Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2016

Happy 3rd Anniversary ^^

Alhamdulillah wa syukurillah..

Hari ini tepat 3 tahun usia pernikahan kami. Dari semua perasaan kayak nano-nano yang saya rasakan selama perkawinan ini, perasaan paling menonjol yang terasa saat ini adalah..

Terimakasih Dear,
untuk kehangatan yang tak pernah pudar,
untuk keromantisan 3 tahun yang masih sama seperti 3 bulan pertama.
#eeeaaaaaa

Ngomong-ngomong tentang keromantisan dan angka 3, tadi malam saya baca di IG @fufuelmart tentang 3 tipe romantis. And you know what, suami tercinta punya ketiga-ketiganya. Syuper syekaleee..

Apakah 3 tipe romantis itu? Ini saya tulis seingat saya ya,,

Romantis Menulis
Ada orang yang lebih mudah mengungkapkan perasaan melalui tulisan. Bisa lewat surat, status FB, SMS, sampai chat di WA.





Romantis Berbicara

Yang namanya perempuan meskipun suka bilang, "Jangan gombal deh!" tapi dalam hati sebenernya suka dan berbunga-bunga tuh. Kata-kata manis doi biasanya sih, "Aku sayang banget sama kamu.." atau "Kamu tuh wanita terbaik di antara semua wanita yang pernah aku kenal. Ga ada yang lebih baik daripada kamu." Ketahuan deh dulunya playboy :3

Baca juga : Beginilah Rasanya Punya Suami Gombal

Romantis Bertindak

Nah menurut tebakan saya nih, kalau seorang cowok susah bicara dan menulis romantis, berarti dia harusnya romantis dalam tindakan. Gak harus ngasih bunga, coklat, atau surprise lain sih. Bagi saya, romantis dalam tindakan itu misalnya ngasih nafkah abis gajian, nganter jemput, bantu jagain anak, bantu ngerjain pekerjaan domestik, bahkan sesepele menepi ke tukang cilok pinggir jalan saat saya lagi pengen cilok. Hahaha.. 

Tapi yang paling romantis dari segala bentuk keromantisan adalah... sholat berjamaah. 
#eeaaaa lagi


Dear suamiku yang paling romantis sedunia,
semoga kita menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah.

Engkau adalah pemimpin,
dalam menjalani rumah tangga ini menuju syurga-Nya.

Semoga Allah memberkahi kita.

Aamiin.. ya Rabb


Selasa, 21 Juni 2016

Mungkin Inilah Mengapa Ditakdirkan Engkau Untukku dan Aku Untukmu

Kau tahu,
aku masih merasa ajaib dengan hadirmu sebagai pasanganku.

Aku masih suka merasa heran, dengan berbagai perasaan yang kadang muncul campur aduk, tapi tetap tak membuatku ingin melepaskan genggaman.

Seringkali saat aku menghadapi kekuranganmu, syaitan membisikkan sesuatu, 
"Seandainya suamimu tak seperti ini, alangkah bahagianya hidupmu."

Saat engkau membuatku jengkel, syaitan kembali menggoda,
"Balaslah dan buatlah suamimu jengkel juga!"

Saat engkau melakukan kesalahan, syaitan memberi saran,
"Beri suamimu hukuman agar dia jera!"

Aku sungguh kesal sekali dengan syaitan itu, kau tahu.

Untunglah logika dan hatiku kompak menghiburku.

Mereka berkata,

"Lihatlah suamimu. Ia sangat memahami semua kekuranganmu dan menerimamu apa adanya."

"Lihatlah suamimu. Kau sering membuatnya jengkel tapi ia selalu sabar dan banyak mengalah."

"Lihatlah suamimu. Sebanyak apapun kau melakukan kesalahan, ia selalu memaafkan."


Terhadap segala kelebihanmu, aku ingin selalu mensyukurinya.
Terhadap segala kekuranganmu, aku tak ingin banyak memikirkannya.
Kuharap begitu juga sikapmu padaku.

Semoga kita selalu ingat untuk selalu menerima satu sama lain,
selalu memaafkan setiap waktu,
selalu bisa melawan bisikan-bisikan jahat itu.

