Minggu, 12 Februari 2017
Tentang Harddisk yang Hilang Bersama Semua Kenangan di Dalamnya
Saya menghela nafas.
Pasti nyesek memang rasanya.
Saya juga pernah mengalami beberapa peristiwa kehilangan rekaman foto dan video.
Minggu, 03 April 2016
Kisah Gagal Belanja Online
Baca : 7 Kisah Nyata Sukses Bisnis Tanpa Modal
Jadi kali ini saya mau cerita kisah gagal saya belanja online.
Kamis, 07 Januari 2016
Uttaran, Mendefinisikan Kembali Makna Takdir
Sebenarnya buat saya, Uttaran itu ga bagus-bagus amat. Tapi semenjak episode pernikahan Tapasya dan Veer yang fantastik bombastik warbiayasak super duper dramatis dan MENEGANGKAN, jadilah saya nonton terus kelanjutannya. Saat ini sih Uttaran tetap saya nilai biasa saja. Konflik puncaknya udah lewat soalnya. Heuheu..
Kenapa saya tumben-tumbenan bahas acara TV yang ga bagus-bagus amat ini? *Uttaran lovers, peace!* Karena ada adegan menarik yang membuat saya berpikir,
Senin, 29 Juni 2015
Kisah Tiket Gratis yang Berakhir Dramatis
![]() |
| Alhamdulillah ^^ Sumber: Facebook Traveloka |
![]() |
| Jualan es buah dan pisang ijo, dengan modal dari penjualan tiket. Alhamdulillah menghasilkan... |
![]() |
| Di depan masjid Baiturrahman, Nanggroe Aceh Darussalam |
![]() |
Apa kita terbang pakai balon gas aja, Yang?
|
Kamis, 25 Juni 2015
Tentang Milikmu dan Bukan Milikmu
![]() |
| Sumber: Status Facebook Fikry Fatullah |
Minggu, 26 April 2015
#BeraniLebih Tegar Menghadapi Kegagalan
Sabtu, 21 Maret 2015
How I Met Your Father
![]() |
| Di Zoe Corner bersama Kakang |
Anyway, Zoe Corner ini semacam library cafe. Ada ribuan novel, majalah, dan komik yang dapat disewa. Para pengunjung juga bisa menikmati makanan dan minuman ala cafe. Perpaduan itu membuat tempat ini jadi salah satu tempat favorit anak muda
“Kakang, I have a story. This is how I met your father. Here.”
Minggu, 02 November 2014
Welcome To The World, Awan ;)
Alhamdulillah wa syukurillah..
Ibu saya sebenarnya berharap persalinan saya berlangsung cepat, kalau bisa sebelum pesawatnya take off dari Batam, cucunya udah brojol biar tenang. Tapi kayaknya sang cucu pengen keluar kalau neneknya udah nyampe klinik. Hihihi..
Bagi saya, proses yang memakan waktu seharian itu udah Alhamdulillah banget. Pembukaan terus bertambah seiring berjalannya waktu, gak harus berhari-hari, gak perlu induksi apalagi operasi caesar. Cukup dibantu bidan.
Dulu saya pikir, kalau melahirkan itu saya bakal jerit-jerit dan jambak-jambak rambut suami saking sakitnya. Ternyata enggak. Haha.. Yang penting banyak doa, atur nafas, sabar, dan fokus *tsaah :))
Mengalami sendiri rasanya melahirkan membuat saya sekarang menganggap bahwa semua ibu itu keren dan hebat banget dah!
Rabu, 24 Agustus 2011
Tumblring!



Jumat, 10 Juni 2011
My Twitter
Senin, 16 Mei 2011
Farewell (Part 1): Jatinangor
Malam itu aku ke Jatinangor.
Tujuan utamanya siy, ngembaliin majalah & pensil warna Alvi. Tapi sebelumnya aku mengundang dua sahabatku Indri & DG (baca: Diji) untuk makan malam bareng.
Mereka agak heran, tumben banget aku ngajak dinner bareng. Tapi mereka tetap hadir dan mendengarkan ‘pengumuman’ku sesaat setelah kami duduk di sebuah tempat makan di dekat Pangdam, sambil menunggu pesanan datang.
“Jadi, maksud saya mengundang saudara-saudara datang kemari…”
“… adalah karena..”
