Sabtu, 26 Agustus 2017

Inspiratif! Buku 30 Paspor Di Kelas Sang Profesor

Telat banget dah saya baca buku ini. Cetakan ke-4 tahun 2015, saya bacanya Agustus 2017. Mungkin mahasiswa yang ceritanya ada di buku ini udah pada lulus semua. Heuheu

Sumber gambar: Bentang Pustaka

Sungguh beruntung mereka yang diajar oleh Prof. Rhenald Kasali, Ph.D. Beliau sangat paham bahwa metode belajar terbaik adalah dengan ‘terjun’ ke lapangan. 

Kalian harus nyasar biar belajar. Begitu salah satu nasehatnya. Maka di mata kuliah Pemasaran Internasional yang ia pegang, seluruh mahasiswa diberi tugas untuk pergi ke luar negeri sendirian. Negara yang dikunjungi tidak boleh berbahasa melayu seperti Malaysia, Singapura, Timor Leste dan Brunei Darussalam. Beneran disuruh nyasar ini mah. Hihihi..

---
“Ma, gimana kalau Abang atau Adek ditugasi dosennya untuk keluar negeri sendirian?” tanya saya pada Mama, meminta ia membayangkan kalau 2 adik termuda saya yang kini berstatus mahasiswa, harus melancong jauh.

“Wuaaaa.. nangis Mama,” jawabnya spontan :D

Xixixi, padahal adik-adik saya itu laki-laki loh. Coba bayangkan kalau anaknya perempuan, satu-satunya pula. Pasti lebih berat lagi.

Izin orangtua bisa jadi kendala bagi mahasiswa. Kendala lain misalnya saat pengurusan visa, mencari tiket dan penginapan, mengumpulkan biaya, dan tentu saja bahasa.

Membaca buku ini seperti membaca buku petualangan. Ditulis dengan sudut pandang orang pertama, saya jadi terbawa deg-degan, takut, penasaran, hingga haru.

Dari 30 pengalaman mahasiswa di buku ini, favorit saya adalah cerita Destiara Putri yang pergi ke Filipina. Gaya penulisannya runtut dan sinematis, sepertinya dia punya jam terbang yang tinggi dalam menulis *sotoy*. Hal spesial lainnya adalah di saat mahasiswa kebanyakan menginap di hotel, dia memilih nginap di rumah penduduk karena gratis. Ya, dia termasuk mahasiswa yang sebenarnya have no budget for travelling. Tapi dengan izin Allah serta dukungan keluarga, toh dia tetap bisa pergi juga bahkan mendapatkan keluarga baru di Filipina. 

Hal menarik lainnya adalah pengalaman Ananda Rafi yang pergi ke Dubai. Di pesawat dia duduk di dekat sepasang suami istri Arab, yang mana suaminya itu keberatan dengan adanya laki-laki asing yang duduk di dekat istrinya. Protektif sekali yak. Belakangan saya tahu bahwa kebanyakan orang Arab seperti itu. Wanita Arab juga tak nyaman duduk sebelahan dengan pria non muhrim di pesawat.

Pengalaman Aland di India juga menarik meskipun banyak gak enaknya. Tapi saya ga mau spoiler lagi deh, biar yang belum baca bisa cari sendiri bukunya yak.

Salut banget deh sama semuanya. Semoga suatu hari nanti bisa ke luar negeri juga. Tapi ogah kalau sendirian. Udah punya suami ya mesti bareng dong ;)





2 komentar:

  1. Ngomong-ngomong, saya jadi teringat abis baca kutipan harus nyasar biar belajar. Sebuah buku yang mengisahkan pola belajar di sekolahnya, mewajibkan anak-anaknya terjun ke masyarakat langsung untuk mempelajari interaksi sosial. Dari situ mereka benar-benar langsung belajar sambil praktek. Saya jadi kepengen baca buku ini, cari ah..

    BalasHapus
  2. bener tu terkadang orang tua bisa jadi kendala buat anaknya untuk memilih perguruan tinggi, apa lagi kalo anak cewek dah pasti gak boleh jauh.jadi pengen baca bukunya. sepertinya bagus dan bisa jadi ilmu gimana kalo keluar negeri sendiri apa lagi bahasa inggris ny gak bagus.

    BalasHapus