Engkau dengan segala kekurangan
dan aku dengan segala kekurangan,

mungkin karena itu Ia menakdirkan engkau untukku,
dan aku untukmu.

Semoga bersama selalu..


 


Sabtu, 18 Juni 2016

Babymoon ke Candi Cangkuang, Garut

Eh, Sinta babymoon?
Hamil lagi, Sin?

Enggak, heuheu.

Saya cuma ga sengaja lihat foto-foto lebaran tahun 2014 di laptop si adik bungsu. Foto-foto yang lumayan bikin baper karena itu adalah momen yang langka dimana saya, suami, mama, papa, dan ketiga adik saya berkumpul saat lebaran. Kenapa saya bilang langka? Karena kami semua tinggal terpisah. Waktu itu mama papa dan dua adik laki-laki saya di Batam. Adik perempuan saya tinggal di Jakarta. Sementara saya dan suami tinggal di Bandung.

Terus lebarannya di mana?

GARUT

Kenapa bisa di Garut? Karena di sana ada villa, penginapan, dan kolam pemancingan milik kakak sulung mama saya. Kami memanggilnya Uwak. Berhubung saya sudah tidak punya kakek-nenek, Uwak jadi tempat keluarga besar mama saya berkumpul.

Baca : Lokasi Pernikahan: Villa Cipedes, Leles, Garut

Saya - Nurul - Adik - Abang - Papa - Mama - Uwak dan suaminya


Setelah sholat Ied dan foto-foto narsis, saya, suami dan adik-adik main ke sebuah tempat wisata tak jauh dari tempat tinggal Uwak, yaitu Candi Cangkuang.

Candi ini terletak tak jauh dari Alun-Alun Leles. Sekitar 10 menit kalau naik motor atau delman.

Candi Cangkuang terletak di sebuah daratan kecil di tengah danau sehingga untuk menuju ke lokasi candi, kita perlu naik rakit.




Kalau saya baca-baca referensi online tentang Candi Cangkuang di situs Perpustakaan Nasional RI, diduga candi ini berdiri pada abad ke-8 Masehi. Hal ini terlihat dari tingkat kelapukan batuan dan kesederhanaan bentuk yang tidak memiliki relief. Pada pelaksanaan pemugaran candi tahun 1974, hanya ditemukan 40% batuan candi yang asli. Sehingga untuk kekurangannya dibuat dari adukan semen, batu koral, pasir, dan besi.


Tinggi bangunan candi 8,5 m. Di bagian dalam candi, terdapat ruangan kecil berisi Arca Syiwa setinggi 62 cm. Kita hanya bisa melihatnya dari luar karena akses ke dalam ruangan tertutup terali besi.



Tak jauh dari candi ada kampung Pulo yang merupakan pemukiman adat. Pemukiman ini terdiri dari 6 rumah yang masing-masing ditempati 1 kepala keluarga. Jumlah rumah tidak boleh bertambah. Apabila ada anak atau anggota keluarga yang menikah, ia harus meninggalkan kampung dan hanya bisa menempati rumah jika kepala keluarga sebelumnya meninggal dunia. Unik ya?


Entah kapan saya akan ke Garut lagi.

Lebaran tahun ini kami sekeluarga akan berpencar kembali. Mama dan Papa ikut program mudik gratis ke Malang dari kantornya Nurul. Saya akan berlebaran dengan keluarga suami di Sumedang. Mungkin adik-adik saya yang cowok (keduanya sudah lulus SMA) akan ikut Uwak lagi ke Garut. Heuheu..

Uwak selalu terbuka menerima kami di sana. Tapi biasanya kalau weekend, villa dan bungalow Uwak selalu di-booking orang. Selalu penuh. Jadi kalau mau ke Garut pas weekend, kayaknya kami perlu sewa kamar hotel di Garut deh kemudian honeymoon. Booking kamar hotel juga toh gampang banget apalagi kalau via Traveloka. Ada beberapa hotel di Garut yang bisa kita pilih sesuai kebutuhan.

Baca: Pentingnya suami istri kencan setelah punya anak

Buat yang bingung kalau di Garut mau kemana, bolah banget loh mampir ke Candi Cangkuang. Harga tiket masuknya juga murah, ga sampai sepuluh ribu rupiah. Kita bisa wisata sejarah sambil menikmati pemandangan indah (hey, it rhymes!)

Happy holiday ^^












Sabtu, 16 April 2016

Memupuk Cinta pada Pasangan dengan Hadiah

Setuju gak sih kalau salah catu cara memupuk cinta pada pasangan itu adalah dengan memberikan hadiah?
Saya setuju, meskipun jarang ngasih hadiah ke pasangan. Hahahaha.. *jangan ditiru*

Kalau diingat-ingat, saya gak pernah ngasih hadiah ke pasangan meski dia sedang ultah sekalipun. Alasannya sih, ga ada dana :p

Sabtu, 27 Februari 2016

Beginilah Rasanya Punya Suami Gombal



Konon yang namanya perempuan, suka banget digombalin. Iya, meskipun di mulut bilangnya, "Jangan gombal!" tetap aja rasanya terbang kalau orang yang ia sukai melontarkan kata-kata gombal. Betul apa betul? Hihihi..

Suami saya suka ngegombal. Dia sih gak ngaku. Baginya itu bukan gombal, melainkan romantis. Ckckck. Menurutnya, gombal itu membual. Padahal yang dia katakan itu beneran. Gitu deh pembelaannya. Gombal juga gak seh?

Apakah saya beruntung? 

Gak bisa saya pungkiri, sikap romantis dan suka menggombal dia itu adalah sebuah kelebihan yang membuat rasa capek, lelah, dan bete saya jadi lenyap. Tapi pernah juga loh gombal itu menimbulkan rasa tidak nyaman dan perdebatan di antara kami. Jadi selain rasa bahagia, ada rasa-rasa lain yang mungkin tak sesuai bayangan. Misalnya:

1. MALU

Sabtu, 20 Februari 2016

7 Lokasi di Bandung yang Menyimpan Kenangan Romantis

lokasi bandung romantis


OMG.. saya tidak menyangka akan mengenang Bandung se-baper ini. Hiks. Saya pikir setelah bekerja di Bandung dan berjodoh dengan orang yang bekerja di Bandung, saya akan tinggal di Bandung selama-lamanya, jadi ga akan galau mengenang The Unforgettable Bandung saat ini.

Nyatanya beberapa bulan terakhir saya tinggal di Sumedang sampai batas waktu yang belum ditentukan. Harap maklum kalau kadang-kadang dalam pikiran saya terbersit sebuah tanya, "Ya Allah, kapankah hamba ke Bandung lagi? Hamba pengen ke Bandung ya Allah. Pengeeeeen banget..."
*kemudian menangis di bawah shower
*padahal ga punya shower

Sabtu, 13 Februari 2016

Wahai Istri, Jangan Minggat Dari Rumah


Wahai Istri, Jangan Minggat Dari rumah

Beberapa minggu yang lalu, saya mendengar dua kasus yang sama persis, dalam waktu kejadian yang hampir bersamaan: Tentang pasangan suami istri yang berkonflik (entah apa penyebabnya), lalu sang istri pulang ke rumah orangtuanya. Alhamdulillah keduanya happy ending (semoga) karena orangtua mereka cukup bijak untuk menyarankan putri mereka kembali ke rumah suami. 

Salah satu orang yang menceritakannya adalah bibi kami. Saya hanya komentar begini, 
"Bi, kalau aku berantem sama Aa, ga bisa pulang ke rumah ortu..."

Kenapa ga bisa? 

Sabtu, 16 Januari 2016

Tentang Cinta yang Tak Lekang oleh Waktu

#SaturdayLove kali ini gak membahas soal pernikahan. Gapapa lah ya. Toh masih dalam tema cinta.

Jadi kemarin di saat timeline Facebook ramai tentang terorisme di Jakarta, sebuah Facebook Page tentang Harry Potter (atau Hogwarts?) memberitakan tentang meninggalnya Profesor Snape, guru Ramuan dalam cerita Harry Potter.

