Jumat, 12 Juni 2020

Jangan Jadikan Biaya sebagai Alasan untuk Tidak Investasi Ilmu


Tahun 2016 saat adik saya (bungsu dari 4 bersaudara) lulus SMA, bisa dibilang perekonomian keluarga kami ada di titik terbawah.

Papa sudah lama tidak bekerja. Tidak punya penghasilan kecuali sedikit dari uang pensiun.
Mama adalah ibu rumah tangga yang sudah menjual seluruh harta miliknya agar bisa mendukung 3 anak tertua kuliah.


Saya (anak pertama) sudah menikah, Kakang usia 1,5 tahun. Keuangan masih tertatih-tatih, bisnis online masih baru dirintis.

Anak kedua Alhamdulillah bekerja di BUMN. Tapi dia sudah berat menanggung biaya hidup hampir seluruh anggota keluarga.

Anak ketiga sedang menjalani kuliah, baru menyelesaikan tahun pertamanya.

Tidak hanya masalah finansial, si bungsu yang biasa kami panggil Adek, mengalami gagal tes masuk di berbagai perguruan tinggi. Lengkap sudah.

Adek sempat down dan pesimis, “Ma, sebenarnya mungkin gak sih Adek kuliah?”

Mama menjawab dengan tegas, “Sabar Dek, pokoknya Adek pasti kuliah. Insya Allah. Mama doakan..”

Di puncak perjuangan, akhirnya Allah mengabulkan doa. Adek diterima di sebuah universitas di Jakarta dengan jalur beasiswa. Alhamdulillah..
Saat ini dia sedang menempuh tahun terakhirnya.

Perjuangan melanjutkan pendidikan selepas SMA juga dialami Papa dulu.

Papa adalah anak yatim. Beliau anak kedua dari 6 bersaudara. Bayangkan betapa beratnya seorang single-parent membesarkan 6 orang anak! Jelas tidak ada biaya untuk kuliah. Namun ibunya (sekarang almarhumah) sangat tahu pentingnya pendidikan untuk keluar dari kemiskinan. Sehingga beliau mendukung, meski hanya bisa dalam bentuk dukungan moral.
Alhamdulillah selepas SMA Papa diterima di Pusdiklat Perumtel (sekarang Telkom) dan menyelesaikan sarjana sambil bekerja.


DUKUNGAN MORAL DARI ORANGTUA, HAL SEDERHANA YANG BERDAMPAK BESAR

Cerita Adek dan Papa memiliki kesamaan : Bahwa hambatan finansial untuk kuliah bisa diatasi selama masih ada niat dan tekad yang sangat kuat, serta DIDUKUNG ORANGTUA.

Saya ingat Mama pernah bilang begini, “Kalau harta, kita yang menjaganya. Kalau ilmu, dia yang akan menjaga kita.” That’s why ngebela-belain pontang-panting cari duit dan jual-jualin harta yang dipunya demi semua anak kuliah.


Dukungan orangtua membuat harapan terpupuk, membuat semangat berikhtiar, membuat doa semakin melangit.

Bagaimana jika tidak ada dukungan orangtua?
Itu terjadi pada suami saya dulu. Dan sekarang juga terjadi pada adik sepupunya.

Suami saya (anak pertama dari 3 bersaudara) adalah orang cerdas. Dia lulus STM dengan nilai baik dan sangat ingin melanjutkan kuliah. Bapaknya adalah pekerja pabrik. Saat suami saya mengungkapkan keinginannya untuk kuliah, ibunya mendukung. Tapi bapak tidak. “Duitnya dari mana?” katanya.

Yap, cukup satu kalimat non-supportif yang membuat pendidikannya terhenti sampai sana. Untungnya, dia street smart. Sekarang ia bekerja pada posisi yang idealnya dipegang oleh sarjana.

Adik sepupu suami, sebut saja namanya April, lulus SMK tahun 2020 ini. Dia sangat ingin mengikuti program kuliah 1 tahun yang diselenggarakan sebuah lembaga di dekat rumah. Saya dan suami memotivasi dan mendukungnya. Sayang, ibunya mengatakan, “Terserah. Yang pasti Mamah gak punya duit untuk bayar biayanya.”

Maka semangat April pun mendadak padam. Mungkin ia berpikir, bagaimana ia bisa belajar tanpa ada dukungan dari ibunya? Jika nanti ada hambatan, bagaimana caranya menghadapi masalah sendirian?

Kalau hanya soal finansial, saya punya satu ton cerita inspiratif yang bisa saya share untuk memotivasi April mengejar keinginannya belajar. Tapi kalau masalahnya adalah tidak adanya dukungan ortu, menurut saya memang berat. Kalau saya di posisi April, saya pun pasti akan merasa bahwa perjuangan saya gak akan worth it. Seolah semua akan sia-sia.


Kondisi keuangan rumah tangga kami sudah jauh lebih baik dari 4 tahun lalu, meski belum bisa dikatakan mapan. Ingin rasanya saya bisa membantu April secara finansial. Meski saya baru bisa mengatakan, “Doain aja atuh, siapa tahu Allah kasih rezeki ke kamu lewat aku atau Aa, jadi kamu bisa kuliah..”

Saya tidak tahu juga sih, semoga aja beneran bisa bantu. Setidaknya, saya ingin bisa meng-copy mindset dari almarhumah nenek saya, dan juga orangtua saya: Bahwa hambatan finansial tidak boleh jadi alasan untuk berhenti melanjutkan pendidikan. Titik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar