19 April 2015

Tentang Mamah Mertua Tersayang



Ibu mertua saya (kami menyebutnya Mamah) tinggal di Sumedang, sementara saya dan suami tinggal di Bandung. Sebelum menikah, saya hanya sempat ke Sumedang 1 kali. Suami saya (waktu itu masih calon) bilang kalau orangtuanya membebaskan dia memilih pasangan hidup. Jadi Alhamdulillah proses minta restu berlangsung tanpa hambatan yang berarti.

Setelah menikah, barulah saya makin mengenal beliau. Mamah adalah seorang tukang pijat terkenal di lingkungannya. Setelah beberapa minggu menikah saya belum ada tanda-tanda hamil, mamah menawari untuk memijat perut saya. Oh noooo…
Untunglah 3 bulan kemudian saya positif hamil *fiuh..

Setelah tahu hamil, Mamah dan Bapak (mertua) suka menelepon suami dan menanyakan keadaan saya. Suami sampai cemburu, 
“Kamu terus yang ditanyain. Aku ga ditanyain kabarnya. Padahal kan aku anaknya..hiks..”  Hehe..

Karena di Bandung gak ada ortu, Mamah dan Bapak minta saya melahirkan di Sumedang agar mereka bisa menjaga saya. Mereka bahkan sudah menyiapkan kamar untuk saya dan bayi. Tapi ibu saya (sebut saja Mami. Hihi..) keukeuh pengen saya lahiran di Bandung. Selain karena yakin akses kesehatan lebih oke, Mami juga berniat terbang dari Batam ke Bandung untuk mengasuh cucu pertamanya ini selama beberapa waktu. Kami pun bilang pada Mamah bahwa saya akan lahiran di Bandung. Mamah sempat kecewa tapi ya apa boleh buat..

Ketika suatu pagi suami menelepon ke Sumedang dan melapor saya sudah mau melahirkan, Mamah dan Bapak langsung ke Bandung. Selama di klinik, Mamah standby di samping saya, sementara suami mondar-mandir mengurus segala keperluan. Tangan Mamah lah yang saya cengkeram kuat-kuat ketika ‘gelombang cinta’ datang. 

Saat detik-detik melahirkan, saya didamping suami di sebelah kanan, dan Mamah di sebelah kiri. Sementara Mami? Mami yang baru tiba dari Batam duduk di ruang tunggu. Gak berani dan kasihan lihat saya melahirkan katanya. Hehehe..

Mamah dan Bapak ke Sumedang keesokan harinya, kembali ke aktivitas biasa. 
Untunglah ada Mami yang menemani saya selama 1 bulan pertama mengasuh Kakang. Setelah memastikan saya pulih dan bisa mengurus bayi sendiri, Mami pulang. 
Daaan… Mamah pun langsung meminta saya dan bayi ke Sumedang biar beliau bisa bantu mengasuh.

Karena Mamah terus memaksa, dan gak enak karena dulu pernah menolak melahirkan di Sumedang, akhirnya saya dan kakang pun ke Sumedang. 

Bukan main senangnya Mamah (dan Bapak). Saya pun meski sebenarnya sedih banget tinggal jauh sama suami (suami kerja di Bandung), tapi ada senangnya juga tinggal sama mertua. Saya dibebaskan dari tugas domestik apapun. Tugas saya hanya mengasuh kakang. Itupun juga dibantuin. 
Menidurkan Kakang hampir selalu dilakukan oleh Mamah *horeee..  
Kakang rewel? Serahkan pada ahlinya: Mamah. Hihihi.. #menantugaksopan

Mamah dan cucu-cucu tersayang | Maap blur..
Keisengan Mamah (1): Bayi Boboho


Keisengan Mamah (2) : Obsesi pengen cucu perempuan

Semakin mengenal Mamah, saya semakin kagum. Beliau orang yang sangat baik, nyaris tidak pernah marah, super sabar, tabah, dan tangguh. Ia adalah wanita serba bisa, hal yang diakui oleh Bapak. Mamah bisa masak (dulu pernah jualan gorengan dan suka dimintai tolong untuk bantu masak yang lagi hajatan), bisa potongin rambut, memijat, menjahit, bantu bidan nolongin orang lahiran, sampai bikin kue tart!

