Tampilkan postingan dengan label Motherhood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motherhood. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juli 2017

Kakang 2 Tahun 9 Bulan : Perjuangan Mengurangi Screen Time

Kakang tuh dulu tiada hari tanpa youtube-an di HP saya.

Apaaaa? Batita udah dikasih main HP?

Ya, ya, saya tahu itu sebaiknya tidak dilakukan. Tapi gimana yah, bukankah itu yang paling mudah membuat anak tenang? *plak!

Tenang, saya bukan ibu yang membiarkan dia main HP berjam-jam sepuasnya kok. Kenapa? Ya karena HP saya cuma 1 dan saya perlu banget buat jualan online Sis. Jadi saya lumayan sering rebutan HP dengan Kakang dengan bilang, "Ummi pinjam dulu ya HP nya. Lihat nih ada yang mau beli bajuuu.."
kemudian Kakang nangis kejer sampai nenek kakeknya pada heboh, "Kakang kenapaaa..?"
Saya jawab aja santai, "Rebutan hape sama umminya.." heuheu

Saya biasanya memilih video yang menurut saya bagus dan edukatif untuk Kakang di Youtube, mendownloadnya, sehingga kalau Kakang ingin nonton langsung saja saya sodorkan list dalam album offline

Tapi itu dulu.

Sekarang jemari Kakang sudah terampil geser-geser, scroll-scroll, tak hanya memilih video di album offline tapi juga dia udah bisa nonton STREAMING.

OH NO!

Awal-awal sempat saya biarkan. Saya pikir, ah tar kalau habis kuota beli kartu perdana aja yang kuotanya (konon?) lebih murah.

Sampai suatu ketika saat tanggal tua (baca:bokek) kemudian kuota habis, saya pun baper. Gak bisa gini terus nih. Kalau kuota habis dan ga ada duit buat beli, kasihan dong para customer yang nyariin saya *aih

Akhirnya saya bertekad: Kakang harus berhenti nonton di HP saya!

Berhentinya langsung total, gak bertahap seperti saat saya menyapihnya.

Baca : Berhasil Menyapih dengan Brotowali

Saat dia bilang, "Mi, Kakang boleh nonton HP Ummi?"

Saya jawab tidak.

Ia sempat merengek. Tapi saya bergeming.

Untungnya sih ga sampai tantrum atau nangis kejer. Hari pertama dia sempat 3x minta HP tapi saya tolak terus. Hari kedua dia minta sekali, saya tolak lagi. Hari ketiga dan seterusnya dia gak minta HP saya lagi. Mungkin dia mulai mengerti.

Udah gitu doang. Ga seru amat ya dramanya? Hihihi
Tapi buat saya ga semudah itu. Bagian paling berat adalah agar Kakang tidak tertarik dengan HP saya, saya pun harus berusaha agar Kakang tidak melihat saya main HP mulu. Ini beraaaaat.

Kadang saya harus sembunyi. 
Kadang saya chatting dengan konsumen dengan HP ditutupi bantal. 
Kadang mengecek HP di rak atas, dimana masih terjangkau tangan saya tapi gak terjangkau mata Kakang.
Kalau Kakang ngajak main, saya harus segera 'lompat' dan melepaskan HP.

Tapi endingnya menyenangkan karena saya ga manyun lagi soal kuota :))


Terus sebagai pengganti main HP, Kakang ngapain?
Nonton di laptop * jiaaaah screen time lagi dong!

Tapi di laptop itu koleksi videonya membosankan, plus udah kebanyakan data (atau mungkin keberatan aplikasi) sehingga lemoooot banget. Jadi kalau Kakang lagi nonton, loadingnya lama dan suka macet di tengah-tengah kayak nonton dari CD bajakan.  
Ngeselin kan? Kalau Kakang udah kesel langsung saya matikan dan singkirkan aja laptopnya. Alihkan dengan kegiatan lain.


Kalau soal menonton, sebenarnya paling enak tuh nonton TV. Ga pake kuota, ga macet-macet, bahkan kalau ada iklan pun Kakang udah bisa maklum dan menunggu dengan sabar. Sayangnya (dan untungnya) pilihan tontonan dia sangat terbatas. Cuma Ipin-Upin, Shaun The Sheep, dan Tayo. Praktis Kakang paling cuma nonton TV pas pagi setelah mandi dan sarapan, serta sore menjelang maghrib.

Tapi someday saya ingin kami hidup tanpa TV.


Anyway, enaknya ngasih aktivitas apa ya untuknya sebagai pengganti screen time? ada ide?


Selasa, 08 November 2016

Berhasil Menyapih dengan Brotowali

Saya sempat galau sebenarnya bikin judul seperti ini. Takut di-bully pembaca dengan kalimat, "Iiih ga boleh nyapih dengan cara gitu. Menyakiti hati anak, tauu. Bikin anak patah hati."

