Tampilkan postingan dengan label Di Balik Layar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Di Balik Layar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Agustus 2011

Want A Magic Wand!

Sejak saya menonton Harry Potter 7 Part 2, saya selalu membayangkan tangan saya memegang tongkat sihir dan mengayun-ngayunkannya melawan penyihir jahat.

Saya pengen punya tongkat sihir seperti yang di film Harry Potter.
Serius.

Tidak ada di dunia nyata?
Tak apa. Yang mirip saja sudah cukup.

Saya tahu tongkat sihir yang seperti di film itu bisa dibeli di tempat yang menjual merchandise Harry Potter.
Ya, yang seperti itu.

Saya tahu dengan tongkat itu saya tidak bisa membuat benda terbang meski mengucap mantra "Wingardium Leviosa!"
atau mengambil benda dengan kalimat "Accio!"
atau melucuti senjata lawan dengan "Expelliarmus!"

Tak apa, itu tidak masalah.

Tapi sungguh, saya ingin punya tongkat sihir yang di ujungnya bisa menyala dan berfungsi senter seperti dimantrai "Lumos!". Saya tahu benda itu ada. Saya pernah melihat behind the scene Harry Potter. Kru Art-nya membuat tongkat dengan lampu pada ujungnya, dengan sebuah tombol untuk menyalakannya.

Saya ingin tongkat sihir itu.

dan agar tongkat sihir saya bisa melindungi saya dari orang yang mengganggu saya..
sebenarnya saya ingin tongkat saya bisa mengalirkan listrik ke orang itu dalam jarak paling tidak 10 meter. Saya tidak menguasai elektronika jadi saya tidak tahu itu memungkinkan dibuat atau tidak. Tapi kalau itu tidak memungkinkan... saya ingin tongkat saya bisa mengalirkan listrik seperti raket nyamuk. Siapa yang saya sentuh dengan tongkat, dia akan kesetrum. Tegangan listrik yang rendah, tentu. Jangan sampai orang itu tewas. Yang penting dia shock , melepaskan saya sehingga bisa kabur.

Saya ingin punya tongkat sihir, yang menggunakan baterai, yang bisa menyala dalam gelap, dan bisa menjadi senjata untuk pertahanan diri saya.

I really want...


THIS!



Sumber gambar: karya pribadi. Boleh copas dengan menyertakan sumber.




Senin, 07 Maret 2011

PREMIERE

Sebelum cerita tentang acara premierenya, izinkan aku curcol dulu *boleh, boleh. Di film Flickering Light, aku menjabat sebagai sutradara Behind The Scene. Alias seksi dokumentasi. Sayangnya, BTS yang rencananya akan diputar saat premiere, tidak bisa dilaksanakan.
Kenapa?
Karena belum jadi!
*yaaaaaaahhhhh
**penonton kecewa.

Satu pelajaran yang aku dapat adalah, bahwa aku miss dengan ‘pasca produksi’. Selama ini aku menganggap pekerjaan BTS hanya merekam, memotret, dan menulis. Tapi bagaimana hasil perekaman, pemotretan, dan penulisan itu direkap, diolah, dan dipublikasikan, aku tidak memikirkannya dengan matang.

Aku menemui kendala teknis. Ga punya alat penyimpanan data yang aman dan ga punya komputer yang memadai untuk mengedit video. Aku sama sekali ga terpikir bahwa semuanya itu bisa menggagalkan produksi BTS. Well, my bad. Lain kali sebelum aku mengajukan diri jadi kru BTS, aku akan beli hardisk eksternal minimal 500 GB dan komputer yang layak untuk ngedit. Oh, dan tak kalah penting: waktu yang cukup untuk mengerjakan semuanya (sekarang aku nyaris tidak punya waktu untuk bikin film di luar pekerjaan).

Meskipun hasil karyaku berupa video BTS belum bisa diputar, aku tetap mengundang teman-temanku untuk datang dan menyaksikan FILMKU: Flickering Light (FL). Bagaimanapun, FL itu kan filmku juga dan di luar jobdesk BTS, ada, lah, keterlibatanku di dalamnya meskipun dikit: nyari pemain anak kecil dan minjemin clapperboard meski dipakainya sebentar. Heuheu..

Premiere Flickering Light diadakan hari Sabtu, 5 Maret 2011, di ruang 9009 bioskop kampus ITB. Kesanku tentang acara itu: “Oooo.. jadi gini toh yang namanya premiere..”

Aku sangat amat terharu dengan kehadiran sobat-sobatku. Yang paling berkesan adalah kehadiran Ijal dan Linto. Ijal tinggal di luar kota, dan kadang bolak balik ke Bandung. Sebenarnya minggu ini bukan jadwalnya ke Bandung. Tapi dia ingin memberikan dukungan padaku yang telah menghasilkan karya.

Sementara Linto, kami sangat jarang ketemu. Dan kalaupun ketemu, biasanya cuma pas acara reuni SMA. Tapi dia hadir untuk menjadi saksi kesuksesan aku (itu kata-kataku, bukan kata-katanya. Lebay ya? :p)

Selain mereka, ada Indri yang datang dari Lampung, ada juga sahabat lamaku, Tessa *bakal kujitak kalau dia sampai ga dateng*. Anak-anak kosan yang datang: Nurul, Ami, dan Ata, plus Zen.
Aku baru menyadari bahwa kehadiran mereka sungguh berarti. Aku merasa didukung. Dan dukungan itu rasanya menyenangkan! *terharu lagi*.

Aku teringat, seorang juniorku (sebut saja Gifar) pernah jadi penulis skenario di sebuah film, dimana film itu diputar di Blitz Megaplex. Aku dan teman-teman hadir menontonnya. Meskipun mesti bayar Rp. 25.000,-, tapi senang rasanya bisa menunjukkan dukungan padanya.
Nah, sekarang aku merasakan berada di pihak ‘yang didukung’.
Ternyata rasa senangnya 2x lipat!:D

I have a dream..

