Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Agustus 2016

Viral Minggu Ini: Kista yang Menyerang Penganut Hidup Sehat

Beberapa hari terakhir ada yang viral dalam timeline FB saya, yaitu sebuah status dari seseorang yang bercerita tentang sahabatnya, yang mana sahabatnya ini harus diangkat rahimnya karena terkena kista.


Rabu, 10 Februari 2016

Hijab Kita Halal Tanpa Sertifikasi Halal

Sekitar 2 hari yang lalu, trending topic dalam timeline Facebook saya adalah soal Hijab Halal Z. Komentar pertama saya adalah, wuiiih Z dapat banget efek viralnya!

Saya perhatikan, banyak yang kontra. Saya yakin yang kontra adalah non pengguna produk Z. Mereka yang menuding bahwa dengan Z mengklaim diri halal, berarti menuduh non user Z itu hijabnya haram. Ada yang berpikiran seperti ini juga, Mak?

Sabtu, 18 Juli 2015

Refleksi Keberagaman dalam Film Mencari Hilal

Sumber : Bintang.com


Setiap tahun, umat Islam di Indonesia menentukan awal Ramadhan dan awal Syawal salah satunya adalah dengan cara melihat hilal (bulan sabit pertama yang menandakan awal bulan dalam kalender hijriah). Pemerintah sudah rutin melakukan hal ini. Namun bagi Mahmud (Deddy Sutomo), ia ingin melihat hilal dengan mata kepalanya sendiri. Misi ini begitu penting hingga ia berkata pada anak perempuannya, Halida (Erythrina Baskoro),
“Kalau nanti Bapak sampai meninggal sebelum melihat hilal, Bapak nggak ridho.”
Halida pun dengan berat hati melepaskan bapaknya pergi, dan memerintahkan adik laki-lakinya, Heli (Oka Antara) untuk menemani sang Bapak. Heli yang sering bertentangan dengan Bapak sempat menolak. Namun demi mendapatkan paspor untuk melawan kerusakan lingkungan di Nikaragua, Heli menurut. Hanya Halida yang bisa membantunya mendapatkan paspor itu.

[Warning: Ulasan berikut berisi spoiler]

Perjalanan mencari hilal dimulai. Perjalanan yang penuh hambatan mulai dari nama bukit tujuan yang berubah, bentuk fisik bukit yang nyaris lenyap karena eksploitasi, hingga pencarian lokasi lain yang juga tak mudah.

Selama perjalanan, mereka berdua mengalami beberapa peristiwa. Misalnya saat ormas Islam yang membubarkan ibadah umat Kristen. Untunglah konflik ini berakhir damai setelah Heli mengumpulkan warga untuk berdialog. Mereka juga melewati sebuah kampung dimana warganya mempraktekkan budaya yang Mahmud sebut bid’ah dan dengan tegas Mahmud ceramahi dua orang warganya. Heli memprotes sikap blak-blakan sang Bapak dan perlawanan Heli membuat Bapak berang hingga mengusir Heli.

Bagaimanakah akhirnya? Apakah Bapak berhasil melihat Hilal? Lalu bagaimana dengan Heli?
Kalau penasaran, tonton saja filmnya. Saya suka endingnya :)

Film ini menggambarkan besarnya kesenjangan antara Bapak sebagai generasi tua yang agamis-konservatif dengan Heli sebagai generasi muda yang apatis terhadap agamanya tapi menganggap penting kerukunan antar umat beragama. Tidak diceritakan detail mengapa atau bagaimana gap ini bisa terjadi di antara keduanya.  

Sulit bagi saya berpihak pada salah satu karakter. Saat Pak Mahmud berada dalam perjalanan di bus dan ingin bus berhenti sejenak agar bisa shalat, saya berpihak padanya. Namun saat Heli mengkritik gaya dakwah sang Bapak, saya berpihak pada Heli. Saya mah gitu orangnya. Labil.

Satu hal yang paling saya suka dari cerita film ini adalah, bahwa konflik sebesar apapun (termasuk yang menyangkut dengan Tuhan) tidak menghilangkan rasa hormat seorang anak pada Ayahnya, tidak menjadikan seorang Ayah benci pada anaknya.

Nonton film ini bikin saya inget Papa :’)

Berminat menonton? Film ini mulai diputar di bioskop tanggal 15 Juli 2015. 

Berikut trailernya:



Selamat menonton ^^

Kamis, 25 Juni 2015

Tentang Milikmu dan Bukan Milikmu

Sumber: Status Facebook Fikry Fatullah

Beberapa peristiwa berikut terjadi pada orang-orang yang saya kenal.

Teman A mendapatkan proyek pembuatan sebuah aplikasi. Kalau lancar, A akan mendapatkan komisi 1 juta. Baginya, itu uang yang sangat lumayan. Ia yakin akan mendapatkannya. Sayangnya, ternyata aplikasi tersebut agak rumit dan A tidak berhasil menemukan orang yang bisa membuatnya, sampai akhirnya proyek tersebut dibatalkan. Bagi A, uang sejutanya melayang. Ia sangat kecewa.

Teman B sudah berpacaran kira-kira 3-4 tahun. Long Distance Relationship. Cowoknya sudah melamar. Saat persiapan hari H, sang cowok membatalkan pertunangan. Beberapa bulan kemudian, sang cowok menikah dengan perempuan lain. Nyesek!

Teman C hamil. Ia sangat bahagia. Betapa tidak, ia sebenarnya sulit hamil. Haidnya tidak teratur dan sel telurnya kecil-kecil. Dunia yang indah itu berakhir pada minggu ke 24. Tanpa pertanda apapun, mendadak ia tidak merasakan gerakan janin. Saat diperiksa, janinnya dinyatakan meninggal dalam kandungan. Baginya dunia seolah runtuh. Betapa hancur hatinya.

Teman D dianugerahi kehamilan segera setelah menikah. Ia bertamu ke rumah saya mungkin saat kandungannya berusia 1 bulan. Waktu itu belum terlihat hamil. Pertemuan kami berikutnya adalah di rumah sakit, saat saya menjenguk dia yang habis melahirkan secara Caesar. Sebenarnya belum waktunya ia melahirkan, karena usia kehamilannya masih 32 minggu. Tapi janinnya sudah meninggal dalam kandungan karena plasentanya melintir. Bayangkan, 32 minggu! Bayi perempuannya yang cantik tampak sempurna, kecuali detak jantungnya yang tiada.

Saya sempat merasa ”kesal”, karena Allah ternyata bisa juga PHP (Pemberi Harapan Palsu).

Ah, tapi bagaimana mungkin kita menyalahkan Allah? Manusialah yang berharap.
Memang tidak salah untuk kita memiliki harapan. Namun seringkali kita harus ingat bahwa,

Yang ditakdirkan menjadi milikmu akan menjadi milikmu.
Yang ditakdirkan bukan milikmu tidak akan pernah menjadi milikmu.

Teman A ditakdirkan tidak menerima satu juta.
Teman B ditakdirkan tidak berjodoh dengan pacarnya itu.
Teman C dan D ditakdirkan untuk tidak perlu mengasuh anak-anak sulung mereka, karena Allah sudah menempatkan anak-anak mereka dalam syurga.

Bicara memang mudah. Tapi mari kita sama-sama belajar dan berusaha untuk tidak menyesali dan meratapi apa yang belum kita dapat. Belum milik kita. Itu saja alasannya.
Tak perlu juga mengejar berlebihan apa yang ingin kita dapatkan.

Rezekimu akan sampai padamu.








Note:

Kini saya setiap hari membiasakan diri selalu bersyukur untuk kebersamaan saya dengan anak (dan suami). Karena saya tidak akan pernah tahu apakah esok kebersamaan ini  masih menjadi milik kami atau tidak. Kebersamaan dengan keluarga, rezeki juga bukan?