Ketika Bapak dulu terkena PHK, Mamah pun turut menopang ekonomi rumah tangga, dan dengan sabar terus memotivasi Bapak untuk berusaha. Bapak yang tadinya karyawan pabrik, mungkin malu atau ragu berjualan. Namun dengan ditemani Mamah, Bapak pun bersedia jualan kupat tahu dan bubur ayam dengan gerobak :’) Begitulah dulu, sebelum akhirnya kini Bapak sudah memiliki pekerjaan tetap lagi.

Ah, akan sangat panjang cerita tentang Mamah. 
Semoga saya bisa meneladani keikhlasan, kesabaran, kekuatan, dan ketangguhan Mamah.

Ngebakso bareng Mamah
 Ya Allah, berikanlah Mamah kesehatan, rezeki yang berkah dan berlimpah, serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Aamiiin ya Rabb..

12 April 2015

#BeraniLebih Berinvestasi pada Diri Sendiri

Suatu hari, sebuah berita menjadi awal diskusi menarik antara saya dan suami. Berita itu tentang pemain bola di luar sana yang dinilai sekian miliar rupiah. Pemain bola yang satunya lagi digaji sekian miliar rupiah. Pokoknya bikin geleng-geleng kepala deh. Beda dengan pemain bola Indonesia *ups. Suami saya heran kenapa distribusi pendapatan orang tidak merata dan berkhayal seandainya semua orang memiliki penghasilan sama besar, tentu tidak ada lagi orang miskin.

Saya menggelengkan kepala tidak setuju. Saya katakan, 
“Seandainya semua uang yang ada di dunia ini dikumpulkan jadi satu, lalu dibagi merata ke setiap manusia, tebak apa yang akan terjadi!”

“Apa?” sahutnya penasaran.
“Dalam jangka waktu tertentu, mungkin 3 tahun, yang asalnya kaya akan kembali kaya, dan yang asalnya miskin akan kembali miskin.” Jawab saya.

“Kok bisa?”

Karena orang kaya tahu cara menghasilkan uang, sementara orang miskin cuma tahu cara menghabiskan uang.

#JLEB

Masuk akal kan?

Orang kaya mampu "memutar" uangnya hingga berlipat ganda. Bahkan ada pula yang mampu menghasilkan kekayaan tanpa modal uang pada awalnya.

Saya lalu bercerita pada suami bahwa saya pernah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana orang kaya “bekerja”. Beliau seorang perempuan, mungkin usianya pertengahan 30an.  Saya yakin ia kaya, terlihat dari penampilannya yang glamor dan mengenakan perhiasan emas. Dalam sebuah tantangan, seluruh perhiasan, uang, dan HP yang ia miliki “disita”, lalu ia “dibuang” ke sebuah lokasi. Dalam beberapa jam, ia pulang dan membawa uang 1 juta rupiah! 

Mendengar beliau bercerita tentang pengalamannya mencari uang tanpa modal uang itu, saya salut. Orang ini bermental kaya. Buktinya, meski “dimiskinkan” pun ia tetap bisa menghasilkan uang halal, bermodalkan pengetahuan, pengalaman, serta skill-nya, terutama keterampilan berkomunikasi dan berjualan. Keren banget lah.

Berkaca pada diri sendiri, saya merasa belum menjadi orang kaya. Saya belum berinvestasi dalam bentuk reksadana, emas, apalagi properti. Maklum, semua yang saya sebutkan itu butuh modal uang. Tapi saya sadar, saya bisa melakukan investasi pada diri saya sendiri, dengan selalu menambah pengetahuan dan pengalaman, mengasah potensi yang saya miliki, dan memperluas jaringan. Karena suatu hari nanti apa yang ada pada diri saya inilah yang akan menjadi modal utama menghasilkan kekayaan.