Awalnya saya mengabaikan karena meski dulu saya pecinta berat Harry Potter, sekarang sudah merasa ketuaan untuk ngebahasnya. Tapi beberapa waktu kemudian Emma Watson memberi pernyataan turut berduka dan ternyata yang meninggal itu adalah Alan Rickman sang pemeran Prof. Snape. Di situ barulah saya kaget  *yuwk*, dan kemudian mendadak baper inget ceritanya *yee katanya udah ketuaan*


Sabtu, 21 November 2015

Pentingnya Suami Istri Kencan Setelah Punya Anak

Suami Istri Kencan Setelah Punya Anak


Setuju gak sih, kalau suami istri tuh perlu kencan setelah punya anak?

Jadi gini, pernah ada seorang teman di facebook yang menulis status tentang keinginannya menonton bioskop bersama suami, namun sang suami menolaknya. Alasan sang suami adalah karena si istri sudah bekerja dari pagi sampai sore, jadi sebaiknya waktu di luar jam kerja digunakan untuk quality time bersama anak mereka.

Hmm.. memang sih saya tidak dalam posisi seperti sang istri yang Working Mom (sementara saya Stay-At-Home Mom). Alasan sang suami juga cukup masuk akal. Tapi sepertinya saya akan sedih sekali kalau saya pengen jalan berdua sama suami trus ditolak. Hiks.


Sabtu, 31 Oktober 2015

Suamiku, Semoga Aku Cukup Untukmu..



Pada zaman dahulu kala, tepatnya hari Rabu pagi, 21 Oktober 2015 yang cerah ceria, saat saya membaca linimasa Facebook, ada seorang teman yang membagikan sebuah video dari Ana Abdul Hamid yang lumayan bikin saya penasaran. Saat saya klik dan tonton videonya, dhuaaar..! Langsung galau mendadak. Ini videonya:


Sabtu, 17 Oktober 2015

Kutahu Engkau Mencintaiku



Kutahu engkau mencintaiku.

Bukan dari kata-kata yang keluar dari bibirmu.
Bukan dari teks pesan melalui SMS atau chat.
Bukan dari status facebook-mu atau tulisan-tulisanmu.

Maaf jika aku sering menganggap semua itu gombalanmu belaka.


Selasa, 13 Oktober 2015

Hari Ini Dua Tahun yang Lalu



Dear Sayang,
Apakah kamu ingat hari ini dua tahun yang lalu?

Ingatkah kamu pada Villa Cipedes, yang tak jauh dari Candi Cangkuang, Garut.
Pada pemandangan gunung dan sawahnya yang hijau,
pada hawanya yang sejuk dan menyegarkan.
Villa milik Uwak, yang berbaik hati membiarkan kita menggunakannya.
Hingga tak perlu kita mengeluarkan uang sewa gedung yang seringkali mahal.

Ingatkah kamu pada 3 pasang pakaian yang kita kenakan hari itu?
Warnanya putih, lalu emas, kemudian hijau.
Meminjam dari saudara ayahku, yang ternyata makeup artist freelance di majalah ternama.
Beliau pula yang menjadikanku cantik natural (katamu).

Ingatkah kamu pada hidangan yang disajikan?
Betapa bahagianya saat orang-orang memberi pujian.
Kakak sulung ibuku sungguh ahli dalam soal masakan.
Soal katering, beliau memang jadi andalan.

Ingatkah kamu pada souvenir pernikahan kita?
Hanya bros sederhana namun cantik, sisa dari pernikahan sepupuku.
Ditambah sejumlah bros dari sahabatku,
Membuat kita nyaris tak mengeluarkan uang untuk souvenir.
Meskipun sebenarnya.. sepertinya lucu kalau kita beri para tamu Souvenir Photobooth.

Ingatkah kamu pada foto-foto pernikahan kita?
Yang diambil murni dari kamera sahabat dan keluarga.
Mungkin kalau kita sewa jasa Foto Wedding Bandung,
akan kita miliki foto-foto indah yang mengabadikan kebahagiaan kita.


Acara hari itu memang berlangsung sederhana. 
Sangat sederhana.
Tapi semua orang bahagia.

Aku yakin kamu akan selalu ingat hari itu.
Hari ini dua tahun yang lalu.

Saat dimana awal kisah kita bermula.





Happy 2nd Anniversary..

13 Oktober 2013 - 13 Oktober 2015



Sabtu, 10 Oktober 2015

Menjadi JOSAN, Jomblo Sampai Nikah

Kamu tahu rasanya jadi JOSAN? Jomblo Sampai Nikah?
Ah, manalah mungkin kamu tahu.
Kamu kan (mantan) playboy.

Berapa jumlah mantanmu?
Tak usah dijawab.
Aku tidak sungguh-sungguh ingin tahu.
Dan terimakasih karena kamu tidak pernah tertarik membahas mereka satu persatu.

Kamu tahu,
Jaman aku sekolah dulu, menyenangkan rasanya tidak punya pacar.
Nilai-nilaiku bagus karena fokus belajar.
Nge-geng dengan cewek-cewek Jojoba, Jomblo-Jomblo Bahagia.
Bebas berteman dengan laki-laki, tanpa ada yang cemburu apalagi murka.
Terhindar dari patah hati dan putus cinta.
Jarang hanyut dalam lagu-lagu galau kecuali lagu-lagu Dygta.

Semua berubah saat aku beranjak dewasa.

Menjomblo tak sebahagia dulu.
Saat obrolan dengan teman-teman adalah tentang pasangan idaman.
Saat ortu mulai berkhayal bagaimana nanti saat gelar hajatan.
Saat sepi menghantuiku dalam kesendirian.
Saat dingin menyergap dan kuingin ada hangatnya pelukan.
Saat orang-orang mulai bertanya, “Jadi kapan?”

Kemudian aku merasa minder,
Pada wajahku yang tak cantik,
Atau tubuhku yang lurus kurus tak menarik.
Menyayangkan sifatku yang introvert
Dan tak pandai membangun relasi.

Saat itulah kamu datang.
Melihatku. Memperhatikanku.
Menyadari bahwa aku berbeda. Istimewa.
Lalu memutuskan untuk menikah denganku meski kenal belum lama.

Dari situ aku bertekad,

Kepada laki-laki yang menemukanku ini,
Selalu ‘kan kuhormati, kuhargai, kucintai, dan kusyukuri.

Karena kehadirannyalah, kini aku tak lagi sendiri.

Tak kan kubanding-bandingkan dengan mantan-mantanku.
Tentu saja karena mereka tidak pernah ada!

Dear kamu yang pertama bagiku,
Terimakasih telah menjadikanku pendampingmu..

Sabtu, 03 Oktober 2015

Perbedaan Kita : Beda Level

Dulu, aku ingin sekali menolakmu dengan alasan..
..kita beda level.


Jenjang pendidikanku lebih tinggi dari pendidikanmu.
Gajiku lebih besar daripada gajimu. Kamu bahkan sempat jadi pengangguran waktu itu.
Aku punya sedikit harta benda dari orangtuaku. Kamu? Sama sekali tak punya apa-apa.
Keluargaku berkecukupan. Keluargamu pas-pasan.
Keluargaku agamis. Keluargamu tidak.

Beda level!

Tapi, kututup mulutku rapat dari menyombongkan semua itu.
Karena jauh di lubuk hatiku, aku tahu semua kelebihanku dan keluargaku semata-mata adalah ketentuan-Nya dan takdir-Nya.
Di mata-Nya, itu semua tak ada makna.
Semua manusia sama, hanya ketakwaan yang membedakannya.

Maka kulepas jubah kesombonganku,
Dan kuterima lamaranmu.

Setelah menikah, banyak hal yang membuktikan bahwa kita memang “beda level”.

Kamu rapi. Aku berantakan.
Kamu berhati-hati menjaga barang. Aku serampangan.
Kamu cekatan. Aku lamban.
Kamu mengaji setiap hari. Aku kadang-kadang.
Kamu bertanggungjawab. Sementara aku ingin kabur diam-diam setelah tak sengaja  memecahkan kaca jendela kosan.

Beda level!

Sampai saat ini..
Saat aku sudah resign dan tidak menerima gaji lagi,
Saat ijazahku belum kugunakan mencari kerja lagi,
Kamulah tulang punggung yang sejati.

Saat perekonomian memburuk, menimpa semua orang termasuk kita dan keluargaku,
Keluargamu yang kusebut pas-pasan dan kurang agamis inilah yang justru banyak membantu kita.

Hari ini aku bersyukur dan mengambil pelajaran,
Bahwa KESOMBONGAN memang selayaknya harus DIBUNGKAM!

