Tampilkan postingan dengan label Kuliah Asyik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah Asyik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Agustus 2017

Inspiratif! Buku 30 Paspor Di Kelas Sang Profesor

Telat banget dah saya baca buku ini. Cetakan ke-4 tahun 2015, saya bacanya Agustus 2017. Mungkin mahasiswa yang ceritanya ada di buku ini udah pada lulus semua. Heuheu

Sumber gambar: Bentang Pustaka

Sungguh beruntung mereka yang diajar oleh Prof. Rhenald Kasali, Ph.D. Beliau sangat paham bahwa metode belajar terbaik adalah dengan ‘terjun’ ke lapangan. 

Kalian harus nyasar biar belajar. Begitu salah satu nasehatnya. Maka di mata kuliah Pemasaran Internasional yang ia pegang, seluruh mahasiswa diberi tugas untuk pergi ke luar negeri sendirian. Negara yang dikunjungi tidak boleh berbahasa melayu seperti Malaysia, Singapura, Timor Leste dan Brunei Darussalam. Beneran disuruh nyasar ini mah. Hihihi..

---
“Ma, gimana kalau Abang atau Adek ditugasi dosennya untuk keluar negeri sendirian?” tanya saya pada Mama, meminta ia membayangkan kalau 2 adik termuda saya yang kini berstatus mahasiswa, harus melancong jauh.

“Wuaaaa.. nangis Mama,” jawabnya spontan :D

Xixixi, padahal adik-adik saya itu laki-laki loh. Coba bayangkan kalau anaknya perempuan, satu-satunya pula. Pasti lebih berat lagi.

Izin orangtua bisa jadi kendala bagi mahasiswa. Kendala lain misalnya saat pengurusan visa, mencari tiket dan penginapan, mengumpulkan biaya, dan tentu saja bahasa.

Membaca buku ini seperti membaca buku petualangan. Ditulis dengan sudut pandang orang pertama, saya jadi terbawa deg-degan, takut, penasaran, hingga haru.

Dari 30 pengalaman mahasiswa di buku ini, favorit saya adalah cerita Destiara Putri yang pergi ke Filipina. Gaya penulisannya runtut dan sinematis, sepertinya dia punya jam terbang yang tinggi dalam menulis *sotoy*. Hal spesial lainnya adalah di saat mahasiswa kebanyakan menginap di hotel, dia memilih nginap di rumah penduduk karena gratis. Ya, dia termasuk mahasiswa yang sebenarnya have no budget for travelling. Tapi dengan izin Allah serta dukungan keluarga, toh dia tetap bisa pergi juga bahkan mendapatkan keluarga baru di Filipina. 

Hal menarik lainnya adalah pengalaman Ananda Rafi yang pergi ke Dubai. Di pesawat dia duduk di dekat sepasang suami istri Arab, yang mana suaminya itu keberatan dengan adanya laki-laki asing yang duduk di dekat istrinya. Protektif sekali yak. Belakangan saya tahu bahwa kebanyakan orang Arab seperti itu. Wanita Arab juga tak nyaman duduk sebelahan dengan pria non muhrim di pesawat.

Pengalaman Aland di India juga menarik meskipun banyak gak enaknya. Tapi saya ga mau spoiler lagi deh, biar yang belum baca bisa cari sendiri bukunya yak.

Salut banget deh sama semuanya. Semoga suatu hari nanti bisa ke luar negeri juga. Tapi ogah kalau sendirian. Udah punya suami ya mesti bareng dong ;)





Selasa, 27 Desember 2011

Cashflow Game

Agenda kelas hari ini adalah bermain Cashflow Game! Keren banget permainannya. Game ini diciptakan oleh Robert T. Kiyosaki berkaitan dengan bukunya yang berjudul The Cashflow Quadrant. Kita belajar mengatur arus kas sebagai seseorang yang bekerja aktif, kemudian sedikit demi sedikit mengumpulkan passive income hingga nilainya lebih dari total biaya (pengeluaran) per bulan dan bergelar bebas finansial, terus “main-main” di investasi sampai kekayaan kita berlipat-lipat dan meraih impian. Cool!

Maaf foto agak blur karena blur adalah fitur *alibi* :p

Sekilas game ini mirip permainan Monopoli. Ada papan bermain, uang-uangan, melempar dadu, menjalankan bidak, pemberian gaji, transaksi dengan bank, kartu-kartu peluang dan pengeluaran (kalau di Monopoli ada Kesempatan dan Dana Umum). Bedanya, di Cashflow Game kita bisa punya anak (semakin banyak anak, pengeluaran bertambah :D), bisa di-PHK, dan kalau cerai uang kita ludes (saya ga ngerti apa hubungannya cerai dengan uang ludes. Udah jatuh tertimpa tangga pula itu mah yak. Ckckck…).
Cara ngumpulin uang? Ada gaji, saham, real estate, dan bisnis. Pinter-pinter lah kita mengalokasikan uang tunai yang kita punya untuk investasi. Siapa yang nanti pada akhirnya berhasil meraih impian atau mencapai pertambahan cashflow 50.000 dolar, maka dialah pemenangnya.

Juara pertama di kelompok saya. Kalau udah jadi milyuner dan bebas finansial, tidur pun uang tetap ngalir. Enak toh? Siapa mau? ;)
Dari lima orang pemain (dalam satu papan), saya meraih juara keempat! *jiaaaaaah. Hahahaha.. Eits, gapapa dong. Yang penting saya berhasil meraih impian saya: Menghadiri Festival Film Cannes! Cihuuuy!

