Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Oktober 2017

Menyelami Dunia Remaja di Film My Generation

Halo Maak..

Kapan terakhir kali nonton bioskop?

Sebagai emak-emak dengan 1 balita, saya suka mikir-mikir kalau ke bioskop. Di usia 3 tahun, Kakang udah 3 kali ke bioskop dan relatif terkondisikan. Tapi tetap saja pernah ada saat dimana dia ga betah dan minta keluar studio. Jiaaah kan rugi yak, meskipun cuma beberapa menit keluar, jadinya ketinggalan beberapa adegan.

Meski begitu, saya tetap suka mupeng kalau ada film-film baru di bioskop. Khususnya film Indonesia. Sebagai mantan filmmaker yang nasionalis (halah), saya selalu ingin mendukung film Indonesia dengan menontonnya di bioskop. Apalagi semakin kesini film Indonesia semakin bermutu. Tak melulu film horor yang menjual sensualitas.

Buat yang suka nonton bioskop, atau malah udah lama ga ke bioskop kayak saya, tahu gak sih beberapa hari lagi akan rilis film Indonesia terbaru?

Sabtu, 16 Januari 2016

Tentang Cinta yang Tak Lekang oleh Waktu

#SaturdayLove kali ini gak membahas soal pernikahan. Gapapa lah ya. Toh masih dalam tema cinta.

Jadi kemarin di saat timeline Facebook ramai tentang terorisme di Jakarta, sebuah Facebook Page tentang Harry Potter (atau Hogwarts?) memberitakan tentang meninggalnya Profesor Snape, guru Ramuan dalam cerita Harry Potter.

Awalnya saya mengabaikan karena meski dulu saya pecinta berat Harry Potter, sekarang sudah merasa ketuaan untuk ngebahasnya. Tapi beberapa waktu kemudian Emma Watson memberi pernyataan turut berduka dan ternyata yang meninggal itu adalah Alan Rickman sang pemeran Prof. Snape. Di situ barulah saya kaget  *yuwk*, dan kemudian mendadak baper inget ceritanya *yee katanya udah ketuaan*


Selasa, 13 Oktober 2015

Belajar Filosofi Hidup dari Film Life of Pi

Saat film Life Of Pi rilis tahun 2012, saya tidak tahu apa-apa tentangnya. Bukunya pun saya belum baca. Saya menonton Life Of Pi karena seorang teman merekomendasikannya.

Sumber: More.com

Life of Pi bercerita tentang seorang remaja laki-laki bernama Pi yang terkatung-katung di dalam sekoci di laut lepas, bersama seekor harimau buas! 
Bagaimana latar belakang dan kelanjutannya? 
Tonton sendiri ya.. Hehe..

Film ini sarat pesan moral yang diceritakan secara tersirat. Beberapa pesan moral yang saya tangkap adalah ini:

Sesuatu yang kamu pikir akan membuatmu mati, bisa jadi justru membuatmu tetap hidup.

Seperti Pi, yang awalnya berpikir kehadiran harimau di sekocinya akan membuatnya mati sebagai mangsa. Ternyata tidak. Sebaliknya, Pi jadi punya alasan untuk hidup. Yaitu… berusaha agar tidak dimakan harimau itu. Hihihi..

Dalam hidup kita, kadang ada kondisi dimana kita merasa ‘mau mati’. Apakah itu saat sakit, kelaparan, terlilit hutang, stress karena tekanan pekerjaan, dan lain sebagainya. Tapi pada akhirnya semua itu membuat kita ‘bergerak’, berusaha mencapai kondisi yang lebih baik. Dengan ‘bergerak’ itulah kita hidup dan bertambah kuat. Pernah dengar quote “What doesn’t kill you, make you stronger.”?


Terlalu lama di zona nyaman, akan membuatmu ‘mati’

Setelah berminggu-minggu di laut, betapa senangnya Pi saat tiba di pulau tak berpenghuni dimana dia bisa mendapatkan tempat berteduh, banyak air bersih untuk minum, serta makanan untuk Pi dan sang harimau. Wajar jika Pi ingin tinggal lama di sana.
Tapi ada sesuatu yang menyadarkan Pi, bahwa ia tidak boleh berlama-lama di tempat nyaman itu. Pulau itu menyimpan bahaya terselubung. Ia harus melanjutkan perjalanan dan berjuang lagi meraih kehidupan yang sebenarnya.

Kita pun hendaknya demikian. Saat hidup kita mulai merasa nyaman, berarti saatnya kita ‘keluar’. Belajar hal baru, menghadapi tantangan baru, untuk kehidupan yang lebih baik.


Kadang, hal-hal yang benar terdengar tidak masuk akal

Saat Pi pada akhirnya tiba di darat dengan sekarat selamat, ia dirawat lalu diminta menceritakan kisah tenggelamnya kapal oleh pihak yang berwenang.

Pi menceritakan kisah petualangannya dengan jujur. Namun 2 orang investigator itu tidak percaya. Pi lalu mengarang cerita yang lebih masuk akal. Cerita karangan Pi inilah yang diterima dan dijadikan laporan resmi. Pi sempat menyindir keduanya yang tidak mau menerima hal yang benar hanya karena sulit diterima akal.

