Tampilkan postingan dengan label Jualan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jualan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Januari 2020

Tren Instagram Marketing 2020


Haiiii,
Happy new year!

Baru-baru ini saya baca artikel (berbahasa Inggris) bagus nih dari Later tentang tren Instagram Marketing di tahun 2020. Yang saya tulis di sini bukan terjemahan bebas ya, tapi lebih ke poin-poin penting dan catatan untuk saya sendiri. Sebagai owner OLshop yang jualan di Instagram, penting rasanya selalu update dengan kabar terbaru. Yuk cuuuuss!

SEMAKIN BANYAK KONTEN VIDEO

Kayaknya IG pengen ngambil sedikit “kue” milik Youtube nih dengan memperbolehkan user upload video dengan durasi yang lebih panjang di feed IG. Konten video juga akan disebarkan oleh algoritma IG lebih luas (mendapat reach lebih banyak) dibanding konten foto.

Untungnya, dengan teknologi pada smartphone yang makin kece fitur kameranya, hampir semua orang bisa memproduksi video sendiri. So, ayooo kita lebih banyak lagi bikin video untuk konten IG.

JUMLAH LIKES DISEMBUNYIKAN

Kalau di Indonesia saat ini kita masih bisa melihat berapa jumlah likes pada suatu foto. Kalau di US udah mulai disembunyikan tuh. Alasannya sih, mendukung kesehatan mental terutama pada remaja. Mungkin selama ini mereka menggunakan IG sebagai ‘hamba likes’, yang kalau fotonya dapat likes banyak mereka girang, sementara kalau sedikit, mereka stress.

IG berharap ke depannya user bisa posting foto lebih sering dan lebih bebas, ga perlu mikir apakah foto tsb udah perfect banget, ga perlu khawatir “gimana kalau ga ada yang like ya?”

IG MENJADI PLATFORM ECOMMERCE

IG sedang mengembangkan fitur Instagram Checkout, dimana followers bisa berbelanja langsung di akun Brand tanpa keluar dari aplikasi Instagram. Saat ini ada beberapa brand di US yang sudah bisa menggunakan fitur tsb. Tahun 2020 diramalkan akan semakin banyak lagi Brand yang menggunakan fitur ini. Bahkan bisa jadi semua OLshop bisa.

Btw sebenarnya saat ini udah ada loh layanan yang mirip IG Checkout tsb di Indonesia. Namanya belanja.bio. Coba deh googling.


IG MENJADI PLATFORM INFLUENCER MARKETING

Bersamaan dengan fitur Instagram Checkout, dikembangkan juga fitur Shopping From Creators. Dalam bayangan saya sih, cara kerja influencer mirip affiliate jadinya. Bedanya, dalam affiliate marketing, calon pembeli perlu meng-klik link. Sementara dalam influencer marketing, calon pembeli meng-klik foto yang diupload creator (selebgram/influencer) untuk kemudian diarahkan ke akun Brand tempat mereka bisa membeli produk yang dipromokan influencer. Jadi lebih smooth deh proses belanjanya. Asik ya!

Oh ya, semua orang berkesempatan jadi influencer loh selama feednya rapi dan engagementnya bagus. Kalau kemarin-kemarin yang banyak dicari brand adalah macro influencer (jutaan followers) dan micro influncer (puluhan-ratusan ribu followers), ke depan yang akan trending adalah nano influencer (ribuan followers). 


TIKTOK “MENJAJAH” INSTAGRAM

Merhatiin gak sih di IG sekarang semakin banyak konten Tiktok?

Buat yang belum tahu, Tiktok adalah aplikasi video sharing yang disertai musik. Konten dari Tiktok lebih real, ga pake filter, fokus ke isi bukan ke estetika. Ga perlu lokasi yang Instagramable buat bikin konten Tiktok.

Tiktok dulu sangat populer diantara remaja. Sekarang orang dewasa ikutan juga. Tiktok adalah aplikasi ketiga paling banyak didownload tahun 2019. Tiktok punya 500 juta pengguna aktif, sama dengan pengguna Instagram stories. So, diramalkan nanti IG stories akan semakin banyak memuat konten dari Tiktok.

Daaan you know what? IG lagi ngembangin aplikasi untuk menyaingi Tiktok. Namanya Reel. Saat ini lagi berusaha dipopulerkan di negara yang belum dimasuki Tiktok seperti Brazil dan Mexico. Seru nih!


IG MENJADI MICRO BLOG

Data menunjukkan dari tahun ke tahun user IG menulis caption semakin panjang. 

Orang tak hanya menikmati foto-foto indah melainkan juga kata-kata yang menarik.
Ini adalah kesempatan kita untuk bercerita lebih banyak di caption, sehingga followers  menghabiskan lebih banyak waktu di postingan kita. Ini mempengaruhi algoritma dan meningkatkan engagement.

Bagi brand owner, yang namanya brand voice akan semakin penting. Foto bagus saja tidak cukup. Followers ingin tahu dan ikut mendukung hal-hal yang dikampanyekan brand di balik produknya.

Dalam artikel tsb memuat tips ini : Next time sebelum posting di IG, pikirkan dulu mau nulis caption apa (mau menyampaikan pesan apa) baru cari foto yang cocok.

Tips lain,
Share tips di caption. Kalau pembaca klik ‘Save’ di postingan kita, ini juga terhitung engagement dan mempengaruhi algoritma loh. Jadi next time postingan kita akan lebih sering terlihat mereka.