Setelah ini.. aku ingin bisa berkarya lagi, bikin cerita yang bagus dan menginspirasi, bikin film yang berkualitas.
Lalu..
Orangtuaku hadir di Premiere, dan seperti di film Sang Pemimpi yang di akhir film menuliskan “Dipersembahkan untuk ayah-ayah kami (Ayah Mira Lesmana, Ayah Riri Riza, dan Ayah Andrea Hirata): Ayah juara satu sedunia”, aku ingin sekali bisa menampilkan di filmku itu:
“Dipersembahkan untuk kedua orangtua saya, Papa dan Mama juara satu sedunia.”
-Sintamilia-


(Berarti pilihannya aku harus jadi: produser/sutradara/penulis cerita yang bukunya bestseller)
*Amiiin*
:D

Selasa, 28 Desember 2010

Syutingnya Kocak, Screeningnya Lebih Kocak

Salah satu hal yang membuatku senang bekerja adalah karena ada kegiatan syutingnya. Aku selalu suka suasana syuting, terutama karena sering ada kejadian lucu dan kocak, yang bikin aku ngakak seperti sedang nonton OVJ. Heuheu.


Seperti syuting yang satu ini misalnya. Salah satu scene-nya menceritakan tentang para pramuniaga yang malah ngerumpi sehingga mengganggu customer.


Dialog dalam naskah sebenarnya hanya sedikit:
A : Dia kenapa?
B : Tau tuh. Patah hati kali. Ditawari makan ga mau *sambil makan Chitato*
A : Hahahaha... *tertawa keras hingga customer terganggu*

Nah, karena aku melarang mereka berhenti berdialog sebelum aku bilang ‘cut!’, jadilah mereka berimprovisasi seperti ini.
A : Dia kenapa?
B : Ga tau tuh. Patah hati kali. Ditawari makan ga mau. Hehehe
A : Hahahaha.. kok bisa?
B : Iya tuh, ditinggal pacarnya..
A : Ooo.. masak sih?
B : iya.. tau gak, PACARNYA DIPELET SAMA JANDA!
A : HWKWKWKWK... (ketawa beneran, lupa kalau lagi akting).

Sayangnya improvisasi keren itu harus diulang karena bukan cuma si A doang yang ketawa tapi semua pemain dan kru. Yuwk.

Syuting selesai..
Editing berlangsung (lumayan) lancar..

Nah pas screening tuh..
Atasanku menemukan 2 kebocoran fatal. Kebocoran kru dan kebocoran properti.




Kameramen tertangkap kamera. Cuma setengah detik, tapi tetap ketahuan :D



Semoga customer ini cukup cantik untuk mengalihkan perhatian penonton dari tripod yang eksis banget nongol di tengah frame


Atasanku sih ngakak aja pas liat video jadinya.
Hwkwkwkwk...

Ya sudahlah ya..
Ayo kita syuting lagi :D


Kamis, 23 Desember 2010

Thanks To 89P

Dua bulan yang lalu, aku bersama seorang sahabat makan siang di sebuah tempat makan penyedia steak, sekedar bertemu dan bertukar kabar. Aku ceritakan padanya bahwa aku telah berhasil membawa pulang ijazah, setelah berbulan-bulan aku ‘titip’ di kampus.

Kenapa aku berlama-lama mengabaikan ijazah? Karena saat itu aku belum mendapat pekerjaan, sehingga ketika orang lain bertanya dimana aku bekerja setelah lulus, aku bisa menjawab, “Masih revisi skripsi.. belum dapet ijazah :)” *sok jadi mahasiswa padahal pengangguran*

Tapi alasan itu sudah tidak bisa digunakan lagi tentu. Sahabatku, yang statusnya tidak jauh beda denganku, berkomentar,
Jadi masih mending aku lah ya.. ada kerjaan..” sahutnya ‘menyombongkan diri’ sebagai pengajar bimbel freelance.
Enggak juga. Aku kan bikin film :p” Aku mengingatkannya tentang keterlibatanku dalam 89 Project (89P).
O iya, ya..”

Pada akhirnya dia setuju kalau kami “beruntung” karena status kami bukan pengangguran 100%
(menghibur diri). Kami punya kegiatan.

Thanks to 89P karena “menyelamatkan” aku dari status pengangguran murni.



Kalau baca cerita di atas, kesannya aku mencatut nama 89P ya? Seolah 89P cuma jadi tamengku dalam
menjawab pertanyaan orang-orang. Seolah aku cuma nebeng nama dan sok eksis sebagai BTS*. Apalagi
wujud konkrit BTS sampai saat ini memang belum jadi, meskipun ga bisa juga dibilang ga ada sama
sekali.

Ketika syuting 89P berakhir, pertanyaan pertamaku adalah: “What’s next?” karena aku belum ingin
berhenti sampai di sini. Memang, kalau orang bertanya apa kegiatanku sekarang, aku bisa
menjawab dengan riang: “Kerja… ^_^”. Tapi ternyata aku kurang puas dengan jawaban itu.

Aku ingin, ketika orang lain bertanya, “Lagi sibuk apa, Sin?”
Maka aku akan menjawab,

“Kerja… ^_^ dan masih bikin film juga sama teman-teman.. :D”





Well, baiklah,
saatnya mengerjakan BTS 89P. Semangat!






*BTS=Behind The Scene=Dokumentasi proses produksi film


Sumber gambar: Gettyimages

Sabtu, 11 Desember 2010

Tiket Masuk Surga* Bisa Diambil Di Sini :)

Hai readers..!
Buat yang belum tahu nih, aku dan teman-teman sedang memproduksi sebuah film berjudul Flickering Light. Ini adalah sebuah proyek film non profit tentang Hemofilia.

Apakah Hemofilia itu? Banyak orang yang belum tahu, bahwa Hemofilia adalah kelainan darah dimana darah sulit membeku. Jadi kalau terluka, pendarahannya sulit berhenti.
Film ini dibuat dengan tujuan agar bisa menjadi media sosialisasi Hemofilia. Begitu.. :)

Nah, masalahnya adalah…
Bikin film itu mahal guys. Perlu dana beberapa juta nih. Dana yang terkumpul sekarang masih sangat minim. Jadi.. kalau ada di antara kalian yang berbaik hati mau membeli tiket ke surga*, silahkan memberikan donasi di sini.

Sekarang film ini sedang dalam masa syuting. Kalau mau tahu info lebih lengkapnya, silahkan langsung ke blog resminya ya.. Follow juga..

Akhir kata, terimakasih atas partisipasinya.. ^_^






*syarat dan ketentuan berlaku :p

Minggu, 19 September 2010

Bikin Sinopsis

Om Produser memintaku untuk membuat sinopsis cerita Flickering Light (FL) buat dipublish di blog 89 Project. Huh, padahal kan sebenarnya itu adalah tugas penulis skenario. Sempat ada miskomunikasi antara produser-scriptwriter-aku yang bikin aku melempari mereka granat (iya, beneran aku ngelempar granat. Via facebook :p).
Tapi yah.. karena aku kasihan sama produserku itu, dan aku juga anak yang baik hati dan penurut, maka aku iyakan sajalah meskipun aku agak-agak ga ngerti gimana bikin sinopsis yang “menjual” seperti yang ia inginkan. Aku pernah bikin sinopsis FL di blog ini, tapi menurutnya itu terlalu to the point. Ia ingin yang seperti sinopsis novel.
Aku pun lalu ngebela-belain ke Gramedia untuk melihat contoh sinopsis di cover belakang novel-novel. Hmm.. menarik juga. Aku mencatat berbagai format penulisan sinopsis. Ada yang diawali kutipan atau dialog isi novel, ada yang mendeskripsikan konflik, mendeskripsikan karakter, uraian penjelasan cerita, ada juga yang mengambil sudut pandang tokoh utama. Semuanya menarik, meskipun ada beberapa format yang menurutku kurang bisa diaplikasikan untuk membuat sinopsis FL.
Begitu sampai rumah, aku mulai bereksperimen membuat sinopsis dengan bermodalkan skenario dan sinopsis versi scriptwriter. Dari rencana bikin 2 buah, ternyata malah jadi 4 buah sinopsis yang akan dipilih salah satu. Lumayan..
Keesokan harinya, papaku (yang malam sebelumnya mengantarku ke Gramedia dan tahu kalau itu dalam rangka bikin sinopsis) memberiku referensi How To Write A Synopsis yang ia dapat dari hasil googling. OMG, papi! Perhatiannya sering bikin aku geleng-geleng kepala :D .Tapi agak telat. Coz aku kan udah menyelesaikan sinopsisnya duluan. Heuheu.
Begitu aku kirim 4 sinopsis itu ke Om produser, ia langsung menyetujui rekomendasiku dan memilih sinopsis D. Seperti apa sinopsisnya? Silahkan cekidot di Synopsis: Flickering Light.
Bikin sinopsis ternyata lumayan fun juga. Dan sekarang aku mulai berencana membuat sinopsis untuk novelku nanti.
Amin :)
Thanks to Om produser, yang udah ngasih kesempatan buat aku untuk menggali potensi diri (Bahasanyaa..! Yuwk)
Thanks to scriptwriter yang udah bikin skenario bagus. Sinopsis yang bagus *muji diri sendiri* kan berawal dari cerita yang bagus. Bukan begitu? ;)

Selasa, 07 September 2010

28 Ramadhan: Foto Yang (Semoga Tidak) Menghebohkan

Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam keduapuluhdelapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.

Sumber dari sini

-----

Akhir-akhir ini fb ku agak sedikit ramai. Ada apa gerangan?
Ternyata teman-teman SMA-ku melihat fotoku yang sedang 'joged' di tempat karaokean.
OMG!

Sebenarnya saat itu aku sedang menyanyikan lagu 'Geregetan'nya Sherina. Entah karena gayaku yang katro atau emang yang motretnya pinter milih timing, aku jadi terlihat lagi dangdutan. Siaul! Aku sampai harus meremove tag untuk mencegah semakin banyaknya teman-teman dalam friendlistku yang melihat foto itu.

...

Aku teringat sebuah peristiwa sekitar 2 tahun yang lalu.
Saat itu aku menjadi objek sebuah foto yang (kayaknya sih) berpotensi menimbulkan kehebohan.
Begini ceritanya...

Hari itu adalah H-1 peresmian Laboratorium Fotografi di kampusku. Aku dan beberapa orang teman membantu dosen menyiapkan ruangan laboratorium dengan memajang foto-foto karya mahasiswa.
Kami juga beberapa kali berfoto ria, mencoba background, kamera, dan lighting. 'Laboratorium' itu benar-benar jadi studio foto dan kami lah yang pertama kali mencobanya. Huahahaha..
*evil laugh*

Di ruangan itu ada sebuah lampu.. apa ya namanya? pokoknya lampu itu berada dalam sejenis kain menerawang yang besar, dan menghasilkan cahaya soft.
Ga tau apa nama lampu itu.
Maap, saya memang ga pinter fotografi :p

Sang dosen menunjukkan salah satu cara mempergunakan lampu itu, yaitu membuat foto siluet.

Kami lalu melakukan 'uji coba'.
Saya berdiri di depan lampu itu bersama seorang cowok (sebut saja A). Berhadapan.
Sebenarnya ga benar-benar berhadapan, karena sebenernya kami berdiri bersisian dengan jarak setengah meter (ah, aku mengulang kata 'sebenarnya').

A berdiri di sebelah kananku, lebih dekat dengan lampu.
Aku berdiri lebih dekat dengan kamera.
Karena Lampu, A, aku, dan Kamera berada dalam 1 garis lurus, jarak setengah meter antara aku dan A tidak terlihat.




Perhatikan contoh foto di samping.
Apakah mereka benar-benar berhadapan?
Belum tentu.
Bisa saja posisi mereka sebenarnya adalah bersebelahan dengan jarak 1 meter.





Beberapa kali memotret untuk mendapatkan hasil yang sempurna, dengan pose yang sudah disepakati, akhirnya didapatkanlah foto 'Sepasang kekasih sedang kissing' yang kira-kira mirip seperti ini:














Great, huh?

Malamnya, hingga keesokan harinya, aku cemas.
Hey, what did the hell I do?
Kenapa aku mau difoto seperti itu?
Gimana kalau orang-orang banyak yang tahu?

Orang-orang yang ga tau behind the scene-nya pasti mengira aku benar-benar kissing sama A. Yah.. emang sih, wajah kami ga terlihat. Namanya aja siluet. Tapi kalau orang melihat foto-foto kami yang lain yang ga siluet, pasti tahu lah.
"Ini Sinta? Gila, sama si A? Paraaaaah!"