Buat saya itu jleb!
Dalam ajaran Islam, banyak mukjizat yang dialami para Rasul. Nabi Ibrahim yang tidak mati saat dibakar, Nabi Musa yang membelah lautan, Nabi Isa yang menghidupkan orang mati, hingga Rasulullah SAW yang melakukan perjalanan Isra Miraj. Semua tak masuk akal!

Tapi sebagai manusia, kita harus meyakini bahwa Allah sungguh Maha Kuasa. Ia berbuat apa saja yang Ia kehendaki, meski di luar nalar manusia sekalipun. Inilah iman yang sebenarnya. Saat mempercayai hal yang benar meski tak masuk akal.

Sebenarnya saya merasa ada pesan-pesan lain yang ingin disampaikan film ini. Seperti hikmah nama Pi yang unik, Pi yang menganut 3 agama (Hindu, Islam, Kristen), tentang gadis yang disukai Pi, hingga tentang sang harimau yang pergi tanpa pamit sesaat setelah mereka tiba di darat. Seperti ada yang tersirat tapi tak mampu saya tangkap.
Hanya 3 poin di atas sajalah yang dapat saya ambil maknanya.

Oh iya satu hal lagi.
Setelah nonton film ini, ada yang sedikit berubah pada diri saya. Saya jadi banyak bersyukur terutama di tengah kemacetan! Kok bisa?
Karena saya membayangkan betapa tersiksanya hidup sendiri di tengah lautan. Jadi beruntunglah saya yang dikelilingi banyak manusia penyebab kemacetan. 
Hahahahaha..


Semoga postingan ini bermanfaat ;)






Sabtu, 18 Juli 2015

Refleksi Keberagaman dalam Film Mencari Hilal

Sumber : Bintang.com


Setiap tahun, umat Islam di Indonesia menentukan awal Ramadhan dan awal Syawal salah satunya adalah dengan cara melihat hilal (bulan sabit pertama yang menandakan awal bulan dalam kalender hijriah). Pemerintah sudah rutin melakukan hal ini. Namun bagi Mahmud (Deddy Sutomo), ia ingin melihat hilal dengan mata kepalanya sendiri. Misi ini begitu penting hingga ia berkata pada anak perempuannya, Halida (Erythrina Baskoro),
“Kalau nanti Bapak sampai meninggal sebelum melihat hilal, Bapak nggak ridho.”
Halida pun dengan berat hati melepaskan bapaknya pergi, dan memerintahkan adik laki-lakinya, Heli (Oka Antara) untuk menemani sang Bapak. Heli yang sering bertentangan dengan Bapak sempat menolak. Namun demi mendapatkan paspor untuk melawan kerusakan lingkungan di Nikaragua, Heli menurut. Hanya Halida yang bisa membantunya mendapatkan paspor itu.

[Warning: Ulasan berikut berisi spoiler]

Perjalanan mencari hilal dimulai. Perjalanan yang penuh hambatan mulai dari nama bukit tujuan yang berubah, bentuk fisik bukit yang nyaris lenyap karena eksploitasi, hingga pencarian lokasi lain yang juga tak mudah.

Selama perjalanan, mereka berdua mengalami beberapa peristiwa. Misalnya saat ormas Islam yang membubarkan ibadah umat Kristen. Untunglah konflik ini berakhir damai setelah Heli mengumpulkan warga untuk berdialog. Mereka juga melewati sebuah kampung dimana warganya mempraktekkan budaya yang Mahmud sebut bid’ah dan dengan tegas Mahmud ceramahi dua orang warganya. Heli memprotes sikap blak-blakan sang Bapak dan perlawanan Heli membuat Bapak berang hingga mengusir Heli.

Bagaimanakah akhirnya? Apakah Bapak berhasil melihat Hilal? Lalu bagaimana dengan Heli?
Kalau penasaran, tonton saja filmnya. Saya suka endingnya :)

Film ini menggambarkan besarnya kesenjangan antara Bapak sebagai generasi tua yang agamis-konservatif dengan Heli sebagai generasi muda yang apatis terhadap agamanya tapi menganggap penting kerukunan antar umat beragama. Tidak diceritakan detail mengapa atau bagaimana gap ini bisa terjadi di antara keduanya.  

Sulit bagi saya berpihak pada salah satu karakter. Saat Pak Mahmud berada dalam perjalanan di bus dan ingin bus berhenti sejenak agar bisa shalat, saya berpihak padanya. Namun saat Heli mengkritik gaya dakwah sang Bapak, saya berpihak pada Heli. Saya mah gitu orangnya. Labil.

Satu hal yang paling saya suka dari cerita film ini adalah, bahwa konflik sebesar apapun (termasuk yang menyangkut dengan Tuhan) tidak menghilangkan rasa hormat seorang anak pada Ayahnya, tidak menjadikan seorang Ayah benci pada anaknya.

Nonton film ini bikin saya inget Papa :’)

Berminat menonton? Film ini mulai diputar di bioskop tanggal 15 Juli 2015. 