Bidaknya berbentuk tikus. Di sebelahnya itu adalah keju untuk menandai petak impian kita :D. Btw, saya mau ke festival film di luar negeri bukan sebagai aktris yah. Tapi sebagai kru di balik layar. Penting tuh dicatet :p
Kata fasilitator, kami akan memainkan game ini lagi nanti setelah menerima materi Accounting for Business Owner (bisa dipelajari di YEA Virtual Modul 3). Siiip..!

Kalau kamu penasaran dan pengen nyoba game ini, main aja ke YEA, Jl Teuku Angkasa No. 26 Bandung. Ajak teman-teman kamu, sediakan waktu seharian dan uang 50ribu perak per orang *gubraaaks!* :p Eh tapi ini seriuuuus. Kalau tertarik, mention aja saya di twitter yak (@sintamilia), kita kopdar dan main bareng ;)

Seeya!

Senin, 05 Desember 2011

Creative Promotion YEA 13: WE WON!

Creative Promotion adalah proyek kedua setelah Selling Competition. Satu kelas (17 orang) dibagi menjadi empat kelompok. Fasilitator membuka kesempatan untuk siapapun (kecuali yang sudah jadi ketua di Selcom) untuk menjadi pemimpin grup di Crepro ini. Empat orang teman saya mengajukan diri. Mereka berempat lalu hompimpa, dan memilih sendiri siapa saja yang mereka inginkan untuk jadi anggota timnya. Salah satu dari mereka, Ripin, menunjuk saya untuk bergabung. Well, makasih loh atas kepercayaanmu, Pin :)

Kami semua diberikan sebuah kasus nyata, tentang restoran Bali yang selama dua bulan terakhir sepi pengunjung. Kami diminta menganalisis usahanya dan membuat strategi promosi yang kreatif dengan (pura-puranya dikasih) budget 2 juta untuk masa satu bulan promosi. Kelompok yang menang akan dipilih oleh sang Manager resto dan hadiahnya makan bareng Pak Jaya Setiabudi (Owner YEA, penulis The Power Of Kepepet), terserah dimana. Hohohohoho... Boleh nih.

Singkat kata singkat cerita... KELOMPOK KAMI MENANG...! \^_^/


The Winners: (Kiri-Kanan) Sinta, Chandra, Ajus, Ripin

Sebenarnya sih, ide kelompok kami gak terlalu istimewa. Saya pribadi merasa data yang didapat masih sedikit dan kurang mendalam. Tapi kami (terutama saya) menomorsatukan efektifitas. Jadi kami rekomendasikan untuk optimalisasi sosial media dan membuat event untuk mengundang crowd. Eventnya pun lumayan asik (menurut saya): Bali Dance Performances! (gini-gini saya mantan penari Bali loooh ;p). Alhamdulillah sang owner ngasih nilai maksimal (5) masing-masing untuk poin Efektifitas & Kreatifitas ide. Yes!

Pengen cerita di balik layarnya nih.

Segera setelah proyek Creative Promotion diumumkan, saya menerima info kalau Hima Mankom (jurusan saya dulu) ngadain seminar Creative Digital Marketing. Pas banget! Saya pun merelakan kocek demi mencuri ilmu dari sana (dan memang beneran terpakai di crepro!).

Saya juga konsultasi dengan sahabat saya yang lumayan ekspert soal Advertising. Lumayan.. kepake juga idenya.

Tapi salah satu rahasia paling gedenya sih..
saya sudah pernah dikasih tugas kayak gini! Hahahahaha.. mata kuliah Komunikasi Konsultatif. Bikin strategi marketing juga, sampai begadang, sampai menginap di kampus. Lebih dahsyat, lebih susah dan lebih "ancur". Gagal banget waktu itu. Tapi cara dan proses berpikirnya ya sama. Produknya apa, cocoknya buat target pasar yang seperti apa, dan bagaimana mengkomunikasikannya biar sampai ke target yang dimaksud.

Tentunya gak dipungkiri, ilmu dari YEA-nya juga terpakai. Kritis banget fasilitator kami. Harus detail, harus jelas, harus kena sasaran, dsb. Lumayan bikin stres lah.

Senangnya, kelompok saya santai. Terutama karena ketua kelompoknya juga "slow". Di banding kelompok lain, kelompok saya yang durasi ngumpulnya paling sedikit. Hwkwkwkwkw. Bagi saya itu penting banget. Kenapa? Karena kuliah di sini sangat amat padat sampai-sampai susah ada waktu buat diri sendiri *aih*. Jadi kalau gak ngumpul kelompok, kan saya bisa refreshing gitu loh. Hohohohohoho...

Ngomong-ngomong tentang kelompok, saya dapat tim yang oke banget. Ada Ripin, sang ketua yanggood listener dan jago desain. Ada Chandra yang berwawasan luas dan kreatif buanget dapat ide "Yes We Ikan" dan "Ikan Perjuangan" (jangan tanya apa maksudnya. Cuma Allah yang tahu :D). Ada Ajus juga yang karena dari Bali, ngerti banget gimana narik anak muda buat ke Lounge & Bar nya tuh restoran. Kalian semua keren, guys! :bd


Intinya.. hari ini saya senang sekali. Siap-siap mimpi indah ah... Bakal ditraktir makan di mana ya.. hmm... :)

Oya, kalau mau belajar tentang materi promosi, bisa beli YEA Virtual Modul 2 ini ;)

Senin, 14 November 2011

Selling Competition YEA 13

Nama saya Sintamilia *halah!*. Saat ini saya sedang kuliah di Young Entrepreneur Academy (YEA) Bandung angkatan 13. Karena saya udah lulus S1, teman-teman mengira kuliah lanjutan saya ini setara S2. Salah besar! Saya tidak tertarik S2 dan sejak lama ingin kuliah yang memberikan ilmu praktis, ga cuma teori kayak di kampus yang sebelumnya.

Dulu yang sempat kepikiran adalah kuliah film di luar. Tapi prioritas hidup saya berubah. Saya jadi ingin pengusaha. Karena itulah saya memilih kuliah di sini, yang menjanjikan akan banyak praktek entrepreneurship.

Materi yang kami pelajari di awal adalah tentang selling alias penjualan. Mulai dari teknik komunikasi, kalibrasi, dan persuasi. Materi tentang selling skill bisa dipelajari di YEA Virtual Modul 1.  Sementara materi Communication Skill dan Negotiation Skill di YEA Virtual Modul 2.

Dan inilah praktek pertama kami, tepat sebulan sejak hari pertama kuliah. Yaitu: Selling Competition!

Satu angkatan (kelas) yang berjumlah 16 orang dibagi jadi 3 kelompok. Masing-masing kelompok diberi modal 30kg cokelat (!) untuk dijual selama 5 hari. Untuk menjadi pemenang, barang harus habis terjual dan meraih omset terbesar. Hadiahnya: Omset tim yang kalah semuanya dikasih ke tim yang menang. Sesuatu banget kan? Hohohoho..

Coklat yang siap dijual

Tim pertama (yang menang) meraih pendapatan omset terbesar Rp. 8,762,000. Wow! Fantastis! Kelompok ini punya satu orang marketer hebat yang terancam ga makan sampe akhir bulan kalau ga menang. Hehehe. Gak heran dia “ngotot” harus menang. Semua orang yang dikenal di teleponin. Berani malu banget deh! Salut! Mereka memang pantas jadi pemenang.
Tim ketiga mendapatkan omset paling kecil, Rp. 3,266,000. Tapi saya paling iri dengan pengalaman yang mereka dapatkan. Kalau kelompok pertama banyak melakukan telemarketing, kelompok ketiga ini banyak turun ke jalan, menemui orang baru, mencari customer tak dikenal, sampai buka lapak ala kaki lima :D Challenging banget lah! KEREN!

Bagaimana dengan kelompok saya? Jangan tanya! Ancur paraaaaaahh!. Hwkwkwkwk. Yang jelas saya cukup puas mendapatkan omset Rp. 944,000 sendiri. Bagi saya itu prestasi banget.
Berhubung semua omset yang kami dapat diserahkan pada yang menang, bisa dibilang saya bangkrut (modal bikin packaging, komunikasi, & transportasi gak balik). Gak papa, bangkrut adalah sebuah pembelajaran. Bangkrut segitu mungkin ga seberapa dibanding “dunia nyata” nantinya. Jadi yah.. mari belajar ikhlas dan lapang dada J

Untuk merayakan keberhasilan kami semua yang meraih total omset Rp. 16,896,000, kelompok yang menang memutuskan untuk mentraktir teman-teman sekelas di Hanamasa. Horeeeee...!!! \^_^/
I love YEA 13 :*


Rabu, 02 Februari 2011

Hari Ini, Satu Tahun Yang Lalu

I’m dead
But I’m happier than my previous life
No more tears


16 Januari 2010.
9.13pm

Pa..
masih banyak banget printilan2 skripsi yang belum dikerjain..

dua orang responden wawancaranya belum selesai..
transkrip hasil wawancara belum dibikin..
bab 4 & 5 masih revisi..
sistematika penulisan.. ada panduannya tapi saking detilnya sinta pusing sendiri..

konfirmasi hasil wawancara ke responden belum..
Huaaaaa... stres..! :-(

pengeeeen banget bisa ngundurin jadwal sidang.
tapi ga bisa, lah.
the show must go on

sebenernya sih merasa siap buat sidang..
kan di sidang mah yang penting bisa ngomong..

tapi ya itu...
skripsi sinta bakal ga lengkap.. :-(

klo dosennya belum ngijinin lulus gimana?
=((

hiks
hiks
Message sent to Dad

16 Januari 2010.
11.19pm.
Message received from Dad
Yang penting..optimalkan Ikhtiar plus doa..siapa tahu Allah memberi kemudahan dan kelancaran...Amin


17 Januari 2010

Aku pusing.
Terlalu banyak yang harus dikerjakan.
Terlalu banyak kekurangan
Terlalu membingungkan
Aku tidak siap sidang

Aku menangis.

18 Januari 2010
1.56am


jam 01.30 WIB
Dan sinta masih bingung bagaimana merevisi Bab 4 & 5 ini.
Transkrip masih belum selesai. Padahal Sinta udah men-delete beberapa responden biar ga banyak bikin transkrip.
Tetap saja.