Ada beberapa insight lain seperti akan semakin banyak iklan di IG Stories, fitur IGTV series, dan juga perkembangan filter Augmented Reality untuk shopping. Tapi saya belum bisa nulis lebih panjang lagi karena tangan pegel #jujur.

Bagaimana menurutmu? Apa resolusimu di Instagram tahun 2020 ini?


Sabtu, 17 Agustus 2019

Cara Simpel Membuat Deskripsi Produk Untuk Caption IG

Jaman sekarang, udah banyak banget akun OLShop muncul di Instagram bagai cendawan tumbuh di musim hujan *tsah. Gak heran sih, saya pribadi sudah membuktikan sendiri kalau jualan di Instagram itu cukup enak, terutama karena pembeli yang datang melalui IG biasanya jarang nawar dan cepet transfer. Hihihi

Jumat, 10 Maret 2017

Satu Alasan Orang Menolak Produk yang Anda Tawarkan

Ini adalah curhatan saya sebagai seorang calon pembeli yang pernah dapat sedikit ilmu penjualan.

Beberapa hari yang lalu saya ke sebuah toserba kecil yang salah satu dagangannya adalah kosmetik.
Saya mampir ke sebuah counter salah satu merek kosmetik dan bilang ke SPGnya kalau saya mau melihat-lihat lipstik. Sang SPG mempersilakan. Belum 5 menit saya melihat-lihat, SPG itu menawarkan saya pelembab wajah.

Kamis, 21 April 2016

5 Keunggulan Shopee untuk Penjual yang Harus Kamu Coba!

(Disclosure: Ini BUKAN postingan berbayar)

Tadinya postingan ini mau dikasih judul "Mendapatkan Pembeli Pertama melalui Shopee" biar sama kayak "Mendapatkan Pembeli Pertama di Instagram". Tapi kok ga enak mengulang-ngulang kata "pertama" ini. Nanti lama-lama berlanjut sampai "Mendapatkan 100 juta pertama" atau "Mendapatkan 1 Milyar pertama" dong?
Aamiin.. hehehe

Kenapa saya pakai Shopee? Entahlah. Saat saya menulis daftar marketplace untuk jualan, Shopee ada di urutan terakhir. Paling atas itu adalah Tokopedia, Bukalapak, OLX. Iya, yang pada ngiklan di TV itu loh.

Shopee gak ngiklan di TV. Tapi saya pernah lihat iklannya di Facebook. Pernah juga lihat kakak kelas jualan di Shopee. Saya pikir gak ada salahnya dicoba. Saya meng-upload produk jualan di semua marketplace tersebut dalam waktu yang bersamaan. Surprisingly, sejauh ini transaksi (dan interaksi) yang terjadi HANYA melalui Shopee. 

Btw Shopee ini aplikasi ya, jadi gak ada versi web seperti Toped, BL dan OLX.

Saya yakin sebenarnya Shopee punya lebih dari 5 fitur yang ditawarkan untuk para penjual. Tapi saya bahas 5 aja ya yang bagi saya "Berasa banget" *apa deh.

Ini dia:

Rabu, 24 Februari 2016

Mendapatkan Pembeli Pertama dari Instagram

Saya pernah baca tips tentang blogging, katanya blog gado-gado macam saya punya ini idealnya posting topik tertentu di hari-hari tertentu. Awalnya saya coba tiap sabtu posting topik married life & relationship dengan hashtag #SaturdayLove. Masih bolong-bolong sih, tapi saya suka dan insya Allah akan tetap saya lanjutkan.

Per Pebruari ini saya mau coba juga #RabuBaru. Ngebahas tentang everything new, berita terbaru yang jadi trending topics, juga first experience alias pengalaman apapun yang baru pertama kali saya alami. Rabu lalu saya posting tentang Gajah Depa Waterplay, dimana itu pertama kalinya saya berenang lagi sejak... entahlah. Mungkin terakhir kali saya berenang tuh waktu SMP.

Kali ini saya mau cerita tentang pengalaman pertama saya mendapatkan pembeli dari OLShop saya. Isinya bukan tips. Tapi semoga ada ilmu yang bisa diambil yah. Hehehe..

Rabu, 12 Agustus 2015

Lebaran Tahun Ini: Awal yang Baru


Lebaran tahun ini.. 'spesial' rasanya.

Ini pertama kalinya saya tidak menerima THR. Hiks. Sejak 2 minggu sebelum melahirkan, saya memang berhenti bekerja. Kebayang tahun lalu dapat THR yang jumlahnya menyenangkan. Tapi itu tinggal kenangan *tsah

Berharap THR dari suami, ternyata gaji dan THR dari perusahaan tidak cair 100%. Hanya separuhnya saja. Hmm.. sepertinya sedang ada masalah cashflow. Saya jadi agak khawatir dan mengatakan pada suami mungkin inilah saatnya ia pindah kerja.

Ia menyimak kata-kata saya. Namun setelah menimbang-nimbang, ia menggeleng.
"Kalaupun aku pindah kerja, aku gak mau jadi karyawan lagi. Aku mau bisnis." jawabnya.
Saya terkesima.
Dan tentu saja, mendukungnya.


***


Saya dan anak kami duluan mudik ke Sumedang, ke rumah orangtua suami. Kami tiba di sana beberapa hari sebelum bulan puasa. Sementara suami tetap di Bandung, bekerja dan tanpa saya ketahui..
BERDAGANG!