Berikut trailernya:



Selamat menonton ^^

Kamis, 15 September 2011

Friendship Through The Years


Buat saya, foto di atas ini mengharukan sekali :')
Sepuluh tahun selalu bareng, dari anak-anak hingga beranjak dewasa.
Gak kebayang gimana jadi mereka yang sekarang harus berpisah.
Pasti sedih banget.

Saya belum pernah punya hubungan persahabatan sepuluh tahun.
Hubungan saya dengan teman terdekat saya baru akan menginjak 9 tahun. Itu pun cewek dan kami kuliah di kampus yang berbeda. Ga sebanding lah sama Emma, Daniel, & Rupert.

Emma sendiri pernah bilang.. apa ya.. intinya bahwa ga banyak orang di dunia ini yang tahu bagaimana rasanya jadi dia (secara dia aktris dan menghabiskan masa remajanya di film Harry Potter yang fenomenal itu). Cuma dua orang yang ngerti karena punya pengalaman yang kurang lebih sama dengan dirinya, yaitu Dan & Rupert. Emma sampai nangis pas produksi film HP berakhir dan dia tahu pasti akan sangat merindukan syuting bersama dua sahabatnya itu.

Saya gak tahu detail persahabatan mereka di dunia nyata. Yang saya tahu persahabatan Harry, Ron, dan Hermione di film (di buku udah lupa >.<).

Satu hal yang saya perhatikan: MEREKA SUKA BERTENGKAR! Hahahahaha..
Harry & Hermione jarang sih.
Ron & Harry kadang-kadang.
Ron & Hermione lumayan sering.

Bagi saya pribadi, pertemanan/persahabatan kurang afdol kalau belum bertengkar. Pertengkaran itu seperti ujian. Kalau setelah bertengkar kita tetap bisa bersahabat seperti sebelumnya, maka bisa dikatakan kita memang benar-benar sahabat. Sebaliknya, kalau malah membuat hubungan memburuk, kita tahu sebatas apa hubungan kita.

Selain pertengkaran, jarak dan waktu juga bisa menjadi ujian. Ketika kita berpisah jauh, atau jarang sekali bertemu, kita akan tahu sejauh mana nilai persahabatan saat kita bertemu. Apakah canggung atau bingung mau ngobrol apa, ataukah akan curhat panjang lebar seperti saat dekat dulu seolah jarak & waktu yang pernah memisahkan itu tidak pernah ada?

Saya benar-benar salut sama orang yang bisa mempertahankan persahabatan sampai bertahun-tahun. Ujian pertengkaran masih bisa dilewati kalau saya dan sahabat saya sama-sama ikhlas memaafkan. Tapi kalau ujian jarak dan waktu... saya agak susah nih, meskipun sekarang saya mulai berharap terbantu dengan adanya internet.

Melihat persahabatan Golden Trio juga bikin saya punya teori *halah.
Sebuah teori tentang persahabatan dengan lawan jenis.
Mari kita sebut dengan "Teori Persahabatan Hermione".
Begini bunyinya,

Seperti Hermione dan Ron, persahabatan bisa berubah jadi percintaan.
Seperti Hermione dan Harry, persahabatan bisa bertahan selamanya.


*Eaaaaaa
Sesuatu banget kan ya? Hehehehehe..

Eniwei, bagaimana kabar sahabatmu? ;)






Rabu, 17 Agustus 2011

The Host

Suatu hari, Sinta, Yusuf, dan Rama duduk di depan TV menonton sebuah film yang disewa dari Video Ezy *bukan iklan*.

Sinta : "Ini film horor loh.."

Di layar TV, muncul judul tanpa subtitle: THE HOST.

Yusuf : "HANTU. Ya teh?"

Sinta : "Bukaaaaaann! Ini tentang monster ikan,"

Rama : "Hantu itu GHOST,"

Sinta : "Pinteeeeerrr...!" *angkat jempol*

Yusuf : "Terus The Host apa dong artinya?"

Nah loh.

Apa ya..? Sinta berpikir.

Yang pasti The Host adalah buku karya Stephenie Meyer setelah The Twilight Saga.

Di buku itu sih artinya "Inang".

Tapi kayaknya di film ini bukan itu deh artinya.

Jadi apa dong?

The Host.. Hostes...

Akhirnya Sinta pun menjawab dengan ragu,

Sinta : "Tuan Rumah."

Rama : "Host itu PEMBAWA ACARA,"

Sinta : "PINTEEERR!" *angkat jempol lagi*

Cerdas banget ya Rama? Sebenarnya Sinta juga sempat terpikir "pembawa acara". Tapi...

Yusuf : "Masak judul filmnya 'Pembawa Acara'?"

Di layar TV muncul penampakan sang monster.



Sinta : "Yah... monster ikan itulah pembawa acaranya..."


Kemudian hening.




Catatan:

Sampai sekarang, makna kata The Host sebagai judul film itu masih menjadi misteri.

Sumber gambar: Forbidden Planet, The Mad Challenge.