Tinta printer habis.
Masih buanyak bgt yang harus di print.
Padahal 6 eks. skripsi harus dikumpulin paling lambat jam 10.00 WIB di Jatinangor.

Sinta dari kemaren2 pengen begadang.
Baru bisa begadang malam ini.
Tetap saja.
Otak Sinta juga susah diajak mikir jam segini.

Sinta belum siap, Pa. :-(
Bukannya Sinta takut sidang.
Semata-mata karena Sinta memang merasa belum mampu mempertanggungjawabkannya.
Belum siap lahir batin.

Ibaratnya mau perang,
Sinta bukannya takut sama musuh,
tapi memang sinta belum selesai berkemas-kemas,
belum menguasai senjata.

Kalau sinta paksa sidang selasa,
takutnya sinta bahkan ga tau argumentasi apa yang bisa Sinta pake,
karena toh Sinta sendiri merasa apa yang sinta tulis di skripsi itu belum memuaskan untuk dianggap benar.

Sinta pengen mundurin tanggal.
kalau boleh (dan kalau jurusan juga mengijinkan)
sinta pengen sidang skripsi tanggal 2 Februari..

Gimana, Pa?
Message sent to Dad

Aslm. Ibu, revisi Bab 4 & 5 sy blm selesai. Msh m’pelajari ttg kategorisasi.
Transkrip wawancara blm slesai semua. Sy mrasa skripsi sy blm siap utk sidang bsk.
Klo sy mundurin tgl sidang bs ga y, bu? Mnurut ibu bgmn?
Message sent to Pembimbing 1 @05.45 WIB


Setelah mengirim sms itu, aku berbaring. Mencoba tidur.
Teh Ana menyuruhku bangun dan melanjutkan skripsiku.
Aku bilang padanya kalau aku tidak mengerti tentang kategorisasi yang harus dibuat untuk perbaikan skripsiku.
Aku telah memutuskan untuk tidak sidang besok.
Tapi ia kemudian membantuku membuat kategorisasi
Ia juga menyuruhku meminta bantuan anak-anak kosan yang hari itu nganggur, buat bantuin aku menyelesaikan pernak-pernik skripsi.
Dan diriku yang lain, tidak rela aku menyerah lalu tidur kembali
Tubuhku ingin bergerak.
Berusaha melakukan apa yang aku bisa.
“Kerjakan saja sekarang, berhasil atau tidak, lihat saja nanti.”
Maka aku pun menulis skripsi lagi.
Dan meminta tolong Putri & Ami membuatkan transkrip wawancara


Aku mengumpulkan skripsi ke jurusan pukul 3 sore.
Terlambat 6 jam dari waktu yang ditentukan.

Pulangnya, aku menemui Nisa & Dg. Masih di kampus.
Dan aku pun menangis di depan mereka.
Sekali lagi menyatakan bahwa aku tidak siap sidang.
Skripsiku belum selesai!

***

I’m sorry for rejecting your call, bicky.
I just don’t wanna let you hear me cry.
Message sent to Bicky

Do you have alter ego?
Another different person live in you?
I have one.
And she pushing me in front of lions without any weapon
How come she do that to me?
Message sent to Bicky

I’ve choose to die.
Messages sent to Bicky

***

19 Januari 2010

Pukul 8.30 WIB,
Ketua sidang menanyakan kesiapanku.
Hatiku ragu.
Namun atas nama konformitas dan formalitas, aku menjawab, “Siap”.


Dan terjadilah.
Tak penting aku ceritakan detailnya.

***
I’m dying.
Message sent to bicky
***

Aku habis tercabik-cabik
Sakit.

Aku menangis lagi.

Bukannya aku takut tidak lulus.
Kelulusan hanya soal waktu.
Kalau tidak lulus saat ini, berarti ada saat yang lain.

Aku sedih semata-mata karena aku mengecewakan orang tuaku.
Aku sedih karena aku belum memaksimalkan kemampuanku saat menulis skripsi.
Aku sedih karena menyadari kesalahan dan kemalasanku selama ini.

Ampuni hamba, Ya Allah…
Ampuni hamba..
Astaghfirullah..


Pukul 16.50 WIB
Aku dinyatakan tidak lulus.
Tapi aku tidak menangis lagi.

Allah selalu memberikan yang terbaik.
Aku selalu percaya itu.


Aku pulang bersama Nisa, Indri, Dg, dan Ernest,
yang menemaniku sidang dari pagi.
Bercanda dan tertawa sepanjang perjalanan.
Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur hari itu.


I’m dead.
But I’m happier than before
No more tears
Message sent to all of you




Ceritanya,
Tulisan ini aku publikasikan di facebook tanggal 20 Januari 2010,
hanya 15 orang Very Important Person On My Friendlist yang aku tag & aku perbolehkan membacanya. Semuanya memberikan motivasi dan dukungan.

Hari ini, 1 tahun yang lalu, aku mengulang sidang skripsi, dan dinyatakan LULUS.
Alhamdulillah.. :)


*Tulisan ini mengalami editing ulang tanpa mengubah substansi

Jumat, 28 Mei 2010

Mengejar Impian Itu Seperti Mendaki Gunung

Beberapa hari yang lalu, aku membaca postingan Dina yang menganalogikan mengejar impian itu seperti mau makan KFC, tapi harus menghadapi berbagai macam hambatan. Begini paragraf pertamanya:
impian itu sama dengan kepengen kamu makan ayam KFC untuk dinner, padahal kamu malas luar biasa untuk keluar membelinya, mana hujan, harus naik angkot dan pulangnya jalan kaki, kamu udah membayangkan perjalanan itu adalah ngga enak, ngga nyaman, ngga senang

Pas baca itu, aku ngomong dalam hati, ”Ya elah Din, telpon 14022 aja kali,” Heuheu.


