Minggu, 21 Agustus 2016
Viral Minggu Ini: Kista yang Menyerang Penganut Hidup Sehat
Rabu, 10 Februari 2016
Hijab Kita Halal Tanpa Sertifikasi Halal
Saya perhatikan, banyak yang kontra. Saya yakin yang kontra adalah non pengguna produk Z. Mereka yang menuding bahwa dengan Z mengklaim diri halal, berarti menuduh non user Z itu hijabnya haram. Ada yang berpikiran seperti ini juga, Mak?
Sabtu, 18 Juli 2015
Refleksi Keberagaman dalam Film Mencari Hilal
![]() |
| Sumber : Bintang.com |
“Kalau nanti Bapak sampai meninggal sebelum melihat hilal, Bapak nggak ridho.”
Kamis, 25 Juni 2015
Tentang Milikmu dan Bukan Milikmu
![]() |
| Sumber: Status Facebook Fikry Fatullah |
Sabtu, 06 Juni 2015
Tanda Tanya tentang Produk Keuangan Bank Syariah
Saya adalah orang awam dalam dunia perbankan. Termasuk soal
perbedaan produk keuangan bank syariah dengan bank konvensional. Sejauh ini hanya 3
poin yang saya tahu tentang perbedaan kedua jenis bank tersebut.- Tabungan pada bank syariah tidak berbunga. Sementara bank konvensional memiliki produk deposito yang berbunga.
- Jika ada nasabah yang meminjam uang ke bank untuk mengembangkan bisnisnya, bank konvensional mendapat keuntungan berupa bunga pinjaman. Sementara pada bank syariah, sistemnya bagi hasil.
- KPR pada bank konvensional menerapkan system bunga (flat, floating, atau kombinasi), sementara bank syariah tidak. Jika ada nasabah yang berminat membeli rumah dengan KPR syariah, maka bank akan membeli rumah tersebut terlebih dahulu, lalu menjualnya pada nasabah (setelah menambah margin untuk keuntungan bank). Nasabah akan membayar ke bank dengan cicilan yang setara dengan harga jual rumah tersebut tanpa bunga.
Rabu, 13 Mei 2015
Review Buku Catatan Hati yang Cemburu
![]() |
| Sumber: www.tokoasmanadia.com |
Kamis, 27 Februari 2014
Menikahlah Sebelum Mapan
Seorang teman di Facebook membagi sebuah postingan status dari Ust. Adriano Rusfi yang menurut saya cukup anti-mainstream. Kenapa? Lihat saja, di saat banyak orang berpikir untuk memapankan diri sebelum menikah, beliau justru menyarankan untuk menikah sebelum mapan! Sebuah pemikiran yang seringkali tidak populer di antara para orangtua yang ingin menikahkan anaknya (terutama bila anaknya perempuan).
Alasan Ust. Adriano pun lumayan serius, "Agar anak-anak Anda dibesarkan bersama kesulitan-kesulitan Anda."
Saya jadi ingat ketika saya memperkenalkan teman dekat yang belum mapan pada orangtua. Ibu saya awalnya agak keberatan karena tidak ingin saya hidup dengan kesulitan materi, seperti dulu saat Ibu saya menikah dengan Ayah.
Mengapa akhirnya orangtua saya merestui kami menikah? Jawabannya bisa jadi seperti kalimat ketiga Ust. Adriano, bahwa orangtua saya (dan anak-anaknya) telah merasakan ajaibnya kekuasaan Allah.
Sebenarnya ayah saya memiliki gaji yang lebih dari cukup untuk menghidupi anak istri. Namun masalahnya, ayah saya adalah seorang yatim, anak laki-laki pertama yang juga harus membantu menghidupi ibunya dan 5 orang adiknya. Itulah yang membuat kehidupan keluarga kami agak sulit pada awalnya.
Namun ayah saya ikhlas, dan terbukti seiring berjalannya waktu, kehidupan semakin membaik, bahkan ayah saya pernah mendapatkan hadiah perjalanan Haji gratis dari kantornya. Sebuah kesempatan yang secara logika sebenarnya sulit jika mengandalkan diri sendiri karena keluarga kami bisa dibilang tidak memiliki tabungan.
