Sabtu, 16 Januari 2016

Tentang Cinta yang Tak Lekang oleh Waktu

#SaturdayLove kali ini gak membahas soal pernikahan. Gapapa lah ya. Toh masih dalam tema cinta.

Jadi kemarin di saat timeline Facebook ramai tentang terorisme di Jakarta, sebuah Facebook Page tentang Harry Potter (atau Hogwarts?) memberitakan tentang meninggalnya Profesor Snape, guru Ramuan dalam cerita Harry Potter.

Awalnya saya mengabaikan karena meski dulu saya pecinta berat Harry Potter, sekarang sudah merasa ketuaan untuk ngebahasnya. Tapi beberapa waktu kemudian Emma Watson memberi pernyataan turut berduka dan ternyata yang meninggal itu adalah Alan Rickman sang pemeran Prof. Snape. Di situ barulah saya kaget  *yuwk*, dan kemudian mendadak baper inget ceritanya *yee katanya udah ketuaan*


 

Alan Rickman (Sumber: Pinterest)

Gimana gak baper, kisah cinta Snape itu tragis sekali, Sis. Lebih tragis daripada kisah cinta Veer di serial Uttaran!


Ada yang belum tahu kisah cinta Snape dalam Harry potter? Saya akan dengan senang hati menceritakannya .

Profesor Snape adalah guru pelajaran Ramuan di sekolah sihir Hogwarts. Di mata Harry Potter dkk, Snape adalah sosok yang dingin, jutek, galak, killer, dan pilih kasih. Nyebelin banget deh pokoknya! Gerak-gerik Snape juga sering mencurigakan dan tampak berpihak pada kegelapan. Harry sampai heran kenapa Dumbledore sang kepala sekolah menjadikan Snape salah satu orang kepercayaannya.

Tapi di akhir cerita, masa lalu Snape justru membuat pembaca berbalik rasa dari yang tadinya benci jadi pengen meluk Snape *halah*. Kok bisa? Karena kisahnya dengan Lily, ibu Harry Potter.

Severus Snape menyukai Lily Evans sejak kecil. Lily yang baik, pintar, dan berani. Kalau tidak salah saat Lily berusia 11 tahun dan Snape 12 tahun. Beranjak remaja, rasa suka menjelma jadi cinta. 

Meski Lily hanya menganggap Snape teman *duh, ter-friendzone*, Snape tetap cinta.               

Saat Lily berjodoh dengan James Potter, siswa populer yang pernah nge-bully Snape, Snape tetap cinta.

Saat Lily (dan James) tewas dibunuh Voldemort, Snape merasa sangat hancur. Namun ia tetap cinta.

Saat anaknya Lily, Harry Potter ,menjadi muridnya yang selalu su'udzon dan suka melawan Snape, Snape tetap cinta.

Maka dialog antara kepala sekolah Albus Dumbledore dan Snape ini pun jadi melelehkan hati:
Gambar ngambil dari Pinterest


Yes, setelah semua yang terjadi, ter-friendzone, di-bully, ditinggal mati, dilawan sama anaknya, Snape SELALU mencintai Lily.  
Always
Tak berubah meski waktu telah lama berlalu. 
How sweet is that?

Saya yakin banget cewek-cewek pembaca Harry Potter iri dengan Lily dan pengen juga dicintai seperti Lily dicintai Snape *eeeaaa. Kata "Always" pun jadi mantra sakti yang bikin baper. Heuheu

Saya sempat mikir, kira-kira cinta seperti Snape pada Lily itu ada gak ya di dunia nyata? Cinta yang abadi, tulus, gak berubah apapun yang terjadi, selama apapun waktu berlalu. Bahkan meski kematian sudah memisahkan.


Saya yakin cinta seperti itu pasti ada, dan semoga kita semua bisa merasakannya. 
Aamiiin :D




1 komentar:

  1. Uh..sebetulnya bab tentang Ingatan Snape mengenal cinta terpendamnya terhadap Lily Evans Potter ini sukses membuat saya termehek-mehek ketika baca Deathly Hallows.

    Siyalan, baca artikel ini saya jadi baper lagi.

    BalasHapus