Tampilkan postingan dengan label Sebuah Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Kisah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Februari 2017

Tentang Harddisk yang Hilang Bersama Semua Kenangan di Dalamnya

Beberapa waktu lalu, di timeline FB ada yang membagikan sebuah info, bahwa telah hilang sebuah harddisk, berisi foto dan video anaknya dari masih dalam perut, lahir hingga tumbuh besar. Semua kenangan itu begitu berharga baginya sehingga ia menawarkan imbalan bagi siapapun yang menemukan harddisk tersebut.

Saya menghela nafas.

Pasti nyesek memang rasanya.

Saya juga pernah mengalami beberapa peristiwa kehilangan rekaman foto dan video.

Minggu, 03 April 2016

Kisah Gagal Belanja Online

Baca kisah-kisah sukses mah udah mainstream kan ya. Hahaha..

Baca : 7 Kisah Nyata Sukses Bisnis Tanpa Modal

Jadi kali ini saya mau cerita kisah gagal saya belanja online.

Kamis, 07 Januari 2016

Uttaran, Mendefinisikan Kembali Makna Takdir

Akhir-akhir ini saya suka mantengin serial india  Uttaran di AnTV tiap jam setengah 2 siang *ketahuan deh eyke pengangguran*

Sebenarnya buat saya, Uttaran itu ga bagus-bagus amat. Tapi semenjak episode pernikahan Tapasya dan Veer yang fantastik bombastik warbiayasak super duper dramatis dan MENEGANGKAN, jadilah saya nonton terus kelanjutannya. Saat ini sih Uttaran tetap saya nilai biasa saja. Konflik puncaknya udah lewat soalnya. Heuheu..

Kenapa saya tumben-tumbenan bahas acara TV yang ga bagus-bagus amat ini? *Uttaran lovers, peace!* Karena ada adegan menarik yang membuat saya berpikir,

Senin, 29 Juni 2015

Kisah Tiket Gratis yang Berakhir Dramatis

Rabu, 10 Juni 2015.

Hari itu adalah jadwal pengumuman pemenang lomba blog #TiketGratisTraveloka. Jujur saja, saya sangaaaaat berharap jadi salah satu pemenang. Bukan karena saya pengen terbang gratis. Tapi lebih karena saya belum pernah menang lomba blog. Hahahaha..

Jadi sebenarnya motivasi saya lebih karena ingin pembuktian kemampuan diri *tsah. Apalagi saya menulis dengan hati, super maksimal, dengan dosis kesabaran yang tinggi karena laptop lemot parah. Kebetulan temanya juga agak ‘galau’ dan saya rasa pengalaman hidup saya juga lumayan drama.


Mantengin twitternya Traveloka, akhirnya setelah solat maghrib saya dapat kabar gembira itu: I’m the 7th winner!

Alhamdulillah ^^
Sumber: Facebook Traveloka

Namun hal pertama yang saya pikirkan bukanlah bayangan saya dan suami dan anak terbang ke Batam seperti yang saya tulis. Enggak. Yang saya pikirkan adalah..

Bisa diuangkan gak ya?

Iya emang saya (kami) butuh duit. Siapa juga yang gak butuh? Tahu sendiri kan, sekarang dolar naik (gak ada hubungannya sih, tapi dihubungin aja biar keren). Kami sedang mengalami apa yang Vicky sebut kelabilan ekonomi.

Saya bilang ke suami kalau saya berharap hadiah itu bisa diuangkan. Saya tahu sebenarnya dia ingin sekali terbang, Tapi dia juga setuju kami butuh uang. Akhirnya saya pun mengirim email ke Traveloka untuk menanyakan apakah tiket tsb bisa diuangkan atau dipindahtangankan.

Kamis, 11 Juni 2015

Saya membaca balasan email Traveloka. Katanya hadiah tsb tidak bisa diuangkan tapi bisa digunakan oleh orang lain, yang penting pemesan tiket atas nama saya.  
Hmm.. baiklah. Bisa dijual kalau begitu. 
Saya pun lalu memutar otak, mengingat teman-teman yang kira-kira mau beli tiket Citilink gratis Pergi-Pulang semua rute untuk 2 orang ini.

Orang pertama yang berminat adalah adik laki-laki pertama saya, si Abang.  Dia mau ke Batam tanggal 22 Juni dari Jakarta bersama adik kelasnya. Haha..

Saya tidak terlalu menghiraukan tawarannya karena saya ragu dia punya uang. Wakakakak. Ya gimana, dia baru lulus SMA, magang di bisnis travel sepupu baru beberapa minggu. Plus saya dapat bocoran dari adik perempuan saya (yang juga kakaknya si Abang), Nurul, bahwa sebenarnya Nurul dan si Abang sudah booking tiket ke Batam menjelang lebaran bulan Juli mendatang. Jadi mana boleh si Abang ke Batam bulan Juni. Baiklah.

Jum’at, 12 Juni 2015

Penawaran tiket ke teman-teman belum ada yang closing. Saya juga gak tahu gimana ngejualnya dan ke siapa lagi. Saya mulai berpikir bahwa mungkin kami akan terbang. Saya ceritakan pada Bapak-Ibu mertua (saat ini saya tinggal di rumah mereka) bahwa kami insya Allah akan ke Batam. Orangtua saya di Batam pun tampak senang membayangkan cucu mereka akan datang ke sana T_T

Ah, orangtua saya tidak tahu, bahwa hadiah tersebut belum termasuk pajak bandara dan IWJR (entah apa ini), belum termasuk tiket untuk cucu mereka (2 tiket hanya untuk saya dan suami), belum termasuk transport dari Bandung ke Jakarta (Citilink belum ada rute Bandung-Batam). Begitu banyak yang perlu dibayar, dan kami tidak memiliki biaya untuk semua itu.