Sabtu, 06 Juni 2015

Tanda Tanya tentang Produk Keuangan Bank Syariah



Saya adalah orang awam dalam dunia perbankan. Termasuk soal perbedaan produk keuangan bank syariah dengan bank konvensional. Sejauh ini hanya 3 poin yang saya tahu tentang perbedaan kedua jenis bank tersebut.


  1. Tabungan pada bank syariah tidak berbunga. Sementara bank konvensional memiliki produk deposito yang berbunga.
  2. Jika ada nasabah yang meminjam uang ke bank untuk mengembangkan bisnisnya, bank konvensional mendapat keuntungan berupa bunga pinjaman. Sementara pada bank syariah, sistemnya bagi hasil.
  3. KPR pada bank konvensional menerapkan system bunga (flat, floating, atau kombinasi), sementara bank syariah tidak. Jika ada nasabah yang berminat membeli rumah dengan KPR syariah, maka bank akan membeli rumah tersebut terlebih dahulu, lalu menjualnya pada nasabah (setelah menambah margin untuk keuntungan bank). Nasabah akan membayar ke bank dengan cicilan yang setara dengan harga jual rumah tersebut tanpa bunga.

Betul atau salah? Kalau salah mohon koreksi ya.. ^^

Mari bahas satu persatu poin tersebut.

Poin pertama, tentang tabungan. Dari beberapa literatur yang saya baca, menabung uang apalagi dalam jangka panjang, akan ‘rugi’. Mengapa? Karena nilai uang semakin menurun karena inflasi. Menabung uang dalam bank syariah menjadi kurang menarik untuk saya. Bukan berarti di bank konvensional lebih menarik.

Bunga deposito biasanya 6% per tahun, sementara inflasi 10%. Jadi tetap saja rugi. Ditambah ada unsur bunga alias riba, jadi rugi kuadrat.

Solusi ideal menurut saya adalah, kumpulkan uang sampai bisa beli emas, lalu beli emas dan simpan. Jadi tabungannya dalam bentuk emas. Insya Allah nilainya terjaga sampai puluhan bahkan ratusan tahun kemudian.

Poin kedua, tentang pinjaman untuk modal bisnis.

Kalau di bank konvensional, sepertinya mereka tidak peduli terhadap peminjam dana apakah nantinya untung atau rugi, yang penting si peminjam membayar uang senilai yang dipinjamkan plus bunga.

Kalau di bank syariah, kan sistemnya bagi hasil ya. Bagi hasil kan kalau untung (alias ada hasilnya). Kalau hasilnya minus alias rugi gimana ya?

Terus mungkinkah bank syariah melibatkan diri dalam bisnis nasabahnya? Minimal sebagai motivator biar bisnisnya untung, atau adakah punishment dari bank jika hasil penjualan pada bisnis sang nasabah tidak sesuai target?

Kalau ada pendampingan bisnis tentu akan sangat baik.

Poin ketiga, tentang Kredit Pemilikan Rumah (KPR)

Kalau di bank syariah, ada sebuah akad dimana bank akan membeli rumah yang diinginkan nasabah, lalu menjualnya dengan harga lebih tinggi pada nasabah tsb. 

Pertanyaan saya, kira-kira bank akan mengambil margin besar tidak ya? Kalau dibandingkan dengan harga KPR di bank konvensional yang cicilannya 20 tahun, lebih mahal mana?

Semoga kalau KPR di bank syariah, harga rumahnya tidak lebih mahal daripada beli lewat bank konvensional. Kalaupun lebih mahal, mahalnya sedikit saja ya #ngarep.  Karena saya sebenarnya berminat ingin KPR dengan bank syariah. Kalau bisa beli rumah murah dan tanpa riba, saya akan bikin pengumuman ke semua orang, “Aku Cinta Keuangan Syariah!”. Hehehe..

Kalau dengar-dengar pengalaman orang, katanya kedua jenis bank tersebut masing-masing ada plus minusnya. Ya sih, saya yakin ‘seburuk-buruknya’ bank konvensional, pasti ada positifnya. Dan sebagus-bagusnya bank syariah, pasti juga ada kekurangannya. Tapi kalau bisa memilih bank syariah atau konvensional, saya pasti pilih bank syariah. Mengapa?

Tentu saja karena ridho Allah adalah yang paling utama :)


Yuk, mencegah diri kita dari bahaya dosa riba dengan menggunakan produk keuangan syariah ;)






Rabu, 13 Mei 2015

Review Buku Catatan Hati yang Cemburu


Sumber: www.tokoasmanadia.com


Judul : Catatan Hati yang Cemburu
Penulis : Asma Nadia, dkk
Penerbit : AsmaNadia Publishing House
Tebal buku: 247 halaman
Cetakan kelima, Februari 2014


                Setelah membaca Catatan Hati Seorang Istri, saya jadi tertarik dengan karya-karya Asma Nadia lainnya, termasuk yang satu ini. Gaya tulisannya sangat khas. Detail dan menyentuh. Bahkan saya sampai menangis.

                Sebenarnya saya bukan tipe orang yang cengeng. Terakhir kali buku yang membuat saya menangis adalah Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya. Siapa sangka Catatan Hati yang Cemburu bisa bikin saya menangis lagi. Cerita yang begitu sedih ini berjudul Perempuan yang Chatting Denganmu (oleh Mita Sari dan Asma Nadia).

Perempuan yang Chatting Denganmu bercerita tentang seorang suami yang kecanduan chatting hingga terjerumus dalam perselingkuhan. Dengan petunjuk Allah, sang istri mengetahui perilaku negatif suaminya. Meskipun suami menyesal dan meminta maaf, namun kejadian tersebut terulang lagi dan lagi hingga sang istri berniat minta cerai. Saya terharu ketika keluarga sang suami membela dan men-support sang istri, dan saya tak bisa membendung air mata saat sang anak memohon pada ibunya untuk tidak bercerai dengan ayahnya, ayah terbaik yang ia punya. Duh, nyesek..

Cerita lain yang saya suka adalah Saat Mas Ingin Menikah Lagi (oleh Nirmala Rustini). Saya suka ceritanya karena inspiratif. Sang suami berencana menikah lagi dengan seorang rekan kerjanya, seorang ibu dua anak yang ditinggal mati suaminya karena kecelakaan. Meskipun niat suaminya terdengar tulus dan bukan karena nafsu, sang istri begitu berat memberi izin bahkan minta cerai jika suaminya beneran menikah lagi. Namun setelah sang istri berkonsultasi dengan seseorang, ia  mendapat nasihat yang baik,

“Mbak Rani harus berpikir panjang dan masak-masak untuk meminta cerai. Bagaimana dengan anak-anak. Jangan mengedepankan ego dalam mengambil keputusan.”
“Mbak Rani harus siap dengan kondisi ini. Mas Sunu kan bukan milik Mbak dan anak-anak. Tapi milik Allah. Jadi pasrahkan saja pada Allah bagaimana jalan dan kehidupannya. Nggak bisa kita yang mengatur. Serahkan semuanya pada Allah.”

Jleb. Memang berat ya jadi istri :/
Untunglah cerita itu happy ending karena sang suami tidak berjodoh dengan si rekan kerjanya. Horee :D

Ada lagi yang saya suka.. ah tapi postingan ini bakal panjang banget nanti. Hehe..

Selain cerita di atas, ada 13 cerita lain, 2 tips tentang cemburu, dan 3 topik berisi komentar-komentar @asmanadians di twitter. Cemburunya  tidak hanya pada WIL (Wanita Idaman Lain) tapi ada juga cemburu  pada ibu mertua, pada hobi suami, pada pekerjaan suami, dll.

Seperti yang tertera di bagian belakang bukunya,
Catatan Hati yang Cemburu bisa menjadi buku wajib para istri dan calon istri atau siapa saja yang ingin mampu menata hati agar tidak cepat emosi karena cemburu, kemudian melakukan hal-hal yang justru menjauhkan sakinah dari keluarga.
Catatan Hati yang Cemburu juga merupakan buku wajib untuk para suami atau calon suami agar piawai menjaga perasaan istri, karena ternyata banyak sumber cemburu yang tidak terpikir oleh sebagian besar pria.

Saya setuju buku ini recommended banget, terutama untuk yang sudah menikah. Karena rasa cemburu terkadang sulit dihindari, namun harus tetap terkendali *tsah.


Cari lagi buku Asma Nadia yang lain aaaah… ^^

Kamis, 27 Februari 2014

Menikahlah Sebelum Mapan


Seorang teman di Facebook membagi sebuah postingan status dari Ust. Adriano Rusfi yang menurut saya cukup anti-mainstream. Kenapa? Lihat saja, di saat banyak orang berpikir untuk memapankan diri sebelum menikah, beliau justru menyarankan untuk menikah sebelum mapan! Sebuah pemikiran yang seringkali tidak populer di antara para orangtua yang ingin menikahkan anaknya (terutama bila anaknya perempuan).

Alasan Ust. Adriano pun lumayan serius, "Agar anak-anak Anda dibesarkan bersama kesulitan-kesulitan Anda."
Saya jadi ingat ketika saya memperkenalkan teman dekat yang belum mapan pada orangtua. Ibu saya awalnya agak keberatan karena tidak ingin saya hidup dengan kesulitan materi, seperti dulu saat Ibu saya menikah dengan Ayah.

Mengapa akhirnya orangtua saya merestui kami menikah? Jawabannya bisa jadi seperti kalimat ketiga Ust. Adriano, bahwa orangtua saya (dan anak-anaknya) telah merasakan ajaibnya kekuasaan Allah.

Sebenarnya ayah saya memiliki gaji yang lebih dari cukup untuk menghidupi anak istri. Namun masalahnya, ayah saya adalah seorang yatim, anak laki-laki pertama yang juga harus membantu menghidupi ibunya dan 5 orang adiknya. Itulah yang membuat kehidupan keluarga kami agak sulit pada awalnya.

Namun ayah saya ikhlas, dan terbukti seiring berjalannya waktu, kehidupan semakin membaik, bahkan ayah saya pernah mendapatkan hadiah perjalanan Haji gratis dari kantornya. Sebuah kesempatan yang secara logika sebenarnya sulit jika mengandalkan diri sendiri karena keluarga kami bisa dibilang tidak memiliki tabungan.

Kami anak-anaknya tumbuh dengan gizi baik, sehat, ceria, terpenuhi berbagai kebutuhan meskipun tidak memiliki harta berlebihan. Sama sekali tidak pernah merasa benar-benar kekurangan. Saya yakin itu karena orangtua kami berusaha untuk selalu bersyukur atas rezeki yang kami terima, dengan harapan Allah akan selalu menambah rezeki seperti yang Ia janjikan.

Kembali ke soal restu. Sejak awal, ayahlah yang lebih memahami perasaan calon suami saya saat itu, karena memang Ayah pernah berada di posisi yang sama 28 tahun yang lalu. Ayah saya yakin, meskipun saat ini belum mapan, selama sang laki-laki selalu berikhtiar dengan sungguh-sungguh, berdoa, solat tepat waktu, banyak bersyukur, bersedekah, dan tawakal, insya Allah kami tidak akan hidup berkekurangan, karena Allah sudah menjamin rezeki kami bahkan sebelum kami lahir. Ayah saya sudah membuktikan bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki, Maha Mencukupi.

Jadi demikianlah. Akhirnya kami menikah, meski belum mapan (dalam artian belum memiliki rumah sendiri dan segala perabotannya).

Namun saat ini kami merasa cukup dengan tempat tinggal kami sekarang (ngekos), bisa makan dengan menu baik, bisa jajan dan jalan-jalan dalam kota. Semoga kami dapat selalu bersyukur dan merasa cukup, dengan terus berikhtiar.

Tidak ada manusia yang ingin mengalami kesulitan dalam hidupnya. Namun kesulitan selalu datang bersama kemudahan, dan dengan "paket" kesulitan+kemudahan yang Allah berikan itulah ia menunjukkan kekuasaan-Nya.

Terimakasih pada Ayah dan Ibu saya (juga Bapak dan Ibu mertua) yang menikah sebelum mapan, insya Allah kami telah paham hidup adalah perjuangan.

Terimakasih pada suami yang berani melamar saya meskipun belum mapan, semoga dapat mengajarkan pada anak-anak kami nantinya, agar mereka pun paham bahwa..

Hidup adalah Perjuangan.













Senin, 30 Mei 2011

Tidak Pantas

Saya baru kena tegur Allah.

KataNya saya terlalu sering memikirkan tentang jodoh.
Padahal Ia sudah mengaturnya.
Jadi seharusnya saya memikirkan-Nya saja.

Ah, malu saya jadinya *blushing*

Ia memang Maha Pencemburu.
Ia ingin kita mencintai-Nya dan memikirkan-Nya di atas segalanya.
Tapi sungguh hanya Dia dan hanya Dia yang layak mendapatkannya.

Memikirkan doi lebih sering dibanding Dia?
Sungguh tidak pantas,
tidak pantas,
tidak pantas.




Selasa, 15 Februari 2011

Kita Menghamba Pada...?

Dapat sms bagus nih dari teman, makanya aku share di sini...

Jika seorang hamba di pagi dan sore hari tidak mempunyai keinginan apapun kecuali Allah SWT semata, maka Allah akan memikul seluruh kebutuhannya.
Tapi jika seorang hamba di pagi dan sore harinya tidak mempunyai keinginan apapun kecuali pada dunia, maka Allah akan membebankan padanya semua yang menjadi keinginannya.
Allah akan meninggalkannya dan menjadikan hatinya sibuk dari ketaatan pada-Nya dengan mengabdi pada manusia sesamanya.

Ketahuilah, setiap orang yang menolak dari menghamba pada Allah, maka ia akan diuji dengan penghambaan pada sesama makhluk, mencintai, dan mengabdinya (Ibnu Qayyim, Al Fawaid)

Selasa, 19 Oktober 2010

Lagi, Tentang yang Terlarang di Luar Nikah

Tidak; aku tidak bermaksud bersikap sok suci.

Tidak; aku, yang belum pernah melakukan itu, tidak akan menganggap diriku lebih baik daripada mereka.

Tidak, aku tidak akan bilang bahwa karena ini aku akan masuk surga, sementara mereka akan masuk neraka.

Seorang perempuan pezina saja diampuni dosanya karena memberi minum anjing yang kehausan, dan ulama yang rajin beribadah bisa saja ditolak masuk surga karena riya yang tak disadarinya.

Tidak; aku tidak bermaksud menghakimi mereka.

Tidak; sebenarnya aku tidak mau peduli. Terserah apa yang ingin mereka lakukan.

Tapi jujur saja, aku MERASAKAN sesuatu (tolong jangan salahkan aku, karena aku tak tahu bagaimana mencegah munculnya perasaan-perasaan ini)


Aku merasa sesak. Malu. Sedih. Kecewa. Khawatir. Takut.

Dan semua yang negatif itu terakumulasi menjadi satu: menyakitkan.


Aku memang naif.

Bahkan mungkin terlalu naif.

Kalau mereka (atau kalian) menertawakanku, tertawa saja. Aku akan ikut tertawa.

Hidupku memang “ga seru”, “ ga asik”, dan “membosankan”.


Aku pun tak sempurna.

Aku pun pernah salah, pernah khilaf.

Tapi setidaknya aku berusaha keras untuk tidak membuat Allah murka,

untuk tidak mencoreng muka orangtua,

untuk tidak memberi contoh buruk bagi adik-adikku dan orang lain,

untuk tidak membuat teman-temanku sedih dan kecewa,

untuk tidak menyerah dikalahkan syaitan laknatullah.


Setiap orang bebas menentukan pilihan,

sekaligus harus bertanggungjawab atas segala resiko yang ditimbulkan karena pilihannya itu.


