Rabu, 01 Juni 2016

When Beautiful Breastfeeding Moment Soon Will Come To An End

Saya harus banyak bersyukur dengan pengalaman menjadi ibu yang luar biasa; bisa saya katakan nyaris sempurna. Melahirkan normal. ASI lancar. Bisa bersama anak 24 jam sehari 7 hari seminggu. Anak sakit, rewel, ibunya kelelahan? Tenang, ada ibu mertua yang sigap membantu. Ada sepupu-sepupu kecil yang bisa jadi babysitter gratisan, ngajak keponakannya main sementara saya leyeh-leyeh atau perlu ke kamar mandi sebentar.

Semua serba menyenangkan. Kalau anak sesekali demam-batuk-pilek atau susah makan, saya yakin hampir semua ibu mengalaminya. Jadi itu tidak akan membuat saya terlalu galau, cuma stres dikit. Hahaha..

Alhamdulillah Kakang jarang sakit. Ga pernah juga mogok makan lebih dari 24 jam. Bisa dibilang saya jarang stres. Sampai baru-baru ini, terjadi sesuatu yang membuat saya galau berat:

KAKANG MENOLAK MENYUSU.

Usianya sekarang 19 bulan.
Saya gak tahu kenapa Kakang mendadak tidak minta menyusu.
Saya tawari, dia tolak.
Saya buka baju bagian dada, dia minta saya untuk menutupnya.
Saya paksa, dia nangis.

Ya Allah, Kakang kenapaaaa? :(

Yang paling berat bagi saya adalah karena ini sangat mendadak. Tahu kan apa yang terjadi saat anak yang tadinya sering menyusu kemudian berhenti MENDADAK?

PD sang ibu akan membengkak.

Itulah yang saya alami. Dada terasa semakin penuh, sementara Kakang pun mati-matian gak mau menyusu. Saya gak tahu harus bagaimana.

Stres!

---

Kira-kira kenapa ya? Saya punya beberapa asumsi.

1. Kakang Menyapih Dirinya Sendiri

Memang beberapa minggu terakhir saya suka sounding ke Kakang saat dia menyusu, "Kakang udah besar. Gak boleh nenen lagi. Nenen mah untuk anak bayi.."

Biasanya dia hanya nyengir, geleng-geleng kepala, sesekali mengeluarkan nada protes. Saya tahu pasti dia mengerti apa yang saya katakan.

Apakah frekuensi menyusunya berkurang? Tidak. Malah justru bertambah! Saya sempat berpikir apakah dia merasa terancam gak bisa menyusu, makanya mumpung masih bisa menyusu, dia menyusu banyak-banyak. Mungkin gak siy anak balita mikirnya seperti itu? Heuheu

Tapi kalau menyapih diri sendiri, harusnya kan berkurang secara bertahap. Ya gak sih?


2. ASI Saya Habis

Akhir-akhir ini sering saat Kakang menyusu, ia melepaskan dan 'melapor' pada saya, "Abis! Abis!"

Saya yakin dia mengerti makna habis. Tapi saya gak yakin ASI saya habis. Mungkinkah ASI saya sungguhan habis? Bukankah produksi ASI akan tetap normal selama frekuensi bayi menyusu normal? Bagaimana bisa ASI saya habis tanpa alasan?

Sejak suka bilang "Abis", Kakang yang biasanya selalu menyusu pada 1 PD, kini minta 2 PD, gantian kanan-kiri. Sejujurnya saya pun merasakan bahwa PD saya tak sepenuh dulu. Tapi sedikitpun terbersit dalam benak saya kalau Kakang akan berhenti menyusu. Karena tak banyak ASI lagi kah?

Saya pun googling penyebab ASI menurun. Ada banyak kemungkinan, ada banyak faktor. Tanya ke teman juga katanya bisa karena stress, kurang sayuran, kurang minum, meninggalkan anak dalam waktu lama, dll. Kalaupun benar ASI saya kering, saya gak tahu apa alasannya.


Pada akhirnya, saya (dan suami juga mertua) mengikhlaskan jika memang Kakang tidak menyusu sampai 2 tahun. Toh dia sudah 1,5 tahun. Sudah bisa mendapatkan gizi dari makanan dan susu formula. Syukuri saja karena kami tidak mengalami hal-hal yang lebih drama dari ini. Bukankah banyak ibu yang mengalami proses menyapih yang tidak mudah?

Ah, Kakang.
Kamu beneran sudah besar ya, Sayang? :')

2 komentar:

  1. Hebat yah si kakang.
    Sukses jadi ibunya yah teh.. :)

    BalasHapus
  2. ANak saya 3, Mbak. Dua yang laki2 seperti Kakang. Berhenti sendiri menyusui. SI sulung saat masih 1 tahun 2 bulan. Dan si bungsu saat kurang 2 bulan 2 tahun berhenti sendiri minta ASI. Misteri :))

    Kebalikannya dengan anak perempuan saya, harus disapih di usia 2 tahun 2 bulan.

    BalasHapus