Saat ia mengabarkan bahwa ia jualan sop buah dan pisang ijo untuk berbuka puasa, saya takjub. Ternyata ia bersungguh-sungguh dengan niatnya memiliki bisnis sendiri. Setengah tak percaya, saya minta dia mengirimkan foto sebagai bukti. Ia lalu mengirimkan foto ini:

Lapak Sop Buah dan Pisang Ijo
  
Untuk membuat sop buah, ia dibantu teman-temannya. Ada yang berbelanja dan memotong-motong buah, sementara ia sendiri ikut jaga lapak sepulang bekerja.

Untuk pisang ijo, ia mengambil bahan dari seorang temannya. Ia tinggal menambah kacang, vla aneka rasa, dan es saat konsumen datang.

Ia juga banyak bercerita tentang suka duka selama berjualan.

"Ada anak yang pengen beli es buah buat buka puasa, tapi uangnya ga cukup..
aku gratisin tuh es buahnya..
ada bapak-bapak yang tiap hari beli terus, hampir gak pernah absen..
ada perkelahian di depan tempat jualan menjelang buka puasa, batal deh itu puasa sebelum bedug..
ngabuburit dengan cara yang asik..
saking asik ngabuburit, sampe buka puasanya beberapa menit setelah adzan terus, karena banyak yang beli..
ibu pemilik warung yang aku titipkan meja untuk jualan, menolak menerima uang dariku..
katanya niat bantu aja..
yang paling mengharukan, adalah ketika aku bisa transfer uang ke kamu dari hasil sop buah ini." 


Itulah beberapa kesan yang tertinggal baginya.

Saya senang karena ia tampak puas. Ia bahkan berniat mengembangkan usaha itu.



Selama lebaran, yang ada di kepalanya hanya ide-ide pengembangan bisnis sop buah. Hehehe..

Ia bertekad selesai libur lebaran, ia akan mencari supplier buah, mencari lokasi, dan membuat proposal bisnis untuk mendapatkan investor. Bisnis kali ini tidak akan seperti bulan puasa lalu yang sekedar gelar lapak. Kali ini harus lebih berkonsep dengan variasi buah yang lebih banyak dan pemasaran yang menggunakan strategi. Puasa memberikannya ide usaha sop buah dimana setiap harinya ada 7 jenis buah berbeda.

Sekali lagi, ia bersungguh-sungguh menjalankan rencananya.

Selesai libur lebaran dan kembali ke Bandung, ia kesana kemari mencari supplier buah ke Pasar Induk Caringin, Ciroyom, sampai ke Lembang. Ia kaget ketika mengetahui ada beberapa buah yang harganya amat mahal seperti anggur merah dan hijau, kiwi dan peach. Buah peach bahkan mencapai 135ribu perkilonya.

Ia laksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk mewujudkan mimpinya. Banyak hambatan tentu saja. Namun ia coba atasi pelan-pelan, satu persatu.

Baru-baru ini ia membuat sop buah dan memotretnya untuk dilampirkan dalam proposal. Saya sarankan padanya untuk mempublikasikan juga foto itu di media sosial sebagai teaser promo. Ia pun lalu mengunggah foto itu.




Es krimnya ancur. Hahaha...

Lebaran tahun ini sepertinya akan menjadi awal yang baru. Sebuah ikhtiar lain untuk menjemput rezeki yang telah Allah tetapkan. 

Sungguh saya salut padanya. Ia adalah sosok suami dan ayah yang mau bekerja keras untuk kehidupan kami yang lebih baik. 

Wahai suamiku,
Aku doakan semoga Allah berkenan menurunkan rahmat-Nya padamu, memberikanmu kesehatan, keselamatan, dan rezeki yang halal serta berkah pada keluarga kecil kita.

Aamiiin ya Rabb..



Selasa, 26 Mei 2015

Review Buku Bisnis Online Milyaran

Sumber: Yukbisnis.com | Klik untuk deskripsi produk


Judul : Bisnis Online Milyaran
Penulis : @FikryFatullah & @Motivatweet
Tebal : 336 halaman


Suatu hari di sebuah grup facebook  yang saya ikuti, seseorang mengumumkan akan membagikan ebook cerpen gratis. Puluhan orang komentar memberikan alamat emailnya. Terbersit keinginan saya untuk mengumpulkan semua alamat email yang tercantum lalu mengirimkan email berisi promo produk. Untunglah sebelum saya melakukan rencana itu, saya membaca buku ini.

Pernah menerima foto yang di tag sembarangan untuk Anda di Facebook? 
Atau mungkin Anda pernah menerima email yang tidak jelas asal-usulnya, lalu menawarkan Anda berbagai macam barang? 
Atau mungkin Anda juga pernah di-mention seseorang yang tidak Anda kenal di twitter, lalu menawarkan barang yang tidak Anda butuhkan? 
Semua ini adalah termasuk ke dalam aktivitas spamming.(Hal. 21)

Ow. Ternyata kalau saya sembarangan mengirim email promosi ke orang, itu namanya spamming (menyampah), dan merugikan bisnis dalam jangka panjang.

Itulah salah satu materi tersaji di buku ini. Bahwa spamming itu salah dan yang benar adalah dengan membangun audiens terlebih dahulu sebelum menjual apapun.