“.. lusa aku akan ke Batam.”
Indri speechless. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca tapi ia cepat menguasai diri. Sementara DG hanya tersenyum pahit (tsah, bahasanya!). Ya iyalah, si DG kan cowok, masak mau berkaca-kaca? :p
Setelah pengumuman (agak) shocking pink itu, kami makan & mengobrol seperti biasa.
Indri paling pertama menghabiskan makanannya dan minta izin ke Jatos. Pikiran pertama yang terlintas di benakku adalah, ni anak pasti mau ngebeliin sesuatu deh buat aku *geer*.
“Indri mau beli shampo,” ucapnya. Aku & DG heran.
“Jauh-jauh amat beli shampo ke Jatos,” sahut DG. “Tuh di warung depan juga ada..”
“Iya ya? Tapi di Jatos aja shamponya suka ga lengkap, apalagi di warung,” Indri ngeles.
Begitu Indri pulang dari Jatos, terbukti benar dugaanku. Ternyata dia ke Jatos ngebeliin aku bros kupu-kupu. Cantik sekali. Jadi ngerasa agak bersalah karena ga ngasih apa-apa buat Indri..
Selesai makan, aku memutuskan untuk langsung ke kosan Alvi. DG pengen ikut. Indri juga. Waa.. aku terharu. Mereka bersedia menemani aku jalan kaki ke kosan Alvi padahal kosan dia jaaaaauuuuuhhh pisan! Terpencil, lah.
Di tengah perjalanan, kami melewati minimarket tempat DG bekerja. Di depan minimarket itu ada gerobak penjual jus buah yoghurt. Surprisingly, ternyata jus yoghurt itu usaha milik DG! Pantesan aja tadi sebelum makan dia promosi, “Cobain deh ada jus yoghurt, harganya Cuma 6000”.
Lebih surprise lagi, ternyata usaha jus yoghurt yang saat itu baru berumur dua hari adalah usaha berdua bareng someone specialnya, Nisa (sahabatku juga, di Jakarta). OMIGOT OMIGOT OMIGOT! Isn’t it so sweet? Menurut aku punya usaha bareng pasangan tuh romantis. So sweet so sweet so sweet… Mupeng.. >.<
Akhirnya aku dan Indri pun membeli jus yoghurt itu. Rasanya lumayan.
Via sms, Alvi bilang dia akan keluar kosan. DG tampak kecewa karena dia sebenarnya tetap ingin jalan kaki sampai kosan Alvi. Dia lagi pengen jalan-jalan. Tapi akhirnya kami memutuskan menunggu Alvi saja di sana, bertiga nongkrong-nongkrong sambil minum jus dan menemani si penjual (karyawannya DG) melayani pembeli. Heuheu.
Lama kemudian, Alvi datang naik motor. Setelah aku menyerahkan semua barang-barangnya, dia minta traktir es krim. Gubraaaaak..! Ni anak ga segan-segan banget deh kalo request sesuatu. Aku siy mengiyakan aja, secara kapan lagi aku bisa traktir dia? Lagipula dia pernah ngebeliin aku es krim pas aku ultah J
Dia minta dibeliin es krim di Jatos, atau di kedai Indra dekat Griya. Indri pamit pulang ke kosan. Aku udah siap naik motor Alvi ketika aku tanya DG, “DG abis ini mau kemana?”
Tebak apa jawabnya?
“Ga tau”.
Jiaaaaaahh, ni anak labil amat yak? Hahahahaha..
Aku ceritakanlah pada Alvi bahwa si DG ini belum ingin berpisah denganku (bohong) dan masih ingin jalan-jalan (beneran). Alvi maklum. Ia lalu menitipkan motornya di warnet Bunga Mas dan mengajak DG ikut kami beli es krim. Ckckckckck.
Dan.. berjalan kakilah kami (lagi) dari gerbang Unpad ke Jatos. Jatos udah mau tutup dan yang jual es krim.. pastinya udah tutup duluan. Haha. Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Kedai Indra dan beli seporsi es krim goreng untuk Alvi saja :D
Ketika aku bilang aku akan ke Batam, respon Alvi datar aja (emang lo ngarep responnya apa Sin?). Baguslah. Coz kalau aku melihat orang yang berat hati berpisah denganku, kayak di DG ini *tetep geer, lol*, aku pun jadi semakin berat hati.