Satu hal yang aku tahu pasti, dan aku yakini,

Keberkahan akan kita dapatkan jika kita menjalani hidup sesuai aturan-Nya.

Itu saja.






*ditulis dengan menahan rasa sakit,

setelah mendapat “berita buruk” dari seorang teman.

Astaghfirullah..

Astaghfirullah..

Astaghfirullah…


Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semuanya.

Amin.



Kamis, 19 Agustus 2010

10 Ramadhan: Ingin Jadi Ibu Rumah Tangga

Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke-10: Allah memberikan anugerah kepadanya,berupa kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.

Sumber dari sini

-----

Aku membaca sebuah postingan si blog teman, di mana dia bercerita tentang impiannya untuk menjadi wanita karier. Hmm.. menarik. Meskipun impiannya sangat berbeda dengan impianku (emang siapa yang bilang harus sama? :p)

Kalau dia ingin jadi wanita kantoran yang mapan,
aku ingin jadi ibu rumah tangga :)

Pernah ada yang komentar
"ya elah.. itu sih PASTI lah, kita jadi ibu rumah tangga!"
hehe.. ketahuan deh males kerja kantoran. Hihihi..

Tapi bukan berarti aku ga mau kerja sama sekali.
Mau kok.. Mau banget.
Tapi yang kerjanya bisa di rumah.
Jadi pengusaha, misalnya :D

Tapi tetap, kalau ada hal yang paling ingin aku lakukan di masa depan adalah mengurus keluarga. Seperti Mama.

Aku ingin menjadi ibu dari (perhatikan!) 3 orang anak, yang sulung laki-laki, dengan selisih umur 3 tahun dengan 2 adik di bawahnya. Anak tengah laki-laki, anak bungsu perempuan. Keduanya kembar. (Hohohoho.. detailnya berlebihan yee? hehe)

Aku ingin menjadi ibu yang setiap pagi memasak dan memastikan semua anggota keluarga berkumpul dan makan bersama. Seperti Mama, mengajarkan bahwa "sarapan adalah WAJIB", kecuali kalau lagi puasa :D

Aku ingin menjadi ibu yang mempelajari ilmu parenting dengan serius dan mendidik anak-anakku dengan cara terbaik yang bisa aku lakukan.

Aku ingin menjadi ibu yang mengenal dan mengarahkan bakat anak-anaknya dengan menyediakan pendidikan formal dan non-formal yang mendukung minat mereka.

Aku ingin menjadi ibu yang bisa hadir pada kegiatan-kegiatan di sekolah mereka, acara perpisahan, acara pertunjukkan, atau pertandingan olahraga dimana mereka bisa menunjukkan padaku, "Lihat! Aku bisa!"

Aku ingin menjadi ibu yang bisa mengajarkan agama dengan baik, dan menjadikan salat berjamaah sebagai tradisi keluarga.

Aku ingin menjadi ibu yang mendongeng setiap malam sebagai pengantar tidur. Seperti yang dulu sering Papa lakukan untukku dan adik-adik.

Aku ingin menjadi ibu yang menjadi tempat curhat anak-anakku, bahkan hingga mereka remaja dan mendewasa.

Aku ingin menjadi ibu yang mencetak generasi sholeh dan sholehah, cerdas, sukses, dan bahagia.


Ah..
Impianku sederhana ya?
Hanya ingin menjadi ibu yang berdedikasi pada keluarga.
hmm..
tentunya diawali dengan menjadi istri yang baik, dong :D



Bagaimana denganmu? =)

Rabu, 11 Agustus 2010

2 Ramadhan: Doa Berbuka, Mestikah Diganti?

Pesan sponsor:
Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke-2: Allah swt memberi pengampunan kepadanya dan kepada kedua orang tuanya jika keduanya mukmin (orang yang beriman)

-----

Sodara-sodara! Tahu tidak, ternyata doa berbuka puasa yang "Allahumma laka shumtu wa bika amantu.. " itu sumber hadisnya lemah loh!

yang benar itu ini:
Dzahabdh-Dhama-u wab-Talatil-'Uruuqu wa Tsabatal-Ajru Insyaa Allaah
(Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala insyaa Allaah)

Dalilnya ini:


Dari Ibnu 'Umar : Adalah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan :

Dzahabdh-Dhama-u wab-Talatil-'Uruuqu wa Tsabatal-Ajru Insyaa Allaah
(Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala insyaa Allaah)"

(HR. Abu Dawud no. 2357, Nasa'i 1/66, Daruquthni dan ia mengatakan sanad hadits ini hasan, Hakim 1/422, dan Baihaqi 4/239; dan Syaikh Al-Albani menyetujui apa yang dikatakan Ad-Daruquthni).

Sumber: Indonesian Community

Wuaduuuuuh..
trus kenapa selama bertahun-tahun kita diajarinya yang "Allahumma laka shumtu ya..?"
kan susah kalau mesti ganti sekarang..

bagaimana ini?
menurut kalian gimana?

Selasa, 10 Agustus 2010

1 Ramadhan: Teman Adalah Hadiah

Pesan Sponsor:
Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke-1, terlepaslah ia dari dosa-dosanya seperti ketika ia baru dilahirkan oleh ibunya.

-----

Hari ini aku sms-an dengan seorang sahabat lama. Sebut saja Oki (Setiana Dewi. Yuwk. Hehe)
Kami berbicara tentang beberapa topik sampai akhirnya ia bilang ingin reunian.
Tapi ketika aku bilang bahwa salah satu 'peserta reuni' adalah Rifky (Balweel :D)-bukan nama
sebenarnya-, Oki langsung berubah pikiran dan membatalkannya.

Hey hey, what's wrong with Rifky? tanyaku padanya.
Tapi Oki hanya menjawab "Mmm.. nothing..."

Si Oki ini memang sebelumnya pernah juga menghindari teman kami yang lain, sebut saja Jay,
tanpa alasan yang jelas.
Tapi sikapnya terhadap Rifky menjadi menarik bagi aku karena Oki adalah ORANG KESEKIAN yang tampak malas bertemu Rifky!

Aku kemudian teringat beberapa waktu yang lalu, saat aku mendapat 'pujian' karena berteman dengan Rifky. Aku merasa pujian itu lebay karena.. hey, making friend is easy, rite?
Masa' cuma karena temenan doang aku dipuji?

Tapi pembicaraanku dengan Oki membuat aku mendapat sebuah asumsi:
Sepertinya memang tidak semua orang bisa berteman dengan Rifky..


Bagi aku, teman itu seperti hadiah.
Yang namanya hadiah, ya terserah yang ngasih dong?
Kadang-kadang ada hadiah yang menurut kita 'enggak banget'. Tapi kan hadiah gitu loh, pasti diberikan dengan maksud yang baik dari pemberinya.

Begitu juga dengan teman. Aku gak memungkiri ada saja teman yang menyebalkan atau tidak cocok sama aku. Tapi bukan berarti aku langsung 'membuangnya' kan? Hadiah itu seharusnya diterima dengan senang hati. Maka aku berusaha untuk menerima teman-temanku apa adanya.

Si Rifky ini, misalnya. Ia mungkin memiliki beberapa sifat yang bikin orang ingin mencekiknya
(lebay). Tapi aku tahu, sebenarnya dia baik dan tidak bermaksud buruk sama orang lain.

Kasihan amat deh si Rifky..

Aku lalu berpikir,
bagaimana kalau aku di posisi Rifky?
Bagaimana jika ada orang, yang tidak suka padaku, tanpa aku sadari?
Yang menghindariku karena kehadiranku menganggunya?
Pasti sedih banget..

Ah, ya Allah..
Jagalah perilaku hamba agar tetap lurus,
agar tidak menyakiti orang lain..
agar menjadi orang yang selalu ditunggu kehadirannya..
agar menjadi orang yang bermanfaat..

Amin.