Ternyata mendapatkan hadiah tiket pesawat gratis tidak otomatis membuat kami langsung bisa terbang..


Sabtu, 13 Juni 2015

Nurul nge-Line. Katanya dia tiba-tiba berminat. Huahahahaha..

Dia memang hobi travelling. Dan meskipun saya tahu dia lagi bokek, saya sulit menolaknya. Dia adik yang amat sangat teramat baik pada saya. Seandainya saya bisa ngasih tuh tiket secara cuma-cuma, saya akan berikan padanya tanpa syarat apapun. Sayangnya saya sedang butuh duit.

Jalan tengahnya, saya jual di harga yang dia minta. Dicicil berapa kali terserah dia (saya sih pengennya tiap saya butuh duit dia bisa transfer :p).

Kami sempat galau karena khawatir orangtua saya kecewa karena cucunya gak jadi ke Batam. Untunglah Nurul bisa bernegosiasi sekalian minta izin orangtua untuk travelling.
Tapi sebenarnya si Nurul juga masih bingung mau kemana. Pilihannya antara Medan atau Makassar. Ia berencana pergi dengan seseorang.

Minggu, 14 Juni 2015

Nurul mengabarkan kalau dia ada konflik dengan travelmate-nya. Duh! 
Kemungkinan ia akan travelling sendirian. Tiiidaaaaaks!. 
Tapi ia bilang akan mencoba mengajak teman yang lain.

Saya deg-degan. Saya harap dia jadi beli 2 tiket PP itu. Saya katakan padanya bahwa ia harus memutuskan dengan cepat, karena klaim tiket gratis itu paling lambat Senin, 15 Juni 2015 pukul 08.00-10.00 WIB. Dhuaaarrr!

Saya juga bersiap-siap jika besok pagi rencana travelling Nurul masih ngegantung, saya akan booking tiket ke Batam dengan suami. 
Jangan sampai tiketnya hangus!

Senin, 15 Juni 2015

Jam 9 pagi, saya booking tiket di Traveloka untuk penumpang atas nama Nurul dan Febri, Jakarta-Medan-Jakarta, tanggal 27-29 Juni 2015.

Jam 5 sore, setelah pembayaran pajak bandara dan IWJR selesai diproses, e-ticket kami terima.

Tak lama, Nurul mentransfer sejumlah uang ke rekening saya sebagai cicilan pertama tiketnya.


___



Minggu, 28 Juni 2015

Suami mempublish foto ini di Facebooknya.

 Jualan es buah dan pisang ijo, dengan modal dari penjualan tiket.
Alhamdulillah menghasilkan...



Senin, 29 Juni 2015
Nurul mempublish foto ini di Facebooknya.

Di depan masjid Baiturrahman, Nanggroe Aceh Darussalam

 Tiketnya ke Medan kenapa mereka nyampenya ke Banda Aceh? *garuk-garuk pala
Ah, dasar traveller!


___


Teruntuk papa dan mama, 
Sinta mohon maaf sebesar-besarnya karena Ramadhan dan Lebaran tahun ini Sinta belum bisa berkumpul dengan keluarga di Batam.
Sinta mohon maaf karena sudah memupuskan harapan papa dan mama untuk bertemu dengan Kakang saat ini..

Teruntuk Traveloka dan Citilink, terimakasih banyak untuk hadiahnya. 
Saya senaaaang sekali.
Tanpa mengurangi rasa hormat, saya mohon maaf karena saya belum dapat terbang. Namun insya Allah tiketnya bermanfaat untuk adik saya..

Teruntuk adikku Nurul,
I hope you had some fun there. Sempat terpikir, sebenarnya kamu beli tiket itu karena emang beneran pengen travelling atau pengen bantu aku? Apapun itu aku sangat berterimakasih. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan kebaikan yang lebih banyak, mempertemukanmu dengan jodohmu segera. Aamiiin ya Rabb Aamiiin..

Teruntuk kekasihku,
Aku mohon maaf belum bisa mengajakmu ke rumah orangtuaku. Semoga suatu hari nanti Allah mengizinkan.
Tak apa belum berkesempatan terbang, bukankah yang terpenting cintaku padamu tidak berkurang?
*eeaaaa

Apa kita terbang pakai balon gas aja, Yang?
 Sumber : wallpapersdb.org




  






Kamis, 25 Juni 2015

Tentang Milikmu dan Bukan Milikmu

Sumber: Status Facebook Fikry Fatullah

Beberapa peristiwa berikut terjadi pada orang-orang yang saya kenal.

Teman A mendapatkan proyek pembuatan sebuah aplikasi. Kalau lancar, A akan mendapatkan komisi 1 juta. Baginya, itu uang yang sangat lumayan. Ia yakin akan mendapatkannya. Sayangnya, ternyata aplikasi tersebut agak rumit dan A tidak berhasil menemukan orang yang bisa membuatnya, sampai akhirnya proyek tersebut dibatalkan. Bagi A, uang sejutanya melayang. Ia sangat kecewa.

Teman B sudah berpacaran kira-kira 3-4 tahun. Long Distance Relationship. Cowoknya sudah melamar. Saat persiapan hari H, sang cowok membatalkan pertunangan. Beberapa bulan kemudian, sang cowok menikah dengan perempuan lain. Nyesek!

