Sabtu, 20 Agustus 2011

@haspahani

1. Aku membaca sebuah blog. Sang blogger bercerita bahwa ia pernah memberi kata "cupid" pada @haspahani untuk dibuatkan sebuah sajak (atau puisi? -aku ga tau bedanya). Dan @haspahani itu benar-benar membuatkan tweet sajak dari kata "cupid" yang kebetulan pas dengan situasi hati sang blogger.


2. Penasaran, aku lalu mem-follow @haspahani.


3. Suatu hari, tanggal 18 Juli, @haspahani meminta pada followersnya satu kalimat berakhiran M untuk ia buatkan sajak.


4. Aku memberinya kata "MURAM".


5. Lalu ia pun nge-tweet dengan me-mention ku di akhir sajaknya:

"Di sinikah kita janji ketemu?

Di muara muram ini?

Aku elu-elu dari hulu,

kau jerat jerit elang laut itu.

Di muara murung ini?"


6. Wuiiih! Senengnya dibuatkan puisi! Belum ada yang membuatkan puisi untukku.. *terharu* meskipun aku ga ngerti makna puisinya *huuuuuu.


7. Satu bulan kemudian, saya menemukan artikel atas nama Hasan Aspahani di koran Batam Pos.


8. Ternyata eh ternyata.. beliau adalah.. GM & Pemimpin Redaksi Batam Pos! Woooooowwww!


9. Sama sekali ga nyangka aku satu kota dengan beliau. Secara jarak fisik, beliau lebih dekat dari yang kuduga.


10. The End (ga tau mau nulis endingnya gimana).


Mimpi Absurd

Tadi pagi saya bermimpi.
Mimpi yang, seperti wajarnya mimpi, terasa absurd sekaligus begitu nyata.

Alkisah,
saya berada pada sebuah antrian audisi (Audisi apa? Lanjutkan membaca! :D)
Banyak yang ngantri. Kayak di acara Indonesian Idol.

Tapi sempat-sempatnya, saya dan kawan-kawan (entah siapa kawan-kawan saya ini) melakukan tindak kriminal dengan melakukan... apa ya..? kalau tidak salah, mencuri beberapa bagian mobil milik Bara putranya Juan Felix Tampubolon (Entah kenapa ada dia di mimpi saya! Kenal aja enggak. Hwkwkwkwkwkwkw. Padahal ga ada Nikita Willy. Ckckckc)

Saya berjalan ke sebuah saung yang ada tempat duduknya.
Saung itu terletak di atas, di bagian tanah yang tinggi.
Agak berat menanjaknya. Tapi seseorang membantu saya dengan mendorong punggung saya.
Hingga sampai di saung, saya duduk.
Ketika saya melihat siapa yang mendorong saya..
ternyata dia.
Si tampan. Mari kita inisialkan menjadi ST (hihihi..)

Kalimat saya hanya satu, yang intinya saya tidak menyangka dia akan berada di situ.
Ternyata itu satu-satunya kalimat yang ada di antara kami.
Dia tak menjawab, dan saya tidak berbicara apapun lagi padanya setelah itu.
Tapi kami -atau minimal, saya- tetap merasa nyaman.
Setidaknya tidak ada pertengkaran seperti biasanya.

Kemudian kami pindah lokasi (biasa, di mimpi pindah-pindah lokasi entah dimana).
Mengantri lesehan dengan ratusan pengantri lain, yang sebagian besar perempuan seumuran saya.
Dia, ST, satu dari segelintir cowok, duduk persis di sebelah kanan saya.
Menemani saya.

Kemudian Bara lewat.
Berlutut di samping kiri saya, dan mengeluarkan sesuatu yang saya yakin dia ambil (entah bagaimana) dari saku saya.
"O ow. Aku ketahuan! Mengaku saja apa ya?" pikirku mengingat tindak kriminalku tadi.
Dia menunjukkan benda yang dia ambil dari saku saya,
ternyata... stiker logo mobilnya (Gubraaaaaakkkkss!).
Dia meringis menertawakan.
Mungkin dia pikir, cemen banget saya cuma nyolong stiker mobilnya.
Lalu ia pun pergi meninggalkan saya.

Si Bara nampaknya masih mencari-cari pelaku pencurian isi mobilnya.
Beberapa orang dipanggil dari antrian.
Ada seorang gadis yang ketika digelandang, dia berat hati dan memelas,
"Tapi saya lagi 'dapeeet'..."
Saya ngakak guling-guling mendengarnya.
Geer banget tuh cewek, kayak mau diapain aja sama si Bara.

Lalu ST menunjukkan pada saya bahwa saya lagi 'dapet' dan 'tembus'.
Whaaaaattt?
Dengan wajah merah padam, saya tampar pelan pipinya supaya berpaling dari saya.
Sialan!

Menunggu.. dan menunggu..
Saya dan ST sama sekali tidak berbicara.
Hanya mengamati orang-orang yang berseliweran di depan kami.
Persis seperti orang lagi gelar lapak di Gasibu.

Tapi entah kenapa..
Kalau ada cowok yang lewat, sepertinya senang sekali mereka mengganggu ST.
Kebanyakan membuat dia jatuh terjengkang.
Saya kasihan tapi tidak bisa berbuat apa-apa,
saya pun tidak tahu apa salahnya sehingga ia dizolimi seperti itu.
Dan saya tidak bertanya.
(Ckckck. Bahkan dalam mimpi pun saya masih (pura-pura?) bersikap tidak peduli).

Sampai akhirnya...
Audisi dinyatakan selesai padahal saya belum sempat di tes.
Ternyata itu adalah audisi..
untuk mencari..

pemain tenis (Super absurd sekali sejak kapan saya tertarik main tenis? -__-").


Kami pun pulang.
Nebeng sebuah mobil carry berwarna putih,
dengan teman-teman kuliah saya yang tidak begitu akrab (ga tau kenapa mereka juga ada di mimpi ini -___-")


Saya terbangun.



Sejujurnya saya memang sedang kangen sama ST ini.
Tapi saya belum mau menghubunginya.
Jadi yaaah.. cukup senang ketemu dalam mimpi.
Lebih senang lagi karena tidak perlu ada percakapan yang biasanya berujung tidak enak.

Anyway,
Semoga dia baik-baik saja.

















Rabu, 17 Agustus 2011

The Host

Suatu hari, Sinta, Yusuf, dan Rama duduk di depan TV menonton sebuah film yang disewa dari Video Ezy *bukan iklan*.

Sinta : "Ini film horor loh.."

Di layar TV, muncul judul tanpa subtitle: THE HOST.

Yusuf : "HANTU. Ya teh?"

Sinta : "Bukaaaaaann! Ini tentang monster ikan,"

Rama : "Hantu itu GHOST,"

Sinta : "Pinteeeeerrr...!" *angkat jempol*

Yusuf : "Terus The Host apa dong artinya?"

Nah loh.

Apa ya..? Sinta berpikir.

Yang pasti The Host adalah buku karya Stephenie Meyer setelah The Twilight Saga.

Di buku itu sih artinya "Inang".

Tapi kayaknya di film ini bukan itu deh artinya.

Jadi apa dong?

The Host.. Hostes...

Akhirnya Sinta pun menjawab dengan ragu,

Sinta : "Tuan Rumah."

Rama : "Host itu PEMBAWA ACARA,"

Sinta : "PINTEEERR!" *angkat jempol lagi*

Cerdas banget ya Rama? Sebenarnya Sinta juga sempat terpikir "pembawa acara". Tapi...

Yusuf : "Masak judul filmnya 'Pembawa Acara'?"

Di layar TV muncul penampakan sang monster.



Sinta : "Yah... monster ikan itulah pembawa acaranya..."


Kemudian hening.




Catatan:

Sampai sekarang, makna kata The Host sebagai judul film itu masih menjadi misteri.

Sumber gambar: Forbidden Planet, The Mad Challenge.

Senin, 15 Agustus 2011

Aku Membenciku

Aku membenci mataku yang melihat dia begitu sempurna,

Padahal ku tahu pastilah tidak begitu adanya.

Aku membenci otakku yang berandai-andai dia untukku,

Padahal itu hanya ada dalam imajinasiku.

Aku membenci hatiku yang mengabaikan memoriku

yang berteriak, “Hei! Ingatlah kesalahan dia yang telah lalu!”

Aku membenci bibirku

Yang tak mampu mengatakan padanya “Jauhi aku!”

Aku membenci diriku

Yang menyediakan untuknya ruang hatiku.



Aku membenciku.

Selasa, 09 Agustus 2011

Tired But Happy

Jadi pengangguran pas bulan puasa itu ternyata enak. Sumpah! Hehehe. Bisa bangun siang. Bisa tidur kapan aja kalau ngantuk. Enak tho? Tapi saya tidak menyarankan kalian jadi pengangguran. Kerja keras adalah kebutuhan.

Sahabat saya yang sudah menikah pernah bercerita bahwa mengerjakan pekerjaan rumah tangga itu capek. Lebih capek daripada pekerjaan dia dulu di bank. Padahal kerja di bank itu lumayan terforsir juga tuh tenaga dia. Teman kami bahkan ada yang keguguran karena kecapekan mengerjakan urusan rumah! *Innalillahi.. :'(

Sebagai orang yang bercita-cita menjadi istri dan ibu yang baik *eaaaaa, saya pun 'latihan' hari ini. Gak sengaja sih.

Diawali dengan perintah Mama untuk membangunkan adik-adik jam 06.45 WIB. What? Biasanya jam segitu kan saya masih tidur ya (bulan puasa neh!). Tapi kemarin adik-adik saya gak ke sekolah gara-gara kesiangan (Mama juga kesiangan). Jadilah saya yang paling bisa bangun dengan bunyi alarm, yang diberi amanat membangunkan mereka. Baiklah.

Bangun jam 4, sahur, internetan sampai jam 6, tidur-tiduran di kasur, niatnya pengen tidur beneran. Tapi belum sempet masuk ke alam mimpi, alarmnya udah bunyi! Gile.

Bangunin adik-adik, nyetrika baju seragam, jam 8 baru bisa tidur.

Nah, pas bangun siangnya, mulai deeeh...
Karena mesin cucinya rusak, saya disuruh nyuci pakai tangan -___-"
Biasanya cuci baju adalah "mainan" Mama dengan mesin cucinya. Kalau di kosan, seringnya laundry. Kebayang betapa shock nya saya, mencuci tumpukan baju 5 orang dengan cara manual. Sampai tiga "kloter" booook! Zzzzz... Cape gile. Untung lagi gak puasa *eh

Dilanjutkan dengan mencuci piring bekas makan sahur.

Terus..
ng..
ngapain lagi ya?

Jemur baju.. *pastilah!

Terus apa lagi ya..
Kok itu doang? Tapi udah cape banget rasanya.

Gimana kalau ditambah bersih-bersih rumah, nyapu+ngepel, nyetrika cucian segunung, dan masak? Ngebayanginnya aja mau pingsan.


Tapi saya senang. Setidaknya tenaga saya terpakai untuk sesuatu yang berguna. Setidaknya saya membantu mengurangi beban kerja Mama. Selama tadi saya kerja sih, si Mama tidur mulu (tapi ga tau jangan-jangan pas saya tidur si Mama kerja. Hahaha)

Inilah yang pernah saya inginkan ketika dulu saya masih berstatus "kerja". Saya ingin di rumah, berbakti pada orangtua, membantu Mama.

Seumur hidup saya belum pernah punya waktu sebanyak ini untuk membantu beliau (meskipun tetep lebih sering internetan sih *dikeplak). Pernah di suatu masa, mungkin ketika saya dan adik-adik masih kecil, gak ada pembantu, Mama tampak begitu stres. Sering marah-marah dan merasa dianggap pembantu. Dipikir-pikir, emang semuanya kerjaan untuk pembantu sih. Ngurus rumah yang selalu berantakan, ngurus anak banyak yang semuanya minta perhatian...
Sedih..

Sekarang sih Mama udah jauh lebih santai. Anak-anaknya udah pada gede. Udah bisa disuruh ini itu. Tubuhnya makin gemuk (kata orang berarti makin makmur dan happy. Amin). Rumah gak seberantakan dulu. Dia punya banyak waktu untuk istirahat, tidur, nonton TV, bahkan ibadah.
Saya senang melihat Mama saya sekarang.

Dan saya masih ingin berbakti padanya.
Masih ingin membantunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Tidak apa-apa saya capek, yang penting saya senang.
Apalagi mengingat capek saya sekarang tidak seberapa dibanding capek Mama dulu,
atau capek saya nanti kalau sudah berkeluarga.


I'm tired and very happy.. :)