Background image source: Pixabay


Berharap agar Indonesia menjadi negara yang makmur?
Mari mulai dengan #BeraniLebih berinvestasi pada diri sendiri. 

Salam ^^


FB : Sintamilia Rachmawati
Twitter : @sintamilia 



07 April 2015

#BeraniLebih Bermimpi Besar

Apakah Anda punya mimpi? 
Jika sudah, apakah mimpi Anda sudah cukup besar? 
Mimpi dimana kita tidak hanya sukses bagi diri sendiri, namun juga bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Mimpi untuk tidak hanya mencukupi kebutuhan pribadi, namun bisa untuk menghidupi ribuan orang.

Banyak orang yang tidak berani bermimpi besar karena berbagai alasan. Ada yang merasa takut kecewa jika nanti impiannya tidak tercapai, ada yang merasa hambatan menggapai mimpi sulit diatasi, ada yang merasa sudah cukup dengan hidupnya saat ini, bahkan ada pula yang menganggap impian itu tidak penting jadi jalani saja hidup ini bagai air mengalir. Apakah Anda termasuk salah satunya? Semoga tidak, ya?

Saya pernah baca (lupa dimana) bahwa ada satu pertanyaan yang bisa coba Anda jawab untuk menggali impian terbesar Anda, yaitu: 
“Jika finansial tidak lagi menjadi masalah, jika tanpa bekerja Anda sudah memiliki penghasilan cukup untuk membeli apapun yang Anda inginkan, apa kegiatan yang akan Anda lakukan?”
Bertahun-tahun lalu saat saya pertama kali menerima pertanyaan ini, jawaban saya adalah: bikin film Islami, travelling ke beberapa tempat wisata terindah di seluruh pelosok Indonesia, dan jalan-jalan ke luar angkasa! Hahaha..

Apakah impian saya itu bisa  tercapai? Bisa sekali! Bahkan yang terakhir itu, beneran sudah ada loh perusahaan yang bisa memberi kesempatan bagi siapa aja yang mau naik pesawat luar angkasa dan mengelilingi bumi dari atas sana (bukan perjalanan antar planet memang. Tapi lumayan kan? Hehe..) Tinggal kumpulin dananya, lalu laksanakan. Memang mahal, tapi bukankah uang bisa dicari? Dan lagi, tak ada yang tidak mungkin. *tsaah

Itu impian saya jaman abege. Kalau sekarang, ya lebih family-oriented. Salah satu impian saya adalah memiliki rumah besar, kira-kira berisi 5 kamar + kamar pembantu, supaya bisa menampung keluarga besar saat lebaran. Eeeaaa.. Aamiin..

Saat ini saya belum punya rumah. Kami menyewa sebuah rumah sederhana, yang dapurnya hanya ada tempat untuk menaruh kompor dan kami sering bingung menaruh peralatan makan dimana, yang kalau lagi masak terus ada yang mau lewat menuju toilet, maka yang lagi masak itu harus merapat ke pinggir. Iya sesempit itu dapurnya :))

Lalu apakah kondisi saat ini mencegah saya bermimpi besar? 
Tidak!


Saya #beranilebih bermimpi besar. 
Bagaimana dengan Anda? ;)



Fb : Sintamilia Rachmawati
Twitter : @sintamilia




29 Maret 2015

Sinta Si Kutu Loncat

Lagi blogwalking, tiba-tiba nemu postingan bagus yang diikutsertakan dalam blog Challenge Profesi Impian yang diadakan Indonesian Hijab Blogger. Menarik juga temanya. Saya jadi mengenang perjalanan karir saya selama ini.