Selasa, 09 Agustus 2011

Want A Magic Wand!

Sejak saya menonton Harry Potter 7 Part 2, saya selalu membayangkan tangan saya memegang tongkat sihir dan mengayun-ngayunkannya melawan penyihir jahat.

Saya pengen punya tongkat sihir seperti yang di film Harry Potter.
Serius.

Tidak ada di dunia nyata?
Tak apa. Yang mirip saja sudah cukup.

Saya tahu tongkat sihir yang seperti di film itu bisa dibeli di tempat yang menjual merchandise Harry Potter.
Ya, yang seperti itu.

Saya tahu dengan tongkat itu saya tidak bisa membuat benda terbang meski mengucap mantra "Wingardium Leviosa!"
atau mengambil benda dengan kalimat "Accio!"
atau melucuti senjata lawan dengan "Expelliarmus!"

Tak apa, itu tidak masalah.

Tapi sungguh, saya ingin punya tongkat sihir yang di ujungnya bisa menyala dan berfungsi senter seperti dimantrai "Lumos!". Saya tahu benda itu ada. Saya pernah melihat behind the scene Harry Potter. Kru Art-nya membuat tongkat dengan lampu pada ujungnya, dengan sebuah tombol untuk menyalakannya.

Saya ingin tongkat sihir itu.

dan agar tongkat sihir saya bisa melindungi saya dari orang yang mengganggu saya..
sebenarnya saya ingin tongkat saya bisa mengalirkan listrik ke orang itu dalam jarak paling tidak 10 meter. Saya tidak menguasai elektronika jadi saya tidak tahu itu memungkinkan dibuat atau tidak. Tapi kalau itu tidak memungkinkan... saya ingin tongkat saya bisa mengalirkan listrik seperti raket nyamuk. Siapa yang saya sentuh dengan tongkat, dia akan kesetrum. Tegangan listrik yang rendah, tentu. Jangan sampai orang itu tewas. Yang penting dia shock , melepaskan saya sehingga bisa kabur.

Saya ingin punya tongkat sihir, yang menggunakan baterai, yang bisa menyala dalam gelap, dan bisa menjadi senjata untuk pertahanan diri saya.

I really want...


THIS!



Sumber gambar: karya pribadi. Boleh copas dengan menyertakan sumber.




Senin, 13 Juni 2011

Up In The Water


Lagi lihat-lihat majalah film, bertiga.
Sampai pada halaman yang memuat artikel film UP.


Sinta : Kalian udah pernah nonton film UP?
Yusuf : *menggelengkan kepala*
Achmad : Belum..
Sinta : Bagus loooh.. *angkat jempol*
Achmad : Di tempat penyewaan ada gak, Teh?
Sinta: Hmm.. ga tau..
Achmad : Kalau film yang tadi Teh Sinta sewa apa? Up In The Water?
Sinta & Yusuf: Up In The AIR!
Achmad : Yah, sama aja lah..
Sinta : -______-"


Sumber gambar: id-top10.com

Jumat, 08 April 2011

Meng-keramasi Suster Keramas

Suster, rambutnya saya keramas ya.. Tapi lain kali kursi rodanya ditinggal aja..



Pertama kali melihat ni hantu suster (tadinya mau bilang Miss Kunti. Tapi kan bukan ya), aku langsung suka. Kreatif aja gitu. Pas banget sama baligonya.

Tadinya mau duduk di atas kursi. Tapi serem juga kayaknya. Lagian, ga mau samaan sama ABG2 yang foto dengan gaya persis di baligo. Hehe.

Jadi posenya gitu deh: Meng-keramasi suster keramas :D

Btw, aku ilfeel liat trailernya. ga banget.

Senin, 07 Maret 2011

PREMIERE

Sebelum cerita tentang acara premierenya, izinkan aku curcol dulu *boleh, boleh. Di film Flickering Light, aku menjabat sebagai sutradara Behind The Scene. Alias seksi dokumentasi. Sayangnya, BTS yang rencananya akan diputar saat premiere, tidak bisa dilaksanakan.
Kenapa?
Karena belum jadi!
*yaaaaaaahhhhh
**penonton kecewa.

Satu pelajaran yang aku dapat adalah, bahwa aku miss dengan ‘pasca produksi’. Selama ini aku menganggap pekerjaan BTS hanya merekam, memotret, dan menulis. Tapi bagaimana hasil perekaman, pemotretan, dan penulisan itu direkap, diolah, dan dipublikasikan, aku tidak memikirkannya dengan matang.

Aku menemui kendala teknis. Ga punya alat penyimpanan data yang aman dan ga punya komputer yang memadai untuk mengedit video. Aku sama sekali ga terpikir bahwa semuanya itu bisa menggagalkan produksi BTS. Well, my bad. Lain kali sebelum aku mengajukan diri jadi kru BTS, aku akan beli hardisk eksternal minimal 500 GB dan komputer yang layak untuk ngedit. Oh, dan tak kalah penting: waktu yang cukup untuk mengerjakan semuanya (sekarang aku nyaris tidak punya waktu untuk bikin film di luar pekerjaan).

