Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 September 2022

Impian Ke Yogyakarta Bersama Teman Hidup Traveloka

Hei kamu yang lagi sibuk banget..

Pasti capek ya dengan banyaknya proyek dan mepetnya deadline?

Dear tulang punggungku..

Tetaplah kuat meski aku tak bisa membantu, kecuali dengan untaian doa semoga kamu selalu sehat dan semua yang kamu kerjakan akan selesai dengan baik dan lancar.

Background Image Source : Traveloka.com




Jika semua pekerjaanmu nanti sudah beres, dan kamu mulai punya waktu luang, bagaimana kalau kita jalan-jalan?

Minggu, 27 Oktober 2019

Koperasi Zaman Now Untuk Milenial




Bapak mertua sebentar lagi pensiun. 

Itu artinya, mungkin yang akan menggantikan peran beliau sebagai tulang punggung adalah suami saya sebagai anak pertama. Masalahnya, gaji suami saat ini baru bisa untuk memenuhi kebutuhan anak istrinya saja. Kalau untuk membiayai bapak, ibu, adik-adik, keponakan, dan beberapa saudara sepupu, tentu kami perlu memutar otak. 
(Banyak amat ya penghuni rumah ini? Emang! Baru tahu yaaa? hihihi) 

Ide sementara sih, pengennya bisnis bidang kuliner mengingat ibu mertua yang lumayan jago masak. Kan sekarang lagi booming banget yang namanya ghost kitchen. Itu loh, jualan makanan tanpa sewa tempat. Selama kita punya dapur, kita bisa bikin usaha kuliner bekerjasama dengan platform ojek online. 100% produknya diantar ke lokasi konsumen. Simpel kan ya? 

Sabtu, 09 Februari 2019

#IniSaatnya Jadi CouplePreneur #ResolusiBisnis2019

Saya salut sama suami istri yang menjalankan sebuah usaha bersama-sama. Couplepreneur, istilahnya. Saya membayangkan kayaknya asik kali ya bahu membahu bersama pasangan membangun bisnis. 24 jam sehari 7 hari seminggu bersama-sama dan berkomunikasi intens, berbagi tugas antara bisnis dan mendidik anak. Ihiy

Rabu, 13 Juni 2018

So Good Chicken Nugget Veggie plus Acar dan Sambal Mangga. Sedap!



Kalau liat postingan-postingan di IG dengan hashtag #MasakanRumahKhasRamadhan #SoGoodXbpn saya selalu takjub dengan kreatifitas emak-emak dan ngiler lihat fotonya. Bagi saya yang ga bisa masak, mereka semua keren banget. 

Biasanya kalau sudah kreatif mengolah bahan masakan apapun, itu adalah bukti bahwa mereka sudah terampil dengan kegiatan masak-memasak. Gak kayak saya, yang kalau makan produk nugget ayam So Good cukup digoreng langsung makan kan udah enak toh? Heuheu

Kamis, 19 April 2018

Accurate Lite, Aplikasi Akunting Simpel Untuk UMKM

Setiap pebisnis wajib menguasai laporan keuangan. Hal ini pertama kali saya tahu saat belajar di Young Entreprenur Academy (YEA). Di sana bahkan ada kelas Accounting for Business Owner. Materinya ‘cuma’ dua hari, tapi full pagi sampai maghrib yang bikin kepala ngebul dan keliyengan. Wahahaha..

Selasa, 20 Maret 2018

So Good Nugget Ayam favorit Kakang


Jujur saja, bagi saya menyiapkan menu makanan untuk balita susah-susah gampang. Entah kenapa. Padahal saya dan suami tipikal pemakan apa saja, atau lebih tepatnya apa yang ada. Huehehehe..

Maunya kan apa yang dimakan ortu, itu pula yang dimakan Kakang (3,5 tahun). Sayangnya lidah Kakang suka agak ‘beda’, yang membuat saya harus memutar otak hanya untuk menentukan menu yang Kakang sukai.

Rabu, 20 Desember 2017

Astra, Pride of the Nation yang Inspiratif

Salah satu kegiatan favorit saya kalau berkunjung ke rumah adik adalah ‘mengobrak-abrik’ lemari bukunya. Maklum, sama-sama pecinta buku. Bedanya, saya sudah jarang belanja ke toko buku kecuali untuk beli buku Kakang (3 tahun). Sementara adik saya masih suka. So, tiap ke rumahnya saya berharap menemukan buku-buku bagus dan menarik untuk dibaca.
Suatu ketika, saya menemukan buku ini:




Bukunya tebal banget, kayak kamus. Isinya lebih dari 500 halaman. WOW

Buku ini ditulis oleh Yakub Liman, mantan eksekutif Astra yang pernah memimpin Astra Management Development Institute (AMDI) pada 2000-2008.

Siapa yang tidak pernah mendengar nama Astra? Perusahaan ini kini menginjak usia 60 tahun. Itu bukan angka yang main-main. Kalau diibaratkan usia manusia, 60 tahun berarti telah mapan, telah banyak berkontribusi, settle dan kokoh.

Pride of the Nation memang menjadi goal Astra untuk dicapai pada tahun 2020. Telah banyak yang dipersembahkan Astra untuk bangsa ini. Astra merupakan pembayar pajak yang signifikan, memberdayakan lebih dari 200 ribu orang, hingga mengelola berbagai program CSR di bidang kesehatan, pendidikan dan lingkungan yang dilakukan hingga ke pelosok.

Kesuksesan Astra saat ini tak lepas dari nilai-nilai yang ditanamkan pendirinya, William Soeryadjaya. Sosok asal Majalengka, Jawa Barat ini sangat dihormati karena nilai-nilai dan prinsip-prinsip berbisnis yang visioner dan beretika. Rahasia Astra dapat bertahan melintasi zaman adalah karena Catur Dharma yang menjadi landasan norma dan budaya perilaku perusahaan.

Apakah Catur Dharma itu?
1.       Menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara
2.       Memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan
3.       Menghargai individu dan membina kerja sama
4.       Senantiasa berusaha mencapai yang terbaik

Sejak awal, beliau selalu ingin Astra dan seluruh insan di dalamnya sejahtera bersama bangsa, memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk masyarakat Indonesia. Untuk itu, beliau memprioritaskan agar perusahaan selalu menciptakan produk yang baik dan memiliki sistem manajemen berkelas dunia.

Kereeeeen!

Begitu banyak dan detailnya kontribusi Astra untuk Indonesia tentunya tidak mungkin saya rangkum di sini. Ringkasannya saja mungkin bisa jadi lebih dari 10 blogpost. Heuheu

Tapi salah satu hal yang saya perhatikan adalah betapa Astra sangat memperhatikan UMKM. William concern dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat karena Astra hanya akan tumbuh jika kelompok mayoritas yang berada di kalangan menengah mengalami perbaikan kehidupan ekonomi. Karena itu, William memberi kesempatan pada UMKM untuk menjadi pemasok berbagai kebutuhan Astra.

Untuk membantu UMKM yang sering terkendala modal dan kompetensi, Astra mengembangkan instrumen Astra Mitra Ventura untuk mengatasi masalah modal UMKM serta mengadakan program pembinaan kemampuan teknis dan manajerial melalui Yayasan Dharma Bhakti Astra. Dengan dua instrumen tersebut, Astra melakukan pendekatan terpadu dan sistematis  dalam bentuk pelatihan, pemasaran, pembukaan jaringan, dan permodalan. Hingga tahun 2015, UMKM binaan mencapai jumlah lebih dari 9000 UMKM.

Saya tidak tahu seberapa banyak perusahaan yang menggaet UMKM sebagai mitra. Tapi saya berharap Astra dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi corporate lain. Dengan mindset tumbuh bersama ini, saya yakin pada akhirnya bangsa ini akan semakin kuat perekonomiannya.


Saya percaya sebenarnya Indonesia bisa. Indonesia masih memiliki banyak potensi. Seandainya kita semua mau belajar dari William dan mengaplikasikan juga Catur Dharma, baik sebagai individu, business owner, bahkan karyawan sekalipun, bukan tak mungkin kita akan mampu bertumbuh bersama masyarakat sekitar.

Kamis, 14 Desember 2017

Dekat Bersamanya Adalah Cita-Cita yang Terwujud

Sejak jaman masih gadis, saya memelihara cita-cita menjadi Stay At Home Mom. Saya gunakan kata memelihara karena memang rasanya seperti itu. Ada usaha-usaha, ada fokus yang dijaga, ada kekhawatiran kalau saya meleng dikit, saya akan kehilangan impian saya itu.

Rabu, 13 Desember 2017

2018 Resolution : Increase My Earning

Tinggal menghitung beberapa hari lagi, kita akan meninggalkan tahun 2017 dan menyambut 2018. 

Jujur saja perasaan saya sangat excited. Bagaimana tidak, saat saya merekap hasil penjualan online shop saya, tahun ini saya berhasil mencapai target (2x lipat dari tahun 2016) dan saya pun mencanangkan target 2018 omsetnya mesti 2x lipat dari tahun 2017 ini.

Saya cukup optimis. Setidaknya, dibanding awal tahun 2017 saya sekarang sudah tahu beberapa PR yang harus saya kerjakan.

Jumat, 08 Desember 2017

Hemat Belanja Online saat Harbolnas melalui Shopback

Beberapa hari yang lalu saya (dan adik-adik) menerima email dari Papa. Isinya tentang informasi akun Instagram salah satu e-commerce yang sedang bikin giveaway 5 smartphone gratis dan Papa minta bantuan agar bisa mendapatkan smartphone baru tersebut.



Detik pertama rasanya geli. Papa minta hape terdengar seperti meme Papa minta pulsa dan Papa minta lain-lain.

Detik berikutnya saya merasa sedih. Karena meski kami (anak-anaknya) sudah tahu dari dulu bahwa papa butuh hape baru, tapi kami belum bisa membelikannya.

Sabtu, 04 November 2017

Panti Asuhan Mamah Titin



Kalau lagi ngobrol dengan keluarga saya (papa, mama, adik-adik kandung), saya suka menyebut dengan bercanda bahwa saya tinggal di Panti Asuhan Mamah Titin Sumedang. Kenapa? Karena di Pondok Mertua Indah ini, banyak anak-anak. 
 
Sebenarnya cucu Mamah baru dua yaitu Arul (9 tahun) dan Kakang (3 tahun). Tapi selain suami, anak, menantu, dan dua orang cucu, di sini juga tinggal 3 keponakan Mamah. Ketiganya perempuan kakak beradik. Sebut saja mereka si Sulung (16 tahun), si Tengah (9 tahun), dan si Bungsu (8 tahun).

Bagaimana mereka bertiga bisa tinggal di rumah ini? Well, ceritanya agak panjang. Tapi kalau dipersingkat sih, ayah mereka melepaskan tanggung jawab, dan ibu mereka bekerja di kota Bandung sebagai buruh. Dengan kondisi finansial yang tidak kuat, sang ibu tidak memiliki pilihan lain kecuali menitipkan anak-anaknya ini pada kakaknya, yaitu Mamah mertua saya.

Sebenarnya keluarga Mamah tidak bisa digolongkan sebagai orang berkecukupan. Dulu saat pertama kali mengenal Bapak mertua, pekerjaannya adalah jualan bubur ayam dan soto bongko. Sekarang beliau bekerja di bagian keamanan sebuah instansi.

Mamah sendiri adalah seorang ibu rumah tangga yang sesekali menerima panggilan jasa pijat.
Meski hidup sederhana, Mamah menyanggupi untuk menjaga ketiga saudari ini. Karena kalau bukan Mamah, siapa lagi?
Si Tengah dan si Bungsu berusaha ngambil buah jambu

Kehidupan ketiga bersaudari ini (diusahakan) normal. Mereka bersekolah, bermain, dan mengaji selayaknya anak-anak lain di lingkungan sini. Kalau membandingkan masa kanak-kanak saya dengan mereka, saya jadi merasa amat sangat beruntung sekali. Bisa dibilang masa kanak-kanak saya sangaaaaat sempurna dan bahagia. Sementara saat melihat mereka, kadang saya sedih.  Untunglah mereka masih bisa tertawa lepas khas anak-anak, yang sungguh saya syukuri.

Hal yang membuat saya sedih salah satunya jika makanan yang tersedia tak cukup untuk semua orang. Misalnya kita punya sekerat daging rendang, yang kalau dibagi 9 (Bapak, Mamah, Anak, Menantu, 2 Cucu, 3 Keponakan) maka masing-masing akan mendapatkan ukuran sebesar dadu.
Jadi ya tidak dibagi. Dibiarkan saja utuh atau paling banter dibagi dua. Yang diprioritaskan tentu Bapak sebagai kepala keluarga. Kalau Bapak tidak mau, maka akan diberikan pada cucu-cucu kesayangan. Kalau cucu-cucu tidak mau, ditawarkan pada anak-menantu. 3 keponakan berada di prioritas terakhir. Untunglah bagi mereka bertiga, daging sapi tidak termasuk makanan favorit.

Pernah juga saat Mamah membeli sebungkus nugget ayam ukuran kecil. Kalau tidak salah, isinya 9 pcs. Nugget ini digoreng diam-diam dan habis dimakan Kakang 2 pcs pagi dan 2 pcs siang. Saat malam, saya goreng lagi 2 pcs untuk Kakang. Sisa 3 pcs Mamah sisihkan untuk Arul. Kali ini Si Tengah dan Si Bungsu melihat dan  sebenarnya mupeng banget. Nugget ayam itu adalah kesukaan mereka. Tapi berhubung tidak ada lagi, terpaksalah mereka gigit jari. Perih, Jenderal!
Itu salah satu hal yang bikin saya semangat KB #loh #abaikan.

Soal makanan, mereka didorong untuk menerima apa yang ada. Kalau Mamah masak sayur bayam, maka sebaiknya mereka tidak bikin ceplok telur. Kalau pun boleh masak telur, tidak boleh 1 orang 1 telur, melainkan 2 butir dibuat dadar telur agar bisa dimakan 3-4 orang. Semacam itulah.

Tak hanya soal makanan, soal refreshing juga mereka memprihatinkan. Mereka nyaris tidak pernah kemana-mana untuk berwisata. Pergi ke supermarket atau berenang sebagai pelajaran wajib dari sekolah adalah refreshing yang masih bisa dilakukan, meski termasuk MEWAH BANGET buat mereka (baca: jarang dilakukan). 

Kalau saya kan masih bisa ya kabur ke Bandung hanya untuk refreshing. Tapi mereka tidak. Kadang-kadang mereka minta diajak jalan-jalan ke supermarket tapi itu pun lebih sering tidak dikabulkan daripada dikabulkan. Ya gimana, ke supermarket juga butuh ongkos dan pasti ngeluarin duit. Mereka bisa aja sih window shopping. Tapi kan kasian, masak di supermarket gak beli apa-apa?

Kalau ada kesempatan untuk mereka jalan-jalan atau refreshing, saya dan suami sebisa mungkin mengusahakan. Misalnya saat tahun 2016 lalu suami dan teman-teman menggalang dana untuk mengajak anak-anak di sebuah panti asuhan di Bandung untuk ke bioskop nonton Finding Dori, ketiga bersaudari ini diikutsertakan.

Waktu adik saya menggelar One Day Fun Doing Fun (ODFDF) di Majalengka, kami semua di Panti Asuhan Mamah Titin ini ikut (kecuali Bapak, jaga rumah). Acara yang berisi aneka games seru ini memang rutin digelar dengan lokasi berbeda-beda. Tujuannya adalah untuk menggembirakan hati anak-anak yang kurang beruntung.  Di akhir acara, biasanya anak-anak diberi goodie bag menarik dan sedikit santunan.

Saat itu, ketiga bersaudari pulang dengan hati riang, perut kenyang, dan masing-masing mendapatkan alat tulis lucu-lucu, Al-Quran, dan uang.


Kalau kami ada rezeki lebih, tentulah ingin mengajak mereka refreshing lagi. Bagi saya pribadi, mereka bertiga udah kayak baby sitter-nya Kakang. Mereka lah yang sering menemani Kakang bermain, bahkan si Bungsu paling suka menawari (seringkali memaksa) untuk menyuapi Kakang. Heuheu

Ngajak mereka jalan-jalan pun sebenarnya ga harus jauh. Berhubung di Sumedang jarang tempat wisata, saya pikir Bandung adalah kota yang ideal karena dekat dan biaya transportasinya masih terjangkau.

Bandung punya banyak sekali pilihan wisata. Beberapa tempat terpopuler yang saya tahu misalnya D’Ranch, Farmhouse, Dusun Bambu, Trans Studio, Saung Angklung Udjo, Dusun Bambu, dan baaanyak lagi. Ssst, saya baru tahu loh kalau semua yang saya sebutkan itu tiket masuknya bisa dibeli di Traveloka.

Selama ini saya tahunya Taveloka hanya untuk pesan hotel dan pesawat aja. Eh ternyata sekarang ada menu Attractions & Activities dimana kita bisa beli tiket wisata, event, kuliner hingga massage package. Uwow!



Fitur filternya memudahkan kita mencari pilihan aktifitas dan atraksi. Bisa filter berdasarkan popularitas, harga, durasi, rating pengguna, hingga jenis aktifitas.





Itu kalau nama activity/attractions-nya di klik, kita bisa melihat detail keterangannya seperti foto-foto, jam buka, perkiraan durasi yang kita butuhkan untuk main, lokasi, dan juga highlights yang membuat kita bisa membayangkan bakal seseru apa kalau kita main di sana.

Asik ya, jadi ga usah mikir harus ngantri panjang di loket, kita udah bisa masuk deh ^^

Oh ya, tiket yang kita beli dari Traveloka ini paperless. Ga perlu di-print jadi ga ribet dan ga nyampah. Yeay!

Hemm, kira-kira enaknya ngajakin mereka kemana ya?









Sabtu, 10 Desember 2016

Pengalaman Baik Bersama JNE Express? Banyaaaak ^^

Sebagai orang yang sudah hampir 4 tahun malang melintang di dunia OL Shop, mengirim barang dagangan sudah jadi kegiatan sehari-hari. Ekspedisi pengiriman sudah jadi partner super penting yang harus ada. Ya dong, gimana bisa jualan online kalau ga pakai ekspedisi? Kecuali kalau target pasarnya orang sekampung yang barangnya bisa kita antar sendiri. Kalau saya kan kirimnya ke seluruh Indonesia. Ke luar negeri juga pernah.

Ekspedisi pengiriman yang paling sering saya gunakan adalah JNE Express. Kenapa? Well, di postingan ini saya akan ceritakan berbagai pengalaman baik saya dengan JNE yang menjadi alasan mengapa saya tetap setia padanya *uhuk


COUNTER JNE DIMANA-MANA

Saya pernah belajar bisnis di daerah Dipati Ukur, Bandung. Kalau mau ke JNE bisa jalan kaki. Saat itu kosan saya di Jl. Jalaprang (masuk dari Jl. Surapati). Jalan kaki juga ke JNE terdekat.

Bulan Ramadhan lalu, saya tinggal bersama orangtua dan adik-adik di rumah kakaknya mama di Taman Kopo Indah. Persis di belakang rumah ada counter JNE. Perlu kirim barang? Tinggal jalan kaki.

Saya seneng banget dengan keberadaan counter JNE yang banyak dan mudah ditemukan. Hal ini bikin pengiriman barang jadi menyenangkan. Ga harus pergi jauh. Ga harus keluar ongkos. Love it!

Mulai menyambangi JNE setiap hari (Senin-Jumat) itu saat saya bekerja di sebuah toko online yang berkantor di Kota Baru Parahyangan, Bandung Barat. Kantor saya dan counter JNE beda Tatar (semacam Cluster). Kalau jalan kaki jauh. Tapi naik motor sih 5 menit doang. Heuheu..

BISA PICK UP

Toko online tempat saya bekerja tergolong baru. Di beberapa bulan pertama, rata-rata kirim 5-10 paket sehari. Semakin lama, semakin banyak paket yang harus dikirim. Untunglah JNE Cihampelas Cililin ternyata bisa memberikan layanan pick-up alias mereka yang mengambil paketnya di kantor kami. Kebayang kalau bawa puluhan bahkan ratusan paket naik motor. Heuheu..

Apalagi saat itu saya sedang hamil Kakang. Jadi lagi sangat mengurangi naik motor. Di kantor memang belum ada office boy yang bisa disuruh ngirim paket. So, dengan JNE yang mendatangi kantor, it was very helpful.

BEST CUSTOMER SERVICE

Saya pernah baca sebuah blog (lupa, tapi saya dapat dari googling). Sang penulis membandingkan beberapa ekspedisi pengiriman dan JNE mendapat nilai terbaik dalam hal Customer Service
Saya sepakat.

Di antara beberapa ekspedisi pengiriman yang saya gunakan, cuma dengan JNE ada komunikasi 2 arah (di luar counter). Misalnya dalam bentuk SMS yang menginfokan barang sampai, telepon dari kurir yang memastikan alamat dan no HP penerima sudah benar, hingga balasan email saat ada kesalahan pengiriman.

Ketika konsumen melaporkan barangnya belum sampai, misalnya. Gak melulu harus saya terus yang menghubungi JNE. Pihak JNE yang akan menghubungi saya kembali saat paket sudah terlacak. Lega deh..


BEST COUNTER IS...

Dari beberapa counter JNE yang pernah saya datangi, best counter jatuh pada... JNE Agen Kopo Sayati.

Jadi ceritanya, Ramadhan lalu saya tinggal di rumah Uwak di Taman Kopo Indah (TKI). Suatu hari, JNE TKI sedang tutup sementara. Karena perlu ngirim barang, saya pun googling dan menemukan alamat JNE Jl Kopo Sayati. Perjalanan naik motor kurang lebih 10 menit. Sampai di sana, saya takjub.

Tempatnya luas, ga ngantri lama, dan adminnya mengetik wus..wus..! Super cepat!

Pernah sekali saya masuk pintu sampai keluar lagi cuma makan waktu 5 menit. Lebay? Mungkin.
Saya sampai heran sekaligus senang.

Gimana enggak, biasanya di counter JNE lain selalu antri. Ramadhan itu orderan lagi banyak-banyaknya. Dan yang punya OLshop bukan saya aja kan. Saya sering tuh liat orang lain bawa banyak paket.

Saya tanya ke admin jam buka JNE Kopo Sayati. Katanya sampai jam 12 malam. Haaaaa?
Mantap tuh, berarti masih bisa packing-packing setelah sholat tarawih. Hehehe..  


KERJASAMA DENGAN MARKETPLACE FAVORIT

Sekarang saya sudah resign jadi karyawan dan jualan online sendiri di rumah. Selain di Instagram, saya juga jualan di sebuah aplikasi marketplace. Marketplace favorit saya ini punya program free ongkir bekerjasama (hanya) dengan JNE.

Buat saya sebagai penjual, sebenarnya jualan di marketplace itu lebih beresiko. Kenapa? Uang pembeli masuk rekening bersama. Saya tidak akan menerima pembayaran kalau pembeli tidak menerima barang. Dalam hal ini, kalau terjadi masalah dalam pengiriman, skenario terburuknya adalah barang hilang + saya gak dapat duit. Double rugi. Jangan sampai terjadi ya Allah T_T

Untunglah sejauh ini gak pernah ada masalah dalam pengiriman dengan JNE.
Makasih ya JNE :')

Pengiriman cepat oleh JNE



HARI BEBAS ONGKOS KIRIM

Hari Jumat siang tanggal 25 November lalu, seorang adik kelas saya waktu kuliah dulu, Silpi, menghubungi saya karena kepincut dengan salah satu foto dress yang saya upload di Facebook. Ia ingin membelinya.


Dress yang membuat Silpi jatuh hati

Saya lalu menghubungi Teh Wiwi, agen Jakarta tempat saya sering memesan dress. Iya, untuk produk ini saya memang dropship. Teh Wiwi bilang kalau dress itu sudah dikirim dari produsen dari Tasikmalaya, namun belum sampai di tangannya.

Mengetahui hal itu, saya jujur katakan pada Silpi kalau barang belum ready dan insya Allah baru bisa dikirim hari Senin (28 November). Silpi tidak mempermasalahkannya. Saya pun lalu memberikan total tagihan plus ongkir JNE Reg.

Ternyata Teh Wiwi menerima paketnya malam itu (jumat). Sehingga ia bisa mengirim ke Silpi keesokan harinya, Sabtu 26 November 2016 yang bertepatan dengan Hari Bebas Ongkos Kirim (HARBOKIR) yang digelar JNE dalam rangka ulang tahun JNE ke-26. 

HARBOKIR ini diselenggarakan tanggal 26-27 November 2016. JNE membebaskan ongkos kirim dalam kota di 55 kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta tempat Teh Wiwi dan Silpi tinggal.
 
Informasi lebih lengkap tentang HARBOKIR bisa dilihat di sini

Teh Wiwi sebagai pihak pengirim mengonfirmasi bahwa benar ongkos kirim kepada Silpi adalah GRATIS. Bahkan oleh pihak JNE dikirim dengan layanan YES (Yakin Esok Sampai) senilai Rp. 18.000,-
Mungkin kalau Silpi memberikan alamat kosan, paketnya akan sampai hari Minggu. Namun karena Silpi menggunakan alamat kantor, ia menerima paketnya hari Senin.







Ceritanya saya salah ngasih total tagihan. Silpi jadi kelebihan transfer 10 ribu. Saya juga kembalikan ongkir yang telah ia bayarkan sebesar 9 ribu. Sebagai mantan anak kosan, saya mengerti sekali 19 ribu itu berharga. Buat beli sebungkus mie instan dan sebutir telur juga masih kembalian toh? Hahahaha
#perhitungan

 Itulah beberapa pengalaman baik saya dengan JNE.

Sebagai penutup, saya mau ngasih pesan untuk pembaca yang baru mulai jualan online:


Jangan Senang Dulu

Saat ada orang yang menghubungi dan tanya-tanya tentang produk, jangan senang dulu.
Belum tentu dia beli.

Saat ada orang yang sudah memilih suatu produk dan menanyakan nomor rekening, jangan senang dulu.
Belum tentu dia transfer.

Saat ada orang yang transfer, hmm.. bolehlah senang sedikit.
Tapi proses jual beli belum selesai.

Kamu boleh senang,
saat pengiriman lancar tanpa kendala
Konsumen telah menerima barangnya.
Ia puas.
Tidak ada complain,
apalagi return,
apalagi refund.


Teruntuk para staf dan kurir JNE yang sudah membantu saya mengirimkan barang ke konsumen dengan aman, saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya.

Mungkin saya belum bisa mengucapkannya secara langsung dan tatap muka. Tapi kalau teman-teman crew JNE membaca ini, percayalah berkat kalian saya semakin percaya diri untuk terus jualan online. Inilah cita-cita saya, berpenghasilan dari rumah. Tanpa kalian, saya tak mungkin bisa :')
#kemudianbaper

Selamat Ulang Tahun ke-26, JNE Express
Sukses Selalu..


http://www.pungkyprayitno.com/2016/11/punya-cerita-baik-bersama-jne-ayo-tulis.html

 


Senin, 08 Februari 2016

Terimakasih, W. Saya Pasti Stres Tanpamu.

Saya menyusuri jalan Prabu Geusan Ulun dari Gang Pasarean menuju ke arah utara. Sudah 100 meter tapi saya tidak juga menemukan apa yang saya cari. Saya memang baru beberapa bulan tinggal di rumah mertua di Sumedang ini dan tidak mengenal daerah sekitar.
 
Kelelahan, saya putuskan untuk beristirahat. Kebetulan tak jauh dari tempat saya berdiri ada sebuah gerobak tukang Baso Tahu Goreng (Batagor) yang sedang melayani pembeli. Saya pun menghampiri dan memesan seporsi Batagor.

Sambil memperhatikan sang penjual memotong-motong batagor, saya bertanya, “Mang, tahu ga, ada warnet gak ya di sekitar sini?” Saya berharap sang pedagang Batagor tahu di mana warnet karena ia pasti sering berkeliling di daerah sini menjajakan dagangannya.  

Tebakan saya benar. Setelah beberapa saat berpikir, ia menjawab, “Di dekat perempatan itu, Teh..” Ia menunjuk perempatan lampu merah yang letaknya berlawanan dengan arah yang barusan saya tuju. “Dari lampu merah itu belok kiri. Pas di situ. Kalau ga salah sih ada warnet.”
Hmm.. baiklah. Berhubung hari itu saya sudah agak capek, saya putuskan untuk mencoba lagi mencari warnet keesokan harinya sesuai petunjuk Mang Batagor. 

Alhamdulillah, petunjuknya benar. Saya menemukan warnet bernama Finish.net.

---
Saya pikir, saya tidak akan pernah ke warnet lagi.

Jumat, 22 Januari 2016

Beli Acer Liquid Z320 yuk, Sayang. Agar anak senang, kita tenang.

Aku menunggu dengan sedikit resah. Jam menunjukkan pukul 18.55 WIB. Suamiku belum pulang. Kemana dia? Biasanya jika pulang terlambat, dia selalu memberi kabar. Aku lalu mengambil ponsel. 
Ternyata mati! 
Ah, selalu saja mati sendiri padahal aku sangat yakin baterainya belum habis.