Sabtu, 18 Juli 2015

Refleksi Keberagaman dalam Film Mencari Hilal

Sumber : Bintang.com


Setiap tahun, umat Islam di Indonesia menentukan awal Ramadhan dan awal Syawal salah satunya adalah dengan cara melihat hilal (bulan sabit pertama yang menandakan awal bulan dalam kalender hijriah). Pemerintah sudah rutin melakukan hal ini. Namun bagi Mahmud (Deddy Sutomo), ia ingin melihat hilal dengan mata kepalanya sendiri. Misi ini begitu penting hingga ia berkata pada anak perempuannya, Halida (Erythrina Baskoro),
“Kalau nanti Bapak sampai meninggal sebelum melihat hilal, Bapak nggak ridho.”
Halida pun dengan berat hati melepaskan bapaknya pergi, dan memerintahkan adik laki-lakinya, Heli (Oka Antara) untuk menemani sang Bapak. Heli yang sering bertentangan dengan Bapak sempat menolak. Namun demi mendapatkan paspor untuk melawan kerusakan lingkungan di Nikaragua, Heli menurut. Hanya Halida yang bisa membantunya mendapatkan paspor itu.

[Warning: Ulasan berikut berisi spoiler]

Perjalanan mencari hilal dimulai. Perjalanan yang penuh hambatan mulai dari nama bukit tujuan yang berubah, bentuk fisik bukit yang nyaris lenyap karena eksploitasi, hingga pencarian lokasi lain yang juga tak mudah.

Selama perjalanan, mereka berdua mengalami beberapa peristiwa. Misalnya saat ormas Islam yang membubarkan ibadah umat Kristen. Untunglah konflik ini berakhir damai setelah Heli mengumpulkan warga untuk berdialog. Mereka juga melewati sebuah kampung dimana warganya mempraktekkan budaya yang Mahmud sebut bid’ah dan dengan tegas Mahmud ceramahi dua orang warganya. Heli memprotes sikap blak-blakan sang Bapak dan perlawanan Heli membuat Bapak berang hingga mengusir Heli.

Bagaimanakah akhirnya? Apakah Bapak berhasil melihat Hilal? Lalu bagaimana dengan Heli?
Kalau penasaran, tonton saja filmnya. Saya suka endingnya :)

Film ini menggambarkan besarnya kesenjangan antara Bapak sebagai generasi tua yang agamis-konservatif dengan Heli sebagai generasi muda yang apatis terhadap agamanya tapi menganggap penting kerukunan antar umat beragama. Tidak diceritakan detail mengapa atau bagaimana gap ini bisa terjadi di antara keduanya.  

Sulit bagi saya berpihak pada salah satu karakter. Saat Pak Mahmud berada dalam perjalanan di bus dan ingin bus berhenti sejenak agar bisa shalat, saya berpihak padanya. Namun saat Heli mengkritik gaya dakwah sang Bapak, saya berpihak pada Heli. Saya mah gitu orangnya. Labil.

Satu hal yang paling saya suka dari cerita film ini adalah, bahwa konflik sebesar apapun (termasuk yang menyangkut dengan Tuhan) tidak menghilangkan rasa hormat seorang anak pada Ayahnya, tidak menjadikan seorang Ayah benci pada anaknya.

Nonton film ini bikin saya inget Papa :’)

Berminat menonton? Film ini mulai diputar di bioskop tanggal 15 Juli 2015. 

Berikut trailernya:



Selamat menonton ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar