Rabu, 26 Desember 2018

Dilamar Lelaki Kere


Seseorang dalam friendlist FB saya memposting status survey:

“Kalau punya anak perempuan terus anaknya dilamar sama lelaki miskin/kere, diterima atau tidak?”

Komentar-komentarnya beragam dan menarik tapi ada beberapa jawaban “Tidak”, “No”, “No no no” yang kok bikin saya baper yaaah. Saya jadi gatel deh ikutan komen. Berhubung jawaban saya pendek dan belum memuaskan, saya mau tulis yang lebih panjang lagi ah di sini.


 Tahu gak sih, Fatimah putri KESAYANGAN Rasulullah SAW itu pernah dilamar beberapa orang yang tak hanya soleh tapi juga punya harta. Semuanya ditolak. Hingga akhirnya Ali bin Abi Thalib yang miskin itu melamar, barulah Rasullullah menerimanya. LUAR BIASA!

Saya belum cek lebih jauh pertimbangan Rasulullah apa. Ada yang bisa kasih tahu saya? Heuheu

Yang pasti saya tahu Fatimah bahagia karena dia sebenarnya diam-diam menyukai Ali :’)
Itu cerita Fatimah & Ali.

Sekarang cerita saya.

Saya diajak nikah oleh seorang lelaki kere. Definisi kere di sini adalah, dia tidak punya harta apapun kecuali baju yang ia pakai, sepatu, dan sebuah HP jadul. Saat pertama kali  bertemu dengannya, dia bekerja sebagai sales. Ia hanya seorang tamatan SMK, tak sebanding dengan saya yang punya gelar sarjana. Berani banget ya dia? Heuheu

Saat saya bercerita tentangnya pada orangtua, ortu kurang setuju. Meski demikian ortu saya sangat sadar bahwa bukan mereka yang mengatur jodoh saya, melainkan Allah. Jadi mereka memposisikan diri sebagai penasehat saja.

Saya juga sempat ragu. Keraguan ini saya katakan pada sahabat. Sahabat saya (yang sama sekali tidak mengenal lelaki kere ini) hanya menjawab diplomatis, “Yang penting potensinya.”



Waktu itu saya belum paham sepenuhnya. Tapi saya mulai melihat lebih dekat kepribadian lelaki kere ini.

Ia hormat pada orangtuanya.

Ia mandiri.

Hidupnya yang sulit justru membuat mentalnya kuat. Ia jarang mengeluh.

Ia pekerja keras. Mau kerja apapun asal halal.

Ditantangin buka bisnis, dia berani.

Dia kerja keliling-keliling kota nebeng motor temennya. LITERALLY dia dibonceng kemana-mana karena dia gak punya motor. Saya salut karena saya tahu di luar sana ada laki-laki pemalas yang beralasan ga bisa berangkat kerja kalau ga bawa kendaraan sendiri.

Kalau saya lihat di sinetron, laki-laki yang kesulitan ekonomi cenderung temperamen, suka marah-marah, stress terus, dan sering melakukan KDRT. 
Lelaki kere ini tidak begitu.

Dia tenang dan stabil. Isi dompet yang minim tak membuatnya kesal. Buat saya, ini menunjukkan resilience (daya tahan) yang baik dan itu sangat sangat penting untuk menjalani hidup (dan mengarungi bahtera rumah tangga)

Dia juga TIDAK pernah bilang, “Bersediakah kau hidup susah bersamaku?” karena dia memang tidak berniat dan berencana hidup susah. Dia berniat baik ingin membahagiakan saya.

Ketika saya bilang padanya bahwa cita-cita saya adalah menjadi Stay-At-Home Mom (SAHM) dan tidak mau meninggalkan anak untuk kerja kantoran, dia setuju tanpa tapi. Dia TIDAK bilang, “Tapi kalau penghasilanku ga mencukupi untuk kebutuhan kita, kamu kerja juga ya?”

Meskipun kondisinya pada saat itu pas-pasan tapi dia MELIHAT MASA DEPAN bisa lebih baik, dengan izin Allah.

Dia TIDAK berpikir, “Gajiku kecil bagaimana aku nafkahin anak istri?” atau “Aku tidak punya ini dan itu bagaimana aku bisa sukses?”

Dia percaya dengan janji Allah,
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (Q.S. An Nuur: 32)  
Dia tidak pelit. Dia senang berbagi terutama pada mereka yang membutuhkan. Padahal di luar sana berapa banyak orang yang enggan bersedekah karena merasa belum cukup kaya?

Karena semua alasan itu, terutama poin-poin terakhir, saya menilai lelaki kere ini berpotensi. 

Guru saya pernah bilang, 
“Bagi orang yang bermental kaya, tidak punya uang hanyalah kondisi sementara.” 
Ada contoh-contoh kasusnya tapi nanti tulisan ini kepanjangan :D

Singkat cerita, kami pun menikah. Saat itu gaji dia lebih kecil daripada gaji saya.

Setahun kemudian saat kami punya anak, saya tak lagi bekerja. Tercapai tuh cita-cita saya jadi SAHM hahaha tapi di situ perjuangan baru dimulai.

Mengandalkan satu keran penghasilan dari gaji suami yang dibawah UMR, kami hidup prihatin.

Tapi itu semua berubah setelah kerajaan api menyerang. Eeeeh :D

Itu semua berubah seiring berjalannya waktu.

Kini kami sudah 5 tahun berumah tangga. Suami bekerja sebagai project manager dengan gaji dan fasilitas yang lebih baik dibanding saat jadi sales di perusahaan sebelumnya. Dia juga kadang-kadang dapat job sebagai freelance scriptwriter. Kalau lagi ga lembur dan ga ada job nulis, dia jadi ojek online di malam hari dan weekend. Total suami punya 3 keran penghasilan.

Sementara itu, saya jualan online di Instagram.com/BajuKokoAnak dan Alhamdulillah omzetnya meningkat dari tahun ke tahun. Sesekali saya dapat job tak terduga sebagai blogger dan buzzer. Jadi saya pribadi punya 2 keran penghasilan.

Sebenarnya saya juga dapat peluang jadi kontributor di sebuah situs dengan fee yang sangat menarik. Tapi ternyata susah euy bagi waktunya. Ngurus anak sambil ngeOLshop aja saya jungkir balik :D

Memang sih 5 keran penghasilan itu bukan passive income apalagi massive income. Belum bisa nabung juga untuk beli rumah. Tapi kami tak merasa kekurangan suatu apapun.

Kami optimis keadaan akan semakin baik dan meningkat selama kita berikhtiar maksimal dan bertawakal pada-Nya.

So, kalau saya boleh ngasih saran pada Bapak Ibu yang punya anak gadis..

Pak, Bu, jika ada seorang pemuda miskin melamar putrimu janganlah menolak hanya karena isi dompetnya yang minim.

Lihat akhlaknya, sikapnya, perilakunya, visi misi hidup dan juga potensinya.

Kalau Bapak Ibu masih keukeuh juga, mungkin harus nonton sinetron itu tuh.. 
Yang ceritanya mereka seneng banget dapat menantu kaya eh tapi ternyata itu menantu durhaka yang endingnya menyakiti hati mertuanya. Jangan sampai mengalaminya ya Pak, Bu..

Salam cinta dari saya yang aslinya jarang nonton sinetron,
@Sintamilia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar