaian.

Adik-adik saya tertawa melihat kamar mandinya. Tertawa lucu, bukan tawa mengejek apalagi mem-bully. Orangtua saya cukup puas, karena di lantai dua ada kamar yang luas. Rumah mungil kami cukup untuk menampung keluarga.

Senangnya merayakan Ramadhan dan lebaran bersama keluarga besar saya. 
Bulan puasa diisi dengan kegiatan belanja aneka kebutuhan untuk mengisi rumah.

---

Tahun 2015 ini, keluarga saya akan merayakan lebaran di Batam. Sayangnya saya tidak bisa ke sana, karena tahun ini kami akan berlebaran di Sumedang, di tempat orangtua suami.

Beberapa hari sebelum puasa saya dan anak sudah tiba di Sumedang. Menjalani Ramadhan di Kota Tahu ini.  Rumah mertua lebih luas daripada rumah kontrakan kami di Bandung. Anak kami yang kini sedang belajar berjalan, dengan ceria melangkahkan kaki dari kamar, ruang tengah, ruang tamu, teras depan, hingga teras belakang.



Kalau tahun lalu saya masih bekerja, tahun ini saya fokus mengurus anak. Jadi ya, Ramadhan kali ini saya di rumah saja.

Buat saya tidak masalah Ramadhan di Bandung atau di Sumedang (atau mungkin di Batam, someday?). Yang penting saya menjalaninya bersama keluarga dan orang-orang terkasih.

Selamat menjalankan ibadah puasa..

Dimana pun Anda tinggal, semoga rumah selalu menjadi tempat yang paling nyaman.

Terutama saat Ramadhan, saat hati lebih mudah menjadi lapang..

Minggu, 07 Juni 2015

Ingin Kutemui Orangtua, Untuk Pertama Kalinya Bersama Suami

“Ironis  ya, kamu sudah aku nikahi, tapi aku sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di rumahmu. Siapa tahu kan sebenarnya di sana kamu sudah bersuami atau sudah punya anak 2.” canda suami pada suatu ketika.

Saya hanya nyengir mendengarnya.

Suami saya memang belum pernah mengunjungi rumah orangtua saya di Batam, bahkan saat melamar dan menikahi saya.

Loh kok bisa? Begini ceritanya..

Keluarga saya tinggal di Batam. Namun sejak kuliah tahun 2005, saya ngekos di Bandung dan setelah lulus pun memutuskan bekerja di sini.

Tahun 2012, saya berkenalan dengan seorang pemuda bernama Yoga. Pemuda ini tertarik dan berniat menjalin hubungan serius dengan saya meski ia baru mengenal saya beberapa bulan. Karena tak ingin pacaran, saya tantang dia untuk bicara dengan ayah saya. 
Ia setuju, lalu menghitung-hitung ongkos yang diperlukan untuk membawa kedua orangtuanya di Sumedang ke rumah orangtua saya di Batam.

Harga tiket standar Bandung-Batam sekitar 1 juta per orang. Pergi Pulang 2 juta. Untuk 3 orang (dia dan kedua orangtuanya) total butuh  6 juta. Hanya untuk tiket pesawat! Baginya, itu biaya yang mahal. Maklum, ia bekerja di perusahaan kecil yang minim fasilitas. Ayahnya pun waktu itu adalah seorang penjual kupat tahu dan bubur ayam. Sangat sederhana.

Saat menceritakan tentang dia pada orangtua saya, tanpa diduga ibu saya berkata, 
“Gak usah ke Batam. Biar Mama dan Papa aja yang ke Bandung. Insya Allah nanti kami ke Bandung saat pernikahan Teh Ratih.”

Teh Ratih adalah sepupu saya yang tinggal di Bandung. Keluarga besar kami memang sebenarnya banyak yang di Bandung. 
Kenapa orangtua saya di Batam? Karena ayah saya ditempatkan perusahaannya untuk dinas di Batam.

Begitulah, sehari setelah gelaran nikahan Teh Ratih, keesokan harinya langsung acara lamaran saya. Pernikahan kami 4 bulan kemudian pun “numpang” di sebuah villa milik saudara di Garut, mengumpulkan seluruh keluarga besar orangtua saya.

Sampai sekarang, saat kami sudah memiliki anak berusia hampir 8 bulan, suami belum pernah menginjakkan kaki ke Batam, tempat tinggal orangtua saya. Sedih ya? Heuheu..

Jadi, andai bisa terbang gratis, saya ingin menemui orangtua di Batam, pertama kalinya bersama suami.

NGAPAIN AJA DI BATAM?
Di Batam nanti saya ingin mengajak orangtua dan suami saya berjalan-jalan ke Jembatan Barelang, menikmati kelapa muda di Pantai Melur, dan berwisata kuliner. Karena dekat laut, seafood di Batam lebih fresh dan lebih bervariasi daripada di Bandung. Saatnya pesta seafood!

TERBANG DENGAN CITILINK
Saya ingin ke Batam hari Jumat tanggal 3 Juli 2015 penerbangan dari Jakarta pukul 16.00 WIB. Sementara pulangnya hari Minggu tanggal 5 Juli pukul 14.15 WIB dari Bandara Hang Nadim Batam.

Untuk pemesanan tiket, saya memilih memesan tiket pesawat Citilink melalui Traveloka App. Kenapa Citilink? Karena harga tiketnya terjangkau, jarang delay, dan nyaman.

Booking tiket PP Jakarta-Batam-Jakarta via Traveloka



Rincian harga tiket


Malam sabtu sepertinya akan menginap di rumah orangtua, agar mereka puas main dengan cucu. Malam minggu inginnya sih menginap di hotel saja, biar bisa bulan madu #uhuk.

Saya pilih HARRIS Resort Waterfront karena lokasinya yang tak jauh dari rumah, berada di pinggir pantai, dan salah satu hotel terpopuler di Batam.

Pemesanan hotel juga lewat Traveloka App. Gampang!


Booking hotel via Traveloka


TRAVELOKA APP, BOOKING TIKET DAN HOTEL CEPAT & MUDAH!

Memesan tiket pesawat dan booking hotel via Traveloka sangat nyaman meskipun lewat mobile. Dengan adanya Traveloka App, saya bisa pesan tiket dan booking hotel dari mana saja, kapan saja. Tidak harus buka laptop dulu. Apalagi laptop saya loading-nya lama #curcol.

Caranya juga mudah. Hanya memasukkan data dan mengikuti instruksi. Tidak sampai 5 menit, tiket dan hotel yang saya inginkan sudah didapat.

Senangnya jika bisa ke Batam bersama suami. Karena perjalanan ini adalah sebuah pembuktian. Pembuktian bahwa saya belum pernah menikah sebelumnya apalagi punya anak. Hihihi..

Dear A Yoga, engkaulah yang pertama dan terakhir bagiku.

#gombal