Aaaaaarrgghh.
Aku stres.

Tapi sampai saat ini sepertinya tidak terjadi apa-apa.
Semoga saja tidak apa-apa.
Semoga filenya HILANG. Hihi..
Amin.



Sumber gambar:
2 cewek -> blognya Frozzy
couple -> Free Printables

Kamis, 02 September 2010

23 Ramadhan: Dari Hari Hemofilia Se-dunia 2010

Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam keduapuluhtiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.

Sumber dari sini

-----

Kali ini postingannya copas aja. Sebuah video oleh Robby dari blog 89 Project:






Sedikit cuplikan dari hari Hemofilia Se-dunia yang diselenggarakan HMHI (Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia). 17 April 2010 di Lapangan Basket Universitas Indonesia - Salemba Jakarta

Rabu, 25 Agustus 2010

15 Ramadhan: Flickering Light

Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam kelima belas, ia didoakan oleh para malaikat dan para penanggung (pemikul) Arsy dan Kursi.


Sumber dari sini

-----

Ada berita terbaru dari 89 Project: Final Draft Scenario udah jadi! Hore!
Aku udah baca skenarionya dan menurutku...
ceritanya manis :)

(Om Produser, boleh aku ceritain sinopsisnya? Apa? Ga boleh? makasih.. Aku tulis di sini ya :p)

Flickering Light adalah sebuah film pendek bergenre drama romantis yang bercerita tentang sepasang kekasih bernama Tama dan Adhel. Tama adalah seorang penderita hemofilia, sebuah kelainan darah genetik yang tidak dapat disembuhkan.
Selama menjalin hubungan, Tama merahasiakan penyakitnya itu. Namun, setelah pacaran 3 tahun, tiba saatnya untuk jujur.

"Maafkan kali ini aku harus jujur..
Kau harus tahu siapa aku sebenarnya.."
(Aku Harus Jujur- Kerispatih)

Adhel sangat shock mendengar kabar itu. Namun Tama tetap gigih. Ia bahkan memperkenalkan dunia hemofilianya pada Adhel.
Adhel bimbang.

Di tengah kebimbangannya, Adhel mendapat kejutan lagi: Tama datang ke rumahnya, menemui orangtuanya, menyatakan ingin menikahi Adhel, dan dengan jujur menceritakan tentang penyakitnya!

Jreng jreng..!

Apakah yang akan terjadi?
Bagaimana sikap orangtua Adhel?
Bagaimanakah hubungan Tama dan Adhel selanjutnya?

Coming soon.
Don't miss it! =)
Hemophilia.
Haemo means blood.
Philia means love.
How if there's something wrong with your blood, so you can't be with your love?
Ehmm.. yang di atas itu kata-kata iseng aku aja.
Tapi kalimat resmi dari penulis skenarionya adalah yang ini:

Flickering Light
when all hope seems to be shut down
the only one you can depend on,
is just a flickering light

Rabu, 18 Agustus 2010

8 Ramadhan: 89 Project

Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke-8: Allah memberikan kepadanya, apa yang pernah Allah berikan kepada Nabi Ibrahim A.S

Sumber dari sini

------

Hari ini aku bikin postingannya di 89 Project Blog.

Silahkan mampir..

Yang belum follow blognya, harap follow..
Yang belum nge-like facebooknya, harap nge-like...


Hihihi..

Thank you in advance..
=)

Minggu, 15 Agustus 2010

6 Ramadhan: "Act of Dishonour"

Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke-6: Allah akan memberi pahala seperti pahala orang yang tawaf di-baitul makmur, dan batu-batu serta tanah liat memohonkan ampun untuknya.

-----

Hari ini aku menghadiri pemutaran film "Act of Dishonour" di ITB, dimana sang sutradaranya
Nelofer Pazira juga ikut hadir.

Film ini berkisah tentang.. (ehm, biar cepat aku copas aja lah dari Kabarindo :p)
Act of Dishonour (2010) adalah film terbaru karya sutradara Nelofer Pazira. Film ini berkisah
tentang Mena, seorang gadis cantik yang hidup di sebuah desa terpencil Afghanistan Utara. Di desa itu hidup pula tunangannya Rahmat. Penduduk desa mereka yang memegang teguh adat istiadat setempat didatangi serombongan kru film dari Kanada.

Momen ini mengawali persinggungan Mena dan penduduk desanya dengan dunia luar. Perjumpaan ini membawa pula ketegangan dan sekaligus pembelajaran bagi kedua belah pihak, dan dalam arti luas bagi dua budaya: Timur dan Barat.


Hmm.. masih kurang ah penjelasannya. Aku tambahin ni:

Mena adalah gadis 15 tahun yang akan menikah. Dia udah punya baju pengantin, tapi belum punya burqa untuk malam pertama (kalau orang Barat malam pertama pakai lingerie, kalau orang Afghanistan malah pake burqa, yang menutup SELURUH TUBUH termasuk wajah). Dia lalu bertemu kru film, yang mengiming-imingi burqa asalkan dia mau main film.

Mena yang polos pun bersedia main, padahal menurut adat, seorang perempuan, apalagi yang belum menikah, tidak boleh keluar rumah. Kelakuannya itu diketahui oleh keluarganya dan orang-orang.

Sang ayah mendapat tekanan sosial untuk membunuh anaknya karena telah mempermalukan dan menjatuhkan harga diri keluarga. Pembunuhan itu hampir ia lakukan saat Mena tidur, namun (mungkin) karena sayang, tidak jadi ia lakukan. TAPI, diam-diam ia membelikan peluru untuk Rahmat, tunangan Mena, agar nanti membunuh Mena dengan cepat dan tanpa rasa sakit.

Hingga akhirnya, di Hari-H, Rahmat menjemput Mena (yang cantik dengan gaun pengantinnya), melakukan perjalanan jauh berjalan kaki, dan di tengah gurun mereka berhenti. Rahmat mengarahkan senapannya ke arah Mena.

Mena pasrah.
Ia menangis.
Siap menjemput ajal.
(PERINGATAN: SPOILER!)