Meskipun hasil karyaku berupa video BTS belum bisa diputar, aku tetap mengundang teman-temanku untuk datang dan menyaksikan FILMKU: Flickering Light (FL). Bagaimanapun, FL itu kan filmku juga dan di luar jobdesk BTS, ada, lah, keterlibatanku di dalamnya meskipun dikit: nyari pemain anak kecil dan minjemin clapperboard meski dipakainya sebentar. Heuheu..

Premiere Flickering Light diadakan hari Sabtu, 5 Maret 2011, di ruang 9009 bioskop kampus ITB. Kesanku tentang acara itu: “Oooo.. jadi gini toh yang namanya premiere..”

Aku sangat amat terharu dengan kehadiran sobat-sobatku. Yang paling berkesan adalah kehadiran Ijal dan Linto. Ijal tinggal di luar kota, dan kadang bolak balik ke Bandung. Sebenarnya minggu ini bukan jadwalnya ke Bandung. Tapi dia ingin memberikan dukungan padaku yang telah menghasilkan karya.

Sementara Linto, kami sangat jarang ketemu. Dan kalaupun ketemu, biasanya cuma pas acara reuni SMA. Tapi dia hadir untuk menjadi saksi kesuksesan aku (itu kata-kataku, bukan kata-katanya. Lebay ya? :p)

Selain mereka, ada Indri yang datang dari Lampung, ada juga sahabat lamaku, Tessa *bakal kujitak kalau dia sampai ga dateng*. Anak-anak kosan yang datang: Nurul, Ami, dan Ata, plus Zen.
Aku baru menyadari bahwa kehadiran mereka sungguh berarti. Aku merasa didukung. Dan dukungan itu rasanya menyenangkan! *terharu lagi*.

Aku teringat, seorang juniorku (sebut saja Gifar) pernah jadi penulis skenario di sebuah film, dimana film itu diputar di Blitz Megaplex. Aku dan teman-teman hadir menontonnya. Meskipun mesti bayar Rp. 25.000,-, tapi senang rasanya bisa menunjukkan dukungan padanya.
Nah, sekarang aku merasakan berada di pihak ‘yang didukung’.
Ternyata rasa senangnya 2x lipat!:D

I have a dream..

Setelah ini.. aku ingin bisa berkarya lagi, bikin cerita yang bagus dan menginspirasi, bikin film yang berkualitas.
Lalu..
Orangtuaku hadir di Premiere, dan seperti di film Sang Pemimpi yang di akhir film menuliskan “Dipersembahkan untuk ayah-ayah kami (Ayah Mira Lesmana, Ayah Riri Riza, dan Ayah Andrea Hirata): Ayah juara satu sedunia”, aku ingin sekali bisa menampilkan di filmku itu:
“Dipersembahkan untuk kedua orangtua saya, Papa dan Mama juara satu sedunia.”
-Sintamilia-


(Berarti pilihannya aku harus jadi: produser/sutradara/penulis cerita yang bukunya bestseller)
*Amiiin*
:D

Kamis, 23 Desember 2010

Thanks To 89P

Dua bulan yang lalu, aku bersama seorang sahabat makan siang di sebuah tempat makan penyedia steak, sekedar bertemu dan bertukar kabar. Aku ceritakan padanya bahwa aku telah berhasil membawa pulang ijazah, setelah berbulan-bulan aku ‘titip’ di kampus.

Kenapa aku berlama-lama mengabaikan ijazah? Karena saat itu aku belum mendapat pekerjaan, sehingga ketika orang lain bertanya dimana aku bekerja setelah lulus, aku bisa menjawab, “Masih revisi skripsi.. belum dapet ijazah :)” *sok jadi mahasiswa padahal pengangguran*

Tapi alasan itu sudah tidak bisa digunakan lagi tentu. Sahabatku, yang statusnya tidak jauh beda denganku, berkomentar,
Jadi masih mending aku lah ya.. ada kerjaan..” sahutnya ‘menyombongkan diri’ sebagai pengajar bimbel freelance.
Enggak juga. Aku kan bikin film :p” Aku mengingatkannya tentang keterlibatanku dalam 89 Project (89P).
O iya, ya..”

Pada akhirnya dia setuju kalau kami “beruntung” karena status kami bukan pengangguran 100%
(menghibur diri). Kami punya kegiatan.

Thanks to 89P karena “menyelamatkan” aku dari status pengangguran murni.



Kalau baca cerita di atas, kesannya aku mencatut nama 89P ya? Seolah 89P cuma jadi tamengku dalam
menjawab pertanyaan orang-orang. Seolah aku cuma nebeng nama dan sok eksis sebagai BTS*. Apalagi
wujud konkrit BTS sampai saat ini memang belum jadi, meskipun ga bisa juga dibilang ga ada sama
sekali.

Ketika syuting 89P berakhir, pertanyaan pertamaku adalah: “What’s next?” karena aku belum ingin
berhenti sampai di sini. Memang, kalau orang bertanya apa kegiatanku sekarang, aku bisa
menjawab dengan riang: “Kerja… ^_^”. Tapi ternyata aku kurang puas dengan jawaban itu.