I know. I know.

Saya pernah baca, memang sebaiknya tidak menggunakan cara-cara 'kejam' dalam menyapih, termasuk pakai brotowali. Cara paling ideal itu adalah Menyapih dengan Cinta atau biasa dikenal dengan istilah Weaning With Love (WWL).

Rabu, 01 Juni 2016

When Beautiful Breastfeeding Moment Soon Will Come To An End

Saya harus banyak bersyukur dengan pengalaman menjadi ibu yang luar biasa; bisa saya katakan nyaris sempurna. Melahirkan normal. ASI lancar. Bisa bersama anak 24 jam sehari 7 hari seminggu. Anak sakit, rewel, ibunya kelelahan? Tenang, ada ibu mertua yang sigap membantu. Ada sepupu-sepupu kecil yang bisa jadi babysitter gratisan, ngajak keponakannya main sementara saya leyeh-leyeh atau perlu ke kamar mandi sebentar.

Semua serba menyenangkan. Kalau anak sesekali demam-batuk-pilek atau susah makan, saya yakin hampir semua ibu mengalaminya. Jadi itu tidak akan membuat saya terlalu galau, cuma stres dikit. Hahaha..

Alhamdulillah Kakang jarang sakit. Ga pernah juga mogok makan lebih dari 24 jam. Bisa dibilang saya jarang stres. Sampai baru-baru ini, terjadi sesuatu yang membuat saya galau berat:

KAKANG MENOLAK MENYUSU.

Usianya sekarang 19 bulan.
Saya gak tahu kenapa Kakang mendadak tidak minta menyusu.
Saya tawari, dia tolak.
Saya buka baju bagian dada, dia minta saya untuk menutupnya.
Saya paksa, dia nangis.

Ya Allah, Kakang kenapaaaa? :(

Yang paling berat bagi saya adalah karena ini sangat mendadak. Tahu kan apa yang terjadi saat anak yang tadinya sering menyusu kemudian berhenti MENDADAK?

PD sang ibu akan membengkak.

Itulah yang saya alami. Dada terasa semakin penuh, sementara Kakang pun mati-matian gak mau menyusu. Saya gak tahu harus bagaimana.

Stres!

---

Kira-kira kenapa ya? Saya punya beberapa asumsi.

1. Kakang Menyapih Dirinya Sendiri

Memang beberapa minggu terakhir saya suka sounding ke Kakang saat dia menyusu, "Kakang udah besar. Gak boleh nenen lagi. Nenen mah untuk anak bayi.."

Biasanya dia hanya nyengir, geleng-geleng kepala, sesekali mengeluarkan nada protes. Saya tahu pasti dia mengerti apa yang saya katakan.

Apakah frekuensi menyusunya berkurang? Tidak. Malah justru bertambah! Saya sempat berpikir apakah dia merasa terancam gak bisa menyusu, makanya mumpung masih bisa menyusu, dia menyusu banyak-banyak. Mungkin gak siy anak balita mikirnya seperti itu? Heuheu

Tapi kalau menyapih diri sendiri, harusnya kan berkurang secara bertahap. Ya gak sih?


2. ASI Saya Habis

Akhir-akhir ini sering saat Kakang menyusu, ia melepaskan dan 'melapor' pada saya, "Abis! Abis!"

Saya yakin dia mengerti makna habis. Tapi saya gak yakin ASI saya habis. Mungkinkah ASI saya sungguhan habis? Bukankah produksi ASI akan tetap normal selama frekuensi bayi menyusu normal? Bagaimana bisa ASI saya habis tanpa alasan?

Sejak suka bilang "Abis", Kakang yang biasanya selalu menyusu pada 1 PD, kini minta 2 PD, gantian kanan-kiri. Sejujurnya saya pun merasakan bahwa PD saya tak sepenuh dulu. Tapi sedikitpun terbersit dalam benak saya kalau Kakang akan berhenti menyusu. Karena tak banyak ASI lagi kah?

Saya pun googling penyebab ASI menurun. Ada banyak kemungkinan, ada banyak faktor. Tanya ke teman juga katanya bisa karena stress, kurang sayuran, kurang minum, meninggalkan anak dalam waktu lama, dll. Kalaupun benar ASI saya kering, saya gak tahu apa alasannya.


Pada akhirnya, saya (dan suami juga mertua) mengikhlaskan jika memang Kakang tidak menyusu sampai 2 tahun. Toh dia sudah 1,5 tahun. Sudah bisa mendapatkan gizi dari makanan dan susu formula. Syukuri saja karena kami tidak mengalami hal-hal yang lebih drama dari ini. Bukankah banyak ibu yang mengalami proses menyapih yang tidak mudah?

Ah, Kakang.
Kamu beneran sudah besar ya, Sayang? :')