Kamis, 26 Oktober 2017

Menyelami Dunia Remaja di Film My Generation

Halo Maak..

Kapan terakhir kali nonton bioskop?

Sebagai emak-emak dengan 1 balita, saya suka mikir-mikir kalau ke bioskop. Di usia 3 tahun, Kakang udah 3 kali ke bioskop dan relatif terkondisikan. Tapi tetap saja pernah ada saat dimana dia ga betah dan minta keluar studio. Jiaaah kan rugi yak, meskipun cuma beberapa menit keluar, jadinya ketinggalan beberapa adegan.

Meski begitu, saya tetap suka mupeng kalau ada film-film baru di bioskop. Khususnya film Indonesia. Sebagai mantan filmmaker yang nasionalis (halah), saya selalu ingin mendukung film Indonesia dengan menontonnya di bioskop. Apalagi semakin kesini film Indonesia semakin bermutu. Tak melulu film horor yang menjual sensualitas.

Buat yang suka nonton bioskop, atau malah udah lama ga ke bioskop kayak saya, tahu gak sih beberapa hari lagi akan rilis film Indonesia terbaru?


Tanggal 9 November mendatang, akan rilis film My Generation dari IFI Sinema. Buat yang belum tahu, IFI Sinema sebelumnya pernah memproduksi Coklat Stroberi (2007), Radit dan Jani (2008), 3 Doa 3 Cinta (2008), Coblos Cinta (2008), Serigala Terakhir (2009), Lovely Man (2012), Mika (2013), dan Pertaruhan (2017). 

Film My Generation ini disutradari oleh Upi. Itu loh, yang sebelumnya pernah menyutradarai film 30 Hari Mencari Cinta, Realita Cinta dan Rock n Roll, Radit dan Jani, serta beberapa film lain.

Dalam acara peluncuran official trailer dan poster My Generation di Jakarta 10 Oktober lalu, Upi bercerita tentang film yang diperankan oleh talent-talent baru di dunia akting ini. Ia mengatakan bahwa sebelum memproduksi film ini, 2 tahun ia riset media listening pada generasi milenials. Sehingga dialog dan karakter tokoh pun sesuai dengan kondisi real di lapangan.

Film My Generation mengisahkan tentang 4 remaja SMU yaitu Zeke, Konji, Suki dan Orly. Mereka membuat video yang memprotes sekolah, guru, dan orang tua. Video ini menjadi viral dan membuat mereka dihukum tidak boleh pergi liburan.

Meskipun begitu, di masa liburan ini mereka justru mengalami peristiwa-peristiwa dan petualangan yang memberi arti mendalam.

Keempat tokoh ini memiliki karakter dan konflik yang berbeda-beda.

Zeke seorang cowok yang rebellious tapi juga easy going dan loyal pada teman-temannya. Zeke merasa orangtuanya tidak mencintai dan tidak menginginkan keberadaannya. Zeke harus berani mengkonfrontasi orangtuanya dan membuka komunikasi yang lama terputus.



Konji adalah seorang anak yang polos dan naif. Ia merasa orangtuanya kolot dan over protective. Kemudian ada sebah peristiwa yang membuatnya shock dan mempertanyakan moralitas ortunya yang kontradiktif dengan aturan yang mereka tuntut pada Konji.



Suki adalah anak perempuan yang paling cool, dan memiliki masalah kepercayaan diri. Krisis kepercayaan diri ini semakin berat karena sikap orangtuanya yang selalu berpikiran negatif padanya.


Sementara Orly adalah cewek yang pintar, kritis, dan berprinsip. Ia concern dengan kesetaraan gender dan label-label yang sering ditempel pada perempuan. Ia ingin mendobrak semua itu. Ia juga bermasalah dengan ibunya yang single parent dan pacaran dengan lelaki yang lebih muda.


Gimanaa?

Penasaran deh pasti.

Menurut saya sih dari film ini kita akan bisa menyelami pikiran dan perasaan remaja, dan kemudian kita dapat menyikapinya dengan baik.

Semua konflik yang mungkin terjadi antara remaja dan orangtua haruslah bisa ditangani dengan keterbukaan dan komunikasi asertif, sehingga tak perlu ada pertentangan yang justru bisa membuat situasi makin memburuk. Setuju?

Save the date : 9 November 2017 di bioskop-bioskop kesayanganmu ;)



1 komentar:

  1. tapi yang pernah aku baca kalo orang" tidak suka dengan film My Generation dengan melihat trailernya cerita dari my generation ini sangat bebas dan tidak baik untuk ditonton remaja ataupun anak".

    BalasHapus