Rahmat (sambil mata berkaca-kaca karena sedih, berat hati, dan patah hati) menembak.
Membuang pelurunya, dan
meninggalkan Mena dalam keadaan hidup.
Terdampar in the middle of nowhere..
THE END

Konon, fim ini terinspirasi dari kisah nyata loh. Jadi, pernah ada seorang istri yang diajak main film. Saat itu suaminya di Pakistan. Begitu suaminya pulang ke Afghanistan, ia mendengar orang-orang membicarakannya istrinya yang keluar rumah tanpa sepengetahuannya. Dan istrinya itu lalu dibunuh!

Hmm..
Banyak yang ingin aku tulis sebagai tanggapan dalam film yang mengangkat nilai-nilai perdamaian, hak asasi, dan toleransi ini. Tapi yang mau aku highlight simpel aja..

Sang sutradara, Nelofer Pazira, membuat film ini tidak untuk menghasilkan uang dan tidak mencari popularitas.
Ia ingin duduk, berkumpul, berdialog, dan berdiskusi dengan penonton.

Ia ingin memotret fenomena, menunjukkan realitas pada orang-orang, dan membantu mencari solusi serta jalan keluar untuk kehidupan yang lebih baik.
Kasarnya, mencari cara agar budaya seperti itu bisa diubah.
Kalaupun tidak bisa diubah, setidaknya orang-orang (termasuk sang penganut budaya) aware akan plus minus budaya seperti itu (IMHO).

Hmm.. jadi inget produser 89 Project.
Mungkin visi dia juga mirip-mirip seperti itu kali ya.. (memotret fenomena dan membangun awareness)

Kalau aku sih,
pengen seperti Nelofer karena..

jalan-jalan ke luar negeri untuk memutarkan filmnya!

Aku juga ingin seperti itu, ya Allah..
Amiiiiiiinnn...!!

Minggu, 01 Agustus 2010

Sedang sibuk apa sekarang, Sin?

Tahun 2010 adalah puncak ‘perpisahan’ dengan teman-teman kuliah.
Tahun dimana aku dan teman-teman kuliah ‘habis’ alias lulus satu persatu.
Kalau dulu FAQnya adalah “Kapan lulus?”,
sekarang berganti jadi “Udah kerja?”, “Kerja dimana?” atau “Sibuk apa sekarang?”.
Karena itu, aku buat postingan ini, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan itu :)

Jadi, kesibukan aku saat ini adalah:

Pertama: Revisi skripsi
Iya, aku sudah lulus. Iya, aku sudah wisuda. Tapi aku belum mendapatkan ijazah. Tidak sebelum aku selesai merevisi skripsi.

Ketika aku dinyatakan lulus sidang skripsi, banyak banget yang harus aku revisi untuk mendapatkan ijazah. Sayangnya, kampus tidak memberikan deadline. Jadi yah.. secara psikologis aku langsung malas lah. Hehe. Apalagi memang setelah sidang, prioritasku adalah segera bekerja. Jadi skripsi langsung aku simpan jauh-jauh :p

Tapi.. ga bisa terus-terusan seperti ini tentu. Rasanya masih ada yang mengganjal. Nyangkut. Masih ada hutang pada orangtuaku (kan kuliah juga demi ortu :D).
Makanya, skripsi selalu menjadi prioritas (di pikiran).
Doakan yah, semoga aku bisa MULAI merevisi. Amin ya Allah, amin.

Kedua: Jadi freelance writer
This is such a PERFECT job! Aku memang berkeinginan untuk jadi freelancer, khususnya freelance writer.
Kenapa freelancer? Alasan utamanya sih, karena aku masih merevisi skripsi, masih perlu ngejar-ngejar dosen. Takutnya, kalau kerja kantoran, aku jadi susah meluangkan waktu. Kerja kantoran kan full-time.
Alasan kedua, karena aku masih pengen bikin film :)
Alasan ketiga, karena aku suka menulis dan online!

Aku menulis artikel di sebuah situs kuliner. Kantornya sih di Surabaya dan Jakarta. Tapi karena via online, ga masalah buat aku yang nge-kos di Bandung.
I really really love this job so much!
Yah.. meskipun honornya cuma cukup buat makan doang. Tapi lumayan lah, ga minta ortu lagi (kalau bokek, minta uang ke adik, ntar adik aku yang minta ortu. Sama aja yah? Haha!)

Ketiga: Jadi Director of Behind The Scene in 89 Project.

Maybe this is my real passion: Filmmaking!
Bikin film itu seru banget! Berjuang bersama beberapa teman, jalan-jalan, capek, ribet, ketawa-ketiwi, berangkat pagi pulang pagi *lebay*, sampai akhirnya begitu film jadi, ditonton sama banyak orang. Wuih.. bahagia sekali rasanya.

89 Project adalah produksi film bertema Hemofilia. Itu loh, kelainan darah dimana darah sulit membeku.
Aku sendiri yang milih jabatan sebagai BTS (Behind The Scene).

Kenapa BTS?
Seperti yang pernah aku jelaskan pada produserku (yang notabene sahabat aku sendiri :p),
nanti ketika produser pusing dengan budgeting,
sutradara dan kru diganggu dengan cuaca hujan,
atau mood pemain turun, maka aku sebagai BTS akan tetap aman, damai, sejahtera, dan sentausa. Haha.

BTS hanya merekam momen-momen produksi, dan menuangkannya dalam bentuk tulisan, foto, dan video. Oh, tak lupa wawancara dengan tim produksi dan para pemain.
Dengan jadi BTS, aku berharap mendapatkan serunya suasana syuting tanpa perlu ikut-ikutan ribet. Hihi.
Semoga saja.
Intinya, BTS itu HAVE FUN! =D

Begitulah.
Bagaimana denganmu?

Apapun kesibukanmu, jalani dengan fun ya!
Penting tuh! :)

Senin, 26 Juli 2010

Hanung Bramantyo's Great!

Siapakah pekerja film ternama yang bisa memberikan materi pengajaran dengan sangat baik? Menurut aku jawabannya adalah
(1) Mathias Muchus,
(2) Hanung Bramantyo.

Ya, setelah beberapa waktu lalu aku terpukau dengan materi akting dari Mathias Muchus, maka hari Sabtu (24/7) lalu aku terkesima *lebay* dengan cara Hanung Bramantyo mentransfer ilmu.

Mas Muchus pandai menyampaikan materi mungkin karena dia juga seorang dosen ya. Sementara Mas Hanung, pasti karena dalam pekerjaannya ia terbiasa melakukan komunikasi instruksional *haha, sok-sok pake bahasa Fikom gini*.

Di acara LA Lights Indie Movie itu, mas Hanung menyampaikan materi directing, khususnya bagaimana membuat film adaptasi. Sebagai sutradara beberapa film adaptasi dari novel (Jomblo, Ayat-ayat Cinta, dan Perempuan Berkalung Sorban), mas Hanung sangat paham bagaimana seharusnya film adaptasi dibuat.

Ia menyampaikannya dengan bahasa sederhana, menarik, dan mudah dimengerti. Ia juga lumayan lucu dan menghibur.

Tapi yang paling aku suka dari semuanya adalah ketika ia berkolaborasi dengan Mas Aria Agni, sinematografer, untuk melakukan simulasi syuting. Waw! Aku sekarang jadi tahu bagaimana cara Mas Hanung menyutradarai :-)

Pertama-tama, Mas Hanung meminta dua orang peserta, satu cowok dan satu cewek, untuk naik ke atas panggung. Keduanya diminta duduk di sofa pembicara.
Mas Hanung lalu menunjukkan cara menyiapkan set. Meja dibersihkan, dikasih majalah. Segala barang ga penting yang tampak di layar, disingkirkan.
Di monitor, tampak bahwa warna sofa mirip dengan cardigan cewek yang berwarna hitam. Karena kurang bagus di layar, maka sang cewek diminta membuka cardigannya, sehingga warna bajunya yang oranye membuat gambar jadi lebih cerah.

Mas Hanung juga memberi kesempatan beberapa orang peserta lain untuk membuat cerita bagi dua pemain ini. Sekalian mengajari pitching, sepertinya.
Ada empat orang yang maju bergantian ke atas panggung dan mempresentasikan ide ceritanya. Ide cerita yang keempatlah yang diterima: tentang seorang cowok yang akan mengaku pada sang pacar bahwa ia sebenarnya penyuka sesama jenis. Iew! Hehe..

Selama simulasi, semua peserta memperhatikan bagaimana Mas Hanung men-direct. Ia memberi instruksi kepada pemain cewek untuk tidak memegang tangan si cowok terlalu cepat atau terburu-buru (hehe), menyuruh pemain ketiga untuk masuk frame (MC acara yang jadi pembantu :D), dan meng-cut begitu dialog sang cowok terasa kepanjangan.

Simulasi itu jadi lucu, bukan hanya karena cara Mas Hanung men-direct, tapi juga karena adanya MC narsis yang pengen ikutan main meski jadi pembantu, dan diakhiri dengan dialog si tokoh cowok yang mengaku bahwa ia sebenarnya menyukai Bram.. yang surpraisingly, adalah si pembantu itu.

Hwkwkwk…

Pokoknya Mas Hanung T.O.P B.G.T! :D



Gambar diambil dari kapanlagi.com

Kamis, 03 Juni 2010

3 Hati 2 Dunia 1 Cinta Goes To Campus (Part 2)

Salah satu pertanyaan paling menarik menurut aku adalah ini,
“Sepenting apa sih adegan ciuman dalam film-film horor?”

Kata Mas Muchus, kalau dari sudut pandang produser: setengah penting.
Dari sudut pandang pemilik bioskop: penting banget.
Kalau dari sudut pandang aktor: ga penting-penting amat.
Beliau juga menjelaskan kalau sebenarnya banyak cara menunjukkan cinta selain ciuman.
Kalau pun ada adegan ciuman, ga harus ditunjukkan persis di depan kamera (baca: medium close up). Ada banyak trik yang bisa dilakukan untuk adegan ciuman agar tidak terlihat vulgar.

Di antara para peserta juga hadir seorang ibu yang mengidolakan Mas Muchus. Si Ibu ngomongnya dengan suara bergetar dan (kayaknya sih) pengen nangis gitu. Terharu banget karena ketemu idolanya mungkin :p

Beliau mengenang acara Losmen Pak Broto (?) dimana salah satu pemainnya adalah Mas Muchus (peserta yang lain, kebanyakan mahasiswa, pada 'roaming' karena ga ngerti. Haha..).

Sang ibu juga mengungkapkan kerinduannya terhadap tayangan-tayangan berkualitas seperti Keluarga Cemara, yang mengajarkan moralitas dan mengandung nilai-nilai budaya Indonesia, yang pesan utamanya kuat dan tersampaikan, bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. Tidak seperti sinetron-sinetron sekarang yang ceritanya tentang konflik keluarga, perselingkuhan, dan sejenisnya.

Mas Muchus menanggapi bahwa sekarang ini realitasnya memang seperti itu, pahit. Adalah tanggungjawab kita bersama untuk mengatasi masalah itu. Solusinya, MULAI DARI DIRI SENDIRI.

TINGKATKAN SELERA KITA,
tontonlah hanya film/ sinetron/ tayangan yang bagus dan berkualitas.


Aku setuju banget tuh. Logikanya, kalau penonton Indonesia seleranya tinggi, tentu tayangan seks-horor-jelek-sampah itu ga bakal laku, ga ada yang nonton, dan para produser pun berlomba-lomba membuat tayangan bagus untuk memenuhi selera tinggi khalayak *semoga ga cuma mimpi*

Mas Muchus juga sempat bilang, bahwa kewajiban pemerintah adalah untuk menaikkan standar rata-rata pendidikan rakyat Indonesia, karena pendidikan berbanding lurus dengan selera menonton
*aku baru tahu..*



By the way busway on the way, FYI,

Mathias Muchus sedang menyutradarai film Rindu Purnama, Sabtu ini memasuki masa shooting.

Film Mizan Productions yang akan diproduksi setelah ini adalah… PERAHU KERTAS! *mupeng pengen ikutan syutingnya*

By the way busway on the way (lagi), ni OOT

Aku menemukan seorang peserta yang menarik perhatian. Pinky boy dunia nyata. Cowok botak, pake topi pink, kemeja pink, celana kain pink, kaus kaki putih, dan sepatu kets pink. Di lehernya ada syal, bentuknya kayak kerudung segiempat, warna pink juga. Wow. Dia adalah salah satu penanya di sesi Mas Muchus. Mas Muchus sempat heran, “Dalam rangka apa kamu berpakaian seperti itu?”
Dan beginilah kira-kira jawaban sang Pinky Boy,

“Tidak dalam rangka apa-apa. Bagi saya pink sama dengan hitam. Pink bisa dipakai oleh cewek atau cowok. Ini hanya masalah gender,”

Semua orang bertepuk tangan. Mas Muchus juga memujinya, karena dia berani & jujur, suatu kualitas yang mutlak diperlukan kalau mau jadi aktor :)




Pokoknya hari itu dapet banyak ilmu dan wawasan.
Banyak tawa. Banyak doorprize (tapi aku ga dapet T.T).
Nyesel banget lah kalian yang gak ikutan. Huehehehe…
*dilemparin kertas karena ga ngajak-ngajak*


1 Juli kita nonton bareng yuuuuuwwk..!

3 Hati 2 Dunia 1 Cinta Goes To Campus (Part 1)

Tanggal 2 Juni 2010, aku menghadiri acara 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta Goes To Campus yang diadakan Mizan Productions dan Klub Film Mizan, yang bekerjasama dengan Fikom Unisba. Workshop ini terbagi menjadi tiga sesi, dengan para pembicara yang sangat menarik:
Ben Sohib (penulis novel yang jadi sumber cerita film ini),
Benni Setiawan (penulis naskah & sutradara),
Rikrik El Saptaria (acting coach), dan..
Mathias Muchus!

SESI 1
Aku datang sangat terlambat. Acara mulai jam 9an, aku datang jam 11.
Jadi ga dapet materinya deh. Hiks hiks.
Tapi sempet lihat trailernya, dan bagus.
Pokoknya harus nonton fimnya nanti!

Yang aku dapat dari sesi itu antara lain, bahwa film komedi romantis ini diangkat dari dua novel karya Ben Sohib, berjudul The Da Peci Cod dan Rosid & Delia.
Ceritanya tentang Rosid si rambut kribo (Reza Rahadian) yang saling mencintai dengan Delia (Laura Basuki). Sayang, mereka berbeda keyakinan (Rosid Islam, Delia Kristen).
Hubungan cinta mereka tidak direstui oleh orangtua kedua belah pihak.
Rosid juga dijodohkan dengan sepupunya yang cantik dan berjilbab, namanya Nabila (Arumi Bachsin). Lalu bagaimana akhirnya? Mari kita nonton saja, karena aku juga gak tau :p

SESI 2
Di sesi ini, Rikrik El Saptaria memberikan sedikit materi tentang Acting Coach, lalu praktek. Para peserta diajak olah tubuh (kayak pemanasan kalau mau olahraga), dan latihan akting.
Oya, tiap peserta memang mendapat contoh naskah dua halaman untuk dipraktekan di sesi ini.

Di sini aku nonton doang. Habis, memang ga tertarik jadi pemain. Tapi sesi ini cukup menarik kok. Aku ngebayangin, asik nih kalau para aktris dan aktor wannabe CC hadir disini. Pasti seru.

Sesi dua berakhir beberapa menit sebelum jam 1, lalu break.

Aku sempat ingin pulang. Apalagi sepertinya sesi tiga ini masih tentang acting/casting.
Sekali lagi, aku ga minat-minat jadi aktris.
Tapi entah kenapa, kakiku tetap melangkah.
Takdir Allah kali :p

SESI 3
Sumpah, sesi ketiga yang bertema Cara Menembus Casting ini SERU BANGET!!!!!! (enam tanda seru). Menurut aku sih, faktor utamanya karena Mathias Muchus. Beliau membawakan materinya asik banget (Btw, aku duduk paling depan loh. Niat amat ya? Haha).

Pertama, ia membawakan materi dengan berdiri lebih dekat dengan peserta, kayak trainer dan dosen (emang beliau dosen sih).
Penguasaan ‘panggung’nya juga bagus (beuh, bahasaku…!).
Ia sangat interaktif, tidak hanya dengan peserta, bahkan sempat bertanya dengan moderator, “Kalau Produser Mizan ngajak ibu casting, ibu mau ga?” hehe..

Berikut ini adalah beberapa poin penting materinya
1. Casting adalah mencari komposisi pemain yang tepat. Orang yang jago akting tidak serta merta bisa langsung diajak main, karena belum tentu cocok memainkan peran yang dibutuhkan.
Mencari pemain yang tepat awalnya dengan melihat dari tampilan fisik, kemudian baru kemampuan.
Fisik disini bukan berarti harus cantik atau ganteng. Kalau cuma mengandalkan itu, ga akan lama karirnya.
Setiap aktor, kalau mau sukses, harus punya KOMITMEN, KEJUJURAN, LOYALITAS, KECINTAAN TERHADAP PROFESI, dan KERJA KERAS *nyontek catatan *

2. Kalau berminat jadi aktor/aktris, tanyakan pada diri sendiri, apakah memang karena cinta pada dunia seni peran, atau karena faktor lain, seperti popularitas atau uang?

3. Ada quote bagus nih: Kalau kita menghormati suatu bidang, bidang itu akan menghormati kita

4.Sekecil apapun suatu peran, harus dilakukan dengan serius.

5.Untuk memasukkan jiwa tokoh ke dalam diri kita, kita harus menjadikan tokoh tersebut ‘obsesi’ kita, membiasakan diri berperilaku sehari-hari sebagai tokoh yang akan diperankan..
(Aku jadi inget Arifin Putra yang kemana-mana bawa pisau di kantong pas mendalami karakter Adam untuk film Rumah Dara)

Sesi tanya jawab tidak kalah menarik.
Salah satu pertanyaan paling menarik menurut aku adalah ini,
“Sepenting apa sih adegan ciuman dalam film-film horor?”


... bersambung

Minggu, 30 Mei 2010

Damien Dematra

Damien Dematra adalah seorang novelis, penulis skenario, sutradara, produser, fotografer internasional, dan pelukis.

Ia telah menulis 45 buah novel dalam bahasa Inggris dan Indonesia,
53 skenario film dan TV series,
dan memproduksi 26 film dari berbagai genre.


Sebagai fotografer, ia meraih puluhan penghargaan internasional, diantaranya International Master Photographer of The Year.


Damien Dematra juga telah menghasilkan 365 karya lukis dalam waktu 1 tahun.


...

Sebagian karya-karyanya dapat dilihat di www.damiendematra.com



I LIKE THIS! *ngacungin jempol*

Rabu, 05 Mei 2010

Produksi Film Pendek Retrokarma (Catatan Cameraperson)

Pertama kali masuk Cine Club Fikom Unpad tahun 2005, sebagai anggota baru, kami disuruh bikin film pendek. Film pendek pertamaku berjudul Retrokarma. Idenya berasal dari Indra, yang kemudian didaulat sebagai sutradara.

Skenario awal dibuat keroyokan. Tiap adegan dan dialog disusun dan didiskusikan oleh semua kru bareng-bareng. Lucu sebenarnya. Jadi kalau ditanya, siapa penulis skenario Retrokarma? Jawabannya adalah all crew! Hehe.

The Crew
Executive Producer : Luthfi Adam
Producer : Koesnaedi Dedi
Director : Indra Apriyadi
Cameraperson : Sintamilia Rachmawati & Yokie
DOP : Luthfi Adam
Art Director : Pritha Ayuningtyas
Pencatat Adegan : Dian Merdiana
Editor : Arif Rahman & Indra Apriyadi
Wardrobe & Make Up Artist : Galuh & Nina Agustina

Sinopsis
Bowo adalah fans berat Peterpan. Di sisi lain, ia sangat membenci lagu-lagu jadul. Kenapa? Karena lagu-lagu jadul mengingatkan dia pada ibu tirinya yang galak dan sering memarahinya waktu kecil. Suatu ketika, Peterpan menyanyikan lagu Kupu-Kupu Malam yang notabene lagu jadul. Bowo dilema. Tapi pada akhirnya, cinta Bowo pada Peterpan tetap bertahan (yuwk). Bowo pun belajar menyukai lagu itu.

Yang berkesan di hari-hari syuting
1. Pemeran Bowo kecil, Ilham, ditemukan ketika sedang bermain dengan teman dan saudaranya. Ia gampang diarahkan. Aktingnya lumayan. Tapi yah, mungkin karena adegannya dimarahin ibu tiri (plus dijewer :p) dan take-nya berulang-ulang, begitu scene dia selesai, dia nangis dong! Nangisnya Cuma mengeluarkan air mata tanpa suara gitu. Hehe. Oya, sebagai tanda terimakasih, dia boleh beli satu mainan apapun yang dia mau di SabSub. Kami yang bayarin :D
2. Pemeran Bowo besar, Ducky, orangnya kocak banget. Meski perannya serius, tetap aja bisa bikin ketawa. Dan Indra, sang sutradara, paling ga bisa nahan ketawa. Jadi yang sering tuh di lokasi, begitu Indra bilang “Action!”, dia kabur ninggalin set. Pokoknya dia ga mau liat akting Ducky, karena pasti ketawa. Terus begitu akting Ducky selesai, baru deh dia balik lagi dan bilang “Cut!” Hehe. Jangan ditiru yah.. Masak sutradara begitu? :p
3. Ada adegan Bowo mendengarkan radio, dimana ia pertama kali mendengarkan Peterpan menyanyikan lagu Kupu-Kupu Malam. Ssstt, yang jadi penyiar radionya adalah Indra, dan dia “siaran” di kamar Bowo :p
4. Ada beberapa adegan lucu. Tapi kalau ditulis disini jadinya malah ga lucu. Jadi tonton sendiri dong.. :D

Catatan Cameraperson
Sebelum aku ikutan workshop CC, aku pernah ikutan Workshop Cameraperson di STUFVI Bandung. Aku memang tertarik banget dengan kamera. Kebayang dong, betapa senangnya aku dikasih kesempatan buat jadi cameraperson di Retrokarma. .

Beberapa pelajaran yang aku ambil dari pengalaman produksi pertama ini adalah:
1. Kalau mau mengubah Long Shot jadi Medium Shot, atau dari Medium Shot jadi Close Up, jangan pake Zoom. Jelek. Mending Cut To aja.
2. Cameraperson itu harus cermat banget. Harus jadi yang pertama kali tahu kalau ada yang “bocor” (apalagi kalau sutradaranya ga merhatiin monitor)
3. Kalau merasa take yang diambil udah benar, coba take sekali lagi. Siapa tahu yang tadinya kita anggap udah sempurna, ternyata pas editing, baru ketahuan ada yang kurang. Paling enggak, kita jadi punya cadangan.
4. Tripod itu SUPERPENTING (apalagi buat yang baru megang kamera)
5. Perhatikan posisi kamera dengan pergerakan aktor. Kalau tadi aktor berjalan dari kiri ke kanan frame, maka shot berikutnya harus searah juga. Penonton bakal bingung kalau aktor tiba-tiba bergerak dari kanan ke kiri. Kesannya si aktor berbalik arah. Padahal posisi kameranya aja yang “nyebrang” .

Begitulah, sedikit ilmu yang bisa dibagi..
terimakasih banyak untuk semua kru, untuk CC, untuk Exprod yang udah banyak ngasih pengarahan.. :-)

By the way, aku (sebagai cameraperson) sempat beberapa kali berbeda pendapat sama sutradara tentang teknik pengambilan gambar, yang pastinya aku harus mengalah dong. Padahal aku merasa benar *sombong mode on*. Dan itu membuat aku sempat berpikir, “Ah, ga enak jadi kameramen. Terbatas. Enakan jadi sutradara. Semuanya terserah dia,”.

Mungkin waktu itu ada malaikat lewat yang mengaminkannya. Maka berakhirlah “karir” ku sebagai cameraperson disini. Produksi berikutnya, aku ditunjuk jadi sutradara. Yippie…! :D

O iya, di acara screening & awarding night-nya, Retrokarma meraih 4 penghargaan : Best Actor, Best Director, Best Cinematography, dan Best Movie :-)

Next post:
Produksi Bumper Mirror V (Catatan Sutradara)