Selain materi bagaimana membangun audiens (baca: calon pembeli) di dunia maya, buku ini juga memuat materi tentang bagaimana menentukan target pasar, mendapatkan inspirasi untuk membuat konten, beriklan di internet (termasuk menghitung biaya iklannya), melakukan optimasi social media untuk promosi, membangun brand, berhubungan dengan influencer, membangun jaringan offline, dan banyak lagi.

Bagi saya yang baru memulai bisnis online, buku ini memuat materi yang sangat berharga dan sangat bisa menjadi panduan untuk dipraktekkan sehari-hari. Penjelasannya detail, teknis, namun mudah dimengerti. Penulis juga menjabarkan berbagai tools yang mendukung bisnis online kita beserta tutorialnya, lengkap dengan screenshot yang mudah dipraktekkan.

Beberapa tutorial yang termuat dalam buku ini antara lain:
  • Mengetahui apa yang sedang dicari atau diminati oleh target pasar dengan Google Keyword Planner & Google Trends
  • Mengetahui potensi pasar dari demografinya dengan Facebook Ads
  • Membuat banner iklan dengan Canva, dan banyak lagi.


Meskipun saya menemukan sedikit typo dan beberapa istilah asing yang tidak (atau lupa?) di-italic, buku ini tetap menjadi buku bisnis terbaik yang saya baca di tahun 2015 sejauh ini.

Buku yang dapat dibeli di Yubistore ini disusun oleh @FikryFatullah (Juragan Pemasaran Yukbisnis.com) dan @Motivatweet si burung Zuper yang hobi membakar semangat hampir 250ribu followersnya di twitter untuk berbisnis.

Jika Anda berminat untuk berbisnis online, atau sudah memulai bisnis online tapi ingin meningkatkan omset, buku ini wajib Anda miliki.

Happy reading ^^



Kamis, 28 Agustus 2014

26 Alasan Mengapa Orang Membeli Suatu Barang

1. Untuk mendapat uang
2. Untuk menghemat uang
3. Untuk menghemat waktu
4. Untuk menghindari kerepotan
5. Supaya lebih nyaman
6. Supaya lebih bersih
7. Supaya lebih sehat
8. Agar terhindar dari penderitaan fisik
9. Agar memperoleh pujian
10. Agar memperoleh popularitas
11. Agar menarik perhatian lawan jenis
12. Untuk menjaga harga benda
13. Untuk meningkatkan kenikmatan
14. Untuk memuaskan rasa ingin tahu
15. Untuk melindungi keluarga
16. Untuk mengikuti mode
17. Untuk memuaskan nafsu makan
18. Untuk meniru orang lain
19. Untuk menghindari masalah
20. Untuk menghindari celaan
21. Untuk menjadi diri sendiri
22. Untuk menjaga reputasi
23. Untuk mengambil kesempatan
24. Agar mendapat keamanan
25. Agar menjadikan pekerjaan lebih ringan
26. Agar memperoleh atau menjaga benda seni



Sumber : Hypnoselling - Joe Vitale

Kamis, 03 Juli 2014

Ketika Cewek-Cewek Jualan Obat Kuat

Beberapa waktu yang lalu, sebuah produk herbal baru masuk dalam online store kami. Produknya berupa madu dan diberi "gelar" Obat Kuat di depan nama produknya. Nama lengkapnya Obat Kuat Madu TE. Buat kami para cewek-cewek, produk tersebut tidak terlalu istimewa, sampai akhirnya kami harus melayani para laki-laki yang berminat dengan produk tersebut.

"Korban" pertama adalah teman saya, sebut saja Mawar (hahahaha). Dia ditugaskan sebagai admin web yang melayani konsumen melalui fitur live chat. Itu loh.. dimana calon konsumen bisa chatting sama doi buat nanya-nanya. Nah, sang konsumen ini curhat, "Madunya bisa untuk mengatasi ejakulasi dini gak? Soalnya saya suka ejakulasi dini kalau berhubungan sama istri." Eeeww..

dan dengan polosnya si mawar yang masih single ini pun bertanya pada saya, "Ejakulasi dini itu apa, Mbak?" Eerrrr....

Lain lagi yang dialami teman saya yang satunya lagi, sebut saja Melati (hihihi) yang ditugaskan melayani konsumen via telepon. Ada seorang peminat produk tersebut yang menelepon no HP kami, dan Melati pun keluar ruangan untuk mencari sinyal (yeah, ceritanya di sini susah sinyal cyin). Beberapa menit kemudian, pembicaraan via telepon berakhir dan Melati masuk ruangan dengan muka ditekuk.

"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Konsumennya nyebelin!" katanya. "Pertanyaannya gak penting!"
"Emang dia nanya apa?
"Dia nanya, 'Apakah sudah menikah'?"

Gubraaaaak..
Deuh yang belum nikah, sensi amat ditanyain gitu. Heuheu. Menurut saya sih pertanyaan itu masih wajar ya. Saya mengerti calon konsumen ini bukan bermaksud kepo dengan hal-hal pribadi seperti status pernikahan teman saya. Dan pertanyaan selanjutnya dari konsumen pun sudah bisa  saya tebak, "Udah coba belum, Mbak? Gimana rasanya?"
Tuh kaaan.. Xixixi..