Aku ingin, ketika orang lain bertanya, “Lagi sibuk apa, Sin?”
Maka aku akan menjawab,

“Kerja… ^_^ dan masih bikin film juga sama teman-teman.. :D”





Well, baiklah,
saatnya mengerjakan BTS 89P. Semangat!






*BTS=Behind The Scene=Dokumentasi proses produksi film


Sumber gambar: Gettyimages

Sabtu, 11 Desember 2010

Tiket Masuk Surga* Bisa Diambil Di Sini :)

Hai readers..!
Buat yang belum tahu nih, aku dan teman-teman sedang memproduksi sebuah film berjudul Flickering Light. Ini adalah sebuah proyek film non profit tentang Hemofilia.

Apakah Hemofilia itu? Banyak orang yang belum tahu, bahwa Hemofilia adalah kelainan darah dimana darah sulit membeku. Jadi kalau terluka, pendarahannya sulit berhenti.
Film ini dibuat dengan tujuan agar bisa menjadi media sosialisasi Hemofilia. Begitu.. :)

Nah, masalahnya adalah…
Bikin film itu mahal guys. Perlu dana beberapa juta nih. Dana yang terkumpul sekarang masih sangat minim. Jadi.. kalau ada di antara kalian yang berbaik hati mau membeli tiket ke surga*, silahkan memberikan donasi di sini.

Sekarang film ini sedang dalam masa syuting. Kalau mau tahu info lebih lengkapnya, silahkan langsung ke blog resminya ya.. Follow juga..

Akhir kata, terimakasih atas partisipasinya.. ^_^






*syarat dan ketentuan berlaku :p

Jumat, 15 Oktober 2010

Beratnya Punya Anak Perempuan...

Woaaaa... tiga minggu ga nge-blog!
maafkan aku sodara-sodara, kemarin-kemarin aku konsentrasi penuh revisi skripsi, yang telah tertunda selama 7 bulan (2 bulan lagi melahirkan tuh T_T)
Alhamdulillah, sudah selesai & mendapat ijazah. Yippiieee...!
Jadi, sekarang bisa nge-blog lagi. Asik asik asik.

Udah pada nonton film Satu Jam Saja belum? Meskipun menurutku ceritanya simpel dan alurnya lambat, tapi aku tetap menyarankan kalian nonton demi mendukung perfilman Indonesia yang berkualitas *tsaaah*. Lagipula, soundtracknya bagus (alasanku nonton ini cuma karena soundtracknya aja sih. Hehe)

Aku nonton Satu Jam Saja bareng anak-anak kosan hari senin malam (11/10) di BIP, and surpraisingly, tiga pemain utamanya dateng dong.. Vino, Revalina, dan Andhika Pratama. Reva bahkan ditemani Agus Ringgo. Hohoho.. (Hmm.. paragraf ini ga penting sebenarnya. Mau pamer aja *halah!*)



Film ini bercerita tentang seorang Gadis yang hamil di luar nikah. Sang pelaku yang notabene sahabatnya sendiri , lari dari tanggungjawab. Pesan moral film ini adalah.. Hati-hati dalam bergaul. Bahkan meski ga pacaran, meski statusnya sahabat, tapi kalau syaitan lewat dan kita ga punya tameng cukup kuat untuk melawan tuh syaitan sialan, celakalah jadinya.

Mari kita berbelok sedikit.

Aku tidak terlalu suka acara hipnotis Uya Emang Kuya, karena banyak mengumbar aib.
Kita diperintahkan untuk tidak mengumbar aib orang lain.
Allah saja menutupi aib kita. Masa’ kita membongkar aib sendiri? Ga banget lah pokoknya.

Tapi aku pernah melihat satu episode yang agak bagus. Uya menghipnotis ibu dan anak perempuannya. Dalam keadaan tidak sadar, sang anak bercerita kalau dia merasa dikekang oleh sang ibu, sehingga ia pacaran backstreet. Sementara ketika sang ibu dihipnotis, beliau bercerita kalau ia sangat mengkhawatirkan pergaulan anak jaman sekarang. Sikapnya yang protektif pada anaknya itu adalah karena dia sayang dan tidak ingin anaknya terjerumus. Di akhir acara, sang anak meminta maaf pada ibunya sambil menangis. Mereka berpelukan.

Ah, mengharukan sekali. Melihat itu, aku jadi teringat Papa.

Beberapa bulan yang lalu, aku pernah mendapat sms dari Papa. Isinya kira-kira begini, “Sinta & Nurul, hati-hati ya di sana. Jangan sampai melakukan hal yang dilarang agama”.

Hah? Apaan nih? Ga ada angin, ga ada hujan, tiba-tiba Papa ngirim ini? Emangnya aku ngapain?

Aku bingung dan ga tau mesti merespon bagaimana. Ada beberapa hal yang dilarang agama. Tapi tentu saja yang dimaksud Papa bukan membunuh, merampok, atau korupsi. Kita semua tahu lah ya, apa konotasi "hal yang dilarang agama". Sms itu ga aku balas.

Papa lalu mengirim sms lagi yang menceritakan bahwa tetangga kami, Pak Haji Entahsiapa, yang anak perempuannya hamil di luar nikah. Oalaaah. Jadi itu alasannya Papa ngirim sms ‘aneh’? Akhirnya aku balas sms Papa dan meyakinkan beliau kalau insya Allah kami akan baik-baik saja di sini. Kami saling menjaga dan mengawasi satu sama lain.


Beberapa waktu kemudian, ketika aku pulang ke Batam, aku mendapat cerita versi Mama. Mama bercerita, ketika Papa mendengar tentang anak perempuan Pak Haji Entahsiapa itu, raut muka Papa tiba-tiba berubah. Papa terlihat sediiiiiiiiiiiih.. sekali. Belum pernah Mama melihat Papa sesedih itu (FYI, Papa emang hampir ga pernah terlihat sedih. Dapet cobaan hidup seberat apapun, ia selalu tampak cool, calm, & confident. Heuheu). Mama yang heran lalu bertanya, “Kenapa pa? Kok sedih?”. Papa menjawab,

“Dia yang tinggal sama orangtuanya aja bisa seperti itu. Gimana anak-anak kita, yang jauh dari pengawasan?”

Ya Allah.. Betapa khawatirnya Papa pada kami! Jadi terharu.. Hiks hiks..

Mama sendiri merasa ga sedih, biasa aja tuh (emang, dasar :p). Mungkin karena Mama punya feeling & naluri keibuan yang kuat, jadi kalau anak-anaknya macem-macem pasti langsung ketahuan. Tapi bukan berarti Mama ga peduli. Dulu Mama pernah ngasih aku pilihan, mau diberi kebebasan yang bertanggungjawab, atau, kalau aku belum bisa bertanggungjawab, Mama akan kekang sekalian, biar aman. Aku tentu milih yang pertama dong.

Mama juga pernah menganalogikan, anak perempuan itu seperti gelas kristal. Gelas kristal itu rapuh dan mudah pecah. Kalau sampai retak, nilainya ga akan berharga lagi. Makanya harus dijaga dengan baik.

Mungkin punya anak perempuan memang berat ya. Buktinya, Allah ngasih pahala yang besar bagi para ortu yang berhasil membesarkan, merawat, dan menjaga anak-anak perempuannya. Ada hadist yang bilang, bahwa:

“Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta sikap bertanggungjawab, maka baginya adalah surga.”

(Sumber hadist: http://www.scribd.com/doc/27449087/40-keistimewaan-wanita)


...

Udah banyak bukti di sekitar kita.
Seharusnya kita belajar.
Belajar dari Gadis, yang menderita karena akhirnya menikah dengan orang yang tidak ia cintai demi menutupi aib..
Belajar dari Uya Emang Kuya, yang menunjukkan betapa parahnya pergaulan remaja sekarang sehingga sang ibu begitu protektif.
Belajar dari Pak Haji Entahsiapa, yang bahkan dengan embel-embel Pak Haji pun tidak menjamin anaknya "selamat".
So girls,
mari kita sama-sama jaga diri,
saling mengingatkan sesama cewek,
supaya gak ada lagi Gadis-Gadis lain,
yang tak lagi "gadis" ketika menikah.
Luv u all :)

Sumber gambar: Indonesian Film


NB: Mbak-mbak tukang sobek karcisnya mungkin terpukau juga dengan kedatangan artis-artis itu sampai lupa menyobek karcisku. Hihihi..

Sabtu, 25 September 2010

Melamar-Melamar Kerja


(Catatan: Tulisan ini aku buat sebagai hadiah kelulusan untuk para sahabatku.. )
Begitu aku dinyatakan lulus sidang skripsi, aku menyimpan skripsiku alih-alih merevisinya. Aku memang berencana fokus nyari kerja dulu. Ga mau nganggur, ceritanya.
Aku ikut beberapa kali jobfair. Hmm.. tiga kali, kalau tidak salah. Pengalaman ketiganya hampir sama: tidak ada posisi yang membuatku sangat tertarik, tidak ada perusahaan yang aku cita-citakan, aku tidak nyaman berada di kerumunan orang pencari kerja, dan aku juga agak ga rela bayar tiket masuk jobfair (bisa buat makan sehari tuh T_T), padahal tidak mendapatkan yang aku harapkan. Di jobfair ketiga aku bertekad, “Ini kehadiran terakhir ku di jobfair. Ga lagi-lagi deh”. Dan memang, sampai sekarang aku ga pernah lagi ke jobfair.
Aku pernah melamar ke sebuah lembaga pelatihan broadcasting, karena tertarik dengan dunia pertelevisian & perfilman (plus konsentrasiku pas kuliah kan di bidang training). Aku diterima, lulus wawancara, dan sempat beberapa kali ikut training pemasaran. Orang-orangnya baik, trainingnya keren, tapi aku merasa belum bisa jadi marketing officer. Apalagi honornya sistem komisi, bukan gaji tetap. Aku pun menghilang dari sana tanpa kabar (ga sopan, emang >.<)
Aku juga pernah melamar ke stasiun TV di Jakarta. Ikut psikotes, lulus wawancara pertama, tapi gagal pas wawancara kedua. Baru beberapa hari kemudian aku ‘ngeh’ dengan kesalahanku yang membuatku gagal wawancara. Kalau aku tahu ‘trik’ itu sebelumnya, pasti aku bisa lolos tuh! Heuheu. Gpp lah. Belum rezeki, berarti.
Aku sempat ingin bekerja freelance. Jadi pengajar bimbel misalnya. Kesempatan itu datang tak lama kemudian. Ada lembaga bimbel buka lowongan. Aku melamar dan langsung diterima. Aku sudah menerima surat tugas mengajar, ketika aku diberitahu bahwa ada training untuk pengajar dengan biaya sekian-sekian (yang membuat honor mengajarku sepertinya akan habis terkuras untuk itu). Aku tidak bisa menerimanya, dan mengundurkan diri H-1 sebelum ngajar (!). Sempet sedih, tapi it’s okay. Allah pasti menyiapkan yang lebih baik.
Aku juga pernah melamar menjadi editor di perusahaan penerbitan ternama di Jakarta. Aku suka sekali membaca, dan tugas utama editor tentu saja membaca (dan mengeditnya). I’ll love this job. Aku dipanggil untuk tes, yang (sayangnya) gagal karena kurang pengetahuan & kurang persiapan. Tapi dari pengalaman terakhir itu, aku tiba-tiba menyadari sesuatu.
Kenapa aku gagal ketika wawancara/tes di Jakarta, padahal aku sangat amat berminat dan merasa mampu?
Jawab: Karena mungkin.. jauh di hati kecilku, ternyata aku belum siap kerja di Jakarta. Aku ingin di Bandung, aku masih ingin bersama teman-temanku.
Aku lalu merenung lebih jauh.
Kenapa belasan lamaran yang aku sebar di jobfair ga ada satu pun yang nyangkut?
Jawab: Karena aku memang tidak sedikitpun tertarik, tidak sedikitpun menginginkannya.
Kenapa lamaranku nyangkut, lalu dipanggil wawancara/tes di lembaga pelatihan broadcasting, di stasiun TV, di lembaga bimbel, dan di penerbitan?
Jawab: Karena aku memang BERMINAT di bidang itu.
Kenapa aku belum bekerja tetap?
Jawab: Karena jelas, aku masih ingin BIKIN FILM (yang ini mah sengaja :p). Keinginanku yang satu ini benar-benar serius dan tidak dapat diganggu gugat.
Aku ingin bikin film. Tapi karena butuh uang untuk hidup, aku harus bekerja. Maunya sih bekerja sebagai pekerja film, tapi mungkin karena “belum siap meninggalkan Bandung & teman-teman”, lamaranku ke PH-PH di Jakarta belum ada balasan. Oke. Menurutku itu masuk akal.
Aku ingin (1)bikin film+(2)bekerja buat makan+(3)di Bandung+(4)masih bareng teman-teman. Solusinya adalah.. berbisnis, atau jadi freelancer. Freelancer dulu aja deh. Karena aku suka nulis, aku ingin jadi freelance writer. Itulah keinginanku yang sebenarnya.
Allah Maha Mendengar, Allah Maha Pengabul Doa.
Sampai bulan Ramadhan lalu, aku kerja di kosan Dago Bandung, jadi freelance writer di sebuah situs kuliner (kerjanya 100% online dan aku maniak internet), serta –tentu saja!-aku juga bikin film bareng teman-teman di 89 Project. I got what I really want. Sempurna sekali hidupku!
Inti yang mau aku sampaikan di sini adalah, kalau di antara kalian ada yang bertanya-tanya: Kenapa sulit sekali mendapat pekerjaan? Kenapa aku ga dapat panggilan? Kenapa aku gagal tes/wawancara padahal aku merasa mampu & memenuhi semua kualifikasi? Kenapa aku belum bekerja?
Tanyakan pada hatimu, teman. Mungkin pekerjaan itu bukan yang benar-benar kamu inginkan.
Hati-hati dengan kata hatimu yang terdalam, yang seringkali kurang terdengar. Bahkan aku dengan keinginan dan kemauan yang sangat menggebu ingin bekerja di PH-PH Jakarta, bisa tertahan dengan keinginan ‘cemen’ seperti “pengen di Bandung & pengen bareng teman-teman”. Hal sepele seperti ini bisa jadi hambatan lho.
Tapi jangan terlalu khawatir tentang pekerjaan. Jangan pernah takut ga dapet kerja. Sekarang, nikmatilah masa-masa kelulusanmu. Setelah puas, mulailah berpikir dengan tenang.
Dengarkan kata hatimu, milikilah mimpi, harapan, keinginan, dan minat, lalu kejar!
Selama kamu yakin, insya Allah, cepat atau lambat, keinginanmu akan tercapai.
Pesan dari Steve Jobs,
The only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the hearts, you’ll know when you find it.”
Selamat mengejar impian, kawan! Semoga sukses selalu :)