Tapi..
membaca postingan itu mengingatkan aku pada niatku untuk menulis tentang mengejar impian, yang aku analogikan seperti mendaki gunung.


Tanggal 1 Mei lalu, aku bersama empat orang teman kuliah mendaki Gunung Geulis, Jatinangor. Karena aku ga ingat pernah naik gunung sebelumnya (seringnya naik turun bukit), anggap saja itu adalah kali pertama aku naik gunung; pertama kali masuk hutan MALAM HARI, salah kostum, pake sendal, dan ga bawa senter. Hohoho..

Sang penunjuk jalan sama amatirnya sama yang lain. Jadilah kami nyasar. Mencari jalan ke sana kemari, menemukan jalan buntu tertutup tanaman tak tertembus, balik lagi, nyari jalan lagi, begitu seterusnya sampai akhirnya menemukan jalan yang benar.

Kalau ga nyasar, perjalanan menuju puncak memakan waktu 3 jam. Nah, karena nyasar, kami yang mulai berangkat dari kaki gunung jam 9 malem, nyampe nya jam 3 pagi! Wooohooo... *kaki lemes*


Dengan perjalanan yang lumayan berat, aku ga rela dong, itu jadi sia-sia. Harus ada yang harus aku dapat, minimal hikmahnya. Hehe. Makanya, aku menganalogikan mengejar mimpi tuh seperti naik gunung.
Penuh perjuangan, Cin!

Nih ya, alasan kenapa mengejar mimpi itu kayak naik gunung:

1. Perlu persiapan
Pertama, harus tahu mau menuju kemana, harus ngerti peta, tahu rute, harus bawa perlengkapan memadai.
Waktu naik gunung, kami hanya membawa 1 senter dan 1 emergency lamp untuk berlima! Karena perjalanan lebih lama dari yang direncanakan, di tengah jalan dua-duanya mati dong! Jadilah kita mengandalkan cahaya bulan. Yuwk.
Harus siap fisik dan mental juga pastinya.

2. Selalu ada hambatan
Penerangan kurang, gelap, ga ada penunjuk jalan (ya iyyaalah!), jurang, nyasar mulu, ditempelin ulet (hiiiiy..), bawaan berat, adalah beberapa hambatan yang menyapa (deuh, menyapa!)
Tapi semua halang rintang jangan sampai menghentikan langkah dong. Apapun hambatannya, maju terus…!

3. Tetap semangat, pantang menyerah.
Ada saat-saat dimana kita begitu lelah sehingga ingin berhenti, atau lebih parah, pengen balik lagi alias pulang.
Bahkan setelah kita berada di jalur yang benar, nyali jadi ciut karena perjalanan tampak masih jauh dan sulit, padahal kaki rasanya udah mau patah.
Tapi kalau begitu, sia-sia dong?
Pokoknya, ga boleh nyerah!

4. Nikmati proses, bukan hasil
Di kosan, seorang teman yang aku ceritakan tentang pengalamanku naik gunung, bertanya,
Dia : ”Terus di puncak, ngapain teh?”
Aku : ”.... tidur,”
Dia : ”Hah? Bo’ong! Masa tidur?”
Aku : ” Ya abis ngapain lagi? Capek, pegel, ngantuk, ya tidur lah!”

Jujur saja, keadaan di puncak di bawah ekspektasiku. Aku kira, akan ada padang rumput, dimana kita bisa melihat pemandangan seluas mata memandang.
Ternyata sodara-sodara, ilalangnya tinggi-tinggi banget!
Jadi pemandangannya cuma kelihatan sepotong.
Masih lebih bagus pemandangan citylight yang kami lihat di tengah perjalanan menanjak.
(ya, sebelumnya saat mendaki, kami sempat istirahat agak lama di tengah jalan curam, sambil menikmati citylight Jatinangor yang sangat indah)

Jadi, nikmatilah perjalanan dan pemandangan sekeliling dalam menggapai mimpimu, kawan.
Jangan sampai cuma dapet capek doang..

Selamat mengejar mimpi! :)

Selasa, 24 November 2009

Kembali Posting ;p

I'm back.
Miss me?

Hohoho..
begitulah kata Mbak Okke kalau udah menulis Hiatus.

Sebenarnya tidak ingin posting, hanya saja, sayang sekali kalau aku mematahkan komitmenku sendiri untuk posting setiap hari.
Dengan 'proyek' Posting Setiap Hari ini, tentunya aku berharap bisa belajar menulis secara konsisten, apapun isi tulisan itu.

By the way..
buat teman-teman yang nge-blog di Blogspot, mungkin ada yang tahu dengan Blogs of Note?
Itu loh.. jadi pihak Blogspot secara berkala suka merekomendasikan blog-blog keren yang "Patut Dilihat", begitu istilahnya.
Dan aku suka banget melihat blog-blog hasil rekomendasi Blogspot itu.

Selama ini sih, aku belum pernah melihat blog Indonesia yang masuk list.