Pekerjaan pertama saya adalah sebagai freelance writer di sebuah situs bidang makanan. Waktu itu bersamaan dengan digelarnya Piala Dunia 2010. Saya bertugas menulis artikel bertema makanan dari negara-negara peserta Piala Dunia. Asyik banget bagi saya. Selama riset saya jadi banyak tahu tentang sejarah, makanan khas, kebiasaan makan unik di negara-negara tertentu, dan sebagainya. Saya menjadi freelance writer ini selama 2 bulan.

Berikutnya, saya bekerja di perusahaan yang memproduksi baju muslim Shafira dan Zoya. Saya ditempatkan di bagian HRD, bertugas membuat video training. Pekerjaan ini secara sempurna sesuai dengan apa yang saya lakukan di kampus. Soalnya sewaktu kuliah konsentrasi saya adalah di pengembangan SDM (dunia HRD), ikut kegiatan mahasiswa Biro Kerohanian Islam dan Cinematography Club Fikom Unpad. Pas!

Shafira menjadi salah satu tempat bekerja paling menyenangkan buat saya. Di sana saya banyak belajar. Mulai dari belajar menggunakan Linux, mengedit video dengan Kdenlive, menggunakan GIMP sebagai pengganti Photoshop, hingga belajar bahasa Mandarin . Di sini juga pertama kalinya saya ikut arung jeram dan ketemu Siti Nurhaliza. Hohoho..

Sayangnya di sini saya tidak lama. Karena kerjanya sistem proyekan, jadi setelah proyek selesai, berakhir pula masa jabatan saya. Hiks. Kalau tidak salah saya kerja di sini 4-5 bulan.

Sewaktu membuat video SOP Customer Service

Selepas dari Shafira, saya pulang ke rumah orangtua di Batam. Niatnya sih pengen menghabiskan waktu di rumah berbakti pada orangtua sebelum saya menikah (seolah-olah saya bakal menikah sebentar lagi. Hahahahah). Beberapa minggu di rumah, bosan juga rasanya. Ibu saya juga kasian karena menurutnya saya perlu kerja, ke luar rumah dan bersosialisasi.

Seorang adik kelas lalu memberi info lowongan kerja, sebagai Customer Service di sebuah bimbel. Meskipun saya overqualified (kualifikasinya lulusan SMA, sementara saya S1), peluang itu saya ambil. Gak masalah gajinya kecil. Toh niatnya hanya mengisi waktu. Lagipula lokasinya dekat rumah, jadi gak mahal di ongkos.

Saya cukup suka dengan pekerjaannya, karena mudah. Haha.. hanya ‘jaga lapak’, menerima lead dan memberi brosur, menemani anak-anak bimbel yang lagi jemputan, dan sesekali ikut promosi ke beberapa SD. Paling suka sih karena saya bisa online seharian, dan menimba ilmu di salah satu komunitas penulis di Facebook.

Suatu ketika, saya menemukan buku The Power of Kepepet di sana, dan setelah saya baca, saya berminat ikut Young Entrepreneur Academy (YEA) karena suatu saat ingin jadi pengusaha. Orangtua setuju. Saya pun kembali ke Bandung dan belajar di YEA. Oya, di bimbel tsb saya hanya bekerja 1 bulan. Rekor masa kerja paling sebentar :D

Singkat cerita, selesai belajar di YEA, idealnya sih langsung buka bisnis. Cuma karena saya masih bingung mau bisnis apa *plak! Akhirnya saya melamar pekerjaan sebagai Account Executive di sebuah perusahaan IT. Job desk-nya adalah ngider-ngider mencari klien yang mau melakukan promosi di website perusahaan.

Saya merasa pekerjaan ini akan melatih skill komunikasi, presentasi, dan negosiasi saya. Melatih mental juga karena saya kerjanya mirip sales door to door. Naik motor ke sana kemari, canvassing, cari klien. Menerima banyak penolakan, tapi juga senang kalau ada yang closing.

Masa percobaan adalah 6 bulan. Setelah bekerja 5 bulan di Bandung dan hasilnya kurang memuaskan -_-“ saya ditarik ke kantor pusatnya di Yogyakarta untuk menghabiskan 1 bulan sisa kontrak. Di sana pencapaian saya lumayan, dan perusahaan ingin saya tetap bekerja, tapi ditempatkan di Yogyakarta. Oh nooo! Saya terlalu cinta dengan Bandung. Saya tidak memperpanjang kontrak dan kembali ke kekasih Bandung.

Jogjaaaaa..!


..hem.. panjang juga postingannya *hosh

Singkat cerita lagi, di Bandung saya sempat bekerja sebagai marketing sebuah rumah makan, lalu pernah juga jadi supervisor di salah satu distributor simcard, dan terakhir saya kerja di Yukbisnis.

Saya menyebut diri sendiri kutu loncat. Kenapa? Karena sepanjang sejarah berkarir saya, saya gak pernah kerja lebih dari 6 bulan (kecuali di Yukbisnis). Ckckck.. Jangan ditiru ya, karena akan dicap tidak loyal. Kalau saya sih gak peduli soal loyalitas karena memang tidak berniat mengejar karir.

Meskipun kutu loncat, bukan berarti saya tidak menganggap penting setiap pekerjaan.
Justru dalam bekerja, saya memegang beberapa prinsip, misalnya:

  1. Hanya melamar atau menerima kerja yang saya minati. Dengan demikian, saya jarang mengeluh saat bekerja karena saya selalu bersyukur dan menikmatinya.
  2. Menjaga integritas. Ini berarti saya bersungguh-sungguh dalam bekerja, dan memberikan soptimal mungkin kemampuan saya.
  3. Semangat belajar. Semua perusahaan tempat saya bekerja memberi saya kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri, dan hal ini yang sering membuat saya betah. Dengan belajar hal-hal baru, saya tidak pernah bosan dan tidak merasa pekerjaan saya monoton.


Saat ini saya ingin jadi ibu rumah tangga yang berpenghasilan dari rumah. Jadi ibu rumah tangganya sudah, sekarang sedang berjuang untuk bisa menghasilkan uang dari rumah. F!GHT

Mohon doanya ya.. ^^

Kalau kamu, bagaimana perjalanan karirmu?



Tulisan ini diikutsertakan dalam IHB Blog Post Challenge

25 Maret 2015

Pasangan Idamanku

Lagi iseng baca ulang buku Aku, Kau, dan KUA tentang kriteria pasangan, tiba-tiba ingat kalau duluuu sekali saya pernah menuliskan kriteria cowok idaman. Akhirnya saya bongkar-bongkar blog ini, dan ketemulah postingan 6 tahun yang lalu, tepat di postingan kesebelas di blog ini (masih newbie dan nyebut diri sendiri “aku”. Hihihi..)

Nah, berhubung sekarang saya sudah punya suami, mari kita crosscheck mana kriteria yang terkabul, mana yang enggak. Hehe..

Sebelumnya, mari baca dulu kriteria cowok idaman saya 6 tahun yang lalu di sini.

Dan mari kita bandingkan cowok idaman tersebut dengan seorang Yoga Nugraha :D



1.Sehat jasmani & rohani. 
Alhamdulillah anggota tubuhnya lengkap, berfungsi normal, gak gila, gak psycho :D


2.Sholeh. Beriman. Bertakwa. Yah minimal.. mendirikan sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, & melaksanakan semua ibadah wajib lainnya, termasuk ngaji.

Ceklis, dengan motto hidupnya: sholeh itu berproses.

3.Baik, berwawasan luas, bertanggungjawab, & lulus S1 (ini request nyokap).

Ceklis, ceklis, ceklis.

4.Humoris. Bisa bikin aku ketawa & ngerasa nyaman.

Iya banget. Kalau saya bete, bisa lah ia menghibur dengan goyang dumang.

5.Memiliki visi & misi hidup yang bagus, well-organized, & berada di jalur sukses (yuwk!)

Visinya: Syurga. 
Misinya : Berkarya dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. 
Well-organized? Hmm.. mayan lah. Setidaknya dia lebih rapi dibanding saya. 
Berada di jalur sukses? Aamiiin..!

6.Harus bisa jadi sahabat aku, which means dia bisa diajak sharing, bisa diandalkan, selalu ada saat dibutuhkan, & selalu ngedukung apapun yang aku lakuin (selama itu positif ya..)

100% true.

7.IT Literacy is a must!!
Maksud saya itu sebenarnya dia gak gaptek, online tiap hari, ngerti internet lah. Alhamdulillah terkabul.

8. Nilai PLUS kalau dia.. cakep, romantis, dominan otak kanan (apa coba?), mandiri, bisa cari duit sebelum lulus kuliah, ngerti politik, jago bahasa Inggris atau bahasa asing lain, suka naik gunung alias camping, hobi travelling alias jalan-jalan & bertualang ke berbagai tempat keren di Indonesia, & menyukai seni (desain, fotografi, film, atau sastra) 
Kadang dia terlihat ganteng, kadang biasa aja, kadang jelek, tapi dia selalu merasa cakep :3
Dia tipe romantis. Senangnya :’)
Saya ga tau dia dominan otak kanan atau enggak. Mungkin iya.
Di perantauan ia cukup mandiri, tapi kalau di rumah ortunya ya manja juga :p
Bisa cari duit begitu lulus STM.
Kami jarang banget bahas politik.
Bahasa Inggrisnya not bad lah.
Ia suka jalan-jalan terutama wisata alam.
Punya bakat di seni sastra dan seni musik, punya minat tinggi di fotografi dan senang film.

 9.Family-man alias family-oriented alias menyukai anak-anak.
Ini baru ketahuan pas punya anak. Meskipun ga bisa gendong bayi lama-lama (entah kenapa. Ckckck), dia sering ngelus kepala Kakang, memandanginya berlama-lama, dan pernah sekali waktu Kakang rewel dikit, ia panik trus nelpon ortunya di luar kota sampai sodara-sodaranya langsung datang ke rumah saat itu juga. Lebay emang :3

Dia juga jadi om-om favorit anak-anak tetangga, hingga akhirnya rumah suka rame dikunjungi sekitar 2-6 anak usia 3-8 tahun.

10.Smoking is a Big NO- NO!

He is smoking. Hiks :(

11.Nilai MINUS kalau dia.. gombal parah, cemburuan, moody, posesif, hobi nonton film thriller, & pernah pacaran lebih dari 3x (emang ga penting sih..), lebih muda, atau lebih tua. Ha..ha.. aku pengen yang seumuran atawa seangkatan.. (ini lebih ga penting lagi)

Dia gombal parah. Tapi ya syukuri sajalah. Haha..
Gak cemburuan. Gak moody. Gak posesif.
Sepertinya tidak punya ketertarikan khusus sama film thriller. Aneka genre dia tonton.
Sebagai (mantan) playboy, kayaknya pernah pacaran lebih dari 3. Tapi dia hampir gak pernah bahas mantannya. Bagus lah. Ribet kalau berurusan sama orang yang gak bisa move on.
Menurut saya sih dia seumuran, dalam arti, sama-sama lahir tahun 1987. Tapi dia lebih muda 7 bulan dari saya. Muahahahaha..

12.Direstui oleh keluarga aku, & temen-temen aku pastinya..

Insya Allah ^^

13.Telah ditakdirkan untuk berjodoh sama aku.. (yang ini emang cuma Allah yang tau..)

Iya dong, kalau ga jodoh ya gak nikah.

14.Last but not least, dia harus mencintai aku karena Allah, sayang ma aku & keluarga aku dong..

Insya Allah aamiin..


Demikianlah.

Banyak yang terkabulnya daripada yang enggak. Alhamdulillah.. 
Berarti kesimpulannya, tulislah mimpi-mimpimu, apa yang kamu mau. 
Insya Allah kemungkinan terkabulnya lebih besar daripada jika tidak dituliskan.


Setuju apa setujuuu? :D