Eniwei, beneran loh aku sampe mengusir DG pulang.
Abis dari Kedai Indra, kami jalan kaki lagi sampai gerbang Unpad. Aku & Alvi menuju parkiran motor. Si DG masih ngekor! Akhirnya aku bilang, “DG pulang sana!” sahutku sambil nunjuk angkot.
“Wah, diusir nih?” protesnya.
Apa boleh buat, DG. Sudah malam, waktunya pulang.. :D
Sampai jumpa lagi DG, Indri, Alvi…
Senin, 07 Maret 2011
‘Membakar’ Lab Kimia
Tadi liat serial ABG ‘Arti Sahabat’, dan ada adegan dimana dua orang cewek bertengkar pas praktek di lab kimia, terus salah satunya gebrak meja sampai cairan kimianya tumpah dan membakar tu meja. Mereka berdua pun akhirnya dihukum. Hihihi..
Aku lupa pernah nulis ini di blog atau belum. Kalaupun pernah, gapapa lah ya diceritain lagi. Aku pernah punya pengalaman yang mirip sama adegan itu.
Dulu, jaman SMA, kami lagi praktek pelajaran kimia. Guru sedang tidak berada di dalam ruangan. Murid-murid yang rajin, meneruskan belajar tanpa pengawasan guru. Murid-murid lain yang juga rajin (olahraga) bermain tenis meja. Main tenis meja di Lab Kimia! Yak, kalian tidak salah baca. Heuheu.
Aku salah satu saksi matanya. Seorang temanku sedang menyalakan spiritus. Itu loh, cairan berwarna biru yang fungsinya seperti bahan bakar. Biasa digunakan kalau praktek kimianya perlu api alias ada adegan bakar-bakaran.
Aku agak lupa adegan persisnya gimana, yang pasti dia gak sengaja membuat spiritus itu menetes-netes dari botolnya ke atas meja, lalu menyambar api, daaaaaaaann.. jreng-jreng.. kebakaran pastinya.
Pada panik dong semuanya. Tapi cowok-cowok yang main tenis meja dengan tenang ngambil kain, dibasahin, dan ditutuplah itu area api. Padam seketika. Seolah tak terjadi apa-apa, cowok-cowok itu kembali main tenis meja. Yang lain pun melanjutkan praktek. Yang numpahin spiritus sibuk melenyapkan barang bukti kebakaran. Pas guru datang, jejak-jejak kebakaran sudah hilang tak berbekas. Beda dengan sinetron itu, di sini ga ada yang dihukum. Gak ketahuan guru soalnya. Huahahahahaha…
Oh, how I miss that high school moment..
*kembali nonton ‘Arti Sahabat’ sambil bernostalgia masa-masa SMA*
Sabtu, 12 Februari 2011
Angkot
Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumahku di Dipati Ukur.
Dari Dago Plaza, aku naik angkot Kalapa-Dago ke arah Dago.
Aku duduk di samping supir.
Angkot berhenti saat lampu merah di Simpang Dago, pak supir bertanya padaku,
"Mau ke Dago Atas neng?"
"..."
Aku segera tersadar.
"Di sini pak,"
"Hah?"
"Saya turun di sini. Saya mau ke DU," Aku membuka tas.
"Untung saya ingetin. Ini udah di Simpang Dago,"
"Iya, makasih pak," ucapku sambil mengaduk tas, mencari dompet.
"Neng ngelamun sih. Mikirin pacarnya ya?"
"...."
Aku membayar angkot, lalu turun dan menyeberang jalan.
Saat berjalan aku berpikir sambil sedikit menahan malu.
Ah, apakah yang tadi memenuhi pikiranku sehingga aku seperti tidak sadar sedang dimana?
Memikirkan apa?
Memikirkan siapa?
Damn, i can't remember what i was thinking about!
"Neng ngelamun sih. Mikirin pacarnya ya?"
Ah, aku ingat sekarang.
Ya, aku memikirkan pacarku.
Ah tidak, lebih tepatnya, mantan pacarku,
yang baru saja memutuskanku tadi,
di Dago Plaza,
sebelum naik angkot.













