Selasa, 09 Agustus 2011

Jangan Paksa Saya Jadi Pengusaha!

Protes 1
Saya pernah melihat sebuah judul buku: Kalau Mau Kaya, Berhenti Sekolah Sekarang Juga! (kira-kira gitu deh, lupa tepatnya). Saya memang belum baca buku itu tapi saya pernah membaca tulisan yang ide intinya sama. Bahwa sekolah itu tidak membuat kaya. Bahwa banyak orang-orang sukses padahal gak sekolah, putus sekolah, atau drop out (DO). Banyak figur-figur yang dijadikan contoh, termasuk si penemu Facebook yang sekarang tajir tujuh turunan *berlebihan* meski DO dari kuliahnya.

Yeah, right.
Tapi plis dong, saya benar-benar tidak suka mereka melarang (?) orang bersekolah dan melanjutkan kuliah demi kekayaan dan (apa yang mereka sebut) kesuksesan.

Belajar dan menuntut ilmu adalah wajib. Tidak ada yang salah dengan orang yang memilih belajar di universitas sampai tamat, sampai S2, S3, PhD. Tidak ada yang salah dengan orang yang belajar demi kehausan akan ilmu pengetahuan, atau keinginan mengejar passion dalam mengajar dan menjadi ilmuwan.

Buat kamu yang meninggalkan bangku sekolah dan sukses jadi pengusaha, kamu keren!
Buat kamu yang rela "hidup miskin", selalu berhemat, mencari beasiswa, demi pendidikan setinggi-tingginya, kamu HEBAT!


Protes 2
Sekarang lagi musim "kampanye" untuk jadi pengusaha sepertinya. Buku-buku yang berjejer di toko buku banyak yang "mengajari" itu. Bagus, sih, Indonesia memang butuh lebih banyak pengusaha. Tapi sejujurnya itu membuat saya merasa bersalah dan merasa "berdosa" karena (waktu itu) sama sekali tidak berniat dan berminat jadi pengusaha.

Saya pernah curhat ke seorang teman, "Saya maunya jadi penulis, ga mau jadi pengusaha. Gimana dong?"
Dia (yang "pro" pengusaha) menjawab, "Bikin sekolah penulisan aja kalau gitu,"

Zzzz...
Saya maunya NULIS, bukan me-MANAGE orang-orang untuk belajar dan mengajar nulis. Itu sama saja kayak saya mau jadi penulis skenario, terus disaranin jadi produser. Saya maunya berimajinasi, mengarang cerita, sambil ngetik di laptop, bukan pusing nyari duit buat produksi! *maap, agak gemes*

...

*cooling down*
Tapi baiklah...
Saya sedikit demi sedikit mengerti betapa "urgent" jadi pengusaha.
Saya tahu 9 dari 10 pintu rejeki ada di perdagangan.
Saya (sepertinya) tahu in the end hidup jadi pengusaha itu enak. Waktu kerja fleksibel, uang ngalir terus. Passive income.
Saya tahu bahwa seharusnya saya tidak egois melakukan hal-hal yang hanya menyenangkan buat saya diri sendiri, tapi juga bermanfaat bagi orang lain. Saya sebaiknya ikut membuka lapangan kerja.

Saya perlu jadi pengusaha.

Maaf,
mungkin ini hanyalah cara agar saya tidak terus menerus merasa bersalah karena menamatkan S1 lalu memilih menganggur saat ini (menganggurnya jangan dicontoh!), bukannya mengundurkan diri di semester 4 lalu mulai berjualan.

Mungkin ini hanyalah pembelaan saya yang mengaku sudah mengerti pentingnya jadi pengusaha, tapi toh belum juga memulainya.
Saya masih perlu waktu...


Eniwei, saya juga pernah baca, katanya kalau kita memang belum bisa jadi pengusaha, mintalah pasangan untuk berwirausaha. Pokoknya salah satu harus jadi pengusaha.

Nah, itu lebih solutif menurut saya. Hahaha..
Jadi gimana kalau kamu..
kamu yang di belakang itu..
iya kamu.. kamu pengusaha sukses kan?
Mau jadi suami saya?
Yuwk mariiii...


ckckckckck





2 komentar:

  1. kalau menurut saya, jadilah yang terbaik dibidangmu, apapun itu, selamat mengejar cita2!sukses terus

    BalasHapus
  2. Setuju sama yang di atas. :D
    Tapi kalau mau yg enak, ya pengusaha... Pengusaha+Penulis kayaknya perpaduan sempurna.

    BalasHapus