Teman C hamil. Ia sangat bahagia. Betapa tidak, ia sebenarnya sulit hamil. Haidnya tidak teratur dan sel telurnya kecil-kecil. Dunia yang indah itu berakhir pada minggu ke 24. Tanpa pertanda apapun, mendadak ia tidak merasakan gerakan janin. Saat diperiksa, janinnya dinyatakan meninggal dalam kandungan. Baginya dunia seolah runtuh. Betapa hancur hatinya.

Teman D dianugerahi kehamilan segera setelah menikah. Ia bertamu ke rumah saya mungkin saat kandungannya berusia 1 bulan. Waktu itu belum terlihat hamil. Pertemuan kami berikutnya adalah di rumah sakit, saat saya menjenguk dia yang habis melahirkan secara Caesar. Sebenarnya belum waktunya ia melahirkan, karena usia kehamilannya masih 32 minggu. Tapi janinnya sudah meninggal dalam kandungan karena plasentanya melintir. Bayangkan, 32 minggu! Bayi perempuannya yang cantik tampak sempurna, kecuali detak jantungnya yang tiada.

Saya sempat merasa ”kesal”, karena Allah ternyata bisa juga PHP (Pemberi Harapan Palsu).

Ah, tapi bagaimana mungkin kita menyalahkan Allah? Manusialah yang berharap.
Memang tidak salah untuk kita memiliki harapan. Namun seringkali kita harus ingat bahwa,

Yang ditakdirkan menjadi milikmu akan menjadi milikmu.
Yang ditakdirkan bukan milikmu tidak akan pernah menjadi milikmu.

Teman A ditakdirkan tidak menerima satu juta.
Teman B ditakdirkan tidak berjodoh dengan pacarnya itu.
Teman C dan D ditakdirkan untuk tidak perlu mengasuh anak-anak sulung mereka, karena Allah sudah menempatkan anak-anak mereka dalam syurga.

Bicara memang mudah. Tapi mari kita sama-sama belajar dan berusaha untuk tidak menyesali dan meratapi apa yang belum kita dapat. Belum milik kita. Itu saja alasannya.
Tak perlu juga mengejar berlebihan apa yang ingin kita dapatkan.

Rezekimu akan sampai padamu.








Note:

Kini saya setiap hari membiasakan diri selalu bersyukur untuk kebersamaan saya dengan anak (dan suami). Karena saya tidak akan pernah tahu apakah esok kebersamaan ini  masih menjadi milik kami atau tidak. Kebersamaan dengan keluarga, rezeki juga bukan?

Minggu, 26 April 2015

#BeraniLebih Tegar Menghadapi Kegagalan

Jatinangor, Januari 2010.

Aku berdiri di depan ruang sidang, bersama 9 mahasiswa peserta sidang skripsi hari itu. Kami tengah mendengarkan seorang dosen membacakan hasil sidang kami satu persatu. Perasaanku tidak enak, namun aku tidak punya pilihan lain untuk tetap mendengarkan.

“Sintamilia Rachmawati, tidak lulus.”

Beliau membaca dengan nada datar, tapi pengaruhnya sangat dalam. 
Seperti ada yang menyilet paru-paru dan membuat jantungku lepas. 
Aku tetap berdiri di sana hingga pembacaan hasil sidang selesai dan kami diperbolehkan meninggalkan ruangan.

Aku satu-satunya peserta sidang skripsi yang tidak lulus.

Aku pulang dengan perasaan kosong. Tidak belum menangis. 
Masih setengah sadar menerima kenyataan.

Sesampai di kosan, seorang teman menyapa, siap memberikan ucapan selamat,
“Gimana? Lulus kaaaan?” tanyanya sambil tersenyum lebar.
Aku tak mampu menjawab. Hanya bisa menggeleng lemah.
“Bohooong..” sahutnya tak percaya.

Aku tak tahan. Aku langsung berlari ke kamar, menjatuhkan diri di atas kasur, lalu menangis sesegukan di bawah bantal. 
Teman-teman kosan hanya menatapku kasihan.

Sedih, kesal, marah, tidak terima, sakit hati, malu, bercampur menjadi satu. 
Bagaimana bisa aku tidak lulus? Secara teori, kecil kemungkinannya mahasiswa tidak lulus sidang skripsi. Bukankah selama penyusunan skripsi ada dosen pembimbing? Aku menangis cukup lama.

Setelah sedikit lega, aku mulai berpikir lebih jernih.

Aku akan lulus. Pasti. Aku cukup memperbaiki skripsiku, mengoreksi yang salah, dan melengkapi yang kurang. Tidak ada alasan untuk para dosen ‘menahanku’ di kampus. Tidak ada untungnya bagi beliau-beliau memiliki ‘mahasiswa abadi’. Aku tahu mereka pasti ingin semua mahasiswanya lulus cepat, nilai tinggi, dan segera bekerja. Ketidaklulusanku bukan salah dosen. 
Kelulusanku tergantung padaku.

Keesokan harinya, aku mulai berkutat dengan skripsiku lagi. Melakukan revisi di sana sini. Aku perbanyak sholat malam dan berdoa lebih khusyuk. Aku akui bahwa aku banyak salah, dan memohon ampunan-Nya atas segala dosa. Aku mohon pada Allah untuk mengizinkan orangtua dan keluargaku bahagia dengan kelulusanku.

Dua minggu kemudian, aku mengikuti sidang skripsi lagi,
dan dinyatakan lulus.

-----

Aku tahu usaha manusia tidak selamanya sukses. Mungkin, lebih banyak gagalnya daripada berhasil. Tapi tidak ada gunanya meratapi kegagalan. Kita harus tegar, kuat, bangkit, dan mencoba lagi. Sampai berhasil.

Ada yang sudah beberapa kali mengajukan judul penelitian, masih saja ditolak dosen.
Ada yang sudah beberapa kali mencoba menjalin hubungan dengan lawan jenis, namun tidak berlanjut ke jenjang pernikahan.
Ada yang melakukan program hamil kesana-kemari, masih belum dikaruniai momongan.
Ada yang berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangga, namun sia-sia dan kandas di tengah jalan.

See? 
Kita bisa temukan kisah kegagalan di mana-mana. Namun aku percaya, kegagalan adalah cara-Nya mendewasakan kita. Membuat kita lebih kuat, melatih untuk bangkit dan terus mencoba, serta membiasakan diri untuk selalu berbaik sangka pada-Nya. 

Insya Allah, segalanya indah pada waktunya.

Aku #BeraniLebih tegar menghadapi kegagalan.
Semoga kamu juga ya ;)

FB : Sintamilia Rachmawati
Twitter: @sintamilia




Sabtu, 21 Maret 2015

How I Met Your Father

Sejak 2 minggu sebelum saya melahirkan sampai Kakang usia 5 bulan, bisa dibilang nyaris saya gak pernah jalan-jalan lagi. Paling banter ke klinik untuk imunisasi, ke mall buat beli kebutuhan bayi, atau ke kondangan. Belum pernah bepergian murni hanya untuk refreshing sejenak dari kesibukan mengerjakan urusan domestik.

Wajarlah kalau akhirnya saya merasa sangat amat jenuh. Akhirnya saya pun minta izin suami untuk jalan-jalan bersama Kakang. Pas suami nanya saya mau kemana, saya bilang kalau saya ingin ke Zoe Corner (biasa kami sebut Zoe saja). Alhamdulillah suami mengizinkan.

Di Zoe Corner bersama Kakang
Foto wefie bareng Kakang pakai kamera belakang susah juga ya. Seandainya punya Smartfren yang ada fitur wide angle front camera. Pasti lebih asyik..

Anyway, Zoe Corner ini semacam library cafe. Ada ribuan novel, majalah, dan komik yang dapat disewa. Para pengunjung juga bisa menikmati makanan dan minuman ala cafe. Perpaduan itu membuat tempat ini jadi salah satu tempat favorit anak muda termasuk saya untuk nongkrong. Kebanyakan yang datang adalah dari kalangan mahasiswa, terutama karena lokasinya cukup dekat dengan beberapa universitas seperti Unpad, ITB, Unikom, ITHB, dan lain sebagainya.

Buat saya yang hobi baca tapi duit cekak untuk belanja buku, adanya tempat penyewaan buku ini bikin saya sangat bersyukur.  Gimana enggak, bisa baca berbagai macam novel dan majalah terbaru dengan harga sewa yang jauuuuh lebih rendah daripada harga beli. Ini salah satu alasan saya betah tinggal di kota Bandung :D



Bukan itu saja yang bikin saya suka tempat ini. Zoe Corner juga menjadi tempat yang bersejarah bagi saya. Di sinilah tempat saya dan suami pertama kali bertemu dulu *eeaaa..

Jadi ceritanya begini..

Saya mengikuti suatu komunitas penulis di Facebook. Sebut saja komunitas tersebut namanya Cendol, dan untuk wilayah Bandung namanya Banceuy (Bandung Cendolers Euy). Nah.. Banceuy ini beberapa kali mengadakan kopdar, dan kopdar kali itu (Januari 2012) bertempat di Zoe Corner.

Saya datang paling awal. Belum ada anggota Banceuy lain yang datang. Saya menunggu sambil membaca buku yang saya bawa, judulnya Kabut Perang. Buku tersebut saya dapat dari workshop Cendol yang pernah saya hadiri.

Setelah menunggu agak lama, saya mulai bosan. Saya lalu mengirim sms salah satu anggota Banceuy, Suhe.

   “Suhe, dimana? Jadi gak acara kopdarnya? Aku mau pergi lagi nih. Ada acara lain..”
Tak berapa lama, Suhe membalas. 
   “Tunggu bentar. Gue lagi di jalan. Udah ada Yoga kok di sana..”

Hmm, Yoga? Siapa dia? Anggota baru Banceuy?

Keterangan Suhe itu tidak membantu. Saya kan gak tahu yang namanya Yoga yang mana. Saya lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Menebak-nebak yang manakah yang namanya Yoga? Sampai ketika pandangan saya jatuh pada seseorang yang duduk persis di 
belakang saya, saya terkesiap.

Ia tengah duduk menghadap saya, matanya fokus membaca sebuah buku di tangannya berjudul.. Kabut Perang!

Merasa ada yang memperhatikan, ia mendongak menatap saya. Saya lempar senyum padanya sambil menunjukkan sampul buku yang saya pegang, yang judulnya sama dengan yang tengah ia baca.

   “ Hei..” sahutnya surprised.
   “Banceuy?” tanya saya.
   “Iya..”
Saya lalu memutar arah duduk hingga posisi saya berhadapan dengannya.
   “Sinta..” Saya menjulurkan tangan. Ia menyambutnya.
   “Yoga..”
Dan mengalirlah obrolan kami.  Bicara mengenai daerah asal, kegiatan saat ini, dan pastinya ngebahas Cendol, Banceuy, dan Kabut Perang (ia mendapatkan Kabut Perang dari kuis di twitter yang diadakan Kepsek Cendol).
There was nothing special. Yang istimewa hanya karena dia seumuran dengan saya (iya, di komunitas ini susah nemu yang seumuran. Biasanya lebih tua atau lebih muda). Obrolan kami berakhir saat Suhe datang. Kebetulan juga saya ada urusan lain. Jadi bagi saya itu judulnya Kopdar bersama Yoga, bukan Kopdar Banceuy. Hahaha..
Demikianlah.
Kopdar di Zoe menjadi kisah awal, lalu berlanjut di kopdar berikutnya. Kesamaan minat membuat kami semakin lama semakin dekat. Merasa cocok, ia memantapkan hati melamar saya hingga in the end kami menikah pada 13 Oktober 2013, dan setahun kemudian lahirlah Kakang tanggal 15 Oktober 2014.

Saat ini mungkin Kakang belum mengerti kalau saya cerita panjang lebar seperti itu. Tapi suatu hari nanti Insya Allah, setelah Kakang sudah besar dan mengerti, saya ingin jalan lagi bareng Kakang ke Zoe, dan bercerita,

“Kakang, I have a story. This is how I met your father. Here.”







Minggu, 02 November 2014

Welcome To The World, Awan ;)


Alhamdulillah wa syukurillah..

Telah lahir putra pertama kami, Awan Arsyad Nugraha di Bandung, hari Rabu 15 Oktober 2014 pukul 17.30 WIB dengan berat 3 kg dan panjang 47 cm dengan sehat dan selamat.

New born baby boy ^^


Buat yang penasaran dengan proses persalinannya, ceritanya begini anak-anak..

Sebenarnya HPL dokter itu 31 Oktober. Jadi ketika hari Selasa 14 Oktober saya merasakan kontraksi dari pagi, saya anggap itu kontraksi palsu. Kenapa? Karena beberapa minggu sebelumnya saya juga merasakan kontraksi yang sama. Jadi daripada menghebohkan keluarga lagi seperti waktu itu, saya memilih stay cool saja :))

Ternyata berbeda dengan kontraksi dulu yang mereda dengan sendirinya, kontraksi kali ini berlangsung sampai sore. Sempat kepikiran mau ke bidan yang buka jam 17.00-20.00 WIB, tapi suami pulang dari kantor agak malam, jadilah niat itu saya urungkan. Lagipula, kontraksinya juga masih ringan.
Malam itu kontraksi berlanjut sampai saya susah tidur (ya iyyalaaah). Baru bisa tidur dari jam 2 s.d jam 4 pagi. Begitu adzan langsung bangun mau wudhu dan pas ke toilet.. ada flek!

Akhirnya setelah sholat subuh, langsung cao ke bidan terdekat. Saat itu sekitar pukul 6 pagi, bidan bilang saya pembukaan 2. Perkiraan lahirnya bisa hari itu, bisa besokannya, bisa lusa, bisa juga seminggu kemudian -__-
Hmm.. berarti masih lama, simpul saya. Santailah. Haha.. Kami pun pulang dan mengabari keluarga (terutama yang jauh) via telepon.

Niat santai-santai ternyata tidak direstui ibu saya. Beliau menyarankan kami langsung ke klinik bersalin karena sejauh pengalamannya, proses persalinan terjadi dalam waktu 1-2 jam saja. Saya pun lalu mandi, sarapan, dan diantar suami berangkat naik motor (haha!) ke klinik bersalin (tempatnya berbeda dengan bidan yang tadi).

Pemeriksaan pukul 9, katanya saya pembukaan 3, dan ditempatkan langsung di ruang bersalin. Sempat jalan-jalan juga di klinik biar cepat nambah pembukaannya  *ceunah.
Jam 1 siang, pembukaan 6
Jam 3 sore, pembukaan 7
Entah jam berapa, pembukaan 9
And finally.. lahirlah Ocid jam 17.30 WIB, beberapa menit sebelum adzan maghrib :’)

Allahu Akbar!


Saat persalinan baru diketahui kalau ternyata air ketubannya warna hijau, dan itu sangat gak bagus. Ocid sempat masuk ruang observasi selama 2 jam, yang mana kalau hasilnya kurang baik, ia harus dirujuk ke rumah sakit. Huaaaaaa..
Untunglah 2 jam pertamanya terlewati dengan baik. Kamu hebat, Nak.. *peluk Ocid

Alhamdulillah juga selama proses lahiran ditemani pacar tercinta *peluk suami. Ditemani ibu mertua juga *peluk mamah. Dua orang ini hebat banget dah. Kalau saya mana berani berada di sebelah orang yang melahirkan. Persis seperti ibu saya yang hari itu juga terbang dari Batam ke Bandung, begitu sampai klinik hanya masuk untuk mencium saya sambil memberikan semangat lalu ‘kabur’ dan memilih untuk menunggu di luar ruangan karena ga tega ngeliat, katanya :))

Ibu saya sebenarnya berharap persalinan saya berlangsung cepat, kalau bisa sebelum pesawatnya take off dari Batam, cucunya udah brojol biar tenang. Tapi kayaknya sang cucu pengen keluar kalau neneknya udah nyampe klinik. Hihihi..

Bagi saya, proses yang memakan waktu seharian itu udah Alhamdulillah banget. Pembukaan terus bertambah seiring berjalannya waktu, gak harus berhari-hari, gak perlu induksi apalagi operasi caesar. Cukup dibantu bidan.

Dulu saya pikir, kalau melahirkan itu saya bakal jerit-jerit dan jambak-jambak rambut suami saking sakitnya. Ternyata enggak. Haha.. Yang penting banyak doa, atur nafas, sabar, dan fokus *tsaah :))

Mengalami sendiri rasanya melahirkan membuat saya sekarang menganggap bahwa semua ibu itu keren dan hebat banget dah!

Sangat  berterimakasih buat keluarga (kakek-nenek ocid, uwa, bibi) yang sudah datang dan standby di klinik, buat semua teman-teman yang sudah mendoakan..

Semoga Ocid menjadi anak yang sholeh, berakhlak baik, cerdas, sukses, dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. seperti nama yang diberikan oleh Abinya, Awan Arsyad Nugraha yang artinya "Seseorang yang dianugerahkan kecerdasan/kecerdikan dan senantiasa menaungi/memberikan ketenangan bagi orang lain.."

Aamiiin ya Allah..







Rabu, 24 Agustus 2011

Tumblring!

Tadinya saya mau ngobrolin semua media narsis saya di internet: Facebook, Twitter, Blogspot, Tumblr, Kompasiana, sampai Blogdetik. Hohohoho.. Tapi karena akan sangat panjang, jadilah saya pilih satu saja yang jadi favorit saya saat ini: My Tumblr.

Awal kisah, saya ingin posting quotes bagus dan menarik yang sering saya temukan dari buku. Tapi kalau saya tulis di blogspot ini, kasihan pembaca cuma mampir untuk 1-2 kalimat. Sementara kalau di twitter (yang notabene microblogging, katanya), selain jumlah karakter terbatas, pasti nantinya akan tenggelam seiring berjalannya waktu *tsah.

Jadilah, saya bikin tumblr yang saya anggap bisa mengakomodasi kebutuhan saya untuk posting superpendek-tanpa-takut-tenggelam-kayak-twitter. Ternyata begitu saya "menerjunkan diri" *apa sih*, ternyata tumblr itu WAOW banget! *lebay.

Ini yang ada di tumblr tapi ga ada di tempat lain:

1. REBLOG
Banyak banget postingan orang yang keren-keren tapi karena copy-paste itu tidak baik yah (:p) dan juga repot, jadi reblog aja! Huahahahaha. Cuma di tumblr yang meski gak mood nulis tapi tetap bisa ngeblog *evillaugh*

2. FANATISME
Selama ngeblog di Blogspot ini, belum pernah aku nemu orang yang bilang, "Aku cinta Blogspot!". Heuheu. Tapi di Tumblr? Beuuuuh. Sering! Terutama anak-anak sekolah tuh ya, waktunya belajar malah tumblr-an. Tempat curhat dan nge-galau? Tumblr!

Judulnya sih "Studying". Padahal.. "Tumblring" ;)

baca: "Tempat gue curcol"

3. GIF
Pertama kali saya tahu tentang format GIF itu ya di Tumblr ini. Gambar bergerak. Bukan video ya. Lebih seperti beberapa foto yang muncul bergantian jadi tampak bergerak.
Eh, tapi ada juga deng yang kayak video tapi super pendek sekali. Mungkin 2-3 detik yang diputar berulang-ulang.

4. KESAMAAN MINAT
Saya pernah baca sebuah postingan yang membuat saya heran. Postingan itu kira-kira isinya begini: "Sebagai pengguna Tumblr, kamu pasti menyukai setidaknya salah satu dari hal-hal berikut ini: Harry Potter, Glee, Disney, dll, dsb, dkk.. sampai 20 nomor kalau ga salah. Dan ga ada Twilight Saga. hihihihi. Yang bikin takjub, kok bisa ya dia menyimpulkan begitu? Tapi kayaknya bener sih. Saya misalnya, pengguna Tumblr yang suka Harry Potter :D

5. CONTENT
Sebagian besar blogs yang saya ikuti di Tumblr berbentuk foto. Bahkan meskipun isinya cuma kata-kata pun, tetap saja formatnya jpg. Gampang dibaca, ga bikin mata capek, dan bener-bener deh, kalau galau, galau parah. Kalau manis, maniiiiiiis banget. Super cute and super sweet. Kalau kocak, bisa bikin saya ngakak guling-guling.






Super sweet

postingan galau


Sekarang saya nge-follow 61 blog dan punya 12 followers. Banyak ngikutin blog spesial fans Harry Potter nih. Kenyang deh saya lihat all about Harry Potter. Heuheu.
Begitulah.
Sebenarnya sih ada lagi yang bisa diceritain. Tapi kepanjangan ah. Sekian dulu ya.

*kembali mantengin dashboard Tumblr*

Jumat, 10 Juni 2011

My Twitter

Sebenarnya saya tidak suka Twitter. Soalnya saya suka ga peduli sama omongan orang. Apalagi 90% yang mereka omongin itu ga ada hubungannya sama saya dan ga ada manfaatnya juga untuk saya. Tapi saya pernah baca, bahwa connect itu penting. Jadi yah.. saya lakukan saja. Lalu kita lihat apa yang terjadi *halah.

Yang baru-baru ini terjadi adalah..
Saya ikutan kuis #DISNEYGIVEAWAYS yang diadain @CINEMAGSNEWS. Kuisnya gampang, cuma nyebutin karakter kartun/animasi Disney favorit beserta alasannya. Jawabannya harus kreatif, unik, dan lucu.
Dan...
Beneran ga nyangka, saya termasuk dalam empat pemenangnya!
HORE! \^_^/

Saya mengirim dua jawaban waktu itu.
"Cinderella : Karena saya selalu tidur jam 12 malam teng!"
"Princess Aurora : Cukup dengan tidur saja, dia dapat pangeran :p"

Cinderela
Saya pernah dijuluki Cinderella pas jaman-jaman ospek jurusan.
Gara-gara pas sedang ngerjain tugas kelompok semalaman, saya bilang ke teman-teman, "Aku ngerjainnya sampai jam 12 aja ya,"
Mereka pada kaget, "Kenaaappaaaa..??"
Saya jawab dengan kalem, "Karena aku harus tidur.."
dan teman-temanku pun langsung gubraaaks. Hihihi..

Princess Aurora
Sebenarnya ini princess Disney favorit saya. Tumblr saya namanya Aurora Imagination (www.aurora-story.tumblr.com). Foto profile saya di tumblr itu juga Aurora.


Kenapa saya suka Aurora? Pertama menurut saya dia princess paling cantik.
Kedua.. ya itu.
Saya iri karena dia cuma tidur doang, terus dibangunin dengan ciuman pangeran tampan. Gimana ga bikin sirik? *lol
Sungguh cita-cita saya adalah menjadi putri Aurora *ngimpi.com


Saya belum tahu hadiahnya dari Cinemags apa. Denger2 sih DVD film .
Entahlah. Kita lihat saja apa yang terjadi *kalimat ini, lagi!*

Anyway, selain ikutan kuis, saya juga ikutan @writingsession. Tiap dua hari sekali nulis bareng jam 9-11 malem dengan tema yang ditentukan. Lumayan banget melatih kreatifitas, kecepatan berpikir dan kecepatan menulis. Tapi saya masih merasa kurang dalam pengembangan cerita. Harus out of the box dan ada twist soalnya. Belum mahir >.<
But it's okay. Alah bisa karena biasa. Amin.

Hari ini saya bolos writingsession. Tapi saya ganti dengan nulis di blog ini. Yang penting tetap nulis lah ya.

Demikianlah kabar ga penting saya tentang Twitter.
Kalau ada yang mau memfollow saya, silahkan menuju @sintamilia.

See ya! :)





Senin, 16 Mei 2011

Farewell (Part 1): Jatinangor

Malam itu aku ke Jatinangor.

Tujuan utamanya siy, ngembaliin majalah & pensil warna Alvi. Tapi sebelumnya aku mengundang dua sahabatku Indri & DG (baca: Diji) untuk makan malam bareng.

Mereka agak heran, tumben banget aku ngajak dinner bareng. Tapi mereka tetap hadir dan mendengarkan ‘pengumuman’ku sesaat setelah kami duduk di sebuah tempat makan di dekat Pangdam, sambil menunggu pesanan datang.

“Jadi, maksud saya mengundang saudara-saudara datang kemari…”

“… adalah karena..”

“.. lusa aku akan ke Batam.”

Indri speechless. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca tapi ia cepat menguasai diri. Sementara DG hanya tersenyum pahit (tsah, bahasanya!). Ya iyalah, si DG kan cowok, masak mau berkaca-kaca? :p

Setelah pengumuman (agak) shocking pink itu, kami makan & mengobrol seperti biasa.

Indri paling pertama menghabiskan makanannya dan minta izin ke Jatos. Pikiran pertama yang terlintas di benakku adalah, ni anak pasti mau ngebeliin sesuatu deh buat aku *geer*.

“Indri mau beli shampo,” ucapnya. Aku & DG heran.

“Jauh-jauh amat beli shampo ke Jatos,” sahut DG. “Tuh di warung depan juga ada..”

“Iya ya? Tapi di Jatos aja shamponya suka ga lengkap, apalagi di warung,” Indri ngeles.

Begitu Indri pulang dari Jatos, terbukti benar dugaanku. Ternyata dia ke Jatos ngebeliin aku bros kupu-kupu. Cantik sekali. Jadi ngerasa agak bersalah karena ga ngasih apa-apa buat Indri..

Selesai makan, aku memutuskan untuk langsung ke kosan Alvi. DG pengen ikut. Indri juga. Waa.. aku terharu. Mereka bersedia menemani aku jalan kaki ke kosan Alvi padahal kosan dia jaaaaauuuuuhhh pisan! Terpencil, lah.

Di tengah perjalanan, kami melewati minimarket tempat DG bekerja. Di depan minimarket itu ada gerobak penjual jus buah yoghurt. Surprisingly, ternyata jus yoghurt itu usaha milik DG! Pantesan aja tadi sebelum makan dia promosi, “Cobain deh ada jus yoghurt, harganya Cuma 6000”.

Lebih surprise lagi, ternyata usaha jus yoghurt yang saat itu baru berumur dua hari adalah usaha berdua bareng someone specialnya, Nisa (sahabatku juga, di Jakarta). OMIGOT OMIGOT OMIGOT! Isn’t it so sweet? Menurut aku punya usaha bareng pasangan tuh romantis. So sweet so sweet so sweet… Mupeng.. >.<

Akhirnya aku dan Indri pun membeli jus yoghurt itu. Rasanya lumayan.

Via sms, Alvi bilang dia akan keluar kosan. DG tampak kecewa karena dia sebenarnya tetap ingin jalan kaki sampai kosan Alvi. Dia lagi pengen jalan-jalan. Tapi akhirnya kami memutuskan menunggu Alvi saja di sana, bertiga nongkrong-nongkrong sambil minum jus dan menemani si penjual (karyawannya DG) melayani pembeli. Heuheu.

Lama kemudian, Alvi datang naik motor. Setelah aku menyerahkan semua barang-barangnya, dia minta traktir es krim. Gubraaaaak..! Ni anak ga segan-segan banget deh kalo request sesuatu. Aku siy mengiyakan aja, secara kapan lagi aku bisa traktir dia? Lagipula dia pernah ngebeliin aku es krim pas aku ultah J

Dia minta dibeliin es krim di Jatos, atau di kedai Indra dekat Griya. Indri pamit pulang ke kosan. Aku udah siap naik motor Alvi ketika aku tanya DG, “DG abis ini mau kemana?”

Tebak apa jawabnya?

“Ga tau”.

Jiaaaaaahh, ni anak labil amat yak? Hahahahaha..

Aku ceritakanlah pada Alvi bahwa si DG ini belum ingin berpisah denganku (bohong) dan masih ingin jalan-jalan (beneran). Alvi maklum. Ia lalu menitipkan motornya di warnet Bunga Mas dan mengajak DG ikut kami beli es krim. Ckckckckck.

Dan.. berjalan kakilah kami (lagi) dari gerbang Unpad ke Jatos. Jatos udah mau tutup dan yang jual es krim.. pastinya udah tutup duluan. Haha. Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Kedai Indra dan beli seporsi es krim goreng untuk Alvi saja :D

Ketika aku bilang aku akan ke Batam, respon Alvi datar aja (emang lo ngarep responnya apa Sin?). Baguslah. Coz kalau aku melihat orang yang berat hati berpisah denganku, kayak di DG ini *tetep geer, lol*, aku pun jadi semakin berat hati.

Eniwei, beneran loh aku sampe mengusir DG pulang.

Abis dari Kedai Indra, kami jalan kaki lagi sampai gerbang Unpad. Aku & Alvi menuju parkiran motor. Si DG masih ngekor! Akhirnya aku bilang, “DG pulang sana!” sahutku sambil nunjuk angkot.

“Wah, diusir nih?” protesnya.

Apa boleh buat, DG. Sudah malam, waktunya pulang.. :D

Sampai jumpa lagi DG, Indri, Alvi…

Senin, 07 Maret 2011

‘Membakar’ Lab Kimia

(postingan ini ditulis beberapa hari lalu. Baru bisa publish sekarang. Heuheu)

Tadi liat serial ABG ‘Arti Sahabat’, dan ada adegan dimana dua orang cewek bertengkar pas praktek di lab kimia, terus salah satunya gebrak meja sampai cairan kimianya tumpah dan membakar tu meja. Mereka berdua pun akhirnya dihukum. Hihihi..

Aku lupa pernah nulis ini di blog atau belum. Kalaupun pernah, gapapa lah ya diceritain lagi. Aku pernah punya pengalaman yang mirip sama adegan itu.

Dulu, jaman SMA, kami lagi praktek pelajaran kimia. Guru sedang tidak berada di dalam ruangan. Murid-murid yang rajin, meneruskan belajar tanpa pengawasan guru. Murid-murid lain yang juga rajin (olahraga) bermain tenis meja. Main tenis meja di Lab Kimia! Yak, kalian tidak salah baca. Heuheu.

Aku salah satu saksi matanya. Seorang temanku sedang menyalakan spiritus. Itu loh, cairan berwarna biru yang fungsinya seperti bahan bakar. Biasa digunakan kalau praktek kimianya perlu api alias ada adegan bakar-bakaran.

Aku agak lupa adegan persisnya gimana, yang pasti dia gak sengaja membuat spiritus itu menetes-netes dari botolnya ke atas meja, lalu menyambar api, daaaaaaaann.. jreng-jreng.. kebakaran pastinya.

Pada panik dong semuanya. Tapi cowok-cowok yang main tenis meja dengan tenang ngambil kain, dibasahin, dan ditutuplah itu area api. Padam seketika. Seolah tak terjadi apa-apa, cowok-cowok itu kembali main tenis meja. Yang lain pun melanjutkan praktek. Yang numpahin spiritus sibuk melenyapkan barang bukti kebakaran. Pas guru datang, jejak-jejak kebakaran sudah hilang tak berbekas. Beda dengan sinetron itu, di sini ga ada yang dihukum. Gak ketahuan guru soalnya. Huahahahahaha…

Oh, how I miss that high school moment..


*kembali nonton ‘Arti Sahabat’ sambil bernostalgia masa-masa SMA*

Sabtu, 12 Februari 2011

Angkot

Malam telah larut.
Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumahku di Dipati Ukur.
Dari Dago Plaza, aku naik angkot Kalapa-Dago ke arah Dago.
Aku duduk di samping supir.

Angkot berhenti saat lampu merah di Simpang Dago, pak supir bertanya padaku,
"Mau ke Dago Atas neng?"
"..."
Aku segera tersadar.

"Di sini pak,"
"Hah?"
"Saya turun di sini. Saya mau ke DU," Aku membuka tas.
"Untung saya ingetin. Ini udah di Simpang Dago,"
"Iya, makasih pak," ucapku sambil mengaduk tas, mencari dompet.
"Neng ngelamun sih. Mikirin pacarnya ya?"
"...."
Aku membayar angkot, lalu turun dan menyeberang jalan.
Saat berjalan aku berpikir sambil sedikit menahan malu.

Ah, apakah yang tadi memenuhi pikiranku sehingga aku seperti tidak sadar sedang dimana?
Memikirkan apa?
Memikirkan siapa?
Damn, i can't remember what i was thinking about!

"Neng ngelamun sih. Mikirin pacarnya ya?"

Ah, aku ingat sekarang.
Ya, aku memikirkan pacarku.
Ah tidak, lebih tepatnya, mantan pacarku,
yang baru saja memutuskanku tadi,
di Dago Plaza,
sebelum naik angkot.