Kalau pengalaman saya lain lagi. Saya ditugaskan melayani konsumen via sms. Dan suatu malam, saya mendapat sms berikut, "Memperbesar, tambah panjang, dan tahan lama gimana cara ordernya?"
Zzzzzzz...

Saya tidak mau langsung berasumsi bahwa yang ia maksud adalah madu yang kami jual. Karena nomor kontak yang saya pegang ini kadang suka menerima sms salah sasaran, dari para peminat produk di marketplace (bukan online store) kami.

Saya pun balas, "Mohon maaf ini dengan Bapak/Ibu siapa? Apakah yang Bapak/Ibu maksud adalah Madu TE?"

Dia balas, "Saya.. *nama disensor*. Iya mungkin.. saya tidak tahu nama produknya. Kalau untuk memperbesar dan tambah panjang nama produknya apa?'

Yak, saya tidak berhasil closing. Bukan kenapa-napa, madu tersebut khasiatnya adalah untuk menambah stamina. Bisa kalau buat yang ingin tahan lama. Tapi memperbesar dan memperpanjang? Kata teman saya ke Mak Erot aja ceunah :))

Penasaran apa sih produk madu tersebut?

Please welcome..
Obat Kuat Madu Tribulus Extreme


Pemesanan : http://yuk.bi/t13f5d
081214904992


Sumber gambar : Nyolong dari timeline FB Pak Jaya Setiabudi :D
















Minggu, 01 Desember 2013

Jasa Animasi Murah

Sudah beberapa minggu menjalani mahligai rumah tangga #eeaaa, saya belum juga memperkenalkan pasangan saya di blog. Heuheu. Maafkan yaaa... ^^
Karena itulah, kali ini postingannya spesial adalah tentang dia :)

Namanya +Yoga Nugraha. Lahir di Kuningan, Desember 1987.
Sulung dari 3 bersaudara.
Koleris-Melankolis.
Romantis abis #eeaaa :))


Entah ruangan kantor siapa yang dia pinjam untuk pemotretan ini :))

Saat ini ia bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai Scriptwriter.
Hmm.. sebenarnya scriptwriter istilah umum ya, posisi tepatnya adalah ID alias Instructional Designer.
Wew, makhluk apakah ID itu?

What is an instructional designer? In summary, an instructional designer is someone who creates and delivers educational training materials (e.g., eLearning courses, videos, manuals, handouts, etc.) for businesses, higher educational institutions, and other organizations. 
-Instructional Design Central-
Secara garis besar, dia mengolah materi training perusahaan menjadi sebuah script/storyboard/naskah, dimana nantinya script ini akan dibuat menjadi modul e-learning berbentuk video animasi interaktif. Modul ini nantinya menjadi media pembelajaran untuk para karyawan di perusahaan tersebut. Perusahaan yang ia handle besar-besar loh. Antara lain BRI, BRI Syariah, PT. POS, PT. KAI, Kementerian ESDM...
'Ngeri-ngeri' ya... :))

Profesi ini masih jarang dan sejauh ini saya belum pernah mendengar dia menemukan teman seprofesi :))

Dia cukup senang dengan pekerjaannya karena sesuai dengan passion menulisnya. Meskipun saya sih berharap dia mendapat tempat kerja yang bisa ngasih kompensasi lebih ya. Maklum, kan sekarang sudah ada saya yang perlu dinafkahi #ehem :p

Sebenarnya sih dia pengen bisnis (Alhamdulillaaah..), cuma belum tahu aja apa and how-to nya.

Suatu ketika dia melihat teman-teman animatornya punya pekerjaan sampingan dengan menerima orderan untuk individu. Ia lalu terpikir untuk menjual jasa teman-temannya. Bisa dibilang, jadi marketingnya lah.

Ia lalu membuat iklan di salah satu marketplace online. Tapi belum ada respon.
Akhirnya saya ajarkan saja "Jurus Nguping Calon Customer di Twitter" yang ilmunya saya dapat dari master Jupe Yubi +Fikry Fatullah. Alhamdulillah dari hasil nguping orang-orang yang butuh jasa animasi, dia berhasil 'pecah telor' dan mendapat beberapa klien. #sujudsyukur

Berhubung masih baru, dia pasang harga muraaaaaaaah banget. Saya sampai geleng-geleng kepala. Tapi ya mungkin karena masih merintis, yang penting cashflow dulu.

Buat temen-temen yang butuh bantuan untuk bikin animasi, boleh kontak dia via twitter @Jasa_Animasi.

Kalau melihat kondisi pasar, industri ini potensial sekali. Apalagi masih minim pesaing. Di masa depan, akan semakin banyak orang/organisasi/institusi yang membutuhkan animasi sebagai media pembelajaran jarak jauh (e-learning). Ini membuat dia sekarang jadi ikut memperdalam cara bikin animasi juga. Jadi tak hanya menguasai konsep, tapi juga bisa mengeksekusinya sendiri.

Anyway,
Kalau saya perhatikan, dunia animasi itu menarik juga. Saya bahkan mengakui bahwa genre film favorit saya nomor satu adalah animasi. Saya gak pernah ketinggalan nonton Ice Age, Madagascar, Monster Inc, film-film kartun Disney, bahkan Barbie. Ahahahahaha..

Saya jadi pengen belajar animasi. Apalagi teman-teman dia juga belajar animasinya otodidak loh! Ga usah yang sulit dulu. Bikin yang paling simpel seperti video ini bisa cepet kali ya belajarnya.. :D

Our favorit romantic song. 
Animation by Aisyah Darojati.



 Sekali lagi, buat yang butuh bantuan untuk pembuatan animasi, feel free to contact him yeaaa..


Good luck! :*
















Sabtu, 28 September 2013

Lokasi Pernikahan : Villa Cipedes, Leles, Garut

KTP saya beralamat di Batam, mengikuti tempat tinggal orangtua saya.
KTP calon suami beralamat di Sumedang, mengikuti tempat tinggal orangtuanya.
Pertanyaannya, kenapa nikahnya di Garut? Heuheu..

Pertama, biaya tiket pesawat ke Batam (untukku dan keluarga calon suami) gak murah. Lagipula, sebenarnya keluarga besar dari pihak mama dan papa saya adanya ya di pulau Jawa ini. Keluarga mama di Jawa Barat, keluarga papa di Jawa Timur.

Kedua, biaya sewa gedung di Bandung mahal.

Ketiga, kalau keluarga besar datang dari berbagai penjuru, mereka akan 'ditampung' dimana? Orangtua saya tidak memiliki rumah di Bandung (apalagi saya :p). Kami kaum nomaden dan nebeng-ers *halah

Dengan berbagai persoalan di atas, kakak sulung mama (saya memanggilnya Uwak) lalu mengusulkan agar pernikahan saya di villanya saja di Leles, Garut. Alasannya, agar keluarga besar dapat menginap di sana sebelum hari-H. Usulan Uwak menjadi sangat masuk akal dan solutif.
Ditambah lagi bahwa villanya itu memang sudah 'berpengalaman' jadi tempat resepsi. Bahkan Uwak menawarkan untuk memasak makanannya, sehingga tidak perlu membayar katering dari luar. Uwow. Alhamdulillah ya.. We love you, Uwak :*

Berikut penampakkan villanya:

Halaman Luas


Villa Utama

Bungalow
Ada tempat pemancingannya

Alamat Villa Cipedes ini adalah di Jalan Raya Candi Cangkuang.
Kalau dari arah Bandung, lewat Cileunyi -> Jl. Raya Bandung-Garut bypass Cicalengka -> Jalan Raya Nagreg -> Alun-alun Leles belok kiri -> Ikuti jalan ke arah Candi Cangkuang. Sampai deh!

Oiya, Villa dan 4 Bungalow di sana disewakan untuk umum loh..
Kalau weekend sudah penuh di-booking sampai akhir tahun 2013 ini.
Jadi kalau mau, weekdays aja ya.. *loh :p

Tempatnya asri, pemandangannya gunung dan persawahan. Nyamaaan banget untuk refreshing.
Udaranya segar dan dijamin ga mau pulang kalau udah nyobain ke sini! Haha..

Kebanyakan sih disewa untuk acara kantor atau acara keluarga.
Kalau tertarik, boleh email saya di sintamilia@gmail.com *bantu jualin hihi


Sekian dulu update-annya..

Seeya at D-Day! ;)


Sumber gambar : Nyolong dari FB papa dan sepupu :p





Jumat, 16 November 2012

Alih Profesi

Quick update aja. Saya sudah berhenti kerja kantoran dan sekarang lagi belajar jualan di Gasibu tiap Minggu pagi. Huehehehehe..
Idenya adalah dari teman saya, Dihyah. Dia yang nyiapin barang, beli peralatan, sekaligus yang koar-koar dan melayani pembeli.
Dibantu oleh Galih sebagai investor (?) dan supir pengangkut barang. Huahahahaha.. Peace, ah, Galih ^_^v
Galih juga bantuin unpack-packing barang :)

Saya? Oh saya bagian mempermanis lapak aja. Kan gersang tuh kalau cowo semua. Huahahahaha...

Kami jualan kaos muslimah, gamis, kemeja cowok untuk dewasa dan anak-anak. Semuanya murah meriah paling mahal cuma 50 ribu perak!
Mampir ya ke lapak kita, di depan gedung dwi warna, antara Museum Geologi & Pusdai.

See ya!

Minggu, 25 Maret 2012

Galeri Foto: Pagelaran Seni Budaya ITB


Pijar: Komunitas Menempa Bandung


Seni Ukir Gelas


Para cowok menari di depan stand Sumatera Barat


Tari Piring


Di depan stand Nyala


The Brooches!


Rameee...


Kumis Pak Raden :p

See ya in the next bazaar!

Senin, 20 Februari 2012

Dari Home Business: Kecab Ijo

Home Business (Hombis) merupakan suatu kegiatan praktek di Young Entrepreneur Academy (YEA) dimana siswa belajar menentukan dan membuat produk, mengemas, memasarkan, hingga membuat laporan keuangan.

Kecab Ijo (Kentang Cabe Ijo) adalah salah satu dari tiga produk Home Business YEA Batch 13 selain Pendekar Makaroni (Juara 1) dan Kacang Telur Pedas Arachis (‘Juara’ 2). Ya, Kecab Ijo memang menempati ‘juara’ ketiga.