Eh, pernah deng.
Bogor Daily Photo. Kalau ga salah loh.

Tapi yang mau aku bahas bukan itu.
Aku menemukan satu blog milik teman sekelasku yang keren: Firly in Curlyland.

Isinya gambar-gambar hasil karya dia,
dan cerita ala dongeng dalam bahasa Inggris.
Dengan isi yang sangat spesifik, fokus, dan totally in English itu,
blognya (menurut aku) layak untuk masuk Blogs of Note.

Tinggal tunggu waktu aja (amiin). Hehe..

Firly adalah anak yang sangat berbakat, jago gambar,
gaya berpakaiannya sangat unik, malah aku pernah dengar ada yang menjulukinya Agnes Monica ketika dulu dia bergaya Harajuku (bener ga, Fir?). Pernah juga pakai baju Tailor ala Sailormoon ke kampus, yang pastinya sangat menarik perhatian orang-orang.
Hoho..

Sampai-sampai aku pernah berkhayal, kalau aku bikin film beneran, dia bakal aku tarik untuk bagian Art & Wardrobe.
Hehe.
Imajinaaasii..

Ini salah satu gambar favoritku.



Cekidot yang lain, Gan... :)
Hanya di Firly in Curlyland..

Senin, 19 Oktober 2009

Mengatasi Rasa Cemas & Depresi - Dale Carnegie



Fiuh..
Jujur, aku mulai stres bikin skripsi.
Ah, sebenarnya bukan masalah dalam pembuatannya.
Tapi karena aku mencemaskan masa depanku.

Tidak seperti empat tahun terakhir, aku sama sekali tidak bisa membayangkan sedang apa dan dimana pada pertengahan tahun depan. Aku takut setelah lulus sulit mendapatkan pekerjaan. Aku takut statusku berubah dari mahasiswa menjadi pengangguran. Pikiran-pikiran seperti itu terus menghantui aku.

Dan apa akibatnya? Aku jadi tidak ingin melanjutkan skripsiku. Aku ingin seperti ini saja. Aku berada di puncak zona nyamanku.

Tapi aku sadar aku tidak bisa selamanya seperti ini. Maka aku pun mencari pencerahan. Pencerahan pertama yang aku dapatkan adalah dari blognya Senny, yang bilang,
Why you should worry about your it? You have your plan and God own the Masterplan. Just take the step!

Sebuah kalimat yang sederhana tapi dalam. Dan benar.

Aku juga membaca sebuah buku berjudul Mengatasi Rasa Cemas dan Depresi dari Dale Carnegie (Gila..! Niat banget aku, yak!). Carnegie adalah salah satu penulis buku motivasi favoritku. Keunggulan dari bukunya adalah bahwa buku-bukunya sangat praktis, hasil dari mewawancarai orang-orang hebat. Kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman nyata orang-orang yang ia ceritakan dalam bukunya.

Isi bukunya sangat padat dan kaya, sampai-sampai aku sulit merangkumnya dalam beberapa lembar kertas saja. Disini dipaparkan bagaimana mengatasi kecemasan tentang masa lalu, tentang masa depan, tentang hal-hal remeh, tentang bisnis dan keuangan, tentang pekerjaan, sampai kecemasan tentang hubungan asmara.

Beberapa tips yang ‘kena banget’ bagi aku antara lain,

- Ikhlas, jika apa yang menimpa kita adalah hal yang tidak terelakkan.
Wah, pantas saja kita perlu menguasai ilmu ikhlas. Karena kalau udah ikhlas, apapun yang menimpa kita, bisa diterima dengan lapang dada.

- Menuliskan apa yang membuat kita cemas, menulis apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut, mengambil keputusan, dan mulai sekarang juga.

- Lihat faktanya, cari tahu seberapa besar kemungkinannya. Seringkali kita mengkhawatirkan hal-hal yang kecil kemungkinannya terjadi.

- Kita harus MEMIKIRKAN masa depan. Tapi kita tidak boleh MENCEMASKANNYA.

- Kalau udah ambil keputusan, segera laksanakan. Jangan terlalu banyak mikir, karena nanti ujung-ujungnya jadi ragu-ragu dan cemas.

- Sibukkan diri dengan kegiatan yang memerlukan pemikiran atau konsentrasi.

- Dan-banyak-lagi.

By the way, sebenarnya, sebelum membaca buku ini, aku udah agak ‘sadar’. Aku sempat
berpikir seperti ini:
Aku ga mau jadi pengangguran..
aku ga mau jadi pengangguran..
aku ga mau jadi pengangguran..
aku ingin seperti sekarang ini saja. Jadi….


Pengangguran!!!


Oh. My. God.
Ternyata, dengan diamnya aku selama ini, aku ga sadar kalau aku sudah jadi pengangguran bahkan sebelum aku lulus!
Dengan alasan stres dan tidak-siap-lulus, aku hanya bermalas-malasan, selalu di kamar, internet-an, menghabiskan hari tanpa kemajuan berarti.

Astaghfirullah..

Aku tidak ingin Allah murka.
Aku harus bertanggungjawab pada orangtuaku atas dana yang mereka keluarkan untuk pendidikanku.
Aku tidak ingin menjadi sampah masyarakat.
Setiap orang punya perannya masing-masing. Dan peranku saat ini adalah sebagai mahasiswa. Maka aku harus belajar. Aku harus menyelesaikan skripsi.


Tentang masa depan?
Aku punya rencana dan Allah yang menentukan.
Ia Maha Pemberi Rezeki bagi hamba-hambaNya yang mau berusaha.

Lalu mengapa aku harus cemas?

:-)

Selasa, 07 Juli 2009

Elaboration Likelihood Model

Dalam rangka menyambut sidang kompre (yang akan dilaksanakan BEBERAPA bulan mendatang, hehe), aku pengen nyicil belajar dari sekarang ni, terutama teori-teori komunikasi yang jumlahnya puluhan itu.
Pernah dengar nasehat “ikatlah ilmu dengan tulisan?”. Karena itulah aku mencoba menuliskannya kembali, menurut pemahamanku, dengan bahasa se-pop mungkin. Biar bisa berbagi juga sama teman-teman.. biar ada yang meluruskan kalau aku salah..
Pengennya sih nanti bisa belajar kelompok. Tapi karena sekarang belum memungkinkan.. kita diskusi disini aja okay..?

Elaboration Likelihood Model
Tokoh: Richard Petty & John Cacioppo


Dalam proses komunikasi persuasi, terdapat dua ‘jalur’ yang dapat menunjukkan dan menjelaskan faktor-faktor yang dapat menentukan berubah atau tidaknya perilaku komunikan.

Pertama, jalur sentral. Jalur ini mementingkan kemauan dan kemampuan seseorang dalam meng-elaborasi PESAN persuasi. Elaborasi itu.. apa ya..? Aku sih memahaminya seperti.. menggali.. memikirkan.. merenung.. menganalisis.. menambah dengan perspektif dan pendapat pribadi..

Jalur yang kedua, adalah jalur cabang (apakah ini terjemahan yang tepat untuk Peripheral?). Jalur ini menjelaskan faktor alternatif selain pesan, yang dapat mempengaruhi perubahan perilaku persuadee, yaitu kredibilitas komunikator, reaksi orang lain, dan penghargaan eksternal.

Contoh paling simpel, kampanye anti rokok.

Kalau komunikan (persuadee) ‘menempuh’ jalur sentral, maka ia akan memikirkan isi pesan itu.. mencari tahu kebenaran data-data tentang bahaya rokok.. dst. Kalau ia setuju dengan pesan tersebut, bisa saja dia berhenti merokok. Tapi jika setelah berpikir mendalam, dia merasa tidak bisa hidup tanpa rokok, maka perilakunya tidak akan berubah. Keputusan yang diambil melalui ‘jalur’ ini, bersifat kuat dan mantap.

Jika persuadee mengabaikan isi pesan, maka ia mungkin mengambil ‘jalur’ peripheral. Ia akan menilai kredibilitas komunikator, pendapat orang lain, dan ‘manfaat’ yang diperoleh dari hal-hal eksternal. Keputusan/ perubahan perilaku yang diambil melalui jalur ini bersifat lemah dan mudah berubah.
Meskipun begitu, jalur peripheral bisa dijadikan alternatif dan batu loncatan sebelum ‘dibelokkan’ ke jalur sentral. Misalnya, awalnya dia tidak tertarik dengan isi pesan, tapi dengan kredibilitas komunikator yang tinggi, serta dorongan teman-teman, membuat dia berpikir ualng dan memperhatikan isi pesan yang disampaikan.. (belok kan tuh..?? hehe)
Seperti itulah yang aku pahami. Ada tambahan, koreksi, pendapat, atau pertanyaan..???

Sabtu, 27 Juni 2009

Judul Skripsi Favorit

Dalam rangka mengerjakan skripsi, aku jadi sering bolak balik ke Pusat Data dan Informasi (Pusdatin), sebuah ruangan yang isinya skripsi semua, karya mahasiswa D3 dan S1 Fikom Unpad. Nah.. pas lagi milih-milih sripsi buat referensi, aku nemu beberapa skripsi yang dilihat dari judulnya, kayaknya oke nih. Ini dia judul-judul skripsi favoritku:

1. Hubungan Antarpribadi dalam Fenomena Ta’aruf sebagai Cara untuk Menentukan Pasangan Hidup pada Kader Partai Keadilan Sejahtera (oleh Asaas Putra)
Ga nyangka ta’aruf bisa dijadikan skripsi.. pengalaman pribadi bukan ya..? hehe

2. Selebriti, Kecantikan, dan Kuasa (oleh Bayu Kurnia Kurnia Prasetia)
Berat coy.. berat topiknya, tebel banget, lagi. Ga berani buka.. (halah bilang aja males! Hehe)

3. Memeluk dan Dipeluk, Studi Mengenai Makna Pelukan Bagi Orang Dengan HIV/AIDS (oleh Eka Arie Rizky)
Bagus nih.. Secara ODHA kan sering dihindari karena takut tertular. Padahal AIDS ga menular lewat pelukan loh.. Dan pelukan sangat berarti bagi mereka.

4. Shalat sebagai Manifestasi Komunikasi Transendental (oleh Moch. Idham Risdiansyah)
Ini juga unik. Bener juga ya.. Sholat kan media komunikasi dengan Allah..

5. Representasi Poligami dalam Film Ayat-Ayat Cinta Menurut Pandangan Kaum Perempuan (oleh Yulianti Fatimah)
Ayat-Ayat Cinta memang fenomenal!

6. Bahasa Gaul di Kalangan Waria Kota Bandung (oleh Wila Rahmawati)
Salut banget nih sama peneliti yang berani mendekati dan berinteraksi lama dengan waria. Kalau aku sih.. bakal sering shock kayaknya..

7. Kontruksi Kekerasan Domestik dalam Lirik Lagu “Diam” Karya Melly Goeslaw (oleh Dyah Apsan)
Ini juga. Kok bisa ya, lirik lagu jadi skripsi..? Keren lah.

8. Studi Fenomenologi Perilaku Seks Bebas Mahasiswa Bandung (oleh Alamsyah)
Nah, kalo yang ini aku sempet baca. Sangat menarik. Ternyata para pelakunya dipengaruhi lingkungan. Yang bikin aku kaget sih.. karena ada diantara mereka yang komunikasi dengan keluarganya baik, hubungan dengan teman-temannya baik, rajin solat, rajin ngaji, rajin belajar (mungkin). Satu-satunya hal yang bikin dia ‘minus’ adalah perilaku yang dilakukan belum pada waktunya. Selebihnya? Dia biasa saja dan anak ‘baik-baik’. Sayang sama pacarnya, setia, serius, bahkan ada yang kedua pihak keluarga saling mengenal. Hhh.. Aku sampai geleng-geleng kepala..

Minggu, 22 Maret 2009

Belajar Tentang Cinta (1)

Aku sama sekali ga pernah nyangka, kalo di kuliahku ada pembahasan tentang CINTA. Bukan cuma sebagai definisi filsafat (Cinta kebijaksanaan). Tapi juga ngebahas cinta dalam arti yang sebenarnya..!

Pertama kali aku nemu materi ini adalah di mata kuliah Dasar-dasar Logika (semester 2). Aku inget banget hari itu. Pak Dosen yang lemah lembut itu nyuruh aku jawab pertanyaan dia,

“Menurut kamu, cinta itu apa, sih…?”

Gubbrraaaakk….!!

Jantungku jungkir balik.

Aku jawab aja ngasal (Ga usah ditulis disini. Aku ngemeng abis soalnya..!)

“Pak, cinta itu tidak bisa didefinisikan. Ia hanya bisa dirasakan…”
Bukan. Bukan itu jawaban aku, pastinya. He..he..

Ok. Lanjut.
Si Bapak ga membenarkan atau menyalahkan jawaban aku
(taruhan, si Bapak juga pasti ga tw jawabannya!)

Kemudian beliau bertanya sama mahasiswa di belakang aku,
“Coba kamu sebutkan ciri-ciri atau wujud cinta itu seperti apa…!”

Giiilaaa..!!

Lalu si Bapak ngasih tw jawabannya. Aku inget tuh! Cinta itu berarti..
-Ingin selalu dekat dengan orang yang dicintai.
-Ingin selalu membahagiakan orang yang dicintai (Misal: Orangtua)
-Bersedia berkorban..
Kayaknya ada satu lagi deh..
Tapi aku lupa ah.
Untungnya tuh soal ga keluar pas UAS..
Hehe

Belajar Tentang Cinta (2)

Aku ketemu lagi materi cinta di mata kuliah Komunikasi Antar Pribadi, semester 5 (Sumpah ni matkul asyik bgt. Kalo dapet A aku ngulang ah! ;p becandaaaaa!)

Aku bahkan inget Babnya: Interpersonal Relationship.
Sub Babnya: Pertemuan pertama, Peningkatan hubungan, Keretakan hubungan, & Maintenance Relationship. Yah.. kira-kira itulah yg keinget.


Temen aku yg presentasi, sebut saja Farel, sempet2 nya ngajak anak2 sekelas ikutan kuis, supaya kita tau jenis apakah Cinta yang kita miliki. Maniac Love? Pragma Love? Eros? Ludus? Storge? Agape? dst.

Sayang, berhubung waktunya terbatas, soal 40 biji itu ga diselesein. Ngegantung gitu! Sial! (Ya iyyaaalaah..! Harusnya presentasi ngasih materi, malah ngasih kuis ala majalah! He..he..)

Intinya.. ya.. entahlah..
menurut aku siy.. lucu aja belajar Cinta di ruang kelas.
Tapi aku emang pernah baca niy.. Cinta itu emang ga boleh sembarangan. Harus tau ilmunya. Biar ga ditipu. Biar ga dizolimi orang dengan alas an Cinta.

Bahkan, ada yang bilang.. mencintai itu ada caranya loh! Bisa dipelajari, & ga semua orang bisa mencintai dengan baik & benar (haalaah..!).

Begitulah..
Dan untungnya.. Soal-soal tentang Cinta juga ga keluar pas UAS ;p

Kebayang betapa gokilnya, kalo pas Ujian soalnya:

1. Sebutkan & jelaskan jenis-jenis Cinta yang kamu ketahui, masing2 beserta contohnya!
2. Jelaskan tahap-tahap mencintai..!
3. Studi kasus: Apabila si A mencintai si B. Namun si B mencintai si C. Si C mencintai si A. Pertanyaannya: Sebutkan jenis Cinta di antara mereka, & tebak mana yang cewe & mana yang cowo!
4. Uraikan secara komprehensif mengenai makalah Anda tentang orang yang Anda cintai. Sebutkan nama & NPM-nya! (kalo dia mahasiswa)

Kacauuu...!