Jumat, 12 Juni 2015

KETIKA ENGKAU BERSEDIA MENIKAH DENGAN PEMUDA TAK BERHARTA

Ketika seorang pemuda tak berharta datang meminang, engkau menerimanya. Penerimaan yang mungkin tidak serta merta, karena logikamu dan orang-orang yang menyayangimu bertanya, “Apakah engkau yakin dengan dia yang tak punya apa-apa? Bagaimanakah kehidupan rumah tanggamu nanti?”

Pikiran itu mengganggumu selama beberapa waktu, hingga kemudian engkau menyadari bahwa ia memiliki hal-hal yang lebih berharga dari sekedar harta, yang semoga dapat membawamu menuju syurga.

Mungkin engkau menerimanya justru karena ia tak berharta. Engkau mengagumi keberaniannya melamarmu, di saat para lelaki mapan punya banyak alasan untuk menunda-nunda pernikahan.

Mungkin engkau menerimanya karena ia begitu shaleh. Ia dirikan solat di awal waktu, ia kerjakan ibadah sunnah, ia rutinkan tilawah Al-Qur’an, karena ia sangat tahu bahwa Allah tak akan melihat hartanya melainkan ketaqwaannya.

Mungkin engkau menerimanya karena akhlak dan budi pekertinya yang luhur. Ia yang mudah tersentuh dengan penderitaan orang lain, ia yang gemar bersedekah, ia yang mengulurkan tangan pada siapa saja yang membutuhkan pertolongan.

Mungkin engkau menerimanya karena ia pekerja keras. Ia tidak punya uang yang bekerja untuknya, seperti para investor yang tinggal tanam uang lalu bersantai-santai menikmati uang masuk. Tidak, ia belum bisa seperti itu.

Ia harus mencurahkan tenaganya, pikirannya, keterampilannya, dan apapun yang sudah Allah karuniakan padanya, untuk ia gunakan mencari nafkah. Ia mungkin bukan lulusan terbaik sekolah bergengsi yang ditawari gaji besar di perusahaan A dan B. Ia mungkin tak punya banyak pilihan pekerjaan. Tapi ia kerjakan apa yang ia bisa semaksimal mungkin, selama itu halal. Hingga mungkin engkau terkejut melihat betapa tangguh dan kuatnya ia menghadapi beban pekerjaannya.

Mungkin engkau menerimanya karena ia sabar. Saat tak ada uang untuk membeli kebutuhannya, ia tak akan marah-marah apalagi melakukan kekerasan. Di saat orang lain menjadikan rasa lapar sebagai alasan bertindak kejahatan, baginya lapar hanyalah kondisi sementara. Seperti saat berpuasa, laparnya mengekang hawa nafsu. Ia hanya perlu sabar dan tetap berikhtiar, serta yakin bahwa Allah akan menurunkan rezeki pada akhirnya.

Mungkin engkau menerimanya karena ia begitu mencintai dan menyayangimu sedemikian rupa hingga membuatmu merasa menjadi perempuan tercantik di dunia. Ia menjaga dan melindungimu dengan berbagai cara yang ia bisa. Ia mampu menyediakan telinga untuk mendengarkan keluh kesahmu kapan saja. Ia selalu hadir di saat engkau membutuhkannya. Ia rela berkorban untuk bisa melihatmu tersenyum dan tertawa gembira.


Mungkin engkau menerimanya karena yakin bahwa Allah akan mencukupkan rezeki kalian berdua, hingga hilang kekhawatiranmu tentang hidup berkekurangan. Karena engkau yakin bahwa menjalani hidup ini sebenarnya mudah saja asal tahu kuncinya:


Berpegang pada tali Allah dan segalanya akan baik-baik saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar