16 Mei 2015

Kehamilan Pertama yang Berkesan

Pada dasarnya saya merasa kehamilan pertama saya setahun yang lalu itu “standar”. Alhamdulillah nyaris tanpa masalah apapun. Saya tetap kerja seperti biasa. Meskipun pada trimester pertama mual melanda setiap hari, frekuensi muntah bisa dihitung dengan jari.

Tapi ada beberapa kenangan yang lucu juga kalau diingat-ingat. Beberapa diantaranya adalah ini:

-          Nangis di Bank

Iya, Anda tidak salah baca. Saya nangis di Bank, sesegukan di depan Customer Service. Hahaha.. Masalahnya padahal sepele: saya harus minta lagi tanda tangan direktur saya untuk mencetak rekening giro perusahaan. Katanya tanda tangan di form beda dengan di fotokopi KTP beliau. Hiks. Padahal itu tanda tangan asli loh.

Waktu itu saya belum tahu kalau saya hamil. Saya malah menyalahkan PMS (karena memang tanggalnya menjelang menstruasi). Bagaimana tidak, Sinta adalah seorang yang tenang, kalem, sabar, dan penuh pengendalian diri. Jadi bagaimana bisa menangis di depan CS Bank? Duh, malu banget rasanya sampai-sampai saya sempat gak mau datang lagi ke bank itu >.<

Beberapa hari kemudian saya baru tahu mengapa saja jadi sensitif dan emosional seperti itu. Saya hamil 6 minggu, sodara-sodara!

(Baca ceritanya di: Don’t cry, Smile!)

-          Nangis pas Sholat

Deuuh.. pasti khusyuk banget doanya sampai nangis waktu sholat..
Heuheu.. enggak kok, saya belum se-sholehah itu. Saya nangis dengan alasan super cemen: laper tapi mual. Hwkwkwkwkw..

Ini terjadi di awal-awal kehamilan. Suami yang mergokin saya nangis, bingung. Ia kira ia melakukan kesalahan yang membuat saya nangis. Pas saya kasih tahu alasannya, ia setengah gak percaya. Eh tapi beneran deh, laper dan mual di saat bersamaan itu rasanya tersiksa. Serba salah. Pengen makan tapi takut keluar. Memaksa diri makan juga rasanya jadi gak enak.

-          Kontraksi Palsu

Ini terjadi di trimester akhir. Mungkin karena “induksi alaml”, rahim saya kontraksi. Rasanya cukup sakit sampai suami mengantarkan saya ke puskesmas. Ternyata belum waktunya lahiran. Huuu.. padahal bapak dan ibu mertua sampai datang dari Sumedang ke Bandung, kirain mau lahiran beneran. Duh maaf ya Pak, Mah.. jadi bikin khawatir >.< calon cucunya mungkin kangen Bapak sama Mamah nih.. *nyalahin yang di dalem perut. Hihihi..

(Baca selengkapnya di Kehamilan 34 Minggu:Kontraksi Palsu)

Saya sungguh harus banyak bersyukur dengan pengalaman hamil yang begitu menyenangkan. Semoga jika suatu saat nanti Allah member saya kesempatan hamil lagi, pengalamannya akan lebih menyenangkan. Heuheu. Aamiiin..


Alhamdulillah.. ^^






13 Mei 2015

Review Buku Catatan Hati yang Cemburu


Sumber: www.tokoasmanadia.com


Judul : Catatan Hati yang Cemburu
Penulis : Asma Nadia, dkk
Penerbit : AsmaNadia Publishing House
Tebal buku: 247 halaman
Cetakan kelima, Februari 2014


                Setelah membaca Catatan Hati Seorang Istri, saya jadi tertarik dengan karya-karya Asma Nadia lainnya, termasuk yang satu ini. Gaya tulisannya sangat khas. Detail dan menyentuh. Bahkan saya sampai menangis.

                Sebenarnya saya bukan tipe orang yang cengeng. Terakhir kali buku yang membuat saya menangis adalah Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya. Siapa sangka Catatan Hati yang Cemburu bisa bikin saya menangis lagi. Cerita yang begitu sedih ini berjudul Perempuan yang Chatting Denganmu (oleh Mita Sari dan Asma Nadia).

