Sabtu, 04 November 2017

Panti Asuhan Mamah Titin



Kalau lagi ngobrol dengan keluarga saya (papa, mama, adik-adik kandung), saya suka menyebut dengan bercanda bahwa saya tinggal di Panti Asuhan Mamah Titin Sumedang. Kenapa? Karena di Pondok Mertua Indah ini, banyak anak-anak. 
 
Sebenarnya cucu Mamah baru dua yaitu Arul (9 tahun) dan Kakang (3 tahun). Tapi selain suami, anak, menantu, dan dua orang cucu, di sini juga tinggal 3 keponakan Mamah. Ketiganya perempuan kakak beradik. Sebut saja mereka si Sulung (16 tahun), si Tengah (9 tahun), dan si Bungsu (8 tahun).

Bagaimana mereka bertiga bisa tinggal di rumah ini? Well, ceritanya agak panjang. Tapi kalau dipersingkat sih, ayah mereka melepaskan tanggung jawab, dan ibu mereka bekerja di kota Bandung sebagai buruh. Dengan kondisi finansial yang tidak kuat, sang ibu tidak memiliki pilihan lain kecuali menitipkan anak-anaknya ini pada kakaknya, yaitu Mamah mertua saya.

Sebenarnya keluarga Mamah tidak bisa digolongkan sebagai orang berkecukupan. Dulu saat pertama kali mengenal Bapak mertua, pekerjaannya adalah jualan bubur ayam dan soto bongko. Sekarang beliau bekerja di bagian keamanan sebuah instansi.

Mamah sendiri adalah seorang ibu rumah tangga yang sesekali menerima panggilan jasa pijat.
Meski hidup sederhana, Mamah menyanggupi untuk menjaga ketiga saudari ini. Karena kalau bukan Mamah, siapa lagi?
Si Tengah dan si Bungsu berusaha ngambil buah jambu

Kehidupan ketiga bersaudari ini (diusahakan) normal. Mereka bersekolah, bermain, dan mengaji selayaknya anak-anak lain di lingkungan sini. Kalau membandingkan masa kanak-kanak saya dengan mereka, saya jadi merasa amat sangat beruntung sekali. Bisa dibilang masa kanak-kanak saya sangaaaaat sempurna dan bahagia. Sementara saat melihat mereka, kadang saya sedih.  Untunglah mereka masih bisa tertawa lepas khas anak-anak, yang sungguh saya syukuri.

Hal yang membuat saya sedih salah satunya jika makanan yang tersedia tak cukup untuk semua orang. Misalnya kita punya sekerat daging rendang, yang kalau dibagi 9 (Bapak, Mamah, Anak, Menantu, 2 Cucu, 3 Keponakan) maka masing-masing akan mendapatkan ukuran sebesar dadu.
Jadi ya tidak dibagi. Dibiarkan saja utuh atau paling banter dibagi dua. Yang diprioritaskan tentu Bapak sebagai kepala keluarga. Kalau Bapak tidak mau, maka akan diberikan pada cucu-cucu kesayangan. Kalau cucu-cucu tidak mau, ditawarkan pada anak-menantu. 3 keponakan berada di prioritas terakhir. Untunglah bagi mereka bertiga, daging sapi tidak termasuk makanan favorit.

Pernah juga saat Mamah membeli sebungkus nugget ayam ukuran kecil. Kalau tidak salah, isinya 9 pcs. Nugget ini digoreng diam-diam dan habis dimakan Kakang 2 pcs pagi dan 2 pcs siang. Saat malam, saya goreng lagi 2 pcs untuk Kakang. Sisa 3 pcs Mamah sisihkan untuk Arul. Kali ini Si Tengah dan Si Bungsu melihat dan  sebenarnya mupeng banget. Nugget ayam itu adalah kesukaan mereka. Tapi berhubung tidak ada lagi, terpaksalah mereka gigit jari. Perih, Jenderal!
Itu salah satu hal yang bikin saya semangat KB #loh #abaikan.

Soal makanan, mereka didorong untuk menerima apa yang ada. Kalau Mamah masak sayur bayam, maka sebaiknya mereka tidak bikin ceplok telur. Kalau pun boleh masak telur, tidak boleh 1 orang 1 telur, melainkan 2 butir dibuat dadar telur agar bisa dimakan 3-4 orang. Semacam itulah.

Tak hanya soal makanan, soal refreshing juga mereka memprihatinkan. Mereka nyaris tidak pernah kemana-mana untuk berwisata. Pergi ke supermarket atau berenang sebagai pelajaran wajib dari sekolah adalah refreshing yang masih bisa dilakukan, meski termasuk MEWAH BANGET buat mereka (baca: jarang dilakukan). 

Kalau saya kan masih bisa ya kabur ke Bandung hanya untuk refreshing. Tapi mereka tidak. Kadang-kadang mereka minta diajak jalan-jalan ke supermarket tapi itu pun lebih sering tidak dikabulkan daripada dikabulkan. Ya gimana, ke supermarket juga butuh ongkos dan pasti ngeluarin duit. Mereka bisa aja sih window shopping. Tapi kan kasian, masak di supermarket gak beli apa-apa?

Kalau ada kesempatan untuk mereka jalan-jalan atau refreshing, saya dan suami sebisa mungkin mengusahakan. Misalnya saat tahun 2016 lalu suami dan teman-teman menggalang dana untuk mengajak anak-anak di sebuah panti asuhan di Bandung untuk ke bioskop nonton Finding Dori, ketiga bersaudari ini diikutsertakan.

Waktu adik saya menggelar One Day Fun Doing Fun (ODFDF) di Majalengka, kami semua di Panti Asuhan Mamah Titin ini ikut (kecuali Bapak, jaga rumah). Acara yang berisi aneka games seru ini memang rutin digelar dengan lokasi berbeda-beda. Tujuannya adalah untuk menggembirakan hati anak-anak yang kurang beruntung.  Di akhir acara, biasanya anak-anak diberi goodie bag menarik dan sedikit santunan.

Saat itu, ketiga bersaudari pulang dengan hati riang, perut kenyang, dan masing-masing mendapatkan alat tulis lucu-lucu, Al-Quran, dan uang.


Kalau kami ada rezeki lebih, tentulah ingin mengajak mereka refreshing lagi. Bagi saya pribadi, mereka bertiga udah kayak baby sitter-nya Kakang. Mereka lah yang sering menemani Kakang bermain, bahkan si Bungsu paling suka menawari (seringkali memaksa) untuk menyuapi Kakang. Heuheu

Ngajak mereka jalan-jalan pun sebenarnya ga harus jauh. Berhubung di Sumedang jarang tempat wisata, saya pikir Bandung adalah kota yang ideal karena dekat dan biaya transportasinya masih terjangkau.

Bandung punya banyak sekali pilihan wisata. Beberapa tempat terpopuler yang saya tahu misalnya D’Ranch, Farmhouse, Dusun Bambu, Trans Studio, Saung Angklung Udjo, Dusun Bambu, dan baaanyak lagi. Ssst, saya baru tahu loh kalau semua yang saya sebutkan itu tiket masuknya bisa dibeli di Traveloka.

Selama ini saya tahunya Taveloka hanya untuk pesan hotel dan pesawat aja. Eh ternyata sekarang ada menu Attractions & Activities dimana kita bisa beli tiket wisata, event, kuliner hingga massage package. Uwow!



Fitur filternya memudahkan kita mencari pilihan aktifitas dan atraksi. Bisa filter berdasarkan popularitas, harga, durasi, rating pengguna, hingga jenis aktifitas.





Itu kalau nama activity/attractions-nya di klik, kita bisa melihat detail keterangannya seperti foto-foto, jam buka, perkiraan durasi yang kita butuhkan untuk main, lokasi, dan juga highlights yang membuat kita bisa membayangkan bakal seseru apa kalau kita main di sana.

Asik ya, jadi ga usah mikir harus ngantri panjang di loket, kita udah bisa masuk deh ^^

Oh ya, tiket yang kita beli dari Traveloka ini paperless. Ga perlu di-print jadi ga ribet dan ga nyampah. Yeay!

Hemm, kira-kira enaknya ngajakin mereka kemana ya?









3 komentar:

  1. Ajak ke Malang, Mbak. Banyak tempat wisata alam murah meriah, bahkan gratis. :)

    BalasHapus
  2. Pasti senang banget mereka kalau diajak jalan2. :)

    BalasHapus
  3. Ditunggu kisah jalan-jalannya, Mbak. :)

    BalasHapus