Kecab Ijo yang sempat dinamai Kentang Galau ini adalah makanan pendamping nasi yang konon kalau di Bandung lebih populer dengan sebutan kentang mustofa. Kentangnya berbentuk stik tipis yang dibumbui. Kecab Ijo versi awal cukup enak apalagi kalau ditambah teri dan kacang tanah *berkhayal*. Huehehehehe…

Di tiga hari pertama Hombis, Kecab Ijo mendapat masalah pelik yang seolah tak ada solusinya: dalam kemasan, kentangnya melempem dalam waktu tak lebih dari 24 jam! Bagian marketing jadi sulit menjualnya dan justru menderita kerugian. Karena tak menemukan solusi, mereka sempat ingin berganti produk. Sayangnya, YEA tidak mengizinkan. Peraturan tetap peraturan, dilarang mengganti produk di tengah Hombis.

Satu minggu berjalan, YEA mengadakan review. Tiga kelompok mempresentasikan progresnya masing-masing. Mulai dari pencapaian target produksi & penjualan, hingga kendala-kendala apa saja yang dihadapi.

Kecab Ijo yang saat itu tampak madesu (:p), mendapat masukan dari kelompok lain. Saya lupa detilnya (dan gak ngerti juga sih). Intinya, ada yang memberi saran bagaimana mencegah kentang melempem meski dimasukkan dalam kemasan plastik. Tim Kecab Ijo menampung semua saran dan berjanji akan mencobanya.

Beberapa waktu kemudian…

Jreng jreng..!



Wujud Kecab Ijo berubah. Secara tampilan, jadi lebih ‘ciut’ tapi jauh lebih kering. Gak terlihat berminyak seperti sebelumnya. Teksturnya lebih renyah. Rasanya enak dan gurih. Bagi saya, dibanding dua produk lain, Kecab Ijo adalah sang juara dari segi rasa.

Penjualan Kecab Ijo pun meningkat. Bahkan di sebuah seminar dimana tiga produk Hombis YEA 13 membuka stand, penjualan Kecab Ijo lebih banyak dibanding Arachis! Waow.

Satu minggu setelah review YEA itu, Hombis berakhir. Meskipun penjualan membaik, dibanding produk lain omset Kecab Ijo tetap berada di peringkat paling bawah, yang menurut saya lebih dikarenakan permasalahan internal (SDM). Produknya sendiri sudah cukup baik.

Setelah Hombis, tak ada kewajiban untuk melanjutkan produksi. Namun, Kecab Ijo ternyata masih banyak yang mencari. Akhirnya Kecab Ijo melanjutkan produksi berdasarkan pesanan. Itu pun dengan syarat “tukang masak”nya (sebut saja namanya Dina) lagi mood dan ada waktu luang.

Pernah Dina membawa 6 bungkus Kecab Ijo yang udah dipesan. Ternyata itu kurang. Pesanan yang sebenarnya lebih banyak dari jumlah bungkus yang dia bawa. Belum lagi yang tidak memesan, ikutan mupeng melihat Kecab Ijo ‘berseliweran’ *halah, yang sayang sekali tidak bisa ia beli saat itu juga. Hihihi..

Inilah kenapa saya pernah nge-tweet, “Sumpaya ni makanan enak banget dan langka.” Yang udah mesen aja waiting list, apalagi yang belum mesen? J

Saya sangat berharap Kecab Ijo tetap eksis untuk seterusnya. Amiin.

Nah.. berhubung saya lagi ngidam Kecab Ijo dan akan gak efisien kalau Dina bikin 1-2 bungkus buat saya doang, gimana kalau teman-teman ikutan pesan dan nyicip? Dijamin enak! Kalo ga enak kasih saya aja biar saya yang abisin. Heuheu.

Go Kecab Ijo gooo…!

*Arachis murtad*

Kamis, 09 Februari 2012

Home Business (2)

Production

Minggu pertama semua anggota sibuk produksi. Mulai dari mengupas bawang putih, ngulek, menimbang bahan, mencampur adonan, sampai menggoreng. Gak pernah sekalipun bisa mencapai target per hari 80 tabung.


Ruang Produksi Arachis

Minggu kedua, kami merekrut tim produksi dua orang. Dengan bantuan orang yang lebih expert dan penggunaan blender untuk menggantikan ulekan (heuheu), kapasitas produksi bisa mencapai 200 bungkus per hari (!)

Packaging

Seperti yang sudah diceritakan di postingan sebelumnya, awalnya kemasan Arachis adalah tabung. Lalu kemudian diganti jadi plastik sablon supaya harganya bisa lebih murah. Menyablon plastik ternyata membutuhkan waktu beberapa hari. Jadi dalam masa peralihan *tsah, Arachis pake plastik + stiker.

Kami salah memilih orang untuk menyablon. Hasil sablonan gak sesuai harapan dan kami pun komplain. Jadi pelajaran aja sih..


Bagian packaging

Marketing

Sayang sekali penjualan kami tidak memenuhi target. Tapi setelah dievaluasi, banyak banget pelajaran yang didapat dari pengalaman ini. Antara lain:

1. Untuk produk baru, ga bisa seenaknya menentukan harga. Saat pricing, harus memperhatikan juga harga kompetitor dan “harga psikologis” konsumen (harga yang layak menurut konsumen).

2. Selera orang beda-beda *yaealaaaah

3. Dua minggu ini (ternyata) masih dalam masa riset, trial & error. Produk belum fix untuk disebarluaskan ke pasar.

4. Cara paling efektif untuk memasarkan produk seperti ini adalah melalui reseller dan membuka stand di event-event.

5. Cara paling tidak efektif (selama Home Business) adalah menitipkannya di warung karena cashflownya sangat amat lambat. Mencari warung yang tepat juga gak mudah.


Bagian Marketing lagi bantuin ngulek merica :))

Finance

Pencatatan keuangan gak terlalu bermasalah sepertinya. Maklum, dipegang oleh orang yang ahli: si cici. Hihihi..


Pemasukan, pengeluaran, belanja, HPP, utang, piutang, dll.

Berdasarkan laporan keuangan yang ia buat, net profit Arachis selama Home Business adalah... 13ribuan! Haaaa? Kok bisa? Hahahahaa... saya juga tidak mengerti pokoknya seperti itu lah. Total omset 2jutaan. Gak menang, pastinya. Dan kami jadi kelompok paling "bangkrut'! :))

Well, sejujurnya aku tidak puas. Terutama pada kinerja diri saya sendiri sebagai ketua. Tapi saya pastikan saya (dan teman-teman) mendapatkan "pelajaran". Oh iya dong, udah keluar duit buanyak banget, rugi dong kalau gak dapet ilmu dan pengalamannya. Betul tidak? :p *menghibur diri*

Akhir kata, saya ingin mengucapkan terimakasih banyak pada rekan-rekan satu tim saya. Kalian semua keren banget. We had a good teamwork and I love you all *eaaaaa. Mohon maaf atas segala kekurangan. I'm sorry and thank you so much ;')


Pada penasaran ga sih sama muka-muka mereka? Hehehehe..

Here we are..

Dari bawah ke atas:
Tallia (Finance), Sinta (Director), Ripin (Packaging), Febri (Production), Chandra (Marketing)


NB:
Yang penasaran pengen nyicipin Arachis, bisa pesan via @Arachiss :)

Senin, 14 November 2011

Selling Competition YEA 13

Nama saya Sintamilia *halah!*. Saat ini saya sedang kuliah di Young Entrepreneur Academy (YEA) Bandung angkatan 13. Karena saya udah lulus S1, teman-teman mengira kuliah lanjutan saya ini setara S2. Salah besar! Saya tidak tertarik S2 dan sejak lama ingin kuliah yang memberikan ilmu praktis, ga cuma teori kayak di kampus yang sebelumnya.

Dulu yang sempat kepikiran adalah kuliah film di luar. Tapi prioritas hidup saya berubah. Saya jadi ingin pengusaha. Karena itulah saya memilih kuliah di sini, yang menjanjikan akan banyak praktek entrepreneurship.

Materi yang kami pelajari di awal adalah tentang selling alias penjualan. Mulai dari teknik komunikasi, kalibrasi, dan persuasi. Materi tentang selling skill bisa dipelajari di YEA Virtual Modul 1.  Sementara materi Communication Skill dan Negotiation Skill di YEA Virtual Modul 2.

Dan inilah praktek pertama kami, tepat sebulan sejak hari pertama kuliah. Yaitu: Selling Competition!

Satu angkatan (kelas) yang berjumlah 16 orang dibagi jadi 3 kelompok. Masing-masing kelompok diberi modal 30kg cokelat (!) untuk dijual selama 5 hari. Untuk menjadi pemenang, barang harus habis terjual dan meraih omset terbesar. Hadiahnya: Omset tim yang kalah semuanya dikasih ke tim yang menang. Sesuatu banget kan? Hohohoho..

Coklat yang siap dijual

Tim pertama (yang menang) meraih pendapatan omset terbesar Rp. 8,762,000. Wow! Fantastis! Kelompok ini punya satu orang marketer hebat yang terancam ga makan sampe akhir bulan kalau ga menang. Hehehe. Gak heran dia “ngotot” harus menang. Semua orang yang dikenal di teleponin. Berani malu banget deh! Salut! Mereka memang pantas jadi pemenang.
Tim ketiga mendapatkan omset paling kecil, Rp. 3,266,000. Tapi saya paling iri dengan pengalaman yang mereka dapatkan. Kalau kelompok pertama banyak melakukan telemarketing, kelompok ketiga ini banyak turun ke jalan, menemui orang baru, mencari customer tak dikenal, sampai buka lapak ala kaki lima :D Challenging banget lah! KEREN!

Bagaimana dengan kelompok saya? Jangan tanya! Ancur paraaaaaahh!. Hwkwkwkwk. Yang jelas saya cukup puas mendapatkan omset Rp. 944,000 sendiri. Bagi saya itu prestasi banget.
Berhubung semua omset yang kami dapat diserahkan pada yang menang, bisa dibilang saya bangkrut (modal bikin packaging, komunikasi, & transportasi gak balik). Gak papa, bangkrut adalah sebuah pembelajaran. Bangkrut segitu mungkin ga seberapa dibanding “dunia nyata” nantinya. Jadi yah.. mari belajar ikhlas dan lapang dada J

Untuk merayakan keberhasilan kami semua yang meraih total omset Rp. 16,896,000, kelompok yang menang memutuskan untuk mentraktir teman-teman sekelas di Hanamasa. Horeeeee...!!! \^_^/
I love YEA 13 :*


Selasa, 15 Maret 2011

Jual Kaos & Jaket

Bantuin adikku jualan kaos dan jaket niy..
Buat Indonesian Youth Forum katanya.
silahkan dilihat :)

Bahan kaos:combad 30's
Sablon Wayang: pigmen
Sablon huruf: GL/Rubber

Bahan sweater:Flish
Sablon: Superwhite(SW)


CP: Isnia 022 722 14747