Perempuan yang Chatting Denganmu bercerita tentang seorang suami yang kecanduan chatting hingga terjerumus dalam perselingkuhan. Dengan petunjuk Allah, sang istri mengetahui perilaku negatif suaminya. Meskipun suami menyesal dan meminta maaf, namun kejadian tersebut terulang lagi dan lagi hingga sang istri berniat minta cerai. Saya terharu ketika keluarga sang suami membela dan men-support sang istri, dan saya tak bisa membendung air mata saat sang anak memohon pada ibunya untuk tidak bercerai dengan ayahnya, ayah terbaik yang ia punya. Duh, nyesek..

Cerita lain yang saya suka adalah Saat Mas Ingin Menikah Lagi (oleh Nirmala Rustini). Saya suka ceritanya karena inspiratif. Sang suami berencana menikah lagi dengan seorang rekan kerjanya, seorang ibu dua anak yang ditinggal mati suaminya karena kecelakaan. Meskipun niat suaminya terdengar tulus dan bukan karena nafsu, sang istri begitu berat memberi izin bahkan minta cerai jika suaminya beneran menikah lagi. Namun setelah sang istri berkonsultasi dengan seseorang, ia  mendapat nasihat yang baik,

“Mbak Rani harus berpikir panjang dan masak-masak untuk meminta cerai. Bagaimana dengan anak-anak. Jangan mengedepankan ego dalam mengambil keputusan.”
“Mbak Rani harus siap dengan kondisi ini. Mas Sunu kan bukan milik Mbak dan anak-anak. Tapi milik Allah. Jadi pasrahkan saja pada Allah bagaimana jalan dan kehidupannya. Nggak bisa kita yang mengatur. Serahkan semuanya pada Allah.”

Jleb. Memang berat ya jadi istri :/
Untunglah cerita itu happy ending karena sang suami tidak berjodoh dengan si rekan kerjanya. Horee :D

Ada lagi yang saya suka.. ah tapi postingan ini bakal panjang banget nanti. Hehe..

Selain cerita di atas, ada 13 cerita lain, 2 tips tentang cemburu, dan 3 topik berisi komentar-komentar @asmanadians di twitter. Cemburunya  tidak hanya pada WIL (Wanita Idaman Lain) tapi ada juga cemburu  pada ibu mertua, pada hobi suami, pada pekerjaan suami, dll.

Seperti yang tertera di bagian belakang bukunya,
Catatan Hati yang Cemburu bisa menjadi buku wajib para istri dan calon istri atau siapa saja yang ingin mampu menata hati agar tidak cepat emosi karena cemburu, kemudian melakukan hal-hal yang justru menjauhkan sakinah dari keluarga.
Catatan Hati yang Cemburu juga merupakan buku wajib untuk para suami atau calon suami agar piawai menjaga perasaan istri, karena ternyata banyak sumber cemburu yang tidak terpikir oleh sebagian besar pria.

Saya setuju buku ini recommended banget, terutama untuk yang sudah menikah. Karena rasa cemburu terkadang sulit dihindari, namun harus tetap terkendali *tsah.


Cari lagi buku Asma Nadia yang lain aaaah… ^^

07 Mei 2015

Berbagi Bahagia Bersama TabloidNova.Com

Berbagi Bahagia bersama TabloidNova.com, sebuah tema yang menarik untuk kontes SEO. Berbagi kebahagiaan, inspirasi kebahagiaan, bahagia bersama keluarga, bahagia bersama sahabat..? Ah, saya agak bingung mau mengangkat tentang apa.

Pertama kali membaca tema Berbagi Bahagia, hal pertama yang terlintas adalah sedekah, mentraktir keluarga saat mencapai prestasi, atau ikut kegiatan amal. Hmm.. saya tidak punya banyak cerita tentang itu semua, terutama yang terakhir. Kegiatan amal yang paling saya ingat adalah jaman saat kuliah dulu, yaitu sahur bersama di panti asuhan. Setelah menikah, bisa dibilang saya nyaris tidak melakukan kegiatan apapun di luar. Ya, saya adalah seorang full time wife and mother :D

Saya pikir-pikir, hey itu dia jawabannya! Rumah adalah sumber kebahagiaan saya. Suami adalah tempat saya berbagi kebahagiaan. Anak adalah inspirasi kebahagiaan kami.


Saat saya dan anak tinggal berbeda kota dengan suami, pernah saya mengirimkan pesan singkat padanya. Bunyinya kira-kira begini, “Sayang, tidak ada yang lebih layak aku jadikan sahabat selain engkau.”
*eeeaaaa

Tinggal berjauhan dengan suami sungguh tidak enak rasanya. Saya kehilangan tempat curhat, diskusi, dan teman bertukar pikiran. Memang komunikasi kami tetap terjalin melalui sms atau chatting. Namun itu semua tidak dapat menggantikan hubungan tatap muka. Saya kehilangan sahabat saya. Syukurlah saat ini kami dapat berkumpul kembali. Terimakasih ya Allah, Engkau izinkan hamba bahagia lagi bersama sahabat terdekat hamba, suami tercinta.

Kehadiran Awan Arsyad Nugraha, putra pertama kami, sungguh membawa kebahagiaan tak hanya bagi kami ayah bundanya, namun juga dengan nenek, kakek, uncle & aunty nya. Nenek & kakek dari pihak ayah ingin kami tinggal di Sumedang, di mana mereka tinggal. Tak mau kalah, nenek & kakek dari pihak ibu pun sempat meminta kami ke Batam karena kangen cucu. Kami yang tinggal di Bandung pun harus mengalah. Suami mengizinkan saya dan Awan “tour” ke Sumedang dan ke Batam, untuk berbagi kebahagiaan bersama keluarga besar. Katanya ia tidak ingin egois. Bagaimanapun nenek kakeknya juga berhak bahagia melihat senyum dan tawa Awan.

Bahagia Bersama Tabloidnova.com
Selalu bahagia melihatnya :*



Sesungguhnya kebahagiaan itu sederhana. Bahagia adalah tentang bersyukur. Bersyukur memiliki orangtua yang hangat dan demokratis, bersyukur memiliki pasangan yang baik, dan bersyukur memiliki anak yang lucu dan sehat. Ya, sungguh keluarga merupakan salah satu sumber kebahagiaan terbesar

Semoga Allah selalu memberkahi dan memberi kebahagiaan dunia akhirat
Aamiin ya Rabb..

26 April 2015

#BeraniLebih Tegar Menghadapi Kegagalan

Jatinangor, Januari 2010.

Aku berdiri di depan ruang sidang, bersama 9 mahasiswa peserta sidang skripsi hari itu. Kami tengah mendengarkan seorang dosen membacakan hasil sidang kami satu persatu. Perasaanku tidak enak, namun aku tidak punya pilihan lain untuk tetap mendengarkan.

“Sintamilia Rachmawati, tidak lulus.”

Beliau membaca dengan nada datar, tapi pengaruhnya sangat dalam. 
Seperti ada yang menyilet paru-paru dan membuat jantungku lepas. 
Aku tetap berdiri di sana hingga pembacaan hasil sidang selesai dan kami diperbolehkan meninggalkan ruangan.

Aku satu-satunya peserta sidang skripsi yang tidak lulus.

Aku pulang dengan perasaan kosong. Tidak belum menangis. 
Masih setengah sadar menerima kenyataan.

Sesampai di kosan, seorang teman menyapa, siap memberikan ucapan selamat,
“Gimana? Lulus kaaaan?” tanyanya sambil tersenyum lebar.
Aku tak mampu menjawab. Hanya bisa menggeleng lemah.
“Bohooong..” sahutnya tak percaya.

Aku tak tahan. Aku langsung berlari ke kamar, menjatuhkan diri di atas kasur, lalu menangis sesegukan di bawah bantal. 
Teman-teman kosan hanya menatapku kasihan.

Sedih, kesal, marah, tidak terima, sakit hati, malu, bercampur menjadi satu. 
Bagaimana bisa aku tidak lulus? Secara teori, kecil kemungkinannya mahasiswa tidak lulus sidang skripsi. Bukankah selama penyusunan skripsi ada dosen pembimbing? Aku menangis cukup lama.

Setelah sedikit lega, aku mulai berpikir lebih jernih.

Aku akan lulus. Pasti. Aku cukup memperbaiki skripsiku, mengoreksi yang salah, dan melengkapi yang kurang. Tidak ada alasan untuk para dosen ‘menahanku’ di kampus. Tidak ada untungnya bagi beliau-beliau memiliki ‘mahasiswa abadi’. Aku tahu mereka pasti ingin semua mahasiswanya lulus cepat, nilai tinggi, dan segera bekerja. Ketidaklulusanku bukan salah dosen. 
Kelulusanku tergantung padaku.

Keesokan harinya, aku mulai berkutat dengan skripsiku lagi. Melakukan revisi di sana sini. Aku perbanyak sholat malam dan berdoa lebih khusyuk. Aku akui bahwa aku banyak salah, dan memohon ampunan-Nya atas segala dosa. Aku mohon pada Allah untuk mengizinkan orangtua dan keluargaku bahagia dengan kelulusanku.

Dua minggu kemudian, aku mengikuti sidang skripsi lagi,
dan dinyatakan lulus.

-----

Aku tahu usaha manusia tidak selamanya sukses. Mungkin, lebih banyak gagalnya daripada berhasil. Tapi tidak ada gunanya meratapi kegagalan. Kita harus tegar, kuat, bangkit, dan mencoba lagi. Sampai berhasil.

Ada yang sudah beberapa kali mengajukan judul penelitian, masih saja ditolak dosen.
Ada yang sudah beberapa kali mencoba menjalin hubungan dengan lawan jenis, namun tidak berlanjut ke jenjang pernikahan.
Ada yang melakukan program hamil kesana-kemari, masih belum dikaruniai momongan.
Ada yang berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangga, namun sia-sia dan kandas di tengah jalan.

See? 
Kita bisa temukan kisah kegagalan di mana-mana. Namun aku percaya, kegagalan adalah cara-Nya mendewasakan kita. Membuat kita lebih kuat, melatih untuk bangkit dan terus mencoba, serta membiasakan diri untuk selalu berbaik sangka pada-Nya. 

Insya Allah, segalanya indah pada waktunya.

Aku #BeraniLebih tegar menghadapi kegagalan.
Semoga kamu juga ya ;)

FB : Sintamilia Rachmawati
Twitter: @sintamilia




21 April 2015

#BeraniLebih Semangat Setiap Hari

Dulu saat saya kuliah, saya memiliki seorang sahabat yang seriiing sekali berseru, “Semangaaat!”

Terkadang , saya merasa suntikan semangatnya kurang pas. Misalnya saat saya sedang menunggu teman-teman untuk rapat organisasi.
“Duh, kemana sih anak-anak? Pada ngaret semua!” keluhku.
“Semangaaat!” sahut sahabatku.
Nah loh. Lagi bete nungguin orang kok disemangatin?

Saking seringnya ngasih semangat itu, suatu hari saya bertanya padanya,
“Kenapa sih kamu sering bilang semangat?”
“Ya kamu bayangin aja gimana kalau orang gak semangat..”
Hmm..

Saya lalu membayangkan..
Kalau orang datang ke kampus gak semangat.. mukanya akan kusam dan murung, bahu turun, jalan pelan-pelan, dan terlihat lemas. Lalu kalau kita kasih senyum, dia hanya membalas dengan senyum samar. Uh.. rasanya enggan sekali berurusan dengan orang yang seperti itu. Ya gak sih?

Itu kalau dia ke kampus. Kalau tidak, mungkin dia hanya tidur-tiduran di kasur, main hp sambil mendengarkan ‘lagu malas’. Mau jadi apa nanti?

Dari situ saya menyadari, bahwa semangat memiliki peran yang besar bagi keberhasilan hidup kita. Dengan adanya semangat, setiap harinya kita memiliki progress, mencapai sesuatu,  hingga akhirnya meraih prestasi. Jadi semangat itu penting banget!

Namun faktanya, semangat manusia memang sering turun naik. Selain meminta dukungan teman dan sahabat untuk saling menyemangati, berikut beberapa tips agar kita selalu semangat:
  1. Setiap pagi sebelum beraktifitas, tutup mata  dan bayangkanlah kegiatan kita pada hari itu akan berjalan dengan lancar tanpa hambatan.
  2. Pasang musik yang ceria. Musik yang bertempo cepat akan menambah semangat. Jangan setel lagu mellow, nanti malah galau!
  3. Sering-sering senyum lebar :D
  4. Berdiri tegak, mata fokus ke depan, dan berjalanlah lebih cepat. Tanpa sadar otak akan menyesuaikan dan memberi energi lebih pada tubuh.

Background Image: Pixabay.com


Kembali tentang rapat organisasi. 
Kalau saat melihat teman-teman banyak terlambat lalu saya jadi tidak semangat, tentulah saya akan langsung pulang dan membatalkan rapat. Atau kalaupun jadi rapat, maka mood saya akan hilang dan diskusi pun hanya untuk formalitas saja. 

Tapi kalau saya tetap semangat dan bisa menularkan semangat itu pada teman-teman peserta rapat, tentu diskusi akan berjalan menarik, penuh ide, dan menghasilkan suatu karya atau kontribusi.

Terimakasih sahabat, kini saya bertekad akan selalu #BeraniLebih semangat. 
Semangat menjalani hari, semangat menghadapi apapun yang merintangi.

Semangaaaat! ^^


FB : Sintamilia Rachmawati
Twitter : @sintamilia
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...