Minggu, 27 September 2015

Gombalan of the Day

Seorang penjual cuanki sedang melayani pembeli di samping rumah.

Sumber : Kaskus

Me : You don't want to buy cuanki?
Husband : *geleng-geleng*
Me : You don't like cuanki?
Husband : Not really.
Me : What do you like?
Husband : Batagor.
Me : Do you know what I like?
Husband : Of course.
Me : What do I like?
Husband : Cilok.
Me : Xixixi.. Do you know what I like? What I like is...

Me : I like YOU.. *wink-wink

Husband : .... *krik krik krik*

NB:
Abaikan grammar yang berantakan karena kalau ga berantakan ga akan jadi gombalan.
Hahaha

Selasa, 15 September 2015

Ketika Engkau Sahur

Senin, 14 September 2015

Dear Sayang,
Terimakasih untuk kupat tahu dan segelas air minum yang kamu berikan padaku saat sahur tadi pagi.

Sesungguhnya aku merasa bersalah.
Seharusnya akulah yang menyajikan untukmu makanan dan minuman.
Kan kamu yang puasa. Aku tidak.

Maafkan aku,
yang belum sempurna menjadi istri yang baik bagimu...

Rabu, 29 Juli 2015

Sebuah Surat Darinya

Beberapa waktu lalu, saya dan suami mengikuti kontes kecil-kecilan, yaitu lomba menulis surat cinta berhadiah buku. Dalam lomba tersebut kami gak menang. Hiks.. Saingannya ribuan!

Daripada mubadzir, jadiin postingan blog aja deh!

Baca surat dari saya: Surat Untukmu


Berikut surat dari suami saya: 



Bandung, 3 Juli 2015. 01:39 WIB
Maaf Sayang,sudah tidur? Aku belum tidur.  

Aku baru selesai nonton film, judulnya The Age of Adaline. Film ini tentang seorang perempuan yang karena kecelakaan dia jadi awet muda terus (ada penjelasan ilmiahnya). Dan karena hal ini juga dia lari-lari terus dari orang-orang yang dia cintai dan mencintainya selama berpuluh-puluh tahun.  
Ya, karena dia berpikir kalau dia tidak akan tua, tidak akan bisa tumbuh dan menua bersama pasangannya. 
Sekarang aku paham makna dari menua bersama. Sangat menyakitkan bila kita bisa mengolok-ngolok uban yang tumbuh di kepala pasangan kita sedangkan dia tidak. Sangat menyedihkan bila kita bisa merasakan kulit pasangan kita semakin keriput tapi dia tidak. Hidup tapi tak punya kehidupan.  
Aku jadi memikirkanmu lebih sering saat nonton film ini, mendapatkan sudut pandang dari tokoh perempuan ini dan dari orang-orang yang -secara tidak langsung merasa tercampakan.  
Serasa menjadi tamparan keras buatku. Sangat keras. Aku menyadari kalau aku terlalu banyak membuang waktu untuk bisa bersamamu. Aku di Bandung, kamu dan anak kita di Sumedang. Bahkan aku melewatkan banyak momen perkembangan anak kita. Maafkan aku jika aku menumbuhkan pemikiran di kepala dan hatimu kalau aku mencampakanmu.  

Sumpah demi Allah, aku tidak berniat melakukannya dan tidak pernah mau melakukan itu. Kamu cintaku, kamu satu-satunya teman hidupku. Ya, love of my life. Only you, no else!  
Aku berjanji (janji yang sama dengan yang pernah aku ucapkan dalam ijab qobul pernikahan kita) bahwa waktu akan selalu menjadi sahabat kita dalam menemani langkah meniti kehidupan ini apapun keadaannya, kita akan menua bersama dengan anak-anak kita dan semoga cucu-cucu kita. Aamiin.   
Sekali lagi maafkan aku, Sayang.  

Ttd:  
Suamimu yang tak pernah berniat menzalimimu dan tak pernah mau menciderai sumpah suci kita. (Walau kenyataannya aku melakukannya tanpa aku sadari). 

I love you so much.


Gimana? Gombal apa gombal? Hihihi..

Baca juga gombalannya dulu saat mengajak saya menikah:

The Sweetest Words I Ever Read


Tonton juga video romantis buatannya di sini: