25 Maret 2015

Pasangan Idamanku

Lagi iseng baca ulang buku Aku, Kau, dan KUA tentang kriteria pasangan, tiba-tiba ingat kalau duluuu sekali saya pernah menuliskan kriteria cowok idaman. Akhirnya saya bongkar-bongkar blog ini, dan ketemulah postingan 6 tahun yang lalu, tepat di postingan kesebelas di blog ini (masih newbie dan nyebut diri sendiri “aku”. Hihihi..)

Nah, berhubung sekarang saya sudah punya suami, mari kita crosscheck mana kriteria yang terkabul, mana yang enggak. Hehe..

Sebelumnya, mari baca dulu kriteria cowok idaman saya 6 tahun yang lalu di sini.

Dan mari kita bandingkan cowok idaman tersebut dengan seorang Yoga Nugraha :D



1.Sehat jasmani & rohani. 
Alhamdulillah anggota tubuhnya lengkap, berfungsi normal, gak gila, gak psycho :D


2.Sholeh. Beriman. Bertakwa. Yah minimal.. mendirikan sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, & melaksanakan semua ibadah wajib lainnya, termasuk ngaji.

Ceklis, dengan motto hidupnya: sholeh itu berproses.

3.Baik, berwawasan luas, bertanggungjawab, & lulus S1 (ini request nyokap).

Ceklis, ceklis, ceklis.

4.Humoris. Bisa bikin aku ketawa & ngerasa nyaman.

Iya banget. Kalau saya bete, bisa lah ia menghibur dengan goyang dumang.

5.Memiliki visi & misi hidup yang bagus, well-organized, & berada di jalur sukses (yuwk!)

Visinya: Syurga. 
Misinya : Berkarya dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. 
Well-organized? Hmm.. mayan lah. Setidaknya dia lebih rapi dibanding saya. 
Berada di jalur sukses? Aamiiin..!

6.Harus bisa jadi sahabat aku, which means dia bisa diajak sharing, bisa diandalkan, selalu ada saat dibutuhkan, & selalu ngedukung apapun yang aku lakuin (selama itu positif ya..)

100% true.

7.IT Literacy is a must!!
Maksud saya itu sebenarnya dia gak gaptek, online tiap hari, ngerti internet lah. Alhamdulillah terkabul.

8. Nilai PLUS kalau dia.. cakep, romantis, dominan otak kanan (apa coba?), mandiri, bisa cari duit sebelum lulus kuliah, ngerti politik, jago bahasa Inggris atau bahasa asing lain, suka naik gunung alias camping, hobi travelling alias jalan-jalan & bertualang ke berbagai tempat keren di Indonesia, & menyukai seni (desain, fotografi, film, atau sastra) 
Kadang dia terlihat ganteng, kadang biasa aja, kadang jelek, tapi dia selalu merasa cakep :3
Dia tipe romantis. Senangnya :’)
Saya ga tau dia dominan otak kanan atau enggak. Mungkin iya.
Di perantauan ia cukup mandiri, tapi kalau di rumah ortunya ya manja juga :p
Bisa cari duit begitu lulus STM.
Kami jarang banget bahas politik.
Bahasa Inggrisnya not bad lah.
Ia suka jalan-jalan terutama wisata alam.
Punya bakat di seni sastra dan seni musik, punya minat tinggi di fotografi dan senang film.

 9.Family-man alias family-oriented alias menyukai anak-anak.
Ini baru ketahuan pas punya anak. Meskipun ga bisa gendong bayi lama-lama (entah kenapa. Ckckck), dia sering ngelus kepala Kakang, memandanginya berlama-lama, dan pernah sekali waktu Kakang rewel dikit, ia panik trus nelpon ortunya di luar kota sampai sodara-sodaranya langsung datang ke rumah saat itu juga. Lebay emang :3

Dia juga jadi om-om favorit anak-anak tetangga, hingga akhirnya rumah suka rame dikunjungi sekitar 2-6 anak usia 3-8 tahun.

10.Smoking is a Big NO- NO!

He is smoking. Hiks :(

11.Nilai MINUS kalau dia.. gombal parah, cemburuan, moody, posesif, hobi nonton film thriller, & pernah pacaran lebih dari 3x (emang ga penting sih..), lebih muda, atau lebih tua. Ha..ha.. aku pengen yang seumuran atawa seangkatan.. (ini lebih ga penting lagi)

Dia gombal parah. Tapi ya syukuri sajalah. Haha..
Gak cemburuan. Gak moody. Gak posesif.
Sepertinya tidak punya ketertarikan khusus sama film thriller. Aneka genre dia tonton.
Sebagai (mantan) playboy, kayaknya pernah pacaran lebih dari 3. Tapi dia hampir gak pernah bahas mantannya. Bagus lah. Ribet kalau berurusan sama orang yang gak bisa move on.
Menurut saya sih dia seumuran, dalam arti, sama-sama lahir tahun 1987. Tapi dia lebih muda 7 bulan dari saya. Muahahahaha..

12.Direstui oleh keluarga aku, & temen-temen aku pastinya..

Insya Allah ^^

13.Telah ditakdirkan untuk berjodoh sama aku.. (yang ini emang cuma Allah yang tau..)

Iya dong, kalau ga jodoh ya gak nikah.

14.Last but not least, dia harus mencintai aku karena Allah, sayang ma aku & keluarga aku dong..

Insya Allah aamiin..


Demikianlah.

Banyak yang terkabulnya daripada yang enggak. Alhamdulillah.. 
Berarti kesimpulannya, tulislah mimpi-mimpimu, apa yang kamu mau. 
Insya Allah kemungkinan terkabulnya lebih besar daripada jika tidak dituliskan.


Setuju apa setujuuu? :D

21 Maret 2015

How I Met Your Father

Sejak 2 minggu sebelum saya melahirkan sampai Kakang usia 5 bulan, bisa dibilang nyaris saya gak pernah jalan-jalan lagi. Paling banter ke klinik untuk imunisasi, ke mall buat beli kebutuhan bayi, atau ke kondangan. Belum pernah bepergian murni hanya untuk refreshing sejenak dari kesibukan mengerjakan urusan domestik.

Wajarlah kalau akhirnya saya merasa sangat amat jenuh. Akhirnya saya pun minta izin suami untuk jalan-jalan bersama Kakang. Pas suami nanya saya mau kemana, saya bilang kalau saya ingin ke Zoe Corner (biasa kami sebut Zoe saja). Alhamdulillah suami mengizinkan.

Di Zoe Corner bersama Kakang

Tempat ini semacam library cafe. Ada ribuan novel, majalah, dan komik yang dapat disewa. Para pengunjung juga bisa menikmati makanan dan minuman ala cafe. Perpaduan itu membuat tempat ini jadi salah satu tempat favorit anak muda termasuk saya untuk nongkrong. Kebanyakan yang datang adalah dari kalangan mahasiswa, terutama karena lokasinya cukup dekat dengan beberapa universitas seperti Unpad, ITB, Unikom, ITHB, dan lain sebagainya.

Buat saya yang hobi baca tapi duit cekak untuk belanja buku, adanya tempat penyewaan buku ini bikin saya sangat bersyukur.  Gimana enggak, bisa baca berbagai macam novel dan majalah terbaru dengan harga sewa yang jauuuuh lebih rendah daripada harga beli. Ini salah satu alasan saya betah tinggal di kota Bandung :D



Bukan itu saja yang bikin saya suka tempat ini. Zoe Corner juga menjadi tempat yang bersejarah bagi saya. Di sinilah tempat saya dan suami pertama kali bertemu dulu *eeaaa..

Jadi ceritanya begini..

Saya mengikuti suatu komunitas penulis di Facebook. Sebut saja komunitas tersebut namanya Cendol, dan untuk wilayah Bandung namanya Banceuy (Bandung Cendolers Euy). Nah.. Banceuy ini beberapa kali mengadakan kopdar, dan kopdar kali itu (Januari 2012) bertempat di Zoe Corner.

Saya datang paling awal. Belum ada anggota Banceuy lain yang datang. Saya menunggu sambil membaca buku yang saya bawa, judulnya Kabut Perang. Buku tersebut saya dapat dari workshop Cendol yang pernah saya hadiri.

Setelah menunggu agak lama, saya mulai bosan. Saya ambil HP nan jadul (waktu itu belum pakai Smartfren inventaris kantor) dan meng-sms salah satu anggota Banceuy, Suhe.

   “Suhe, dimana? Jadi gak acara kopdarnya? Aku mau pergi lagi nih. Ada acara lain..”
Tak berapa lama, Suhe membalas. 
   “Tunggu bentar. Gue lagi di jalan. Udah ada Yoga kok di sana..”

Hmm, Yoga? Siapa dia? Anggota baru Banceuy?

Keterangan Suhe itu tidak membantu. Saya kan gak tahu yang namanya Yoga yang mana. Saya lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Menebak-nebak yang manakah yang namanya Yoga? Sampai ketika pandangan saya jatuh pada seseorang yang duduk persis di 
belakang saya, saya terkesiap.

Ia tengah duduk menghadap saya, matanya fokus membaca sebuah buku di tangannya berjudul.. Kabut Perang!

Merasa ada yang memperhatikan, ia mendongak menatap saya. Saya lempar senyum padanya sambil menunjukkan sampul buku yang saya pegang, yang judulnya sama dengan yang tengah ia baca.

   “ Hei..” sahutnya surprised.
   “Banceuy?” tanya saya.
   “Iya..”
Saya lalu memutar arah duduk hingga posisi saya berhadapan dengannya.
   “Sinta..” Saya menjulurkan tangan. Ia menyambutnya.
   “Yoga..”
Dan mengalirlah obrolan kami.  Bicara mengenai daerah asal, kegiatan saat ini, dan pastinya ngebahas Cendol, Banceuy, dan Kabut Perang (ia mendapatkan Kabut Perang dari kuis di twitter yang diadakan Kepsek Cendol).
There was nothing special. Yang istimewa hanya karena dia seumuran dengan saya (iya, di komunitas ini susah nemu yang seumuran. Biasanya lebih tua atau lebih muda). Obrolan kami berakhir saat Suhe datang. Kebetulan juga saya ada urusan lain. Jadi bagi saya itu judulnya Kopdar bersama Yoga, bukan Kopdar Banceuy. Hahaha..
Demikianlah.
Kopdar di Zoe menjadi kisah awal, lalu berlanjut di kopdar berikutnya. Kesamaan minat membuat kami semakin lama semakin dekat. Merasa cocok, ia memantapkan hati melamar saya hingga in the end kami menikah pada 13 Oktober 2013, dan setahun kemudian lahirlah Kakang tanggal 15 Oktober 2014.

Saat ini mungkin Kakang belum mengerti kalau saya cerita panjang lebar seperti itu. Tapi suatu hari nanti Insya Allah, setelah Kakang sudah besar dan mengerti, saya ingin jalan lagi bareng Kakang ke Zoe, dan bercerita,

“Kakang, I have a story. This is how I met your father. Here.”







12 Maret 2015

Dear Engkau yang Di Sana..



Dear engkau yang di sana, 
Selamat ulang tahun ke dua puluh sembilan.
Harapan utamaku hanya satu, segeralah engkau menuju pelaminan.
Karena sudah habis waktumu untuk sekedar pacaran.

Dear engkau yang di sana,
Apakah yang menghambatmu untuk menikah?
Bukankah engkau sudah lama bekerja, dan telah mampu memberi nafkah?
Semoga bukan karena kau khawatir tentang rezeki,
Karena istri dan anakmu telah Allah jamin rezekinya, dari dulu hingga nanti.

Dear engkau yang di sana,
Semoga kesendirianmu bukan disebabkan karena ketakutanmu akan komitmen.
Ibarat burung, sampai kapan akan terbang dari satu pohon ke pohon lain, padahal sudah waktunya engkau membuat sarang?
Ibarat sebuah kapal, sampai kapan akan berlayar dari satu lautan ke lautan lain, jika pada akhirnya tak berlabuh?

Dear engkau yang di sana,
Tidak khawatirkah engkau pada syaithon yang senang menggoda para lajang?
Yang menginginkan engkau menatap wanita dengan mata jalang.
Dengan dunia sekitar yang dipenuhi berbagai aurat perempuan terpampang,
Insya Allah dengan menikah akan membuat jiwa dan ragamu tenang.



Dear engkau yang di sana,
Jangan jadikan “Ingin membahagiakan ortu dulu” sebagai alasan.
Bukankah orangtuamu justru akan bahagia melihatmu bersama pasangan?
Lalu akan bertambah kebahagiaan mereka saat kelak lahir momongan.
Membahagiakan ortu secara materi bisa diusahakan sambil jalan.

Dear engkau yang di sana,
Jangan katakan kau belum menemukan seorang calon istri.
Tanyakan pada hatimu, mungkin engkau hanya sedikit ragu, apakah engkau akan bahagia bersamanya?
Kau tahu, kebimbangan seperti itu seringkali tak berujung.
Tapi jadikanlah motto hidupmu, bahwa bahagia itu sederhana.
Temukanlah ia yang mudah tersenyum, mudah tertawa, dan mudah bahagia karena ia mudah bersyukur.
Jadikanlah agama sebagai alasan utama kau menikah dengannya, agar engkau beruntung.
Sungguh, memiliki istri yang shalihah adalah salah satu karunia-Nya yang terbesar.

Dear engkau yang di sana,
Bukannya aku ingin mencampuri urusan pribadimu terkait pernikahan.
Hanya saja, aku ingin engkau tahu satu hal:
Gadismu (dan orangtuanya) tengah menunggu.

Lamarlah,

Semoga Allah memberi berkah..

25 Februari 2015

Teruntuk adik pertamaku yang laki-laki
: Muchammad Yusuf

Dear Abang,
Hari ini tepat 18 tahun usiamu.
Tak lama lagi kau akan lulus SMA, lalu kuliah.
Kau akan meninggalkan masa remajamu, dan harus mulai belajar mandiri serta dewasa.
Apakah kau sudah siap?

Dear Abang,
Aku tahu mungkin aku bukan kakak terbaik bagimu.
Aku nyaris tidak pernah mentraktirmu, atau membeli barang-barang yang kau inginkan.
Aku belum bisa dan tidak ingin memanjakanmu dengan materi.
Tapi jika ada yang bisa kulakukan untukmu, membantu tugas menggambarmu misalnya,
sebisa mungkin akan aku bantu, sayang..

Termasuk di hari ulang tahunmu ini,
aku belum mampu mempersembahkan bingkisan kado apapun untukmu.

Aku hanya bisa berdoa sepenuh dan setulus hati,

Semoga engkau tumbuh menjadi laki-laki yang sholeh,
yang lurus aqidahnya, yang baik akhlaknya, yang luhur budi pekertinya.

Semoga engkau menjadi manusia yang selalu Allah beri anugerah sehat, tangguh, mandiri, dan mampu memaksimalkan potensimu sebesar-besarnya.

Semoga engkau selalu menjadi anak yang patuh, penurut, serta hormat pada orangtua dan kakak-kakakmu, juga sayang pada adikmu.

Aku selalu percaya, suatu hari nanti, kelak engkau akan menjadi putra kebanggaan keluarga.

Aamiiin ya Rabb..

Ini, hadiah dariku untukmu..

Happy Birthday Om Ucup.. ^^

Boleh dicium, Gak boleh dibikin nangis. Sip?






20 Februari 2015

Tiga Hadiah dari Blibli.com untuk Suami Tersayang

Bulan Februari tahun ini bisa dibilang bulan tergalau bagi saya. Bagaimana tidak, di bulan yang disebut-sebut sebagai bulan penuh cinta ini, saya justru sedang berada ratusan kilometer dari suami tersayang. Hiks hiks..

Saya sedang “ditugaskan” orangtua saya untuk menghabiskan bulan Februari ini di Batam karena mereka kangen dengan cucu semata
wayangnya. Meski berat, suami mengizinkan saya dan Kakang pergi.

Ah, Abi.. terimakasih banyak. Kakang benar-benar membawa kebahagiaan pada kakek nenek dan paman-pamannya di Batam. Semoga Allah pun selalu memberi Abi kebahagiaan dimanapun Abi berada. Aamiin..

Betapa saya sangat merindukan dia saat ini. Ia yang sangat baik, penyabar, dan pengertian.
Ia yang pekerja keras, rajin, dan berusaha untuk selalu dapat memenuhi kebutuhan istri dan anaknya. Bahkan meski karena itu ia harus mengubur keinginannya untuk membeli kebutuhan dirinya demi menafkahi kami. Ah, semoga Allah selalu membukakan pintu rezeki untuknya.

Seandainya Allah memberikan rezeki pada saya, ingin sekali rasanya saya membelikan beberapa hadiah untuk lelaki ini. Misalnya..



Kebetulan TV di rumah kami saat ini sedang rusak. Buat saya sih tidak masalah, karena saya memang tidak suka menonton TV. Bahkan kalau bisa saya ingin menjalani life style hidup tanpa TV. Hahaha.. Apalagi setelah punya anak. Semakin khawatir akan dampak negatif sinetron dan infotainment.
Tapi saya maklum jika suami ingin sekali selalu bisa nonton pertandingan bola terutama jika klub favoritnya bertanding: Persib.  Karena itu, saya ingin sekali membelikannya TV.

Selain menonton bola, ia juga suka memotret, hingga saya ingin memberikannya ini:


Minatnya pada dunia fotografi cukup besar (dimana saya adalah model favoritnya *eeaaa hahaha). Selama ini ia berkarya dengan kamera pinjaman. Tapi ia pernah bilang bahwa sebenarnya ia ingin sekali memiliki kamera sendiri.

Selain dua hadiah di atas, untuk hadiah “pamungkas”, saya ingin mempersembahkan ini padanya:


Selama ini ia menggunakan motor matic yang sederhana. Tapi ada kemungkinan dalam beberapa bulan mendatang motor tersebut akan digunakan oleh adik saya yang akan mulai kuliah di Bandung. Karena itu ia perlu motor baru. Dan ia memendam keinginan untuk memiliki motor New Vixion seperti itu.

Semoga Allah selalu membukakan pintu rezeki bagi kami. Aamiin..

Sumber gambar : www.blibli.com


Tulisan ini sedang diikutsertakan dalam kompetisi yang diadakan oleh Blibli.com dengan tema #BlibliWeekoflove



Nama : Sintamilia Rachmawati
Email : sintamilia@gmail.com
Twitter : @sintamilia
Facebook : https://www.facebook.com/sintamilia
Instagram : sintamilia