Kami anak-anaknya tumbuh dengan gizi baik, sehat, ceria, terpenuhi berbagai kebutuhan meskipun tidak memiliki harta berlebihan. Sama sekali tidak pernah merasa benar-benar kekurangan. Saya yakin itu karena orangtua kami berusaha untuk selalu bersyukur atas rezeki yang kami terima, dengan harapan Allah akan selalu menambah rezeki seperti yang Ia janjikan.
Kembali ke soal restu. Sejak awal, ayahlah yang lebih memahami perasaan calon suami saya saat itu, karena memang Ayah pernah berada di posisi yang sama 28 tahun yang lalu. Ayah saya yakin, meskipun saat ini belum mapan, selama sang laki-laki selalu berikhtiar dengan sungguh-sungguh, berdoa, solat tepat waktu, banyak bersyukur, bersedekah, dan tawakal, insya Allah kami tidak akan hidup berkekurangan, karena Allah sudah menjamin rezeki kami bahkan sebelum kami lahir. Ayah saya sudah membuktikan bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki, Maha Mencukupi.
Jadi demikianlah. Akhirnya kami menikah, meski belum mapan (dalam artian belum memiliki rumah sendiri dan segala perabotannya).
Namun saat ini kami merasa cukup dengan tempat tinggal kami sekarang (ngekos), bisa makan dengan menu baik, bisa jajan dan jalan-jalan dalam kota. Semoga kami dapat selalu bersyukur dan merasa cukup, dengan terus berikhtiar.
Tidak ada manusia yang ingin mengalami kesulitan dalam hidupnya. Namun kesulitan selalu datang bersama kemudahan, dan dengan "paket" kesulitan+kemudahan yang Allah berikan itulah ia menunjukkan kekuasaan-Nya.
Terimakasih pada Ayah dan Ibu saya (juga Bapak dan Ibu mertua) yang menikah sebelum mapan, insya Allah kami telah paham hidup adalah perjuangan.
Terimakasih pada suami yang berani melamar saya meskipun belum mapan, semoga dapat mengajarkan pada anak-anak kami nantinya, agar mereka pun paham bahwa..
Hidup adalah Perjuangan.
Senin, 30 Mei 2011
Tidak Pantas
Selasa, 15 Februari 2011
Kita Menghamba Pada...?
Jika seorang hamba di pagi dan sore hari tidak mempunyai keinginan apapun kecuali Allah SWT semata, maka Allah akan memikul seluruh kebutuhannya.
Tapi jika seorang hamba di pagi dan sore harinya tidak mempunyai keinginan apapun kecuali pada dunia, maka Allah akan membebankan padanya semua yang menjadi keinginannya.
Allah akan meninggalkannya dan menjadikan hatinya sibuk dari ketaatan pada-Nya dengan mengabdi pada manusia sesamanya.
Ketahuilah, setiap orang yang menolak dari menghamba pada Allah, maka ia akan diuji dengan penghambaan pada sesama makhluk, mencintai, dan mengabdinya (Ibnu Qayyim, Al Fawaid)
Selasa, 19 Oktober 2010
Lagi, Tentang yang Terlarang di Luar Nikah
Tidak; aku tidak bermaksud bersikap sok suci.
Tidak; aku, yang belum pernah melakukan itu, tidak akan menganggap diriku lebih baik daripada mereka.
Tidak, aku tidak akan bilang bahwa karena ini aku akan masuk surga, sementara mereka akan masuk neraka.
Seorang perempuan pezina saja diampuni dosanya karena memberi minum anjing yang kehausan, dan ulama yang rajin beribadah bisa saja ditolak masuk surga karena riya yang tak disadarinya.
Tidak; aku tidak bermaksud menghakimi mereka.
Tidak; sebenarnya aku tidak mau peduli. Terserah apa yang ingin mereka lakukan.
Tapi jujur saja, aku MERASAKAN sesuatu (tolong jangan salahkan aku, karena aku tak tahu bagaimana mencegah munculnya perasaan-perasaan ini)
Aku merasa sesak. Malu. Sedih. Kecewa. Khawatir. Takut.
Dan semua yang negatif itu terakumulasi menjadi satu: menyakitkan.
Aku memang naif.
Bahkan mungkin terlalu naif.
Kalau mereka (atau kalian) menertawakanku, tertawa saja. Aku akan ikut tertawa.
Hidupku memang “ga seru”, “ ga asik”, dan “membosankan”.
Aku pun tak sempurna.
Aku pun pernah salah, pernah khilaf.
Tapi setidaknya aku berusaha keras untuk tidak membuat Allah murka,
untuk tidak mencoreng muka orangtua,
untuk tidak memberi contoh buruk bagi adik-adikku dan orang lain,
untuk tidak membuat teman-temanku sedih dan kecewa,
untuk tidak menyerah dikalahkan syaitan laknatullah.
Setiap orang bebas menentukan pilihan,
sekaligus harus bertanggungjawab atas segala resiko yang ditimbulkan karena pilihannya itu.
Satu hal yang aku tahu pasti, dan aku yakini,
Keberkahan akan kita dapatkan jika kita menjalani hidup sesuai aturan-Nya.
Itu saja.
*ditulis dengan menahan rasa sakit,
setelah mendapat “berita buruk” dari seorang teman.
Astaghfirullah..
Astaghfirullah..
Astaghfirullah…
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semuanya.
Amin.
Kamis, 19 Agustus 2010
10 Ramadhan: Ingin Jadi Ibu Rumah Tangga
Sumber dari sini
-----
Aku membaca sebuah postingan si blog teman, di mana dia bercerita tentang impiannya untuk menjadi wanita karier. Hmm.. menarik. Meskipun impiannya sangat berbeda dengan impianku (emang siapa yang bilang harus sama? :p)
Kalau dia ingin jadi wanita kantoran yang mapan,
aku ingin jadi ibu rumah tangga :)
Pernah ada yang komentar
"ya elah.. itu sih PASTI lah, kita jadi ibu rumah tangga!"
hehe.. ketahuan deh males kerja kantoran. Hihihi..
Tapi bukan berarti aku ga mau kerja sama sekali.
Mau kok.. Mau banget.
Tapi yang kerjanya bisa di rumah.
Jadi pengusaha, misalnya :D
Tapi tetap, kalau ada hal yang paling ingin aku lakukan di masa depan adalah mengurus keluarga. Seperti Mama.
Aku ingin menjadi ibu dari (perhatikan!) 3 orang anak, yang sulung laki-laki, dengan selisih umur 3 tahun dengan 2 adik di bawahnya. Anak tengah laki-laki, anak bungsu perempuan. Keduanya kembar. (Hohohoho.. detailnya berlebihan yee? hehe)
Aku ingin menjadi ibu yang setiap pagi memasak dan memastikan semua anggota keluarga berkumpul dan makan bersama. Seperti Mama, mengajarkan bahwa "sarapan adalah WAJIB", kecuali kalau lagi puasa :D
Aku ingin menjadi ibu yang mempelajari ilmu parenting dengan serius dan mendidik anak-anakku dengan cara terbaik yang bisa aku lakukan.
Aku ingin menjadi ibu yang mengenal dan mengarahkan bakat anak-anaknya dengan menyediakan pendidikan formal dan non-formal yang mendukung minat mereka.
Aku ingin menjadi ibu yang bisa hadir pada kegiatan-kegiatan di sekolah mereka, acara perpisahan, acara pertunjukkan, atau pertandingan olahraga dimana mereka bisa menunjukkan padaku, "Lihat! Aku bisa!"
Aku ingin menjadi ibu yang bisa mengajarkan agama dengan baik, dan menjadikan salat berjamaah sebagai tradisi keluarga.
Aku ingin menjadi ibu yang mendongeng setiap malam sebagai pengantar tidur. Seperti yang dulu sering Papa lakukan untukku dan adik-adik.
Aku ingin menjadi ibu yang menjadi tempat curhat anak-anakku, bahkan hingga mereka remaja dan mendewasa.
Aku ingin menjadi ibu yang mencetak generasi sholeh dan sholehah, cerdas, sukses, dan bahagia.
Ah..
Impianku sederhana ya?
Hanya ingin menjadi ibu yang berdedikasi pada keluarga.
hmm..
tentunya diawali dengan menjadi istri yang baik, dong :D
Bagaimana denganmu? =)
Rabu, 11 Agustus 2010
2 Ramadhan: Doa Berbuka, Mestikah Diganti?
Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke-2: Allah swt memberi pengampunan kepadanya dan kepada kedua orang tuanya jika keduanya mukmin (orang yang beriman)
-----
Sodara-sodara! Tahu tidak, ternyata doa berbuka puasa yang "Allahumma laka shumtu wa bika amantu.. " itu sumber hadisnya lemah loh!
yang benar itu ini:
Dzahabdh-Dhama-u wab-Talatil-'Uruuqu wa Tsabatal-Ajru Insyaa Allaah
(Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala insyaa Allaah)
Dalilnya ini:
Dari Ibnu 'Umar : Adalah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan :
(Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala insyaa Allaah)"
Sumber: Indonesian Community
Wuaduuuuuh..
trus kenapa selama bertahun-tahun kita diajarinya yang "Allahumma laka shumtu ya..?"
kan susah kalau mesti ganti sekarang..
bagaimana ini?
menurut kalian gimana?
Selasa, 10 Agustus 2010
1 Ramadhan: Teman Adalah Hadiah
Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke-1, terlepaslah ia dari dosa-dosanya seperti ketika ia baru dilahirkan oleh ibunya.
-----
Hari ini aku sms-an dengan seorang sahabat lama. Sebut saja Oki (Setiana Dewi. Yuwk. Hehe)
Kami berbicara tentang beberapa topik sampai akhirnya ia bilang ingin reunian.
Tapi ketika aku bilang bahwa salah satu 'peserta reuni' adalah Rifky (Balweel :D)-bukan nama
sebenarnya-, Oki langsung berubah pikiran dan membatalkannya.
Hey hey, what's wrong with Rifky? tanyaku padanya.
Tapi Oki hanya menjawab "Mmm.. nothing..."
Si Oki ini memang sebelumnya pernah juga menghindari teman kami yang lain, sebut saja Jay,
tanpa alasan yang jelas.
Tapi sikapnya terhadap Rifky menjadi menarik bagi aku karena Oki adalah ORANG KESEKIAN yang tampak malas bertemu Rifky!
Aku kemudian teringat beberapa waktu yang lalu, saat aku mendapat 'pujian' karena berteman dengan Rifky. Aku merasa pujian itu lebay karena.. hey, making friend is easy, rite?
Masa' cuma karena temenan doang aku dipuji?
Tapi pembicaraanku dengan Oki membuat aku mendapat sebuah asumsi:
Sepertinya memang tidak semua orang bisa berteman dengan Rifky..
Bagi aku, teman itu seperti hadiah.
Yang namanya hadiah, ya terserah yang ngasih dong?
Kadang-kadang ada hadiah yang menurut kita 'enggak banget'. Tapi kan hadiah gitu loh, pasti diberikan dengan maksud yang baik dari pemberinya.
Begitu juga dengan teman. Aku gak memungkiri ada saja teman yang menyebalkan atau tidak cocok sama aku. Tapi bukan berarti aku langsung 'membuangnya' kan? Hadiah itu seharusnya diterima dengan senang hati. Maka aku berusaha untuk menerima teman-temanku apa adanya.
Si Rifky ini, misalnya. Ia mungkin memiliki beberapa sifat yang bikin orang ingin mencekiknya
(lebay). Tapi aku tahu, sebenarnya dia baik dan tidak bermaksud buruk sama orang lain.
Kasihan amat deh si Rifky..
Aku lalu berpikir,
bagaimana kalau aku di posisi Rifky?
Bagaimana jika ada orang, yang tidak suka padaku, tanpa aku sadari?
Yang menghindariku karena kehadiranku menganggunya?
Pasti sedih banget..
Ah, ya Allah..
Jagalah perilaku hamba agar tetap lurus,
agar tidak menyakiti orang lain..
agar menjadi orang yang selalu ditunggu kehadirannya..
agar menjadi orang yang bermanfaat..
Amin.




